My First Love Story

My First Love Story
Episode 97


__ADS_3

Dengan langkah perlahan Angga masuk ke ruang pribadinya. Ia mendapati Kezia yang tertidur di atas sofa dengan rambut panjangnya yang menjuntai ke lantai. Rapatnya memang cukup lama dan selama rapat Angga terus memarahi stafnya yang dianggap tidak bisa bekerja dengan baik. Terlebih perasaannya sedang tidak nyaman karena wanita yang ada dihadapannya sedang marah padanya.


“Kenapa kamu sangat keras kepala?” lirih Angga sambil memandangi wajah polos Kezia yang terlelap dengan damail. “Sejak kapan kamu berani menjadikanku tawananmu? Bahkan kamu marah saja aku serasa mau mati. Apalagi kalau suatu hari kamu pergi meninggalkanku.” lirih Angga dengan mata berkaca-kaca. Di dasar hatinya yang paling dalam ia sangat takut jika harus kembali jauh dari Kezia yang sangat sulit untuk ia gapai.


Tanpa sadar, tangannya mulai bergerak membelai wajah cantik Kezia. Jemarinya menyentuh bibir Kezia yang tampak tersenyum. Kezia menggeliat karena merasakan sesuatu yang menyentuh wajah dan bibirnya.


“Ssttt….” Angga mendesis saat melihat Kezia menggeliat.


Ia khawatir Kezia terbangun karena ia masih menikmati pemandangan di depannya. Angga berharap waktu bisa berhenti sejenak, agar ia bisa terus berada di samping Kezia dan memandanginya seperti ini.


Kezia kembali menggeliatkan tubuhnya. Lehernya terasa pegal. Angga yang melihat Kezia mengerjapkan mata, segera menjauh dan duduk di pinggiran tempat tidur. Sementara Kezia masih mengucek matanya, memperjelas penglihatannya pada sosok laki-laki yang duduk tak jauh dari tempatnya tertidur.


“Kamu udah bangun schnucki? Ayoo kita makan siang…” tutur Angga sambil tersenyum. Kezia tak menggubrisnya, walau sudah tidur ia masih merasa kesal pada Angga. Angga terdiam melihat sikap Kezia yang begitu dingin, ia sadar ia salah.


Kezia bangkit dan menuju kamar mandi. Ia membasuh wajahnya yang masih terlihat mengantuk. Dalam beberapa saat ia keluar dari kamar mandi dan duduk kembali di sofa. Ia menyibukkan dirinya mengecek ponselnya walau sebenarnya tidak ada apapun di benda pipih yang berada dalam genggamannya.


“Schnucki, kamu masih marah?” Angga mendekat dan duduk di samping Kezia. Kezia masih terdiam tanpa menoleh Angga sedikitpun. Angga menghela nafasnya dalam, mencoba menenangkan dirinya sendiri. “Okey, aku minta maaf atas kejadian tadi pagi. Aku tau aku salah…” lanjut Angga sambil menatap Kezia yang masih tertunduk.


“Emang kakak salah apa?” tanya Kezia yang balik menatap Angga.


“Yaa… Aku meninggikan suaraku saat berbicara sama kamu tadi pagi.” Jawab Angga dengan wajah bersalahnya.


“Bukan itu! Kakak gag tau letak kesalahan kakak.” timpal Kezia sambil memalingkan wajahnya dari Angga. Angga mengernyitkan dahinya.


“Okey, kalo gitu coba kamu kasih tau aku apa kesalahanku…” Angga mulai pasrah. Kezia kembali menatap wajah Angga dengan kesal.


“Kakak bukan hanya meninggikan suara kakak. Tapi isi dari pembicaraan kakak yang begitu menyebalkan. Kakak suka sekali memerintah orang lain dan aku harus selalu menuruti maunya kakak tanpa peduli aku suka atau nggak.” cerocos Kezia dengan mata berkaca-kaca.


Angga hanya bisa terpaku di hadapan Kezia. Ia menyesal telah membuat Kezia marah. Angga menyadari, ucapan Kezia memang benar adanya. Namun, ia tak pernah berniat berbicara seolah memerintah siapapun termasuk Kezia.


“Schnucki, maafkan aku…. Kamu boleh marah atau memaki aku sekalipun. Tapi tolong jangan menangis…” lirih Angga. Kezia menyeka air matanya yang menetes tanpa permisi.


