
“Kak, aku mau ngomong sesuatu sama kakak…” tutur Kezia dengan wajah seriusnya.
Angga yang sedang menyeruput coklat hangatnya, segera terdiam. Saat ini mereka berada di salah satu café dan sedang menikmati sarapannya.
“Mau ngomong apa? Bukannya dari tadi kamu udah ngomong banyak?” ledek Angga sambil tersenyum.
“Hemmm kakak… ngeselin sih!” Kezia mencubit lengan Angga perlahan. “Aku serius tau…” lanjutnya.
“Ya okey, bicaralah…” tukas Angga yang fokus menatap Kezia.
“Akuu,, mau sewa apartemen yaa yang deket kampus….” Ujarnya dengan ragu. Angga mengernyitkan dahinya.
“Kenapa, apa tinggal di rumah tidak begitu menyenangkan?” terka Angga.
“Ish bukan, aku pengen belajar mandiri. Selama ini aku udah banyak ngerepotin kakak, aku gag mau terus-terusan hidup tergantung sama orang lain.” terangnya dengan penuh kesungguhan.
Angga sudah mengira kezia akan meminta hal ini. Karena sejak awal, Martin mengatakan kalau Kezia ingin belajar hidup mandiri saat kuliah. Tapi Angga tidak menyangka kalau waktunya akan secepat ini.
“Aku pertimbangkan dulu.” Sahut Angga sambil kembali menyeruput coklat hangatnya. Wajah Kezia terlihat sedih. Ia menunduk sambil meremas-remas pinggiran taplak meja. Angga merasa tidak tega. “Ya sudah, boleh!” Sambung Angga.
“Beneran kak?!” ekspresi wajah Kezia segera berubah.
“Iya, tapi nanti aku yang pilihin apartemennya.” Tutup Angga.
“Ish, mana ada kayak gitu. Aku laahh yang pilih apatemennya sendiri. Kan aku yang mau tinggal di sana, jadi aku harus ngerasa suka dulu, supaya nyaman dan kerasan tinggal di sana…” protes Kezia.
Kezia sengaja ingin memilih apartemen sendiri. Ia ingin mencari apartemen yang biaya sewanya tidak terlalu mahal karena ia pun harus mempertimbangkan dengan uang yang dia punya sekarang.
“Ya udah, tapi kamu gag boleh ngundang laki-laki ke apartemen kamu.” timpal Angga dengan posesifnya.
“Iyaaa… Kalo gitu siang ini aku mau nyari sendiri yaaa…” tutur Kezia dengan senang.
“Gag boleh, aku temenin!” tolak Angga.
“Kakak kan laki-laki, masa nanti masuk ke apartemenku.” Protes Kezia.
“Ya kecuali aku, sama papah kamu.” Elak Angga.
“Tuh kan berubah lagi. Gag konsisten!” seru Kezia sambil menjulurkan lidahnya pada Angga.
“Ctak!” Angga membalasnya dengan jentikan jari di dahi Kezia.
“IIsshhh sakit tauuu!!!” Kezia memukul tangan Angga berkali-kali.
Angga segera memegangi tangan Kezia, karena telah menarik perhatian orang-orang disekitarnya. Seseorang berjalan dan melintas di samping mereka.
__ADS_1
“Gadis asia itu sangat menggemaskan ya dude!” seru laki-laki itu dengan seringai geli.
Angga melebarkan matanya seolah melotot ke arah laki-laki itu. Laki-laki itupun segera pergi sambil menunjukan salam damainya dan menggelengkan kepala. Sangat posesif pikirnya.
****
Malam itu Kezia masih belum bisa memejamkan mata. Sayup-sayup ia memutar lagu dari laptopnya. Ia menunggu rasa kantuknya dengan browsing mencari apartemen murah di sekitar kampusnya. Memang tidak ada yang murah kalau judulnya sebuah apartemen apalagi di dekat kawasan pendidikan.
Ia mengecek saldo tabungannya, berusaha menghitung berapa lama uang itu bisa menopang kehidupannya sehari-hari. Ternyata hanya sekitar 4 tahun saja. Kezia berfikir mungkin ia harus bekerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhannya namun tidak boleh mencuri waktu belajarnya. Ia kembali mencari pekerjaan apa yang sekiranya cocok untuk mahasiswi kedokteran yang waktunya pasti banyak di kelas.
