My First Love Story

My First Love Story
Lampu Hijau


__ADS_3

Malam semakin larut namun hujan belum kunjung reda. Mereka telah selesai makan malam dan berbincang di ruang keluarga.


"Om, tante, arland mau permisi pulang, karena udah larut malem…” tutur Arland memohon diri.


" Nak arland, malam ini, menginaplah di sini. Hari udah malem lagian hujan masih belum berhenti.” Tutur Eliana dengan tulus.


" Tapi tante, arland gag enak kalo nginep, takut ngerepotin.” Jawab Arland seraya melirik Kezia yang berdiri di hadapannya.


" Tidak ada yang merepotkan. Kamu sudah menolong anak kami. Kalau kamu takut ibumu mencarimu, biar om yang hubungin.” imbuh Martin.


"Emmm gag apa-apa om, biar arland sendiri yang ngabarin mamih.” sahut Arland kemudian.


"Ya sudah, om sama tante masuk dulu. Kalo kalian masih mau ngobrol silakan, tapi jangan malem-malem karena besok kalian masih sekolah.” tutur Martin. Kezia dan Arland hanya mengangguk sebagai respon. “ Dan lain kali, mungkin om akan meminta bantuanmu untuk bantu om menjaga anak gadis om.” Lanjut Martin sambil menepuk bahu Arland.


"Papah, emang zia barang pake dititip-titip segala?” cetus Kezia dengan kesal.


Eliana dan Martin hanya tersenyum menanggapi jawaban Kezia. Mereka sadar putrinya sudah tumbuh menjadi seorang remaja dan mungkin akan memiliki pacar, lihatlah waktu begitu cepat merambat.


Sepeninggal Martin dan Eliana, Arland dan Kezia masih saling mematung dan saling tatap. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan. Arland mendudukan tubuhnya di atas sofa yang ada di ruang keluarga. Lalu menyandarkan kepalanya dengan nyaman. Ditutupnya mata perlahan sambil menepuk-nepukkan tanganya di sofa pertanda meminta kezia untuk duduk di sampingnya. Dengan ragu Kezia menghampiri  Arland lalu ikut duduk di sampingnya.


"Land…” lirih Kezia dengan jemari saling memilin. Ia memandangi Arland dengan penih kecanggungan.


"Ya…” jawab Arland tanpa membuka matanya.


"Makasih untuk hari ini..” tutur Kezia sambil menetap wajah tampan Arland yang ada di hadapannya. Arland membuka mata lalu menoleh Kezia yang ada di sampingnya.


"Hanya itu saja?” Tanya Arland dengan tatapan serius. Kezia mengangguk yakin. “ Papahmu sudah kasih lampu hijau loohh…” bisik Arland di telinga kezia. sejenak membuat Kezia bergidik.


"Papah minta kamu untuk jagain aku, termasuk dari hal buruk yang mungkin karena keisenganmu.” Terang Kezia seraya memalingkan wajahnya dari tatapan Arland. Arland menahan tawanya melihat reaksi Kezia.


"Kamu takut aku makan key?” Tanya Arland.


Sejenak wajah Kezia memerah mendengar pertanyaan Arland. Dia tidak berani menjawab. Hanya tertunduk sambil memegangi dadanya yang berdegub kencang.

__ADS_1


"Apa kamu merasa jantung kamu akan jatuh sampe harus kamu pegangin?” Tanya Arland dengan senyum jahil.


"Ihhh kamu ya…” pekik Kezia sambil memukul dada Arland dengan tangan kanannya namun Arland menghindar, membuat Kezia terjatuh di dada bidang Arland.


Pandangan keduanya bertemu, ada rasa damai saat Kezia merasakan hangatnya pelukan Arland seperti yang tadi ia rasakan.


Tersadar dari lamunannya, Kezia segera membenarkan posisi duduknya dan merapikan rambut walau sebenarnya tidak berantakan. Mungkin ia merasa sangat grogi.


"Key, mungkin kejadian hari ini kerjaannya irene. Maafin aku gag bisa ngelindungin kamu.” Tutur Arland dengan serius. Terlihat raut penuh sesal di wajah arland.


"Bukan salah kamu juga, kenapa harus minta maaf?”


"Kalau kita saling menjauh, apa kita akan baik-baik saja key?” Tanya Arland dengan helaan nafas dalamnya seolah ia pun berat kalau mereka harus saling menjauh.


Dan lagi, perasaan Kezia remuk rendam mendengar kata "Menjauh" yang terlontar begitu saja. Arland yang selama ini meyakinkannya, perlahan mulai mengucapkan kata "Menjauh" sebagai satu-satunya kebaikan untuk mereka.


"Aku ngantuk, mau tidur dulu.” Kezia berusaha menyembunyikan rasa sedih yang tiba-tiba mengendap di dasar hatinya. Ia perlu berfikir untuk semua yang ia alami saat ini.  Namun Arland menarik tangan Kezia yang membuatnya kembali terjatuh di dada Arland. Kali ini Arland memeluknya erat-erat.


