
Meja makan yang biasanya menjadi tempat paling menyenangkan untuk keluarga Martin selain menikmati makanan enak yang di hidangkan Eliana juga tempat mereka bersenda gurau dan berbincang hangat, kini seolah menjadi tempat paling membosankan karena hanya suara dentingan sendok dan garpu yang saling beradu. Tidak ada perbincangan di antara mereka, semua fokus dengan makanannya lebih tepatnya pikiran dan perasaan masing-masing.
Kezia sudah duduk berhadapan dengan Eliana. Terlihat ia sangat malas ketika harus menyendok makananya dan menelannya bulat-bulat. Tak lama Martin datang dan duduk di samping Eliana. Kezia masih asyik mengaduk makananya sendiri.
“Makan yang betul!” seru Martin sambil menatap Kezia dengan tajam. Kezia mengangkat kepalanya.
“Aku kenyang!” seru Kezia sambil menghempaskan sendok dalam genggamannya, lalu segera berdiri hendak meninggalkan meja makan.
“Kezia! selesaikan makan kamu!” gertak Martin. Tapi kezia tak menggubrisnya. Dia merasa yang dihadapinya sekarang bukan Martin yang biasanya. Kezia terus melangkahkan kakinya menuju kamar. “Selangkah lagi kamu pergi, kamu bener-bener akan menyesal!” tandas Martin.
“Nyesel? Ya aku nyesel, karena aku gag pernah papah kasih pilihan!”gertak Kezia yang mulai mengepalkan tangannya menahan amarah.
“Kamu hanya harus menuruti permintaan papah, bukan tawar menawar. Apa susahnya?” Martin ikut meninggikan suaranya
“Atas dasar apa? Kasih 1 alesan kenapa aku harus nurut sama maunya papah!” tantang Kezia. Ditatapnya wajah Martin dengan tajam.
“Karena papah sayang sama kamu! Papah gag mau kehilangan kamu!” Teriak Martin
“Kalo gini caranya, papah bukan sayang sama aku. Papah yang aku kenal adalah papah yang demoktratis. Selalu mempertimbangkan perasaan aku, papah yang gag pernah bertindak kasar dan seenaknya. Dan itu bukan papah yang sekarang!” cerocos Kezia dengan suara bergetar.
Martin sudah tidak tahan lagi melihat perlawanan Kezia. Martin segera menghampiri Kezia dan memeluknya.
“Papah benar-benar gag mau kehilangan kamu nak… Maafkan papah…” lirih Martin yang mulai terisak di bahu Kezia. Ia sudah tidak bisa lagi menutupi alasannya meminta Kezia pergi keluar negri.
“Kenapa pah, kenapa?”
Martin melepas pelukannya, kemudian mengambil sesuatu dari dalam tas kerja yang sedari siang ada di kursi meja makan. Sebuah amplop berwarna coklat itu ia tunjukkan pada kezia.
“Duduklah, papah akan menjelaskannya. Tapi setelah ini, papah mohon, kamu lakukan apapun yang papah minta tanpa penolakan.” Terang Martin seraya menatap Kezia. Kezia hanya terdiam, belum mampu memahami maksud Martin. Sementara Eliana masih berada di samping Kezia dan membelai punngungnya untuk menenangkan sang putri.
****
Flash Back On
“Selamat pagi pak…” sapa martin pada Hendra yang hari itu memintanya untuk datang ke kantor.
“Pagi pak Martin… Silakan duduk…” sambut Hendra dengan ramah. “Mohon maaf saya menganggu hari liburnya. Saya kesini untuk menyampaikan pesan dari tuan muda kami pada bapak.” Lanjut Hendra sambil menyodorkan amplop coklat.
__ADS_1
Martin meraih amplop yang disodorkan Hendra untuk kemuduan dibukanya. Matanya terbelalak melihat isi amplop yang dikeluarkannya. Kronologis kejadian penabrakan Kezia tertulis jelas di sana. Dilengkapi dengan foto-foto dari tempat kejadian dan foto pelaku. Martin mengepalkan tangannya dengan rahang mengeraskan menahan marah.
“Pelakunya saat ini sudah di tahan di kantor polisi. Semalam dia mengakui nama orang yang menyuruhnya dan ternyata Nona kezia pun mengenalnya.” Terang Hendra.
“Berapa lama dia akan mendekam di penjara?” sorot mata tajam nan berapi-api terlihat jelas di mata Martin.
“Pengacara kami sedang mengurus kasusnya. Namun yang jadi perhatian sekarang adalah non kezia. Wanita itu masih berani mengancam walaupun sudah di depan penyidik. Sebaiknya, pak martin mengikuti saran tuan muda kami untuk menyekolahkan non Kezia di luar negri. Agar kondisinya lebih aman. Namun permintaan tuan muda juga, agar non kezia tidak mengetahui kejadian ini.” Ungkap Hendra yang masih terlihat tenang.
Martin mendengus kesal. Bayangan wajah Kezia berkelebat di depan matanya. Memorinya mengingatkan kejadian saat putrinya nyaris kehilangan nyawa. Hingga saat ini ia tidak tahu, harus seperti apa menyampaikannya pada Kezia. Namun dalam hatinya jelas, ayah mana yang akan membiarkan sang putri berada dalam ancaman.
****
Dengan langkah gontai, Martin keluar dari kantornya. Ia masuk ke dalam mobil lalu menutup pintunya dengan keras. Ia memukul kemudi yang ada di hadapannya.
