My First Love Story

My First Love Story
Episode 122


__ADS_3

Kezia sudah kembali ke rutinitasnya merawat pasien di rumah sakit. Ia memilih untuk tinggal di apartemen yang tidak terlalu jauh dari rumah sakit. Sean dan Sarah ikut bersamanya. Setiap hari, selain bekerja ia menyibukkan diri dengan bermain bersama Sean. Sesekali mereka berjalan-jalan naik sepeda ke tempat favoritnya bersama Angga dulu. Dengan setia Sean menemaninya. Hingga tanpa terasa waktu satu tahun mereka lewati begitu saja. Tidak ada lagi raut kesedihan di wajah mereka. Sean kecil selalu berhasil menghibur Kezia di kala ia merasa sedih dan kesepian dan pekerjaan yang menumpuk seolah menjadi pelipur laranya.


“Hayy nena….” Sapa Sean saat tiba-tiba sebuah panggilan video masuk ke handphone Kezia.


“Sean… Kamu sedang apa nak, mana mima?” sambut Anna dengan senyum ramahnya.


“Mima sedang di dapur, dia mau bikin makanan buat sean.”


“Ooo… iyaa. Hari ini mima-mu libur nak?”


“Iya nena… apa nena mau bicara dengan mima?” tanya Sean yang segera bangkit dari baringannya.


“Tentu sayang…”


Sean segera berlari menuju dapur dan memberikan ponselnya  pada Kezia.


“Hay mah, apa kabar?” sapa Kezia dengan ramah.


“Kabar baik… Kamu apa kabar nak?”


“Kabar baik mah.”


“Key, siang ini kamu bisa makan siang di sini?”


“Tentu mah, kebetulan aku libur, nanti aku ajak sean ke rumah mamah.” Kezia menyahuti.


“Baiklah, mamah tunggu ya… hati-hati di jalan.” Tukas anna.


Kezia mengakhiri panggilannya setelah mengucapkan perpisahan. Tampak Sean masih berdiri di hadapannya dan memandanginya dengan lekat.


“Apa kita akan ke rumah nena, mima?”


“Ya sayang, kamu bersiaplah…”


“Yeayy!!!” Sean melonjak kegirangan ia bergegas menuju kamarnya dan memakai jaket tebal. Sean memang sangat mandiri, ia bisa mengatur sendiri kebutuhan pribadinya hingga terkadang Kezia bingung apa anak ini benar-benar baru berumur 6 tahun. Sikapnya sama seperti Angga, sangat over protective pada mimanya.


Sean dan Kezia berangkat berdua menuju rumah Mahesa. Kezia membawa mobil sendiri dan dia sudah bisa menyetir dengan lancar. Sepanjang jalan, mereka tertawa mendengar celoteh Sean yang tidak ada habisnya.


Hingga sampai di rumah keluarga Mahesa, Sean masih tertawa dengan gembira. Di depan pintu Anna sudah menyambut kedatangan Kezia yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri. Anna memeluk Kezia dan Sean bergantian dengan erat.


Saat ini Indira sedang menemani suaminya di Berlin dan tengah hamil anak keduanya. Sehingga Mahesa dan Anna hanya tinggal berdua bersama para pelayan saja.


Di ruang makan sudah menunggu Mahesa. Dia sangat bahagia melihat kedatangan Sean dan Kezia.


“Wah lihat, cucu popo tambah tinggi saja…” ujar Mahesa seraya mengukur tinggi badan cucunya. Sean memeluk kakeknya dengan erat. “Apa kamu merindukan popo?” lanjut Mahesa.


“Iyaa popo, sean rindu sama popo dan nena.” Sahutnya sambil mencium pipi kakeknya.


“Baiklah, ayo kita makan, supaya kamu tambah tinggi. “ ajak Mahesa sambil menarikkan kursi untuk Sean.


“Kamu apa kabar nak?” tanya Mahesa pada Kezia.

__ADS_1


“Aku baik pah,…” sahut Kezia seraya tersenyum. Melihat Kezia bagi Mahesa ia seperti melihat Angga hidup dalam dirinya. Meski Kezia belum menjadi istri Angga namun ia merasa Kezia adalah bagian dari keluarganya. Wanita yang sangat dicintai Angga.