"Tolong , sebentarrrr saja seperti ini.” Lirih Arland di telinga Kezia.


****


Suasana sekolah sudah sangat ramai mungkin Karena sebentar lagi jam masuk pelajaran. Arland dan Kezia berangkat ke sekolah bersama-sama. Mereka berjalan beriringan. Beberapa pasang mata menatap ke arah mereka.


Kezia melihat ke sekelilingnya. Kezia menutupi sebagian wajahnya dengan rambut panjangnya agar tidak jadi pusat perhatian mata-mata di sekitar sekolah. Tanpa Kezia sadari Arland menggenggam tangannya dengan erat membuat beberapa gadis bersorak, mungkin mereka kecewa. Namun tak sedikit juga anak laki-laki yang mengumpat melihat kejadian tersebut.


Kezia yang salah tingkah berusaha melepaskan genggaman tangan Arland.


"Jangan berontak, kalau nggak aku bakal peluk kamu depan mereka semua” tutur Arland sambil tersenyum jahil.


"Kamu gila ya, kalau ketauan guru, bisa di panggil ke BK kita.” timpal Kezia.


"Aku gag peduli.” Tantang Arland.

__ADS_1


"Ayolah land, lepasin aku. Kamu boleh minta apa saja asal jangan begini…” rengek Kezia


Arland melepaskan genggamannya.


"Okey. Sini sebentar, kita buat kesepakatan.” Tutur Arland sambil menarik Kezia ke belakang ruangan kelas yang mereka lewati.


Disandarkannya tubuh Kezia ke tembok. Tangan kekar Arland mengunci Kezia di samping kiri dan kanan wajahnya. Tubuhnya berjarak sangat dekat dengan Kezia . Wajah tampannya hanya berjarak sekitar 10 cm saja dari wajah Kezia. Jantung Kezia benar-benar berdegub tak karuan. Dengan segera ia memalingkan wajahnya, agar tak bertatapan dengan Arland.


" Kamu bilang, aku boleh minta apa saja asal aku gag pegang tangan kamu di depan umum kan?” Tanya Arland. Kezia mengangguk dengan segera. “ Kalau gitu, setiap  pulang dan pergi sekolah kamu harus bareng aku. Lalu, kamu gag boleh berduaan sama laki-laki lain terlebih itu adalah tyo. Lalu, jangan memperlihatkan lehermu pada siapapun selain aku. Lalu setiap malam kamu harus menelpon atau menerima video call aku. Dan terakhir, bawakan aku sarapan setiap pagi.” Terang Arland.


"Kenapa banyak banget sih?” gerutu Kezia yang terlihat kesal.


"Itu hanya sebagian kecil key, untuk menjadi istri yang baik, harus dibiasakan sejak dini.” Tutur Arland dengan senyum kemenangan di bibirnya.


Kezia mendorong tubuh Arland cukup kuat, membuatnya mundur beberapa langkah. Terlihat seringai gemas di wajah Arland.


"Aku ini masih anak sekolah, pikiran kamu terlalu jauh! Aku mau ke kelas!” seru kezia sambil berlalu meninggalkan Arland yang masih berdiri sambil tertawa geli melihat ekspresi Kezia.


Sejenak Arland menyandarkan tubuhnya di tembok tersebut. Nafasnya terdengar sangat cepat.


" Gila sekencang ini detak jantungku kalau deket dia” tutur Arland sambil tersenyum. Diusap-usapnya dadanya yang lapang dengan perlahan. Arland masih menikmati sensasi perasaan yang bergemuruh di dadanya.


"Apa kamu merasakan hal yang sama key?” lirih Arland sambil memandangi foto Kezia yang ada di handphonenya.


Foto yang dipandangi Arland adalah foto saat Kezia berada dilapangan basket bersamanya. Saat itu Arland menarik ikat rambut Kezia dan rambutnya terurai dengan alami. Di saat yang tepat, Andes  mengabadikan moment itu. Wajah Kezia terlihat polos dengan tangan menyentuh tengkuk dan helaian rambut jatuh di pipinya.


Namun tiba-tiba layar ponselnya berganti dengan tampilan sebuah panggilan masuk.


"Ya mam…” sapa Arland dengan santai.


"Semuanya benar-benar selesai nak, mamih gag bisa ngalakuin apa-apa lagi.” Tutur Linda dengan diikuti isakan tangis.


Mendengar penuturan Linda, untuk beberapa saat Arland terpaku di tempatnya. Ia masih berusaha mencerna apa yang terjadi saat ini. Semudah itu seseorang menghancurkan hidunya dan hidup ibunya. Tidak menunggu lama ia mengakhiri panggilannya lalu bergegas menuju kelasnya dalam keadaan pasrah.

__ADS_1


****


__ADS_2