“Aarrrrgghhh!!!!” teriak Martin yang sudah tidak bisa menahan emosinya.
Ia menangis sejadinya. Perasaan cemas menjadi satu-satunya yang mendominasi Martin saat ini. Setelah cukup tenang, ia melajukan kendaraan menuju kantor polisi tempat pelaku penabrakan di tahan.
Dari kejauhan, ia mendengar teriakan seorang wanita yang tengah memberontak. “Lepaskan! Lepaskan saya! Kalian akan menyesal karena telah berani menahan Irene Aditya!” teriak wanita tersebut.
“Sayang, tenang nak, papah sama mamah di sini.” timpal seorang wanita dengan diiringi tangis.
“Suruh mereka lepasin aku mah!” teriak Irene yang sudah tak karuan. Wanita itu hanya menangis di hadapan Irene dan memeluknya dengan erat.
Martin melangkahkan kakinya hendak melihat Irene lebih dekat. Di tatapnya wajah gadis muda yang merah padam karena di kuasai amarah. Rambutnya yang berantakan menutupi sebagian wajahnya.
“Hahahahha… Kamu berani datang ke sini? Gimana kabar putrimu, apa sudah mati?!” teriak Irene pada Martin.
Martin terbelalak mendengar ucapan Irene. Ingin sekali ia membungkam mulut wanita di hadapannya. Pandangannya bahkan tidak berubah saat mengatakan sebuah kematian tentang putrinya.
“Jaga mulut kamu pembunuh! Saya pastikan kamu akan menyesal karena berani menyentuh putri saya!” gertak Martin yang mulai tak terkendali.
“Hahahaha bisa apa kamu?! Kalian cuma orang-orang lemah yang tidak berguna! Kamu harus ingat, kalau anak kamu masih berani mendekati arland, kamu hanya akan melihat mayatnya!” ancam Irene yang kemudian tertawa terbahak-bahak.
“Plak!!!”sebuah tamparan keras mendarat di wajah Irene.
Tangan Martin bergerak begitu saja, tidak lagi memperdulikan bahwa yang di tamparnya adalah seorang anak perempuan.
__ADS_1
Irene terhuyung, ia terlepas dari genggaman tangan ibunya.
“Sialaaann!!! Kamu akan ikut mati bersama anak kamu!” ancam Irene yang berusaha bangkit untuk memukul Martin.
Dengan cepat polisi yang berada di sana menahannya Irene agar tidak semakin menggila tapi Irene semakin memberontak dan semakin banyak kata-kata kasar yang terucap dari mulutnya. Martin hanya bisa mengeram kesal melihat anak perempuan yang sepertinya tidak memiliki hati dan akal sehat.
“Pak, saya mohon maaf, saya…” ujar wanita tersebut pada Martin.
Namun martin tak memperdulikannya. Ia segera pergi dengan emosi yang masih membuncah.
Flash back off
“Sayang, kamu adalah satu-satunya harapan papah. Kamu sumber kehidupan dan kebahagiaan bagi keluarga ini. Papah tidak ingin kehilangan kamu untuk alasan apapun. Mungkin papah memang egois dan jika kamu marah, papah akan menerimanya tapi papah mohon kali ini saja, kabulkan permintaan papa, pergilah ke luar negri untuk belajar…” tiba-tiba Martin bersimpuh di hadapan Kezia. Tangisnya pecah begitu saja. Dia benar-benar tak sanggup kalau harus kehilangan putri satu-satunya.
“Papah, kenapa papah harus kayak gini segala? Apapun yang papah minta pasti zia lakukan, asal berikan zia alasan yang jelas. Ayo berdiri pah, jangan seperti ini. Harusnya zia yang bersimpuh di kaki papah…” tutur Kezia seraya memeluk Martin dengan erat. “Maafin zia pah, mah… harusnya zia gag bentak-bentak mamah sama papah…” lirih Kezia dengan tangisnya.
“Maafkan papah juga sayang, harusnya papah menjelaskan langsung, bukan tiba-tiba memaksa kamu melakukan ini dan itu.” Martin melepas pelukannya. “Jadi, apa kamu bersedia untuk belajar di jerman?” Lanjut Martin.
Entah apa yang ada di benak Kezia saat ini, yang jelas ia tak sanggup melihat kedua orang tuanya bersedih karena dirinya. Ia mencoba memahami semua yang disampaikan Martin. Walaupun terasa sangat berat tapi ia tak punya pilihan lain untuknya saat ini.
“Iya pah, tapi zia punya permintaan..” Kezia hanya bisa pasrah
“Apa sayang?” terlihat binar penuh harap dari mata Martin.
Kezia menatap wajah tampan yang sudah tak muda lagi. Kerutan halus mulai terlihat, dengan mata basah karena menangisinya. Perasaan apalagi yang harus ia coba ingkari.
Kezia menarik nafasnya dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya sendiri.
“Pertama, zia akan berangkat setelah kelulusan dan perpisahan dengan teman-teman. Kedua, di jerman sana, zia ingin berusaha sendiri tanpa bantuan dan belas kasihan dari siapapun.” Tutur Kezia.
“Ya sayang… Papah akan penuhi senua perrmintaan kamu tadi…”
“Terima kasih pah, mah… Zia sayang kalian…”
Kezia memeluk kedua orangtuanya dengan erat. Lelehan air mata mengalir begitu saja. Pilihan sulit telah dia ambil.
“Maaf land, aku mengingkari janjiku…” batin Kezia
__ADS_1
****