My First Love Story

My First Love Story
Episode 156


__ADS_3

“Bro, lo kenapa sih? Udah kayak induk ayam mau bertelor aja.” cetus Ricko yang sejak tadi memperhatikan Arland mondar mandir tak jelas di hadapannya.


“Kezia gag angkat telpon gue.” sahutnya seraya memandangi layar handphone dengan wajah kalut. Rambutnya sudah tak rapi lagi, karena beberapa kali di acaknya.


Ricko menoleh jam di dinding, “Ya elah, bukannya 1 jam lalu kalian telponan?”


“Apaan, udah sepuluh menit lalu gue kirim pesan tapi dia gag jawab.” keluh Arland yang terlihat frustasi.


“Hahahha.. gila lo. Baru juga sepuluh menit. Sabar kali men, siapa tau dia lagi mandi, lagi makan, lagi nonton drakor ato udah tidur.” tawa Ricko terdengar renyah menertawakan kelakuan Arland.


“Tapi, bukannya bini lo nginep di sana? Telponin lah, tanyain kezia lagi ngapain.”


“Aiiisshhh lo ini emang ya!” geram Ricko, namun tetap saja ia menuruti permintaan Arland.


Panggilan tersambung. Ricko komat-kamit tak jelas memaki kelakuan Arland dalam hatinya.


“Nyambung gag?” Arland segera duduk di samping Ricko berusaha mencuri dengan dari samping.


“Iyaa bentar sih, belum di angkat. Nah, halo!” lanjut Ricko. “Yang sorry, ada kezia gag di situ? Nih cowoknya dari tadi ngomel mulu pesannya gag di bales sama kezia.” lanjut ricko seraya melirik Arland yang menempel pada tubuhnya.


“Ada yang, ni lagi makan. Bukannya belum lama mereka telponan ya? “ timpal Sherly yang ikut bingung.


“Kasih gue telponnya…” sambar Arland. Ricko mengalah saja walau kesal. “Sher, gue mau ngomong sama kezia dong.” sambung Arland tanpa jeda.


“Hemm,, bentar.” sahut Sherly dengan malas. “Key, cowok lo nih!” Sherly menyerahkan handphonenya pada Kezia.


Kezia segera menerimanya. Sherly hanya menggelengkan kepala melhat tingkah dua sahabatnya ini.


“Sayang, kok ga bales pesan aku sih? Udah 12 menit nih.” ujar Arland tiba-tiba.


“Ya ampun, aku lagi makan sama temen-temen. Gag kemana-mana juga kali…” sahut Kezia.


“Hem.. kirain kamu kemana. Makanya kalo aku kirim pesan jangan lama-lama balasnya…” saat ini Arland benar-benar bertingkah seperti anak kecil.


Kezia menahan tawanya sendiri mengingat tingkah Arland begitu manja beberapa hari ini.


“Ya udah, kan udah ngobrol, sekarang istirahat. Jangan liatin hape mulu.”


“Ya udah deh, selamat malam sayang. Jangan lupa mimpiin aku.” pasrah Arland dengan tidak rela.


“Iyaa,, selamat malam jugaa sayang…”


Panggilan pun terputus. Tiga pasang mata masih tertuju pada Kezia. Mereka menggelengkan kepala tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kezia hanya mengakat bahunya seraya tersenyum.


“Gila ya, calon suami lo. Sampe bar-bar gitu. Lo apain sih key?” tanya Sherly yang tak habis pikir dengan tingkah Arland dan Kezia.


“Gag gue apa-apain kali…” timpal Kezia santai. Di suapnya lagi makanan yang sudah ada di sendok.


Begitulah Arland saat ini, begitu tak karuan. Tidak ada kabar sebentar saja dia frustasi. Tapi tentu saja terasa begitu manis bagi Kezia.


****


Malam ini menjadi malam yang sangat panjang bagi Kezia dan sahabat-sahabatnya. Mereka berkumpul di kamar Kezia saling bertukar cerita dan tertawa bersama.


“Key, nih hadiah buat lo.” Kania menyerahkan sebuah kado dengan kotak berwarna putih dan pita merah muda d atasnya.


“Wah apaan nih?” Kezia mengguncang-guncangkannya dan mendekatkannya ke telinga.


“Kejutan lah. Nanti lo buka kalo udah sah jadi istri arland.” timpal Kania seraya tersenyum.


“Lo bikin penasaran aja sih ka. Tapi thanks yaa…”  Di taruhnya kado tersebut di samping Kezia dan Kania hanya terkekeh membayangkan kalau Kezia membuka kado darinya.


“Nih dari gue.” kali ini Sherly yang menyerahkan sebuah kado berupa amplop berwarna merah muda.

