My First Love Story

My First Love Story
Episode 146


__ADS_3

Setelah keadaan lebih tenang, Dena dan Fritz pamit pulang dan menitipkan Kezia pada Arland. Mereka menggunakan lift untuk turun ke lantai bawah. Sepanjang di dalam lift tidak ada  percakapan diantara mereka.


Sesekali Dena melirik Fritz , namun Fritz hanya terdiam. Darah di tangannya mulai mengering namun masih terlihat merah, sepertinya sangat sakit.


Sampai di lobby apartemen sudah sangat sepi. Hanya beberapa kendaraan yang melintas. Dena mencoba memanggil taksi online tapi sepertinya jarak drivernya cukup jauh. Mereka duduk bersama di bangku depan apartemen.


“Apa tanganmu masih sakit?” (dalam bahasa Jerman.) tanya Dena seraya menoleh Fritz.


Fritz mengangkat tangannya yang memang terasa perih. Dena mengambil tissue basah dan sapu tangan dari dalam tasnya. “Aku bersihkan supaya tidak infeksi, hem?” tawar Dena seraya menatap Fritz.


Fritz menyodorkan tangannya. Dengan perlahan Dena mengusap luka dan sisa darah di tangan Fritz. Fritz memperhatikan Dena yang tertunduk dengan serius merawat lukanya untuk kedua kalinya. Ia tersenyum. Gadis asal-asalan ini ternyata bisa lembut juga, begitu pikir Fritz.


“Apa kamu pernah jatuh cinta?” tiba-tiba pertanyaan Fritz menggelitik gendang telinga Dena.


Untuk beberapa saat tangan Dena berhenti bergerak namun ia tidak menyahuti pertanyaan Fritz. Ia kembali membersihkan luka Fritz. Dadanya berdegub kencang tapi masih bisa Dena kendalikan.


“Hem… aku pernah bertemu dengan banyak wanita tapi kezia satu-satunya wanita yang membuatku jatuh cinta." Fritz memulai kalimatnya dan Dena menyimak dengan seksama. "Senyumnya, tawanya, tangisnya, suaranya, marahnya, kekonyolannya adalah hal yang selalu aku rindukan setiap hari. Berada di sisinya adalah tempat ternyaman buatku. Apa aku sangat serakah kalau aku berharap bisa memilikinya?” Fritz tersenyum seraya menatap dena. Namun dena masih terpaku.


“Saat dia memilih pulang, aku merasa sebagian duniaku akan hancur, tapi melihatnya menangis ternyata lebih menyakitkan dari itu. Aku mengejarnya seperti orang gila. Aku memperhatikannya setiap waktu hingga nyaris hafal berapa desahan nafas yang di ambilnya saat bersamaku. Tapi, aku tak pernah bisa mendapatkan hatinya. Sejak semula, bukan aku yang dicintainya. Matanya menatapku, tapi binarnya belum pernah tertuju untukku. Hemmh… menyedihkan bukan?”  kenang Fritz saat mengingat kebersamaannya bersama Kezia. Ada senyum kelu yang terlukis di bibir tipisnya yang membuat Dena ikut merasakan apa yang Fritz rasakan.


“Seperti halnya pasir, saat kau menggenggamnya terlalu erat,  dengan perlahan ia akan meninggalkanmu. Menangkupnya dengan tangan terbuka, akan membuatnya tetap di sisimu. Ia akan berkilauan saat bertemu air dan matahari. Karena yang bukan untukmu, tidak akan pernah menemukan tempat terbaik disisimu. Biarkan dia bahagia dengan pilihannya fritz. Satu hal yang harus kamu tau, kamu berarti buat dia, dia tidak ingin pilihannya hanya akan melukaimu.” tutur Dena. Entah darimana kalimat itu berasal, rasanya ia bukan pembaca setia sajak-sajak puitis seperti Kezia.