Mereka mulai menikmati makan siangnya. Menu makan siang khas eropa tersaji dengan lengkap di meja makan. Celotehan Sean selalu menjadi penambah suasana menjadi lebih hangat. Usai makan siang, mereak berkumpul di ruang keluarga untuk menikmati dessert-nya.


“Key,, ada sesuatu yang ingin papah sampaikan…” tutur Mahesa dengan wajah seriusnya.


“Iya pah, ada apa?” dengan tenang Kezia meresponnya.


“Ini…” Mahesa menyodorkan sebuah amplop coklat besar pada Kezia. “Bukalah…”


Kezia mengambil amplop yang ada di hadapannya. Sebuah berkas yang bertuliskan namanya dalam bahasa Jerman. Kezia membuka satu per satu berkas tersebut.


“Apa ini pah?” Kezia mengernyitkan dahinya.


Mahesa tersenyum tipis sebelum memulai kalimatnya. “Nak, kamu selalu memimpikan kelak kamu memiliki rumah sakit khusus penderita kanker yang kamu bangun sendiri dan itupun sudah menjadi salah satu mimpi angga yang ia sampaikan pada hendra beberapa bulan sebelum ia meninggal. Papah minta, tolong bangunlah rumah sakit itu dan wujudkan mimpi kalian. Papah yakin , angga akan sangat senang. Selain itu, tolong jaga peninggalan Angga di Indonesia, yayasan pendidikan yang ia bangun sendiri. Papah yakin, kamu bisa meneruskannya.” terang Mahesa dengan penuh harap


Kezia masih tak percaya dengan apa yang didengarnya. Ia menatap Anna bergantian berusaha meyakinkan dirinya.


Anna hanya terangguk. Masih teringat jelas di kepala Anna saat ia menemui Angga ketika ia dipingit. Kala itu, Angga tengah sendirian di depan jendela kamarnya memandangi foto Kezia yang ia jadikan wallpaper laptopnya.


"Sayang, makan dulu nak.." tutur Anna seraya duduk di samping Angga.


"Apa kezia udah pulang mah?"


"Udah, baru masuk ke kamarnya." Anna mengusap kepala Angga yang bersandar di bahunya.


"Aku ngerasa sehari itu lama banget kalo gag ketemu kezia mah..." lirih Angga tanpa mengalihkan pandangannya dari foto Kezia.


Anna tersenyum kecil, putra kesayangannya memang sedang dimabuk cinta.


Angga tersenyum kecil, sepertinya ia tengah membayangkan kalau Kezia ada di hadapannya.


"Mah, angga boleh minta satu hal?" kali ini kalimat Angga terdengar serius. Ia bahkan menatap Anna laman. Anna terangguk mengiyakan permintaan putranya. "Mah, saat ini angga tau, kezia sedang sangat berusaha meyakinkan hatinya. Kezia gadis yang kukuh pada pendiriannya. Jika saat ini ia memilih untuk belajar menyayangi angga sebagai calon suaminya, berarti banyak hal yang ia pertaruhkan." Angga menjeda kalimatnya dengan sebuah tarikan nafas dalam.


"Mungkin saat ini ia mulai mereset tidak hanya perasaannya tapi juga pikiran dan angan yang sudah ia bangun. Saat ia berusaha keras terhadap sesuatu, ia akan sangat tulus melakukan semua cara untuk mencapai titik itu dan angga merasakan usaha yang luar biasa dari kezia. Tapi terkadang angga merasa miris, mungkin angga terlalu jahat. 2 kali angga membuat kezia mengambil keputusan yang sulit tapi ia tidak pernah menyesalinya. Dan angga pun tidak ingin menyesali sisa waktu yang hanya sedikit ini. Jika kelak angga pergi lebih cepat dari yang angga mau, tolong jangan biarkan kezia terpuruk mah. Angga sangat menyayangi kezia lebih dari apapun. Maka, lakukan cara apapun untuk membuatnya tidak bersedih. Buatlah alasan agar ia mempunyai tujuan dan fokus baru. Berjanjilah sama angga mah...."


