
“Hay mah…” sapa Kezia melalui layar telponnya.
“Hay sayang….” sahut Eliana dengan mata berkaca-kaca. Rasa haru dan rindu hadir bersamaan mengisi hati Eliana yang kosong.
“Papah mana mah?”
“Ya sayang, papah di sini…” Martin baru muncul setelah ia yakin bisa mengendalikan dirinya menatap wajah Kezia.
“Mah, pah, hari ini zia akan sidang akhir. Do’akan semuanya lancar yaaa….” tutur Kezia seraya tersenyum.
“Iya sayang… Papah sama mamah selalu mendo’akan yang terbaik untuk kamu nak…” ucap tulus Martin. Suara terdengar bergetar dan terbata-bata. Tentu saja ada tangis yang ia coba tahan.
“Terima kasih mah, pah… Zia bersiap dulu. Mamah sama papah istirahat dulu, di sana udah malem kan?”
“Iya sayang… Good luck ya nak...” sahut Martin. Kezia mengangguk seraya tersenyum.
“Sayang,,,” suara Eliana terdengar bergetar.
“Iyaaa, ada apa mah?” kezia menatap lekat-lekat wajah Eliana yang terlihat murung.
“Mamah rindu nak…” tuturnya dengan terbata-bata. Sontak air mata menetes begitu saja dari mata Eliana.
Kezia menghela nafasnya dalam. Ia berusaha tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. “Zia juga rindu sama mamah dan papah…” sahut Kezia seraya menyentuh wajah Eliana dan Martin yang ada di layar handphonenya. “Zia baik-baik aja di sini mah, mamah sama papah jangan cemas okey…” lanjut Kezia. Eliana dan Martin mengangguk mengiyakan. Eliana hanya etrtunduk dengan tangis yang sudah tidak bisa di bendungnya. Kezia menengadahkan wajahnya , berharap ia bisa menahan laju air mata yang hampir menetes. “Zia tutup dulu yaa… See you mah, pah…” tandas Kezia.
Ia melambaikan tangannya dan segera mengakhiri panggilannya.
Kezia menelungkupkan wajahnya. Tangisnya pecah begitu saja. Selama ini ia menyibukkan dirinya sendiri agar tidak terlarut dalam kesedihan karena merindukan orang-orang yang disayanginya. Bayangan mereka kerap muncul silih berganti. Eliana, Martin, Dena, Kania, sherly , Ricko dan tentu saja Arland. Kezia berharap suatu hari bisa kembali memeluk mereka dengan erat.
Kezia menggenggam kalung inisial AK yang senantiasa melingkar di lehernya. “Land….” lirih Kezia.
Sementara itu, tangis Eliana pun tak bisa terbendung. Ia menangis sejadinya dalam pelukan Martin.
“Pah, mamah sangat merindukan kezia pah. Sangaaatt rindu… Kenapa papah masih gag nyuruh kezia pulang?” isak Eliana. Martin mengusap dan mencium pucuk kepala mamah dengan lembut. Ia tak bisa menyangkal, bahwa ia pun merasakan hal yang sama. “Pah, mereka bilang Kezia akan menjadi perawan tua pah, mamah sangat takut… Harusnya mamah tidak menyetujui zia pergi sejauh ini kalau mamah tau mamah akan sangat tersiksa” lanjut Eliana seraya memukuli dada bidang Martin.
Martin melepas pelukannya. Kemudian mengangkat dagu Eliana dengan tangannya.
__ADS_1
“Mah, buang jauh-jauh pikiran seperti itu. Anak kita sedang berjuang. Kezia bukan tidak merindukan kita, bukan juga tidak memikirkan kehidupan pribadinya. Tapi dia sudah menentukan prioritasnya. Kita harus bangga, dia bisa berjalan sendiri dengan tegar sampai sejauh ini. Kalau zia mendengar perkataan mamah ini, apa dia tidak akan sedih dan pulang karena menyerah? Papah hanya ingin melindunginya. Walaupun jauh, tapi kita masih bisa melihatnya, mendengar suaranya. Bayangkan jika kita kehilangan zia seperti kita kehilangan dika, apa kita masih sanggup hidup?” terang Martin dengan tatapan sendunya.
Eliana tidak menimpalinya sedikitpun. Ia masih dengan tangisnya yang pedih karena rindu yang mendalam. Kapan ia bisa kembali memeluk putrinya dan kapan ia bisa kembali membelai rambutnya. Ah,,, semuanya terlalu menyiksa bagi Eliana.
*****
Di ruang tunggu sidang, ada 6 mahasiswa yang sedang menunggu termasuk Kezia dan Fritz. Kezia memainkan pena di tangannya seraya bergumam mengingat apa yang akan ia sampaikan di ruang sidang nanti. Sebuah catatan kecil di tangan, membantunya mengingat apa yang harus di katakan.
Fritz duduk cukup jauh dari Kezia. perasaannya sama resahnya dengan Kezia. Ia membuka-buka kembali tugas akhirnya dan memastikan tidak ada yang terlupakan.
“Kezia Artiandinia Fashia…” panggil panitia sidang. Kezia tersentak dan refleks mengangkat tanganya. “Masuk lah, giliranmu…” tutur wanita tersebut.
Kezia segera berdiri dan merapikan penampilannya. Ia membawa laptop dan materi tugas Akhirnya. Ia menoleh ke arah Fritz yang ternyata sedang berjalan menghampirinya.
“Goodluck girl! Do your best!” seru Fritz sambil menepuk bahu Kezia. Kezia mengangguk yakin.
Ia segera berjalan menuju ruang sidang. Di dalam sudah menunggu 3 orang dosen, dengan salah satunya Prof Clifton.