Fritz merasakan tatapan Dena yang begitu hangat hingga ia selesai membersihkan luka tanpa menyisakan perih sedikitpun bagi Fritz.


“Apa kamu sedang membiarkan orang yang kamu cinta menemukan kebahagiannya?” selidik Fritz.


Dena mengangguk. “Untuk sementara, aku membiarkannya bahagia dengan mengejar gadis pilihannya. Aku hanya bisa menunggu hingga ia sadar bahwa ia tak mesti berlari untuk merasakan angin.” tukas Dena seraya tersenyum.


Fritz bisa melihat binar mata Dena yang tertuju untuknya. Ia sudah bertemu dengan banyak wanita, sedikit banyak ia memahami sikap wanita yang tertarik padanya, memujanya atau hanya sekedar ingin mengenalnya.


Dena adalah sosok yang beberapa hari ini sempat mengisi fikirannya namun sering ia tepis karena ia berfikir, Kezia adalah porosnya.


“Kamu terlalu naïf, bagaimana ia tau usahamu kalau kamu hanya menunggu?” sindir Fritz yang seolah memberi Dena kode untuk menunjukkan perasaannya.


“Aku wanita yang tidak penah memiliki apapun selain perasaan menyayangi. Aku tidak mau memaksakan sesuatu yang mungkin bukan untukku. Aku hanya punya kesendirian sebagai teman, dan….”


“Kemarilah, kau tidak perlu menyesali diri sendiri untuk sesuatu yang memang tidak ada di sisimu…” ujar Fritz seraya menarik tubuh mungil Dena kedalam pelukannya.


Dena terdiam di tempatnya. Ia bisa merasakan hangatnya pelukan Fritz dan detak jantungnya berdetak dengan teratur, membawanya dalam suasana nyaman. Perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dena mendongakkan kepalanya menatap Fritz yang tengah tersenyum.


“Sejak kapan?” tanya Fritz dengan senyum tampannya.


Dena tak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepalanya dan membenamkan wajahnya di dada bidang Fritz.


Sekali dalam seumur hidup, Dena menyukai laki-laki dan ternyata itu Fritz. Entah sejak kapan perasaan itu ada dan entah dari mana asal keberaniannya hingga tanpa ragu ia mengutarakan perasaannya, tanpa peduli itu berbalas atau tidak. Paling tidak , Fritz sudah mengetahuinya tanpa harus memaksakan Fritz menerimanya.


****

__ADS_1


Hingga malam  semakin larut, Arland masih belum bisa memejamkan matanya. Setelah mandi dan kembali memakai bajunya ia menghampiri Kezia yang tengah terlelap. Di sentuhnya dahi Kezia dengan punggung tangannya, suhu badannya normal. Arland sangat khawatir Kezia demam karena ia mengguyur tubuhnya malam-malam dengan air dingin. Terbersit sesal di wajah Arland. Mengapa ia tak bisa mengendalikan dirinya.


Di tatapnya wajah polos Kezia yang terlelap dengan tenang. Terdengar dengkuran halus menjeda lelapnya. Bagaimana bisa ia begitu merindukan gadisnya yang ada di hadapannya namun hanya bisa ia tatap.


Tak ingin terlarut lebih dalam, Arland memilih untuk membaringkan tubuhnya di sofa. Ia memainkan handphonenya dan memeriksa beberapa pekerjaan yang di kirim stafnya. Hingga rasa kantuknya datang, Ia terlelap di sofa, kakinya yang panjang menjulur ke luar Sofa. Kedua tangannya bersilang membekap tubuh bidangnya. Ia berharap, ia bisa berbincang dengan Kezia dalam mimpinya.


*****


Cahaya matahari pagi memasuki celah-celah tirai dan menerpa wajah Kezia membuatnya mengerjapkan mata yang belum terbuka sempurna. Ia menggeliat, tubuhnya terasa begitu pegal dan lelah.


