
Kezia sudah ada di lobby hotel. Suasana sudah sangat sepi. Seorang receptionist tersenyum menyambut kedatangan Kezia.
"Ada yang bisa saya bantu Nona…” sapa sang receptionist dengan ramah.
"Tadi katanya ada….” Suara Kezia terhenti saat seseorang berdiri tepat dihadapannya. “ Arland…” lirih Kezia yang tercengang melihat Arland yang tiba-tiba ada di hadapannya.
Arland berjalan ke arah Kezia. Tatapannya begitu tajam dengan gurat lelah di wajahnya. Tangan kirinya menggengam jacket kulit berwarna coklat tua. Tubuh atletisnya di balut kaos polo berwarna putih dengan celana denim hitam. Sepatu cats membungkus kakinya.
Kezia terpaku menatap sorot mata tajam Arland yang terasa menghujam jantungnya.
Dalam beberapa langkah, Arland sudah berdiri di hadapannya. Di raihnya tangan Kezia kemudian menarik tangan Kezia dan berjalan keluar pintu hotel. Jantung kezia berdegub sangat kencang. Bukan hanya karena kaget atas kedatangan Arland, aura tubuh Arland terasa mengalir menelusuk nadi di tangannya yang membuat adrenalin meningkat begitu saja.
"Land, kita mau kemana?” Tanya kezia yang kebingungan mengikuti langkah cepat Arland. Arland tidak menjawabnya. Mereka berjalan ke arah samping kanan hotel dan tiba di sebuah taman kecil.
Arland berhenti di sebuah bangku taman dan menjatuhkan tubuhnya di bangku tersebut.
"Duduk!” Ujar Arland.
"Kamu ngapain tiba-tiba dateng ke sini. Terus pake tarik-tarik tangan orang segala. Kamu mau dikira nyulik anak orang apa gimana?” cerocos Kezia tanpa mengiraukan permintaan Arland.
Arland tidak menjawab. Dia masih tertunduk dengan tatapan tajam ke depan. Entah apa yang dilihatnya.
"Hey, kamu gag denger aku ngoomong apa?” seru Kezia dengan suara naik 1 oktaf.
Tiba-tiba Arland berdiri dan mendekati Kezia. Di raihnya tengkuk kezia, dalam sekejap bibir Arland mengecup lembut bibir Kezia. mata kezia terbelalak. Pikirannya benar-benar kosong. Jantungnya melonjak-lonjak tak karuan. Desir darahnya berderu sangat kencang. Dan hal itu pula yang di rasakan oleh Arland.
Kezia yang kemudian tersadar, segera melepaskan tubuhnya dari Arland. Didorongnya tubuh Arland kuat-kuat, dan..
"PLAK!" sebuah tamparan membekas di pipi kiri Arland. Arland tak bergeming sama sekali. Kezia mengusap bibirnya kasar, dadanya nyaris meledak begitu saja.
Arland meraih tangan Kezia dan menariknya hingga masuk ke dalam dekapannya.
" Maafin aku key…” bisik Arland di telinga kezia. Kezia berusaha melepaskan diri dari pelukan Arland, namun arland semakin mengeratkan pelukannya seolah tak ingin terpisah. "Sebentar saja key, sebentar saja..." lirih arland.
Arland membenamkan wajahnya di ceruk Kezia. Bahunya terlihat naik turun meski tanpa isakan. Hanya rasa dingin tetesan air mata yang membasahi bahu Kezia.
Sejenak Kezia membiarkan semuanya berlalu begitu saja. Meski ia ingin memekikan tangisannya, ia berusaha menahannya di hadapan Arland, atau semua dramanya selama ini akan sia-sia.
****
Kezia duduk berdampingan dengan Arland. Arland menatap Kezia dengan seksama, namun kezia berusaha mengabaikannya. Ia memandangi cahaya pijar dari lampu yang bersinar lembut.
"Kenapa kamu melakukan semuanya sendirian Key?” tutur Arland dengan suara paraunya.
"Apa yang aku lakuin sendiri? Aku pergi bareng temen-teman dan guru-guru..” jawab Kezia sekenanya.
Arland tersenyum mendengar jawaban Kezia.