“Huft..” Kezia menghembuskan nafasnya dengan kasar. Pikirannya melayang, membayangkan masa depannya. Matanya menerawang menatap langit-langit kamarnya yang seolah luas namun tetap berbatas.
Sebuah ketukan di pintu menyadarkan Keezia dari lamunannya. Tak lama berselang sebuah suara terdengan jelas di telinga Kezia.
“Schnucki, kamu masih terjaga?” suara Angga terdengar dari balik pintu.
“Ya kak…” sahutnya yang segera bangun.
“Boleh aku masuk?” lanjut Angga.
“Boleh kak…”
Tampak kepala Angga muncul dari celah pintu. Ia membuka pintu kamar lebar-lebar lalu masuk tanpa menutup kembali pintunya.
Kezia duduk di kasur dengan tubuh terbungkus selimut. Di depannya ada laptop yang setia menemaninya.
“Ini kak, aku lagi baca-baca artikel aja…” sahut Kezia yang segera menutup tab pencarian apartemen di laptopnya. “Apa suara musiknya terlalu keras dan membangunkan kakak?” tanya Kezia seraya menekan tombol “mute” di laptopnya.
“Enggak juga, aku emang lagi gag bisa tidur aja…” tutur Angga seraya memandangi Kezia. “Schnucki, apa kamu benar-benar mau tinggal di apartemen?” Angga terlihat tidak rela. Kezia mengangguk yakin. “Apa kamu sudah mempertimbangkannya?” lanjut Angga.
“Ya kak, aku sudah mempertimbangkannya.” Jawab Kezia dengan yakin. “Kak, aku ingin mewarnai hidupku sendiri dan bekerja keras dengan usahaku sendiri. Tolong biarkan aku menjalani yang memang seharusnya aku jalani….” Terang Kezia dengan wajah penuh keyakinan.
“Aku tidak bermaksud menghambatmu, hanya saja…” Angga tidak mampu menunjukkan kalimatnya dan tidak mampu untuk berterus terang tentang perasaan khawatirnya pada Kezia.
“Kalau aku memang merasa gag mampu, aku punya kakak sebagai pelindungku. Aku tidak akan lari ke tempat lain, aku pastii nyari kakak. Jadi beri aku kesempatan , hem?” Kezia menatap Angga dengan hangat. Tentu saja Angga tidak mampu menolak keinginan Kezia.
“Baiklah, kamu istirahatlah. Besok aku temeni kamu nyari apartemen.” tutup Angga sambil mengusap pucuk kepala Kezia.
“Nite kak…” sahut Kezia seraya tersenyum. Angga membalas senyuman Kezia. Lalu segera pergi meninggalkan Kezia yang sendiri di kamarnya.
Sesampainya di kamar, Angga membenamkan kepalanya di bantal. Ia tidak mengerti kenapa begitu berat membiarkan Kezia tinggal di luar rumah dan jauh dari jangkauannya.
“Apa kamu benar-benar kuat atau hanya pura-pura kuat di hadapanku?” pekik Angga sambil membayangkan Kezia ada di hadapannya. Tak ada keputusan lain yang bisa dia ambil selain sementara membiarkan Kezia dengan pilihannya.
__ADS_1
****
“Pagi kak… “ sapa Kezia yang sudah siap dengan nasi goreng di tangannya.
Wajahnya juga sudah terlihat cantik dan segar. Angga hanya tersenyum. Pagi itu Angga pun sudah berpakaian kerja rapi lengkap dengan jasnya.
Angga menarik kursi tempat biasanya ia duduk. Di teguknya air putih hangat untuk membasahi tenggorokannya.
“Kakak mau sarapan pake apa?” Tawar Kezia.
“Nasi goreng aja…”
Sejak Kezia tinggal di rumahnya, hampir setiap hari ia memilih nasi goreng sebagai menu sarapannya. Padahal dulu, paling berat dia sarapan dengan roti gandum. Entah mengapa, lidahnya sudah begitu nyaman dengan makanan yang dimasak oleh Kezia.
Kezia mengambilkan nasi goreng untuk Angga dan meletakkannya di depan Angga. “Kak, aku mau pergi ke apartemen ya, semalam aku udah chat pemiliknya dan dia mengundangku untuk melihat-lihat.” Tutur Kezia dengan semangat.