Kezia diminta untuk memaparkan isi tugas akhirnya. Dengan segera Kezia menampilkan materi yang akan dia bawakan. Dijelaskannya secara runtut dan tegas. Beberapa pertanyaan saat pemaparan bisa di jawabnya dengan tenang. Sesi diskusi akhir, setiap dosen di berikan kesempatan untuk menyampaikan 1 pertanyaan.
“Bagi saya, semua pasien itu unik, baik dia dalam kondisi parah atau pun tenang, mereka penting untuk kita selamatkan. Dari yang terpenting adalah kemampuan kita dalam menggali kebutuhan pelayanan kesehatan yang sebenarnya. Itulah mengapa proses triage tidak bisa di anggap sebagai hal sepele. Karena pasien yang datang untuk berobat, bukan hanya ingin di sembuhkan penyakitnya, tapi diberikan kejelasan terhadap kondisinya agar secara psikologis mereka tenang dan siap menerima keadaannya.” jawab Kezia dengan yakin. dosen penguji hanya terangguk mendengar jawaban Kezia yang bisa ia terima.
“Saya dengar, kamu menyampaikan sebuah artikel saat seminar kesehatan kemarin. Kenapa melibatkan keluarga untuk pengobatan kanker itu sangat penting?” tanya penguji kedua.
“Sebenarnya tidak hanya penyakit kanker. Semua penyakit perlu melibatkan dukungan dari keluarga pasien. Mengapa saya mengangkat tentang cancer, karena penyakit ini tidak bisa di prediksi. Seseorang bisa dengan kuat melewati masa sakitnya saat spiritnya begitu kuat. Tapi saat dia menyerah, kondisi tubuhnya bisa sangat memburuk. Kalaupun seseorang divonis tidak bisa sembuh dari kanker, sangat perlu dipastikan keluarga berada di dekat mereka. Agar saat mereka pergi pun, jiwa mereka bisa pergi dengan damai.”
Dosen penguji hanya tersenyum mendengar jawaban Kezia. Tampaknya ia cukup puas.
“Baiklah, sudah cukup. Dari saya, hanya ingin menyerahkan ini. Kemarilah…” ucap Prof Clifton.
Kezia berjalan mendekati prof Clifton. Ia menyerahkan sebuah map berwarna biru. Kezia membukanya dengan perlahan.
“Ini….” Mata Kezia membelalak tidak percaya. Surat rekomendasi dari kampus benar-benar ada di tangannya.
“Ya, itu untukmu. Bekerjalah dengan baik di rumah sakit mana pun kamu bekerja.” tukas Prof Clifton seraya menepuk bahu Kezia dengan bangga. Kezia tidak bisa menyembunyikan raut bahagianya.
__ADS_1
“Terima kasih prof, terima kasih banyak…” Kezia menjabat tangan ketiga orang di hadapannya. Perasaannya begitu lega. Ia keluar ruang sidang dengan penuh kebahagiaan.
****
Hari itu, selepas sidang, Fritz mengajak Kezia makan siang di kantin untuk terakhir kalinya. Mereka memesan menu makananya yang cukup banyak. Fritz menceritakan ketegangannya selama sidang dan berakhir dengan jabatan tangan hangat dari ketiga dosen pengujinya.
“Lihat apa yang aku dapatkan.” tutur Kezia sambil memperlihatkan surat rekomendasi di tangannya.
“Astaga! Kamu benar-benar mendapatkannya?!” Fritz tercengang tidak percaya. Kezia mengangguk bangga seraya tersenyum. “Gilaa!! Kamu benar-benar hebat!” seru Fritz yang ikut merasa bangga.
“Terima kasih fritz!” sahut kezia seraya menyimpan kembali berkasnya dengan rapi.
“Sudah kau pikirkan akan bekerja di rumah sakit mana?” Fritz menyuap spageti di hadapannya.
“Akan ku pikirkan lagi nanti.” sahut Kezia yang mulai terlihat galau.
“Ada apa?” Fritz mulai memperhatikan perubahan raut wajah Kezia yang tidak biasa.
“I’m fine..” jawab Kezia hanya dengan gerak bibir. Mungkin suaranya tidak keluar karena ia tidak mengatakan yang sebenarnya. Terang saja, ia tidak sedang baik-baik saja. Matanya terlihat kemerahan dan berkaca-kaca.
Fritz segera berpindah tempat duduk ke samping Kezia.
“Menangislah jika kamu memang ingin menangis.” tutur Fritz dengan tatapan hangatnya.
Tiba-tiba Kezia memeluk Fritz dengan erat. Dan menangis sejadi-jadinya. Semua pandangan tertuju pada Fritz. Fritz tidak memperdulikan tatapan orang-orang di sekitarnya. Fokusnya hanya pada Kezia, gadis yang etrisak di pelukannya.
Ia menyembunyikan Kezia di balik tubuhnya dan menutupinya dengan coat tebal yang ia pakai. Kezia sesegukan di dadanya. Untuk pertama kalinya Kezia memeluknya dengan erat bahkan menangis di hadapannya.
“Ssttt….” Fritz mencoba menenangkan Kezia dengan mengusap punggung dan pucuk kepalanya.
“Aku merindukan mereka….” lirih Kezia seraya terisak.
Fritz tersenyum. Dia lega, Kezia menangis hanya karena merindukan orang-orang yang ditinggalkannya. Fritz paham, 10 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Memendam rindu yang begitu lama dan menutupinya dengan wajah ceria, pasti benar-benar menyiksa Kezia. Fritz tidak melepaskan pelukannya. Ia membiarkan Kezia menghabiskan semua rasa sedihnya, agar saat Fritz menatapnya, hanya wajah ceria yang akan ia lihat.
"Kamu kuat lebih dari yang kamu tahu key..." lirih Fritz.
__ADS_1
****