" Kenapa kamu hadapin Irene sendirian?” Arland mengulang pertanyaan yang sama dengan cara yang berbeda.
__ADS_1
"Kamu…” kezia menghadapkan tubuhnya pada Arland. Arland melakukan hal yang sama. Cahaya lampu temarang menyinari wajah cantik Kezia. Membuatnya terlihat lebih hangat. Wajah yang selama ini dirindukan Arland dan membuatnya hampir gila.
"Apa dengan cara ini kamu baru mau bicara sama aku?” Tanya Arland sambil menatap lekat wajah kezia.
Kezia berfikir, mungkin Arland sudah mengetahui semuanya.
"Ini tentang kita key, tolong jangan menghadapinya sendirian…” lanjut Arland.
"Kita? Kita belum apa-apa Land, tapi Irene sudah melakukan hal yang bisa merusak kebahagian orang-orang yang aku sayangi! Bagaimana bisa aku berdiam diri dan melihat semuanya hancur. ” sahut Kezia meinggikan suaranya.
"Orang yang kamu sayangi? Siapa? Apa aku termasuk didalamnya? Lalu kenapa kamu bilang kita belum apa-apa?” beruntun pertanyaan yang diberikan Arland.
Kezia tercengang mendengar pertanyaan Arland. Tidak ada satupun jawaban yang dia siapkan kalau suatu saat Arland menanyakan hal tersebut.
"Kamu pulang lah Land, gag ada yang perlu kita bicarakan sekarang?” tutur Kezia sambil menahan sesak di dadanya. Ia memalingkan wajahnya dari arland dan mengusap kasar air mata yang menetes tanpa permisi.
"Tuhan, bukankah yang aku lakukan sudah benar.” batin Kezia.
"Ya bagus, pikirkan saja semuanya sendiri , jangan pikirkan perasan orang-orang yang mengkhawatirkan mu, jangan peduli juga pada orang-orang yang menyayangimu.!” Seru Arland.
"Kenapa kamu memposisikan aku sebagai seorang yang begitu egois, Kenapa?!” seru Kezia yang mulai kehilangan kontrol.
"Kamu Kira kania senang ketika dia mendapatkan kembali semua harta orangtuanya tapi dia kehilangan harga diri dan kebahagiaan sahabatnya? Apa kamu kira juga Dena dan sherly juga bahagia melihat sahabatnya berjalan sendirian tidak menganggap mereka ada? Lalu apa kamu kira aku juga bahagia ketika kamu membiarkan aku bersama wanita sejahat Irene? Apa itu begitu membahagiakan buat kamu key?” cerocos Arland.
Kezia hanya mematung. Air mata meleleh di pipinya. Terpaan cahaya lampu membuatnya berkilau.
"Hentikan semuanya Key, jangan pernah berjalan sendiri. Jangan bilang kalau kamu selalu baik-baik aja… Karena walaupun kamu bisa menipu orang lain, kamu gag bisa menipu perasanmu sendiri.” lirih Arland yang mendekap Kezia dengan erat. Kezia mulai terisak di pelukan Arland. Pertahanannya runtuh seketika. Tekadnya untuk menjauhi Arland memudar begitu saja. Ternyata Kezia begitu merindukannya, begitu ingin bersamanya.
****
Flash Back On
"Land, lo mau kemana?” seru Tyo yang berlari mengejar Arland.
Arland tidak menjawabnya. Diambilnya helm yang berada di atas motornya, dengan cepat dikenakan.
"Land, lo jangan bertindak bodoh! Sekali Lo salah ngelangkah, yang kena imbas bukan Cuma Lo, tapi banyak orang!” seru Ricko sambil menarik jacket Arland yang berhasil di raihnya.
" Tapi kali ini si Irene tuh udah kebangetan!” Teriak Arland sambil memukulkan tinjunya ke atas tanki motornya.
"Iyaa,, tapi lo pikirin dulu, cara yang baik kayak gimana… Bukan pergi gitu aja terus bikin masalah tambah runyam. Kezia juga pasti ada alesan dia ngelakuin kayak gini.” Seru Ricko setengah berteriak di hadapan Arland.