Anna masih merasakan genggaman hangat Angga, ia pun masih melihat sorot penuh harap dari kedua mata putranya. Matanya yang berair dan kemerahan terasa seperti belati yang menyayat hati Anna. Dan mungkin ini lah cara agar ia tidak lagi melihat Kezia terpuruk. Tidak lagi melihat Kezia gila kerja hanya karena ingin melupakan kesedihannya. Ia ingin mewujudkan keinginan putranya.


“Sayang, kamu adalah bagian dari keluarga ini dan akan selalu menjadi bagian keluarga ini sampai kapanpun. Bagi angga, kamu adalah hidupnya. Wujudkan mimpi kalian dan hiduplah dengan baik bersama orang-orang yang kamu sayangi. Mamah harap, kedepannya kami akan selalu menjadi orangtuamu nak…” sambung Anna dengan lembut.


Air mata menetes di pelupuk mata Kezia. Entah kebaikan apa yang ia buat di kehidupan sebelumnya hingga begitu banyak orang yang menyayanginya. Kezia berdiri dari kursinya, ia menghampiri Mahesa dan Anna, kemudian memeluk keduanya dengan erat.


“Aku gag tau, harus seperti apa aku membalas kasih sayang mamah dan papah…” lirih Kezia.


“Kamu adalah putri kami, kasih sayang yang kami berikan memang sudah seharusnya kami berikan.” lirih Mahesa seraya mengusap punggung Kezia.


“Terima kasih mah, pah…”  tukas Kezia. Mahesa dan Anna mengangguk mengiyakan. “Mah, pah, bagaimana dengan sean?” tanya Kezia seraya menatap wajah polos yang ada di hadapannya.


“Indira bilang, kalau sean mau ikut denganmu, dia boleh ikut. Indira yakin kamu bisa menjaga sean dengan baik. Lagi pula, papah rencananya akan kembali ke Indonesia juga. Perusahaan di sini akan papah mintakan suami Indira untuk mengurusnya. Kami ingin istirahat di rumah kami.”


“Iya pah… terima kasih atas kepercayaan mamah dan papah. Aku akan menjaga Sean dengan baik. Dan kita akan berkumpul kembali di Indonesia.” ungkap Kezia.

__ADS_1


****


Malam itu, Kezia tidak bisa memejamkan matanya. Perasaan di dadanya berkecambuk. Kembali ke Indonesia adalah hal yang selalu ia harapkan sekaligus ia takutkan. Ia takut ada hal buruk yang mungkin mengancamnya dan orang-orang di sekitarnya selain itu ia pun harus meninggalkan Angga yang dimakamkan disini.


Mata kezia tertuju pada Kotak yang berada di samping lemari pakaiannya. Kotak yang di bawa Fritz beberapa hari setelah Angga meninggal. Kezia mengambilnya dan mulai membukanya. Ternyata isinya adalah barang-barang peninggalan Angga. Ada sepucuk surat di sana dan sebuah buku harian bersama barang-barang lainnya.


Kezia menarik nafasnya, kemudian memberanikan diri membuka surat yang ada di tangannya.


“Hay schnucki…” sapaan khas Angga.


“Saat kamu membaca surat ini, berarti aku telah pergi jauh. Pergi ke tempat yang tidak hanya memiliki jarak tapi juga dunia yang berbeda. Aku bersyukur, karena aku pergi saat kamu benar-benar berada di sisiku, tidak pernah meninggalkanku dan merawatku dengan baik.” Seketika air mata Kezia mulai menetes ia merasa Angga telah duduk di hadapannya dan berbicara padanya.


Ia mengusapnya perlahan, walau tidak menghentikannya terus mengalir di kedua pipinya.


“Kamu tau, hal terberat yang aku tinggalkan adalah meninggalkanmu dalam keadaan bersedih. Aku takut kamu akan menangis sendirian dan tak mengizinkan siapapun mendekatimu. Aku takut, saat kamu menangis, kamu melakukan hal-hal bodoh, tidak makan, tidak memikirkan kesehatanmu dan tidak ada seorangpun yang berhasil membujukmu. Aku menitipkan semua barang berhargaku pada fritz, dia laki-laki yang baik walaupun aku sedikit membencinya karena dia selalu berusaha mendekatimu. Tapi aku yakin, dia akan menjaga titipanku dengan baik."