Perlahan ia membuka matanya, terlihat gambaran dirinya yang terlukis jelas di atas langit-langit kamar. Suasana kamar yang rasanya ia kenali namun nyawanya belum kumpul semua. Saat pikirannya mulai menggenap, ia segera melihat tubuhnya yang terbalut selimut tebal dengan kemeja yang membungkus tubuhnya.


“Astaga!!” Kezia terperanjat saat melihat kakinya yang polos tanpa sehelai benangpun. Ia segera membuka selimutnya, mencoba mengenali sekelilingnya yang kemudian ia sadari sebagai apartemen Arland. “Gila, ngapain aku di sini? Pake baju gini lagi!” dengus Kezia saat melihat pantulan wajahnya di cermin.


“Arland dasar kamu yaa….” umpat Kezia.


Dengan segera ia membuka pintu kamar Arland. Mata kezia membelalak saat melihat Arland yang terbaring di sofa meringkuk kedinginan.


“Bangun, bangun, bangun!!!!” teriak Kezia sambil memukuli lengan Arland yang ada di hadapannya.


Arland segera terbangun dan membuka matanya lebar-lebar. Ia melihat gadisnya di depan mata dengan rambut yang masih berantakan, dan kemeja itu, sangat seksi membalut tubuh Kezia. Arland menelan ludahnya sendiri.


“Apa kamu liat-liat!” gertak Kezia seraya memegangi kancing kemejanya. Arland segera mengalihkan pandangannya dan terlihat gelagapan. “Kenapa aku ada di sini hah? Kamu ngapain aku hah?” cerca Kezia dengan mata yang sudah berkaca-kaca karena kesal. Ia terus menghujani Arland dengan pukulan.


“Key tenang key, gag ada apa-apa yang terjadi semalam…” seraya berdiri Arland berusaha menenangkan Kezia dan menggenggam tangannya erat-erat.


“Key, semua gag seperti yang kamu pikirin. Kamu tenang dulu, aku jelasin semuanya…” tutur Arland yang mulai kebingungan menghadapi Kezia yang marah-marah.


“Aku mau pulang, aku mau pulang! Kamu gag bisa kayak gini sama aku, gag bisa!!!” teriak Kezia seraya menangis.


Dengan tampilannya yang berantakan, beragam pikiran aneh menghinggapi isi kepala Kezia.


“Key tenang, tolong jangan kayak gini, aku gag ngapa-ngapain kamu kok…” tutur Arland seraya memeluk Kezia. Kezia hanya terdiam. Bulir hangat itu meluncur begitu saja lalu pecah di tangannya.


“Aku benci sama kamu, aku bencii…” lirih Kezia dengan bahu yang bergetar karena tangisnya. Arland tak melepaskan pelukannya, malah lebih erat dan erat lagi. Ia membiarkan Kezia menumpahkan semua kemarahannya.


“Key, semalam gag terjadi apa-apa. Aku gag mungkin ngelakuin itu sama kamu dalam kondisi kamu gag sadar.”


“Tapi kamu bisa ngelakuinnya sama difa!” serang kezia.


“Difa? aku sama difa gag ngelakuin apa-apa. Dia ngarang seenaknya.”


“Tapi dia hamil land! Kamu harus tanggung jawab!”


“Iya aku akan tanggung jawab kalo itu emang anak aku, tapi itu bukan anak aku key, kamu harus percaya!!!”


“Tapi….”

__ADS_1


“Tunggu sebentar, aku akan jelasin semuanya. Tolong kamu dengerin dulu…” pinta Arland nyaris memohon.


Kezia terdiam. Ia mengusap air matanya dengan kasar dan malah membuatnya terlihat begitu menggemaskan. Arland mengambil laptop yang ada di kamarnya. Lalu membukanya di hadapan Kezia.


****


Flash back on


Terik matahari tak menjadi alasan Arland untuk mencari kebenaran permasalahannya. Selepas keluar dari rumah Difa, ia segera menghubungi anak buahnya untuk mencari tau data pemilik nomor telpon yang sering di hubungi oleh Difa.