"Gue gag tau harus gimana. AArrgghh!!!” Umpat Arland yang benar-benar frustasi.
"Land, gue udah ngobrol sama sherly masalah perusahaan keluarga mereka. Besok itu rapat direksi tentang perpanjangan kerjasama dengan investor. Gue minta bantuan bokap gue juga ikut untuk membeli beberapa saham. Dengan catatatan semua investor wajib membayar penalti kalo dalam kurun waktu satu tahun mereka keluar dari kontrak kerjasama. Dan kabar baiknya, Wibawa Group tiba-tiba mau membeli 20% saham di perusahaan keluarga sherly. Itu udah lebih dari cukup untuk membuat perusahaan Bokap kania bertahan.” Terang Ricko.
Ada angin segar yang menerpa hati Arland. Ada kesempatan untuk Kezia mengurangi rasa bersalahnya pada kedua sahabatnya.
"Dan tentang perusahaan nyokap lo…” imbuh Ricko sambil menarik nafas panjang.
__ADS_1
"Ko, gue tau perusahaan nyokap gue udah gag ada harapan, karena sampe kapanpun, gue gag mau hidup di bawah bayang-bayang keluarga Irene.” Tegas Arland.
"Terus apa yang mau lo lakuin?” Ricko ikut duduk di atas motor Arland, menatap sahabatnya dari samping.
"Kayaknya, gue bakal jual semua asset peninggalan bokap dan gue investasiin di perusahaan bokap Lo. Setelah gue selesai kuliah, gue akan nyari usaha apa yang bisa gue jalanin buat ngerakak maju lagi.” Terang Arland dengan tatapan yakin.
"Nah, ini Arland yang gue kenal. Arland yang bisa ngendaliin emosi dan bisa bersikap dewasa.” Seru Ricko sambil menepuk-nepuk bahu Arland dengan bangga.
"Ngeledek gue Lo Ko?” Arland menyiku Ricko dengan sengaja, dan yang disikut malah tergelak puas.
"Sekarang, lo selesein dulu urusan Lo ama kezia. Gue yakin, lo bisa ngambil langkah yang bener dan inget, jangan impulsive!” tutur Ricko sambil mengarahkan jari telunjuknya pada Arland. Persis seorang kakak yang sedang menasihati adiknya.
"Thanks bro! Lo emang sahabat gue!” Arland merangkul Ricko sesaat.
flash back Off
****
Kezia membaringkan tubuhnya di tempat tidur yang terpisah dengan Rana. Matanya menerawang ke langit-langit kamar. Ia mengingat semua kejadian di taman tadi dengan Arland. Kezia menyentuh bibirnya lembut. Masih terasa hawa hangat dari kecupan Arland. Tangannya mengepal meremas sprei yang ada di bawah badannya. Ia tersenyum dengan rona merah yang tak pernah hilang dari pipinya.
“Kenapa kamu kesini segala sihh…” gemas Kezia saat mengingat kejadian tadi.
“ddrrrtt…”
Ada notifikasi pesan masuk di handphone Kezia.
“ Aku di kamar 302” _Arland.
“ Gag usah laporan juga kali…” _Kezia
“ Yaa… aku Cuma takut kamu nyariin karena kangen..” _Arland.
Tersungging senyum manis di bibir kezia.
“ Gag lah… Tidurlah.”_Kezia
“ Aku gag bisa tidur, kamu harus tanggung jawab.” _Arland
“ Bukan urusanku. Aku ngantuk. Selamat malam…”
_Kezia
“ Dasar gadis gag bertanggung jawab. Aku cari kamu besok. Tidurlah…” _Arland.
Darah kezia kembali berdesir cepat. Terbayang hal-hal aneh di pikiran Kezia. Seperti apa pertemuannya dengan arland besok. Kezia mengetuk-ngetuk kepalanya dengan tangan kanannya, Mengusir semua bayangan Arland dari rongga kepalanya. Tak lama kezia terlelap di peluk malam. Wajah Arland tak hanya berada dihadapannya, tapi saat
terpejampun bayangannya begitu nyata. Hingga mimpi malamnya di penuhi semua tentang Arland.
****
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen juga tambahkan favorit yaaaa... Xoxo..
Maacih looohhh