
“Aduuhh,, ni dena mana sih, lama banget! Udah habis 1 gelas nih gue.” gerutu Sherly yang tidak sabaran menunggu Dena yang berjanji akan datang 10 menit lalu tapi sampai saat ini belum terlihat batang hidungnya.
“Lo brisik amat sih, bikin gue tambah gerah!” dengus Kania sambil mengipas-ngipasi tubuhnya dengan buku menu. “Tuh liat, kayaknya itu dena deh” tunjuk Kania seraya memincingkan matanya.
“Iya ya, sama siapa tuh anak?” Sherly ikut memincingkan matanya.
“Tau, gag keliatan jelas.”
“Kayaknya gue kenal posturnya deh…”
“Siapa?”
“Kayaknya kezia.” terka Sherly seraya membenarkan posisi kacamatanya
“Oohh kezia.” Kania membulatkan mulutnya sambil terus berkipas. Tiba-tiba mereka sadar dengan nama yang mereka ucapkan.
“KEZIAAA?!” seru Kania dan Sherly bersamaan. Dan benar saja Kezia melambaikan tangannya pada Kania dan Sherly seraya tersenyum memamerkan lesung pipinya.
“Itu beneran key, beg*k!” teriak Sherly sambil berlari.
“Sherly tunggu gue!” teriak Kania yang ikut berlari kecil.
“Keeyyy!!! Ini beneran lo kan?” Sherly menatap tidak percaya pada gadis yang ada di hadapannya. Kezia terangguk yakin seraya tersenyum, dengan segera Sherly memeluknya dengan erat.
“Iya ini gue, lo kira siapa?” cetus Kezia seraya tertawa. Ia membalas pelukan Sherly yang juga terisak di bahunya. Tentu saja ia sangat merindukan sahabat yang lama tidak berkabar.
“Astaga bumil, lo jangan lari.” teriak Dena pada Kania.
Namun Kania tidak memperdulikannya, ia hanya ingin segera menghampiri sahabat kesayangannya. Kania berhambur ikut memeluk Kezia, ketiganya berangkulan.
“Gue kangen sama lo anak nakal! Lo kemana aja, gag pulang-pulang, hah?!” dengus Kania sambil memukul-mukul lengan atas Kezia. Kezia hanya tersenyum, terang saja ia pun merindukan sahabat-sahabatnya.
“Gue juga kangen sama kalian. Kangen badmood lo sher dan kangen galaknya elo ka.” ungkap Kezia. Mereka saling berpandangan, rasanya masih belum puas memandangi satu sama lain dengan wajah yang terlihat lebih dewasa. Dena tersenyum senang melihat ketiga sahabatnya.
“Hello baby bumb…” sapa Kezia sambil mengusap lembut perut Kania.
“Hello auntie…” sahut Kania dengan gaya suara anak kecil.
“Udah berapa bulan ka? Siapa bapaknya?”
“Udah 8 bulan dong. Coba lo tebak siapa bapaknya…” Kania berusaha menahan tawanya.
“Jangan bilang…… pak amar?!” terka Kezia. Kania hanya tergelak mendengar terkaan tepat Kezia. “Ya ampunn….. gue gag nyangka…..” seru Kezia sambil memeluk Kania kembali. Mereka tergelak bersamaan.
“Ya udah, ayo kita duduk dulu, kasian nih bumil.” ajak Dena seraya memegangi tangan Kania.
“Thanks auntie…” sambut Kania.
“Gila yaa, ini preman cewek hamil repotnya kayak begini.” ledek Sherly.
“Sialan lo, bentar lagi juga lo ngerasain…” Kania menyikut Sherly sengaja.
Mereka memilih duduk di tempat favorit mereka dulu. Mata Kezia melihat ke sekeliling café. Suasananya masih sama seperti saat terakhir ia ke tempat ini. Ia pun melihat jalan setapak menuju taman favoritnya bersama Arland dulu, ya dulu.
“Kenapa, lo dejavu?” tanya Kania yang melihat tatapan nanar sahabatnya. Kezia hanya tersenyum.
“Okeeyy, gue kangen banget sama kalian. Ka, lo kapan nikah?” Kezia berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia tidak mau terlarut dalam kenangan lamanya yang sudah ia simpan dengan rapi.
