My First Love Story

My First Love Story
Cemburu


__ADS_3

Lagi-lagi, Kezia harus mencium bau disinfektan yang begitu menyengat di lingkungan rumah sakit. Hidungnya terasa di tusuk. Orang-orang berlalu-lalang di sekitar rumah sakit. Ada yang berjalan perlahan, ada yang teriak-teriak di atas blankar dan tak sedikit yang menangis melihat keluarga mereka yang sedang kesakitan.


"Tuhan, aku masih lebih beruntung..” lirih Kezia dalam hati.


Kezia dan Tyo terus berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang lenggang. Mereka berjalan menuju ruang ICU untuk melihat kondisi Irwan, papih Kania. Sesampainya di ruang tunggu, tampak Kania yang sedang bertelpon dengan seseorang. Dia terduduk di kursi besi dengan kaki di angkat ke atas kursi dan di rangkulnya. Kezia segera menghampiri.


"Key…” sapa Kania sambil menutup telponnya. Kezia merangkul Kania yang sedang terisak. Saat tangis Kania sedikit mereda, Kezia berpindah untuk duduk di samping Kania.


"Key, aku keluar dulu sebentar yaa…” tutur Tyo sambil tersenyum. Kezia hanya mengangguk.


"Ka, gimana keadaan om?” Tanya Kezia sambil melihat Irwan yang terlihat jelas di hadapannya.


Dia berada di dalam ruangan yang di kelilingi kaca. Dokter meminta untuk membatasi pengunjung yang masuk. Namun keluarga bisa melihatnya dari luar.


"Papih sempet sadar semalem. Tapi tadi pagi drop lagi.” Jawab kania dengan air mata yang menganak sungai di kedua pipinya. “ Dokter bilang, kondisinya lebih baik di banding saat awal masuk. Tapi belum bisa dilakukan tindakan apapun karena kondisinya belum stabil.” Lanjut Kania dengan terbata-bata. Kezia merangkul Kania dari samping.


"Bertahanlah ka, gue yakin lo dan om irwan bisa melewati semua ini…” lirih Kezia dengan perlahan. Kania hanya mengangguk.


"Lo kok bisa ke sini jam segini key?” Tanya Kania sambil mengusap air matanya.


"Gue kangen sama lo ka…” tutur Kezia dengan terus terang. “ Gimana kondisi perusahaan keluarga lo?” Tanya Kezia dengan ragu-ragu,


"Tadi tante Ela (mamahnya sherly) nelpon gue, katanya ada investor yang kembali bergabung dan menanamkan modal sebanyak 40 %. Kami tetap harus memulai semuanya dari awal lagi. Tapi paling tidak, kami ada modal untuk memperbaiki semuanya.” Terang Kania sambil menghela nafas panjang.


"Semua akan membaik dengan segera ka…” tutur kezia meyakinkan sahabatnya. Kania terngguk, dalam hatinya ia mengamini ucapan Kezia.


"Makasih irene, kamu udah memenuhi ucapan kamu walaupun perlahan…” lirih Kezia dalam hati.


" Ka, sory gue gag bisa nemenin lo di sini. Besok gue harus berangkat keluar kota untuk ikut olympiade.” Tutur Kezia dengan tenang.


"Gag apa-apa key… Sory juga gue gag bisa nganter lo, semoga lo sukses yaa…” timpal Kania seraya mengusap pipi Kezia.


"Thanks ka. Gue akan berusaha sebaik mungkin di sana.” Sahut Kezia dengan penuh harap. “ Gue pulang dulu yaa… Lo baik-baik di sini…”


"Pasti…”


Kezia meninggalkan Kania dengan perasaan lebih lega. Saat tengah berjalan keluar rumah sakit, tampak Arland


dan teman-temannya baru datang, termasuk Sherly dan Dena. Sherly dan Dena berlari menghampiri Kezia.


"Lo mau kemana key?” Tanya Dena sambil menggenggam tangan Kezia.


"Gue pulang dulu, gue harus siap-siap buat besok.”


“Apa kita nginep aja di rumah lo, kita cerita-cerita dulu gitu?” Tanya Dena.


"Emmm sory, kayaknya gue butuh istirahat…” jawab Kezia dengan rasa tidak enak karena harus menolak ajakan Dena.


"Hehehe tenang aja kali key, gue cuma becanda…” tutur dena.


"Good luck ya key, lo baik-baik di sana. Sory kita gag bisa nemenin.” sambung Sherly.


"Ya ampun, kok melow gini sih. Gue cuma mau ikut lomba kali, bukan pergi perang.” Sahut Kezia sambil tersenyum ringan. Kezia memeluk kedua sahabatnya dengan erat. “ Gue titip kania yaa…” bisik Kezia. Dena dan sherly terangguk mengerti. “ Okey, gue pulang dulu, bye..” seru Kezia sambil melambaikan tangan.


Kedua sahabatnya membalas lambaian tangan Kezia. Kezia berjalan melewati Ricko dan teman-temannya, termasuk Arland. Kezia hanya tersenyum kemudian berlalu pergi. Di pintu masuk RS sudah tampak Tyo yang menunggunya. Arland mengepalkan tangannya. Wajahnya terlihat begitu kesal.

__ADS_1


"Aku salah apa key, sampe kamu berbalik 180 derajat..” gumam Arland yang masih belum memahami apa yang terjadi.


****


Malam itu, Arland tidak bisa memejamkan matanya. Perasaannya masih tidak menentu. Jam menunjukan pukul 10 malam untuk mengisi kesepiannya ia mencari nama Kezia di daftar kontaknya. Namun saat akan menekan tombol panggil, dia mengurungkan niatnya. Arland berfikir, mungkin jam segini kezia sudah tertidur. Arland membuka-buka galeri handphonenya dan memandangi wajah Kezia dengan seksama.