Tak perlu menunggu lama, sore hari ia sudah menerima datanya dari anak buahnya. Arland teringat saat Difa tiba-tiba menelponnya dan memberitahukan Kezia di hotel bersama Fritz. Arland berfikiran mungkin Difa sempat check in di hotel tersebut.


Arland segera menghubungi pihak hotel dan menanyakan kemungkinan Difa dan pasangannya check in di hotel tersebut bersamaan dengan Kezia yang mengantar Fritz. Cukup sulit mendapatkan pengakuan dari pihak hotel, namun Arland menjelaskan selama ini karyawannya mangkir tidak masuk kerja dengan alasan sakit. Dengan alasan tersebut akhirnya Arland bisa mendapatkan track check in Difa bersama pasangannya di hotel tersebut.


Di tempat lain, anak buah Arland sedang mencari partner check in Difa yang tidak lain adalah paman tirinya sendiri. Mereka mengintrogasi laki-laki paruh baya bernama Adnan yang selama ini menjadi pasangan Difa. Dan didapatkan keterangan bahwa ternyata Adnan adalah ayah dari bayi yang di kandung Difa.


Lebih dari sekedar mendapatkan jackpot, perasaan bahagia Arland menyeruak. Tanpa menunggu lama ia segera menghampiri Difa di rumahnya.


“Nak , lihat ayah jengukin kamu lagi…” lirih Difa saat melihat Arland turun dari mobilnya.


Ia sudah menunggunya di mulut pintu sambil mengusap perutnya yang masih rata. Terkembang senyum di bibirnya saat melihat Arland berjalan mendekatinya.


“Ayaahh…” sapa Difa sambil meraih tangan Arland dan hendak melingkarkan tangannya.


“Ayah? Siapa?” tanya Arland.


“Kamu land, aku mau anak kita manggil kamu ayah, gag pa-pa kan?” tanya Difa dengan senyum manisnya.


“Kamu duduk dulu sebentar, aku punya kejutan buat kamu.” Ujar Arland sambil mendudukan Difa di sofa. Difa mengangguk dengan antusias. “Bawa turun sekarang.” titah Arland pada seseorang di telponnya.


Tak lama beberapa orang turun dan masuk ke rumah Difa dengan menyeret seorang laki-laki yang tidak lain adalah Adnan.


“Mungkin anakmu bisa manggil dia ayah!” tunjuk Arland pada laki-laki yang sudah babak belur di hajar anak buahnya.


“Astaga land, maksud kamu apa? Anak ini anak kamu, dan dia, aku gag kenal…” kilah Difa dengan tangisan palsu di wajahnya.


“Oh gag kenal? Gimana dengan ini, ini dan ini?!” tukas Arland sambil menunjukkan beberapa foto Difa bersama laki-laki tersebut saat di tempat tidur. Difa tercengang.


“Land, aku…” dengan tangan gemetar Difa mencoba meraih lengan Arland. Wajahnya terlihat pucat dan ketakutan.


“Cukup! Hentikan drama kamu sekarang atau aku tidak segan menyeret kalian ke kantor polisi!” gertak Arland dengan suara keras, membuat Difa terhenyak. “Aku nganggap kamu sebagai temen yang baik, tapi kamu udah ngelakuin semua ini sama aku dan kezia. Sebaiknya kedepannya, kita gag usah ketemu lagi.” tegas Arland.


“Land, aku mohon land, jangan kayak gini. Aku cinta sama kamu, aku gag mau kamu ninggalin aku…” rengek Difa seraya menarik tangan Arland. Arland segera mengibaskannya, lalu pergi tanpa mau mendengar rengekan Difa selanjutnya.


“Kalian beresin!” titah Arland pada anak buahnya.


Flash back Off

__ADS_1


****


__ADS_2