"Schnucki, terima kasih telah berusaha keras untuk belajar mencintaiku. Terima kasih telah berlari ke arahku dan membiarkanku masuk dalam hatimu. Maaf, jika banyak janji yang tidak bisa aku tepati. Aku hanya bisa berharap, semoga kita bertemu di kehidupan berikutnya dan kita bisa memiliki satu sama lain, lebih lama, tanpa rasa sakit dan kesedihan. Aku mencintaimu. Kamu adalah alasanku bertahan. Kelak, menikahlah dengan laki-laki yang mencintaimu dan bisa menjagamu dengan baik. Saat kamu memiliki anak, beritahu dia kalau dia punya paman yang sangat keren seperti aku. Siapapun laki-laki yang kelak menikahimu, aku harap kalian bahagia. Jangan lagi ada tangis, jangan lagi ada kesedihan. Cukup aku yang jadi alasanmu menangis. Jangan berduka terlalu lama, hiduplah dengan baik dan tetaplah jadi schnucki yang selalu aku sayangi. Jika aku boleh meminta, aku menitipkan sean padamu, kelak dia akan menyayangimu dan menjagamu. Bahagialah selalu schnucki, aku mencintaimu, sangat mencintaimu. _With love, Angga.”


Kezia melipat kembali surat yang ada di tangannya. Ia kembali termenung dalam tangisnya. Tangis yang sama saat Angga pergi meninggalkannya. Ia membuka buku catatan Angga yang ada di sana. Semua tentang Kezia dan Angga tertulis jelas di sana.


"Ada gadis nakal yang mengangguku, aku tak bisa tidur karena kesakitan saat kemo dan lupa mematikan handphone. Kenapa dia malah mengangguku?"


"Aku merasa nyaman saat mendengar suaranya, tuhan kenapa aku ingin selalu mendengar suaranya?"


"Hari ini, pertama kalinya aku melihat wajahnya. Sangat cantik, menggemaskan. Saat dia tau keadaanku, apakah dia akan pergi?"


"Menyebalkan, gadis ini terus muncul di pikiranku. Membuatku terus melamun dan tidak enak makan."


"Dia menangis, aku kesal karena tidak bisa menenangkannya"


"Tuhan, dia sedang jatuh cinta. Kenapa aku merasa sangat cemburuu?"


"Lihatlah, dia begitu semangat belajar. Berusahalah sayang, semoga kita bisa bertemu. Hah, sayang? :D"


"Dia tau aku sakit, tapi tidak pernah sedikitpun menjauh atau memperlihatkan pandangan menyedihkannya padaku. Kenapa dia begitu indah?"


"Aku melihatnya, aku bisa melihatnya secara langsung. Sial, kenapa laki-laki itu terus mendekatinya?"


"Apa itu ciuman pertamanya? Dia terlihat begitu ketakutan, jangan sampai laki-laki itu merusaknya."


"Aku menjabat tangannya. Terasa begitu lembut dan hangat. Hari ini aku bisa berjalan, karena ada dia di hadapanku."


"Gadis keras kepala ini menemaniku saat chemo, dia membuatku tidak lagi merasakan sakit. Tuhan, kurasa aku jatuh cinta."


Kezia terus membaca satu per satu moment bersejarah bagi Angga hingga dini hari. Sesekali Kezia tersenyum, namun sesekali ia menangis. Hingga saat Angga akan pergi pun, ia menutupi rasa sakitnya, agar tidak ada satu hal pun yang dapat merusak kebahagiaannya.


"Aku kesakitan. Tubuhku terasa kering tanpa darah. Tapi memeluknya membuatku kuat. Tuhan, tidak bisakah membiarkanku seperti ini sedikit lebih lama?"


Kezia membaringkan tubuhnya, memeluk dengan erat buku catatan Angga yang tertulis dengan tulisan tangannya sendiri. Kezia memejamkan matanya,berharap sekejap saja Angga ada di hadapannya.


“Kak, aku merindukanmu…” lirih Kezia.

__ADS_1


Ia membalikan tubuhnya , perlahan matanya yang masih basah terpejam dalam dinginnya udara pagi.


*****


__ADS_2