“Janji gag akan di ulang?” tanya kezia. Angga mengangguk mengiyakan. “Janji gag cuma sama aku, tapi juga sama orang lain?” lanjut Kezia. Angga kembali mengangguk. “Ya udah, kali ini kakak selamat karena aku sedang lapar. Lain kali kalo gitu lagi, kakak akan mendengar omelan yang lebih panjang kali lebar kali tinggi sampe kakak pusing!” cerocos Kezia.


“Ppffttt…” Angga menahan tawanya melihat Kezia yang begitu menggemaskan. “Okey, aku gag akan ngulang itu. Terima kasih karena aku tau kamu sangat peduli sama aku makanya kamu gag suka dengan sikapku.” imbuh Angga.


“Ya udah ayo pergi, aku udah lapar!” tukas Kezia seraya bangkit dan berjalan keluar dari ruangan Angga.


Angga hanya mengangguk seraya mengikuti Kezia dari belakang. Senyumnya masih terkembang, senyum senang sekaligus gemas pada Kezia.


****


“Kak, apa orang-orang di sini gag ada yang suka nasi ya?  Apa mereka kenyang cuma makan roti atau pasta?” tanya Kezia sambil memainkan spageti yang ada dihadapannya.

__ADS_1


“Ya karena sudah kebiasaan, sama halnya dengan kamu yang sudah terbiasa makan nasi…” sahut Angga sambil mengusap sisa sauce di sudut bibir Kezia.


“Heemmm, aku kangen masakan mamah…” keluh Kezia sambil mengerucutkan bibirnya.


Angga merasa tidak tega melihat Kezia yang sepertinya sudah mulai home sick.


“Key, nanti kalo ada karyawanku dari indonesia yang ke sini, aku akan minta bawakan makanan kesukaan kamu. Tapi untuk sekarang, kamu makan yang ada dulu yaa…” tutur Angga sambil mengusap kepala Kezia.


“Beneran kak?” raut wajah Kezia berubah seketika.


“Bener dong, mana pernah aku bohong.” sahut Angga.


“Eemmm… Makasih ya kak, kakak emang the best!” Kezia  mengacungkan kedua ibu jarinya pada Angga. Angga hanya terkekeh melihat ekspresi bahagia Kezia.


Seusai makan siang, mereka menuju flat yang akan di sewa Kezia. Saat mereka tiba, pemilik flat sudah menunggunya. Kezia segera turun dari mobil Angga dan menghampiri wanita paruh baya tersebut. Sementara Angga masih memperhatikan flat yang akan di tempati Kezia.


“Selamat siang, apa anda dengan nyonya rose…” sapa Kezia sambil mengulurkan tangannya. Wanita paruh baya itupun tersenyum melihat Kezia mengulurkan tangannya.


“Benar. Apakah anda kamu kezia?” sapa Rose membalas uluran tangan Kezia.


“Benar nyonya, mohon maaf saya baru bisa ke sini sekarang…”


“Tidak masalah… ayo kita masuk…” sambut Rose dengan ramah.


Kezia dan Rose telah sampai di lantai 4. Rose membuka salah satu ruangan yang akan di tempati Kezia. Ruangan tersebut cukup luas dengan sebuah sofa kecil dan meja sebagai tempat bersantai, di sekat oleh partisi kayu dan lemari yang memisahkannya dari tempat tidur yang hanya muat untuk satu orang dan kamar mandi. Sebuah rak kayu tertempel di dinding dengan meja belajar dan kursi yang persis berada di samping tempat tidur yang berada di sisi jendela besar. Selain itu ada pintu yang menghubungkan ruangan tersebut dengan balkon dengan pagaran warna-warni yang terlihat lucu. Rasanya ruangan ini cukup nyaman untuk Kezia tinggali.


“KLONTRANG!”


Terdengar suara kegaduhan dari tangga. Kezia dan Rose segera menghampiri. Ternyata Angga tersandung tempat sampah yang terbuat dari besi.


“Key, apa kamu yakin akan tinggal di sini?” tanya Angga sambil mengusap-usap celananya yang kotor.


“Iya kak, aku menyukainya. Coba kakak liat sini…” seru Kezia dengan semangat. Angga melihat flat Kezia dari pintu masuk. Menurutnya sangat kecil dan kumuh.