Kania sepertinya paham kegelisahan Kezia. “Hhmm.. Gue nikah tahun kemaren. Gue juga gag nyangka bakalan jadi pemegang rekor di genk kita. Ini sih gara-gara sherly yang ngojok-ngojokin mulu gue sama laki gue, kepaksa deh gue terima.”
“Ah sial lo, nyalahin gue lagi. Emang dasarnya lo mau kan?” tukas Sherly. Kania hanya tertawa ringan. “O iya key, bulan depan gue married. Gue seneng banget lo udah pulang.”
“Married? Sama siapa?” Kezia terkaget mendengar ucapan Sherly.
“Ya siapa lagi kalo bukan pasangan putus nyambungnya, ricko.” sela Dena.
“Hah, beneran? Sampe selama itu kalian pacaran?” Kezia begitu takjub melihat Sherly yang bisa bertahan lama dengan Ricko.
“Iyaa,,, Ayang ricko cinta mati sama gue. Sama kayak arland ke elo key…” sahut Sherly. Kezia langsung terdiam mendengar nama yang sangat sulit untuk dia lupakan. Diantara sekian banyak laki-laki di bumi ini, kenapa Arland harus membuat hatinya bergetar hanya karena mendengar namanya? Dan Sherly sepertinya paham melihat Kezia yang hanya terpaku dan seolah tidak mendengar apapun. “Sorry key, gue gag ada maksud…” Sherly menggenggam tangan Kezia dengan erat.
__ADS_1
Terlihat senyuman tipis di bibir Kezia. “Ga pa-pa sher, santai aja. Itu cuma masa lalu…” tandas Kezia.
Seketika suasana menjadi canggung. Mereka saling menatap satu sama lain dan saling melempar senyum. Suasana hening pecah begitu saja saat handphone Kezia berdering.
“Hallo Sean…” sapa Kezia
“ Mima, wirst du mich abholen? (Mima, apa mima akan menjemputku?)”
“Ya sean, ich werde dich abholen. Geth es dir gut? (Ya Sean, mima akan menjemputmu. Apa kamu baik-baik saja?)”
“Ya mima, ich vermisse dich einfach… (Ya mima, aku hanya merindukanmu…)”
“Okey sean, bis spatter.. (Okey Sean, sampai ketemu nanti…)”
Kezia mengakhiri panggilannya. Semua mata tertuju padanya.
“Kenapa?” tanya Kezia yang kebingungan melihat tatapan ketiga sahabatnya.
“Siapa sean?” tanya ketiganya bersamaan.
Kezia hanya tersenyum. Ia membuka handphonenya dan menunjukkan foto Sean pada ketiga sahabatnya.
“Astaga, Lo udah nikah? Ini anak lo?” tanya Dena dengan segera.
“Gag gitu na?” elak Kezia.
“Terus apa? Cincin di tangan lo? Anak bule lo? Kepergian lo ke jerman?” sergap Kania.
“Okey, gue jelasin!” ujar Kezia.
Ketiga sahabatnya menatap Kezia penuh tanya, seolah benar-benar menunggu penjelasan Kezia. Kezia mulai menceritakan kehidupannya di Jerman. Tentang alasan kepergiannya, tentang sekolahnya, tentang sahabatnya hingga tentang kematian Angga.
Ada luka yang kembali ternganga saat ia menceritakan semuanya. Semua yang begitu sulit ia lewati namun terpaksa harus kembali ia kenang.
Kezia memutar-mutar cincin yang melingkar di jarinya. Bibirnya tersenyum tipis namun hatinya meringis.
“Kenapa lo gag ngehubungin gue sih key? Kenapa lo mutusin ngelewatin semuanya sendirian?” tutur Sherly sambil mendekap Kezia dari samping.
“Key apa arland tau semua ini?” ujar Kania.
“Mana yang harus gue jawab duluan?” Kezia menatap ketiga sahabatnya.
“Gue!” sahut ketiganya bersamaan. Kezia kembali tersenyum, inilah yang Kezia rindukan, perhatian, kekompakan, kegilaan dan kehangatan dari sahabat-sahabatnya.