“Nanti aku antar agak siangan.” Ucap Angga sambil terus melahap nasi gorengnya.
Kezia menggeleng. “Aku bisa pergi sendiri kok kak…”
“Kamu ikut dulu ke kantor sebentar, karena aku ada rapat. Setelah itu aku antar kamu. Apa itu belum cukup jelas?” Tanya Angga dengan nada suara sedikit meninggi mendengar penolakan Kezia sebelumnya.
“Kenapa harus marah-marah segala? Kalau sibuk ya gag usah nganter! Orang aku juga bisa pergi sendiri.” Gerutu Kezia sambil menyuap nasi gorengnya dengan kesal kemudian terdiam.
Angga menatap Kezia yang hanya mengaduk-aduk makanannya. Ia sadar mungkin tadi sedikit keras berbicara dengan Kezia.
“Nasinya di makan, nanti mereka nangis.” Ujar Angga sambil menatap Kezia. Kezia menyunggingkan senyuman kesalnya dan Angga sadar akan hal itu.
****
30 menit berselang, mereka sampai di salah satu gedung pencakar langit anak perusahaan Wibawa Group. Angga adalah presdirnya saat ini. Saat Angga sakit, perusahaan ini dipegang oleh orang kepercayaan Mahesa dan kondisinya sedikit memburuk. Namun saat Angga kembali sehat, ia mulai mengendalikan kembali laju perusahaan yang bergerak di bidang jasa periklanan. Artis terkenal dan crew TV sudah biasa keluar masuk perusahaan yang mulai dijadikan sebagai icon perusahaan yang sukses dalam waktu yang singkat.
Kezia terperangah melihat bangunan kokoh yang berdiri di hadapannya. Orang-orang hilir mudik dengan kesibukannya masing-masing. Saat melihat kedatangan Angga , mereka menundukkan kepalanya menunjukan rasa hormat. Kezia sedikit kikuk dengan perlakuan yang di terimanya. Beberapa orang memandang Kezia lalu tersenyum melihat Kezia berjalan beriringan dengan Angga.
Ruangan Angga berada di lantai 18. Mereka menaiki lift khusus direktur. Saat keluar dari lift pun, beberapa wanita sudah berjejer menyambut tuannya. Kezia melihat tulisan yang menempel di pintu 2 ruangan yang terpisah. Yang satu bertuliskan Sekretaris perusahaan dan satu lagi ruang direktur utama. Hendra membukakan pintu dan mempersilakan Angga dan Kezia untuk masuk.
Ruang kerja Angga benar-benar luas. Ada satu set sofa di sana dan meja serta kursi tempat Angga melakukan pekerjaannya. Sementara tak jauh dari meja Angga ada sebuah ruangan dengan pintu tertutup.
“Mari nona, ikut saya…” ujar Hendra seraya menunjukkan jalan untuk Kezia.
Kezia mengikutinya tanpa protes. Pintu ruangan yang dilihat Kezia pun terbuka. Rupanya itu adalah kamar pribadi Angga di dalam ruangan kerjanya. Sebuah tempat tidur dan sofa serta televisi yang di tata tidak jauh berbeda dengan kamar Angga di rumahnya. Wangi pewangi ruangan yang lembut menusuk hidung Kezia dan membuatnya merasa segar.
Sejenak Kezia melirik ke arah Angga yang sudah duduk di kursinya dengan laptop menyalakan di hadapannya. Didepannya, sudah ada beberapa orang yang berdiri menghadap Angga. Mungkin mereka akan memberikan laporan pada Angga. Raut wajah Angga sungguh sangat berbeda saat ia di kantor dan saat ia di rumah. Di meja kerjanya ia terlihat serius dan dingin, mencerminkan pimpinan perusahaan yang sangat di segani, Tak terlihat cela sedikitpun.
Kezia masuk ke ruang pribadi Angga tersebut. Ia menyalakan tv lalu merebahkan tubuhnya di sofa. Tak terdengar suara apapun dari luar ruang pribadi Angga. Kezia merasa sedikit bosan. Main hp pun tidak ada yang seru. Akhirnya ia tertidur begitu saja.
__ADS_1
****