__ADS_1


“Apa ini sher?” Kezia penasaran dengan kado yang diberikan Sherly.


“Tiket buat lo sama arland honeymoon. Pulangnya bawain gue ponakan yaa...” bisik Sherly sambil mengedipkan matanya.


“Waaahh makasih sher….” Kezia tersipu. Sherly mengangguk dengan senang.


“Ini dari gue.” Dena menyerahkan sebuah foto berukuran besar. Foto tersebut adalah foto Kezia dan Arland saat bersama, mulai dari SMA hingga saat ini.


“Waaahhh bagus na….” seru Kezia dengan mata terbelalak. “Tapi kok gini semua fotonya?” protes Kezia saat melihat wajahnya sendiri.


“Iyaa, lagian lo susah banget kalo di foto. Jadinya foto lo candid semua deh.” cetus Dena seraya tergelak.


“Hahhaha iyaa,, candid semua.” sambung Kania dan sherly yang ikut tertawa.


“Kurang asem lo!” sahut Kezia yang juga ikut tertawa.


Rupanya selama bersama dengan para sahabatnya dan Arland, Kezia tidak pernah berfoto dengan pose normal, selalu ada saja hal unik yang menjadikannya pusat perhatian.


“Besok kalo foto pernikahan lo jangan begini ya, lo kasih liat tuh muka cakep lo ke photografer.” cetus Sherly dengan senyum tertahan.


“Iya iyaa… Foto nikah kan sekali seumur hidup, mana ada gue sembarangan.” Kilah Kezia.


Ketiga sahabatnya hanya tertawa mendengar jawaban Kezia.


“O iya, lo udah siap belum nanti buat malam pertama? Jangan kayak gue tiba-tiba dapet.” Goda Sherly yang menyenggol lengan sahabatnya.


“Emang gue mesti siap-siap apa?” Kezia menatap Sherly penuh tanya.


“Jangan lo jelasin sher. Ada anak gadis jomblo di sini, tar dia pengen lagi.” cetus Kania sambil melirik Dena.


“Ah sialan lo.” Dena reflek memukul lengan Kania.


“Ahahhaa dia lebih jago kali. Lo belum baca novel yang lagi dia tulis? Imajinasinya itu loh, beuuuhh gue aja gag nyangka.” sahut Sherly yang diam-diam pernah membaca novel Dena.


“Ahahhaha ada deehh… Dari mana lo belajar mikir begituan?” Sherly menatap Dena dengan penasaran.


Dena celingukan sendiri. Kini tiga pasang mata menatap ke arahnya, menunggu jawaban Dena. Dena menggaruk kepalanya walau tidak gatal.


“Hasil browsing.” jawabnya dengan polos.


“Ahaahahahaha…. Haluuuu deehhh!!!” sorak ketiga sahabatnya dengan tawa menggelegar.


Dena hanya tersipu mendengar ledekan ketiga sahabatnya.


“Lagian yaa, kezia kan udah pernah tinggal d luar negri, udah sering kali liat begituan. Apa lo juga pernah nyoba key?” goda Kania yang kembali memfokuskan diri untuk menggoda Kezia.


“Iya, secara sohib gue ini di pepet terus sama cowok jerman itu. Siapa namanya?” tambah Sherly.


“Fritz!” sahut Kania


Tiba-tiba ekspresi wajah Dena berubah. Selintas Kezia bisa melihatnya.


“Iya, gimana lo pernah ngalamin yang manis-manis gitu gag sama fritz atau kak angga?” timpal Sherly yang penasaran.


“Ih apaan sih? Gue sama fritz cuma temenan yaa, gag ada kontak fisik.” Tukas Kezia seraya mengibas-ngibaskan tangannya.


“Kalo sama kak angga?” _sherly


“Pelukan doang…”


“Kalo sama arland?” _Kania


Kezia menyentuh tengkuknya sendiri. Bulu kuduknya serasa meremang. Ia pun mengigit bibir bawahnya dengan wajah yang merona seketika.

__ADS_1


“Wah gila, udah sejauh itu yaa…” potong Kania dengan tatapan sarkasnya.


“Sejauh apaan? Gue cuma pernah ciuman doang!” ketus Kezia sambil menepis tangan Kania yang tertuju padanya.


“Hahahha pantesan si arland sampe galau gitu. Pernah di kasih sesuatu yang menyenangkan rupanya.” goda Kania yang tergelak keras dan disahuti kedua sahabatnya.


“Wah, malem pertama kayaknya lo bakal habis deh key…” Sherly memincingkan matanya ke arah Kezia.


“IIhh apaan sih lo. Nakutin aja!”