Ia menarik nafas dalam-dalam sebelum memutuskan menjawab pertanyaan ketiga sahabatnya. “Gue pergi, atas keputusan gue sendiri. Rasanya gue gag perlu ngasih kabar apa-apa sama arland, hubungan kamu udah berakhir sejak 11 tahun lalu. Gue gag mau ngerusak kehidupan barunya dan juga gag mau ngebebanin kalian bertiga, gue harus bisa lewatin semuanya, karena ini sebuah proses yang harus gue lewatin. Maafin gue, gue sayang kalian dan kalian tetap sahabat terbaik gue.” ungkap Kezia dengan sebuah senyuman di ujung kalimatnya.
Ketiga sahabatnya merangkul Kezia. Rasanya, sudah lebih dari cukup mengingat semua masa pahit dalam hidupnya. Ia ingin melangkah dan menjalani hidupnya yang baru tanpa ada beban masa lalu.
“Ini yang gue benci dari lo, lo selalu berusaha semua terlihat baik-baik aja, padahal lo gag baik-baik aja key…” cetus Dena. Namun Kezia hanya membalasnya dengan senyuman.
****
Saat berkumpul bersama ketiga sahabatnya waktu memang terasa berlalu begitu saja. Kezia tersenyum memandangi jalanan di depannya. Pepohonan berjalan menjauh, tertinggal di belakangnya. Sinar matahari pun terasa mulai meredup.
Kezia bergegas menjemput Sean di sekolahnya. Ia membawa beberapa mainan yang ia beli sepulang bertemu dengan ketiga sahabatnya.
“Mima!!!” teriak Sean dari kejauhan. Ia berlari menghampiri Kezia seraya berlari. Kezia memeluknya dengan erat. Namun Sean segera melepaskannya lalu bergegas masuk ke mobil.
“Sean, gimana hari pertamamu?” tanya Kezia saat melihat wajah Sean yang sedikit tertekuk.
“Sangat mengesalkan mima.” sahut Sean seraya menyilangkan tangannya di depan dada.
“Ya ampun, kenapa kesayangan mima? Apa teman-temanmu menganggumu?”
“Ya mima, mereka sangat mengganggu. Semuanya minta foto denganku. Bu guru juga. Mereka menyuruhku memakan bekal makanan mereka, terutama anak-anak perempuan.” cetus Sean sambil mengerucutkan bibirnya.
“Hahahha… ternyata kamu punya banyak fans!” seru Kezia sambil mencubit gemas pipi Sean. Tapi Sean malah mengibaskannya. “Apa ada gadis yang cantik yang mendekatimu?” goda Kezia. Sean menoleh Kezia kemudian menunduk. Rasanya ia mengerti arti ekspresi Sean. “Siapa namanya?” bisik Kezia sambil tersenyum.
__ADS_1
“Ah mima menyebalkan, aku gag mau cerita. Dan mulai besok, mima jangan memeluk dan menciumku di depan orang ya…” ancam Sean.
“Loh kenapa?” Kezia mengernyitkan dahinya.
“Aku sudah besar mima…” protes Sean
“Hahahhaha… Baiklah, bayi mima sudah besar.” Kezia tertawa ringan melihat ekpresi kesal Sean. “Jadi, siapa nama gadis itu?” Kezia kembali menggoda Sean.
Sean tak menggubrisnya, ia mengunci mulutnya rapat-rapat dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Kezia kembali tersenyum, jagoan kecilnya benar-benar sangat lucu.
*****
Gedung kantor wibawa Group sudah ada di depan mata. Kezia segera menuju ruangan yang telah di sediakan Hendra untuk Kezia.
“Maaf pak, saya baru ke sini.” tutur Kezia
“Tidak apa-apa nona. O iya, tadi pemilik perusahaan PT Adhi putra ingin bertemu dengan nona. Tapi karena Nona belum datang ia menitipkan ini untuk nona.” Hendra menyerahkan secarik kertas pada Kezia. Kezia membukanya karena penasaran.
“Terima kasih telah bersedia bekerjasama dengan kami. Mohon kiranya kami bisa mengundang ibu untuk makan siang bersama.” Begitulah isi pesan tersebut.
Kezia mengernyitkan dahinya. Rasanya ia mengenal tulisan tangan tersebut. Kezia mencoba mengingatnya tapi buntu.
