
Arland masih menarik tangan Kezia untuk menjauh dari ruangannya, lebih tepatnya dari Fritz. Beberapa pasang mata memperhatikan apa yang dilakukan Arland dengan ekspresi kesalnya hingga mengundang orang-orang untuk saling berbisik mengomentari.
Arland membuka pintu mobil dengan segera saat tiba di tempat parkir.
“Masuk!” titah Arland dengan kasar.
Tak ingin keributannya jadi tontonan orang banyak, Kezia segera mengikuti Arland. Arland mulai menyalakan mesin mobilnya lalu menginjak pedal gas kuat-kuat dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
“Land, kita mau kemana? Jangan ugal-ugalan gini…” teriak Kezia yang mulai ketakutan. Namun Arland tak bergeming. Wajahnya terlihat begitu marah. “Land, aku mohon berhenti land, kita omongin semuanya baik-baik.” Kezia membujuk seraya memegangi tangan kiri Arland.
Arland menghentikan laju kendaraannya di tepi jalanan yang terlihat cukup sepi. Hanya beberapa kendaraan yang melintas, melewati mereka.
Nafas Arland terlihat mulai teratur walau masih dihembuskan dengan kasar. Kezia memegangi dahinya dan menyandarkan tubuhnya dengan perasaan lebih lega karena Arland menghentikan laju mobilnya. Kezia menatap Arland yang duduk di sampingnya dengan tangan masih menggenggam stir dengan erat. Sepertinya kemarahannya belum sepenuhnya hilang.
“Apa yang diomongin laki-laki itu? Apa dia minta kamu jadi pacarnya? Apa kamu gag bilang hubungan kita sama laki-laki itu? Atau kamu merasa senang karena dia mengejarmu sampai ke sini, hah?!” tanya Arland yang menatap Kezia dengan tajam.
Kezia mulai mengatur nafasnya. Kezia tau, laki-laki yang ada di hadapannya saat ini sedang sangat cemburu.
“Land, aku cuma nganggap dia sebagai temen, gag lebih…” tutur Kezia dengan suara rendah untuk meredam emosi Arland.
“Iya, tapi dia gag nganggap kamu temennya. Kamu gag liat arti tatapan mata dia, sentuhan dia, apa kamu gag ngeri maksud dia apa?” Arland masih terlihat kesal.
“Kenapa fokus kamu cuma sama perasaan dia ke aku, tapi gag pernah mau tau perasaan aku ke dia? Apa kamu ngerasa perasaan dia ke aku lebih penting di banding perasaan aku ke dia?” tukas Kezia yang tersulut emosinya.
“Aku ngerasa kalo kamu ngerespon dia key.”
“Land, aku masih bersikap baik sama dia, bukan karena aku ngerespon dia. Dia sahabat aku dan aku menghormati dia makanya aku harus ngomong baik-baik sama dia. Kamu belum denger jawaban apapun dari aku buat dia kan tapi kamu langsung maen masuk terus mukul dia.” cerocos Kezia dengan nafas yang terengah. Baru kali ini ia bicara seemosi ini pada Arland.
Arland terdiam yang mulai mencerna setiap ucapan Kezia. Rasa cemburu yang dirasakannya, membuat Arland tidak bisa mengendalikan emosinya bahkan logikanya. Yang Arland rasakan hanyalah rasa takut, rasa takut yang begitu besar jika ia harus kembali kehilangan Kezia.
__ADS_1
“Memang apa jawaban kamu buat dia?” Arland mulai menjernihkan pikirannya.
“Ya aku akan jawab kalo aku gag punya perasaan lebih buat dia, selain sebagai temen.” Sahut Kezia dengan cepat.
“Apa kamu yakin?”
“Iya lah aku yakin. Karena hati aku emang bukan buat dia.” suara Kezia lirih di akhir kalimatnya. Wajahnya tampak kemerahan karena malu.
“Terus di hati kamu ada siapa?”
“Ya cuma ada kamu…” sahut Kezia dengan suara yang melemah.
“Kenapa, kamu ragu? Kok kayak gag yakin gitu jawabnya…” kali ini Arland beralih menggoda Kezia.
“Ishh bukan gitu maksud aku…”
Tiba-tiba Arland menangkup wajah Kezia dengan kedua tangannya.
Kezia terjeremab. Ia menatap sepasang manik hitam di hadapannya yang begitu tajam menatapnya. Perlahan ia terangguk, bukankah memang tidak ada yang perlu diragukan tentang perasaannya karena sedari dulu hanya ada satu tempat di hatinya dan telah di isi oleh Arland.