Sherly malah terkekeh geli bersama Kania. Kezia mengerlingkan matanya kesal. Sementara itu, Dena sedari tadi hanya terdiam. Sesekali ia ikut tertawa, tapi pikirannya entah kemana.


“Na, fritz ke sini gag? Masa sih sahabatnya mau married dia gag ke sini.” pancing Kezia. Dena terdiam sekali lalu  hanya mengakat bahunya tanda tidak tau. Terdengar dengusan halus dari mulutnya. “Telponin dong… Siapa tau dia lupa.” lanjut Kezia.


Dena memandang layar handphonenya kemudian menggenggamnya erat-erat di dada. Tidak lama ia terangguk. Ia berjalan menjauh dari ketiga sahabatnya. Kezia hanya tersenyum memandangi punggung Dena yang perlahan semakin menjauh.


Kania dan Sherly menatap Kezia penuh tanya, namun Kezia hanya tersenyum tipis.


Dena mematung di depan kamar Kezia. Ia melihat layar handphonneya. Mata biru tersebut kini tengah menatapnya. Dena tersenyum, betapa ia sangat merindukan pemilik mata biru tersebut.


Berulang kali Dena menarik nafas dalam-dalam. Ia mulai mencari nama Fritz di daftar kontaknya. Awalnya ia ragu untuk menghubungi Fritz lebih dulu, namun pernikahan Kezia membuatnya memiliki alasan. Dengan nafas setengah tertahan ia mulai mengubungi Fritz.


Dena menunggu dalam gusar dan sayangnya, hanya suara operator yang menjawab panggilannya. Dena tertunduk lesu. Berkali ia coba, jawabannya selalu sama.


“Mungkin dia lupa sama gue…” batin Dena.


****


Siang ini semua terlihat sangat sibuk. Keluarga Kezia tengah berkumpul di rumah dan membahas acara besok. Martin tengah menyiapkan mobil yang akan membawa keluarganya ke tempat pernikahan. Rencananya mereka akan berangkat sore ini dan menginap semalam, agar besok tidak terburu-buru.


“Pah, koper kita belum masuk.” teriak Eliana saat melihat Martin sedang memasukkan barang-barangnya.


“Jangan bawa baju banyak-banyak, kita kan cuma semalem ini doang mah…” sahut Martin dari kejauhan.


“Enggak pah, 1 koper buat baju kita dan sean. Zia kopernya sendiri.” tukas Eliana.


Eliana kembali ke kamar Kezia dan memintanya untuk bersiap.


Kezia telah membawa semua barang yang dibutuhkannya. Selesai bersiap, ia duduk di pinggiran tempat tidur, memandang bayangan dirinya yang memantul di cermin.


“Sayang, kok ngalamun?” tanya Eliana yang segera duduk di samping Kezia.


“Mah, apa zia beneran bakal menjadi istri arland besok?” Kezia menoleh Eliana yang duduk di sampingnya.


Eliana paham benar, Kezia masih trauma dengan pernikahannya bersama Angga. Eliana meraih tubuh Kezia lalu memeluknya erat.


“Sayang,, semua akan baik-baik saja. Kamu jangan mikir yang aneh-aneh….” lirih Eliana seraya mengusap rambut panjang Kezia dengan lembut.


“Zia cuma…”


“Sssttt… Percaya sama mamah, semuanya akan baik-baik saja.” tukas Eliana yang tak ingin mendengar kalimat Kezia selanjutnya.


Martin yang ternyata sejak tadi berdiri di pintu kamar Kezia, perlahan mulai mendekat. Ia duduk di samping Kezia, lalu ikut memeluknya. Kezia sadar, kini ada tangan kekar yang memeluknya dan Eliana.


“Putri papah harus bahagia, tidak ada lagi permintaan papah, selain itu.” sambung Martin seraya mengecup puncak kepala Kezia.


Kezia terangguk perlahan. “Makasih mamah sama papah udah sayang sama zia, udah jaga zia, mendidik zia. Terima kasih untuk semuanya…” tutur Kezia dengan suara beratnya.


Martin mengeratkan pelukannya. Betapa ia bersyukur sebentar lagi, ia akan mengantarkan sang putri ke kehidupan barunya. Hari yang tidak pernah ia sangka sebelumnya.


Dalam hati Martin terbit rasa sesal, saat dulu ia terpaksa memisahkan sang putri dengan Arland. Namun, semua ia lakukan hanya untuk memastikan bahwa putrinya akan baik-baik saja. Dan kini, ia bisa melihat kenyataan bahwa hanya Arland yang ada di hati putrinya.


****

__ADS_1


Hay haayy... Udah mendekati endingnya nihh,, jangan lupa like dan komennya yaa... Tambahkan sebagai favorit dan vote juga... Terima kasih semuanyaa....


__ADS_2