“Beliau meminta nomor handphone nona, tapi saya tidak berani memberikannya tanpa seizin nona.” imbuh Hendra.
“Iya pak hendra , terima kasih. Tolong pak hendra beritahukan beliau, makan siangnya boleh besok. Untuk tempatnya, terserah saja. Asal tidak jauh dari sekolahan sean, karena khawatir Sean menunggu saya.” terang Kezia. Hendra mengangguk sebagai respon.
Kezia mulai memeriksa berkas yang ada di mejanya. Beberapa berkas harus ia setujui dan tanda tangani. Sean setia menunggunya di sofa sambil membuka-buka buku catatannya.
****
Eliana dan Martin sudah menunggu di meja makan saat Kezia dan Sean tiba di rumah. Sean segera mencuci tangan dan duduk di samping Martin berhadapan dengan Kezia. Sean makan dengan lahap dan beberapa kali ia meneguk air minumnya karena pedas saat mencicipi ayam rica-rica favorit Kezia.
“Zia, gimana rencana kamu kedepannya nak?” Martin memecah kesunyian yang sedari tadi tercipta.
“Emm zia akan kerja di salah satu rumah sakit pah. Tapi setelah proyek pembangunan rumah sakit berjalan. Untuk masalah lainnya, akan zia serahkan ke pak Hendra.”
“Di rumah sakit mana kamu akan bekerja nak?” tanya Eliana.
“Di rumah sakit rujukan pusat kota. Zia ngambil sebagai dokter konsulan aja.”
Eliana mengangguk-angguk paham.
Setelah makan malam, Kezia mengantar Sean untuk mandi dan bersiap tidur. Ia membacakan dongeng seperti biasanya. Eliana memperhatikan Kezia dari pintu kamar Sean. Ia begitu telaten menguruus Sean seolah Sean adalah anaknya sendiri. Terbit harapan di hati Eliana jika kelak ia bisa memiliki cucu dari Kezia, pasti sangat membahagiakan.
Setelah Sean terlelap, Kezia kembali ke kamarnya. Ia membersihkan dirinya agar lebih segar. Saat keluar kamar mandi, tampak Eliana sudah menunggunya terduduk di pinggiran tempat tidur.
“Mamah…” sapa Kezia yang segera menghampiri Eliana.
“Sayang, apa kamu cape nak?”
Kezia menghampiri Eliana dan duduk bersisihan. “Nggak mah. Hari ini zia ketemu temen-temen.” ungkap Kezia dengan sumeringah sesuatu yang sudah lama sekali tidak dilihat Eliana.
Eliana membalasnya dengan senyuman. Ia meraih rambut Kezia yang masih basah dan mengeringkannya dengan handuk.
“Sayang, apa kamu gag keberatan kalo mamah ingin bicara sesuatu?” Eliana terlihat ragu.
“Ada apa mah? Ngomong aja, zia dengerin kok…” sahut Kezia seraya tersenyum.
Eliana menggigit bibirnya dengan wajah sedikit ragu namun ia tetap harus mengatakannya. “Sayang, gimana rencana kamu kedepannya, untuk masalah pribadi?”
Eliana tau, sedikit banyak Kezia pasti masih bersedih setelah kematian Angga setahun lalu. Tapi nalurinya sebagai seorang ibu, tidak ingin anaknya menjadi bahan gunjingan dan lagi usia Kezia semakin bertambah.
“Maksud mamah, tentang pasangan?” terka kezia.
Eliana menganggukan kepalanya. Kezia sadar, usianya tak lagi muda. Ia harus memikirkan kehidupannya kedepannya yang bukan hanya tentang karir. “Mah, zia masih perlu waktu. Tapi zia pasti memikirkannya, karena zia ingin, kelak anak zia menikah masih ada mamah di samping zia.”
“Iya sayang, mamah juga hanya ingin kamu bahagia. Pernikahan bukan masalah sepele, mamah harap, kamu bisa menemukan pasangan yang tepat.”
“Terima kasih mah. Do’akan zia selalu yaaa…” lirih Kezia seraya memeluk mamahnya.
__ADS_1
Eliana mengangguk mengiyakan. Perasaannya sedikit lebih lega, karena ternyata Kezia pun memikirkan hal tersebut.
****