Arland menempelkan dahinya dengan dahi Kezia. Jarak mereka sangat dekat hingga Kezia bisa merasakan hawa hangat nafas Arland. “Aku cinta kamu, aku gag bisa kalo harus kehilangan kamu lagi. Aku rela kehilangan apapun, asalkan bukan kamu.” lanjut Arland seraya memejamkan matanya.
“Aku, aku juga cinta sama kamu land…” balas Kezia seraya menggenggam erat tangan Arland yang berada di pipinya.
Nafas mereka beradu dan terdengar saling menderu. Hingga perlahan, Arland mengecup lembut bibir tipis Kezia. Kezia membalasnya dengan malu-malu. Arland tersenyum dan kembali mengecup bibir Kezia, kali ini lebih lama. Ada gigitan kecil yang Arland arahkan ke bibir bawah Kezia, membuatnya gairah keduanya semakin menyala. Perlahan Kezia membuka mulutnya dan dengan lembut Arland menjelajahi seisi rongga mulut Kezia. Kezia mengeratkan genggaman tangannya yang sejak tadi memegangi pinggiran bajunya. Perlahan ia membalas ciuman Arland dengan kaku, membuat Arland semakin gemas.
“Mmhhmm….” Hanya suara itu yang keluar dari mulut keduanya di selingi decapan, mereka saling berpagutan dengan hangat hingga rasanya nafas keduanya hampir habis.
****
__ADS_1
Perjalanan hening berada di antara Kezia dan Arland. Suasana terasa sedikit canggung setelah yang terjadi beberapa saat lalu. Arland mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang membelah jalanan ramai ibu kota. Tangan kanannya mengatur kendali mobil sementara tangan kirinya tidak pernah sedikitpun melepaskan genggaman tangan Kezia.
Arland masih bisa merasakan manisnya bibir Kezia. Sesekali ia melirik Kezia yang duduk dengan gusar sambil menatap keluar kaca. Arland tersenyum kecil melihat Kezia.
“Kamu masih kaku aja…” ujar Arland memecah keheningan.
“Kaku apanya? Emang aku kanebo kering.” Sahut Kezia tanpa melirik Arland. Kezia mengerucutkan bibirnya dengan wajah sedikit kesal.
“Aku makin yakin, kamu emang gag pernah ngapa-ngapain di jerman…” goda Arland.
“Iisshh udah deh, kenapa bahas yang gini sih?!” protes Kezia yang merasa semuanya masih sangat tabu.
“Kenapa, kita dua orang dewasa dan yang kita omongin juga gag terlalu vulgar. Emang selama di jerman kamu gag pernah liat orang ciuman di pinggir jalan gitu?”
“Ya liat lah…” sengit Kezia.
“Terus apa yang ada di pikiran kamu? Jangan bilang first kiss kita..” Arland semakin semangat menggoda Kezia. Kezia mulai merasa gerah, karena tebakan Arland 100% benar.
“iihhh, kamu ngeselin ah!” keluh Kezia sambil mencubit perut Arland.
“Aaww… Iyaa ampun-ampun… Kalo mau main kelitikan jangan di mobil dong sayang…” Arland terkekeh seraya menatap wajah Kezia yang bersemu kemerahan karena malu.
“Tau ah!” Kezia memalingkan wajahnya melihat keluar jendela.
Ia menggigit bibirnya sendiri yang terasa menebal. Sementara Arland masih tersenyum senang melihat sikap gadisnya yang masih begitu polos. Bahkan Kezia masih mengikuti permintaan Arland dulu, untuk tidak mempertontonkan leher jenjangnya pada orang lain. Arland semakin yakin bahwa ia selalu ada di hati Kezia.
Arland menatap Kezia yang duduk di sampingnya. Ia tersenyum sendiri melihat kezia yang begitu canggung.
Dinyalakannya pemutar musik untuk menghilangkan kecanggungan di antara keduanya. Lagu teman hidup milik Tulus mengalun dengan merdu. Lagu yang biasa Arland mainkan saat sendirian dengan di temani gitar kesayangannya.
__ADS_1
Mereka saling bersitatap dan saling melempar senyum. Sesekali terdengar Arland ikut bersenandung. Suara Arland memang sangat enak di dengar, sepanjang perjalanan menjadi moment yang sangat menyenangkan bagi Arland dan Kezia. Tangan mereka saling menggengam dengan hangat seolah menggambarkan perasaan mereka yang terpaut semakin erat.
****