“Sebaiknya kamu tinggal di rumah saja.” tutur Angga yang merasa tidak suka dengan tempat tinggal yang Kezia pilih sekarang. Kezia menatap Angga dengan tajam sebagai bentuk penlakan. “Ya sudah, terserah kamu.” akhirnya Angga mengalah ia tidak ingin berdebat dan membuat Kezia marah lagi.


“Kapan anda akan pindah nona?” tanya Rose


“Malam ini, karena besok saya sudah mulai kuliah…” terang Kezia.


“Baiklah, ini kuncinya. Semoga kau nyaman tinggal di sini,,,” ujar Rose dengan senang hati.


Kezia mengangguk seraya tersenyum. Beberapa saat kemudian Rose segera pergi , memberikan Kezia waktu untuk beradaptasi dengan tempat tinggal barunya.

__ADS_1


Kezia memasuki apartemennya. Dia coba berbaring di atas tempat tidurnya. Rasanya nyaman, walau kasurnya tidak seempuk kasur di rumah angga. Paling tidak, dia bisa lebih dekat dengan kampusnya dan lebih fokus belajar.


Sementara angga, ia masih berdiri dengan kaku dan bingung di pintu masuk. Sofa yang ada di ruang tamu sekaligus ruang makan itu, menurutnya sangat tidak nyaman untuk diduduki.


“Kenapa kamu malah begitu bahagia schnucki?” lirih Angga perlahan saat melihat Kezia yang begitu girang bisa melihat pemandangan dari jendela besar di sisi tempat tidurnya.


****


“Nona, apa anda memerlukan tas yang lebih besar?” tanya sarah yang saat itu sedang membantu Kezia mengemasi barang-barangnya.


“Tidak perlu sarah, aku hanya membawa baju saja, tidak ada barang-barang yang lain. Kalau ada yang aku perlukan, mungkin aku akan membelinya beberapa…” sahut Kezia yang masih anteng membereskan bajunya.


Angga memperhatikan Kezia dari pintu kamar. Ia menyandar di daun pintu dengan tangan menyilang di depan dada.


“Nona, kalau ada yang nona perlukan saat berada di sana, segera beritahu saya, supaya saya bantu carikan.” tutur Sarah seraya menatap Kezia dengan raut cemasnya.


“Sarah, aku bukan pindah ke planet lain." Kezia menjeda kalimatnya dengan tersenyum pada Sarah. "Aku akan baik-baik saja dan aku juga akan sering-sering main ke sini atau kamu bisa main ke tempatku… Tapi jangan ajak pak hendra.” terang Kezia sambil memelankan suaranya di akhir kalimat.


“Kenapa nona?” Sarah mengernyitkan dahi dan mendekatkan tubuhnya pada Kezia.


“Kak angga tidak suka ada laki-laki yang main ke flatku selain dia dan papah…” bisik Kezia yang  tanpa ia sadari Angga mendengarnya dan hanya tersenyum mendengar ujaran Kezia.


“Oh baiklah nona.,,” Sarah menyahuti paham.


“Nona, mungkin maksud tuan laki-laki asing, nona memang sangat lugu…” batin Sarah sambil tersenyum.


“Sarah, terima kasih untuk semuanya. Maaf sudah banyak merepotkanmu. Aku pasti akan sangat merindukanmu…” tutur kezia seraya menggenggam erat tangan Sarah.


“Iya nona… tapi nona tidak perlu seperti ini…” Sarah merasa sangat canggung, karena Kezia menggenggam tangannya, tangan seorang pelayan. “Nona jaga diri baik-baik. Saya pun akan merindukan nona…” lanjut Sarah dengan mata berkaca-kaca.


Kezia memeluk Sarah sejenak. Sarah masih tercengang dan hanya bisa terdiam mendapat pelukan yang tiba-tiba dari Kezia.


“Aku pergi dulu, sampai jumpa…” tutur Kezia sambil melambaikan tangannya. Sarah mengangguki.


“Kamu udah siap?” tanya Angga yang baru tersadar dari kekagumannya.


“Oh kakak udah di sini? Iya aku udah siap…” sahut Kezia seraya memakai coat hitam miliknya.


“Baiklah, ayo kita berangkat.” Angga berjalan di depan Kezia dan Kezia mengikutinya.


Sarah menatap punggung nona mudanya yang perlahan menjauh hingga menghilang di balik pintu.


“Nona, anda gadis yang baik… Tuan muda sangat beruntung bisa bersama Anda..” lirih Sarah menyatakan kekagumannya.

__ADS_1


****


__ADS_2