"Aku hampir gila mikirin kamu key…” dengus Arland. Namun tak ada yang bisa ia perbuat. Dia membiarkan malam membuatnya makin merasa sepi dan sendiri.


Diwaktu yang bersamaan, Kezia memejamkan matanya yang masih tak bisa terlelap. Bayangan Arland muncul di


setiap ruang pikirannya. Dadanya sakit menahan sesak. Ingin ia berteriak melepaskan semua kekesalannya.


"Apa aku bisa benar-benar menjauh dari kamu land…” lirih Kezia dengan air mata terurai.


Malam tetaplah malam, yang memaksa keduanya untuk terdiam dalam kesepian. Tak ada yang bisa dilakukan, selain mengenang masa yang mereka lewati bersama.


*****


"Nak, kamu bawa baju berapa potong? Masakan mamah mau bawa nggak? O iya jangan lupa obat-obatan. Terus jangan lupa bawa sepatu atau sandal main, takutnya kamu harus keluar gag ada alas  kaki.” Cerocos Eliana di pagi buta.


Martin dan Kezia hanya saling melempar senyum melihat Eliana yang begitu hectic.


"Zia, kamu kok gag jawab mamah sih. Nanti ada yang ketinggalan repot loh…” seru Eliana.


"Mah, zia bukan mau pergi ke hutan,,, kalo ada yang zia perlukan, zia bisa beli. Lagian segala akomodasi di tanggung dari sana.” Terang kezia dengan tenang.


Kejadian seperti ini selalu terulang ketika Kezia akan pergi keluar kota. Eliana akan sangat repot menyiapkan segala kebutuhan Kezia yang ujungnya tidak terpakai.


"Ya udah,,, terserah kamu aja deh” dengus Eliana dengan kesal.


"Kamu memang harus baik-baik aja di sana nak..” Eliana mencium kening Kezia.


"Nak, maaf ya, papah gag bisa anter. Hari ini hari pertama papah kerja dan akan langsung ketemu dengan CEO perusahaan, jadi papah gag bisa izin.” Terang Martin sambil menaruh Koran yang dibacanya di atas meja.


"It’s okey pah. Semoga hari pertama papah berjalan lancar yaa…” seru Kezia dengan semangat. Martin mengangguk yakin.


Tak lama berselang terdengar sebuah mobil berhenti di depan rumah Kezia. Ida melihatnya dari jendela.


"Permisi Non Zia, sepertinya itu jemputan non zia.”


"Makasih bi..” sahut Kezia.


Kezia mengambil tas ranselnya dan sebuah goodie bag di tangan. Ia beranjak dari tempat duduknya yang di ikuti oleh Eliana dan Martin. Mereka berjalan ke depan rumah.


Benar saja, Amar sedang menunggunya di pintu Bis. Senyumannya ramah menyambut Kezia.


"Pak, saya titip anak gadis saya ya pak. Kalo dia gag mau makan, paksa aja ya pak..” seru Eliana pada Amar. Amar hanya tersenyum mendengar ucapan Eliana.


" Iya pak, bu, saya akan berusaha menjaga murid-murid saya dengan baik. Kami permisi dulu , pak, bu..” pamit Amar yang di jawab dengan anggukan kepala.


"Zia berangkat dulu ya mah, pah. Nanti kalo udah sampe, zia kabarin.” Tutur kezia sambil mencium pipi Eliana dan Martin bergantian.


"Hati-hati sayang…” sahut Eliana dan Martin bersamaan.


Kezia segera masuk ke dalam bis dan duduk di dekat jendela. Ia melambaikan tangannya pada Eliana dan Martin. Eliana hanya bisa meratapi putri yang pergi walau hanya sebentar. Tntu ia akan sangat merindukannya.

__ADS_1


***


Pagi itu , Bis melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalan tol yang cukup lenggang. Mereka masih dalam perjalanan menuju Kota yang menjadi tuan rumah penyelenggaraan Olympiade MIPA. Bis tersebut membawa 18 penumpang dengan 4 guru pembimbing. Kezia duduk sendiri di baris kiri jok keempat dari depan. Tangannya bersidekap menutupi tubuhnya yang kedinginan karena AC yang cukup kencang meniupkan angin.


Kezia terbangun dari tidurnya karena mendengar kegaduhan dari jok belakang. Kezia memiringkan lehernya ke kiri dan kanan karena pegal. Tidur terduduk memang tidak senyaman tidur terlentang.


Kezia merapihkan rambutnya yang berantakan namun tetap membiarkannya tergerai dengan indah.


"Hay..” sapa Tyo yang datang dengan membawa minuman kaleng di tanggannya. “ Boleh duduk disini?” tanya Tyo dengan senyum tampannya.


"Silakan kak..” jawab Kezia membalas senyuman Tyo. “ Masih lama ini kak?” tanya Kezia sambil melihat jam tangan yang melingkar di tangannya, sudah pukul 10 pagi.


"Masih 3 jam perjalanan lagi..” terang Tyo.


"Nah, ke gap kan!“ seru seseorang yang sedang memegang handphone nya dan mengarahkan kamera ke arah Kezia dan Tyo. Dia adalah Rana, salah satu peserta Olimpiade IPA.


Tyo spontan menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya. Rupanya Rana sedang melakukan siaran langsung di akun media sosialnya.


"Hayy tyo, duduk sapa capa niihhh?” tanya Rana menggoda dengan kamera handphone yang masih menyala.


Tyo menoleh Kezia dan Kezia mengangguk. Rana terus berbicara di kamera depannya dengan wajah Tyo dan Kezia sebagai back ground-nya.


"Kitaaa lagiii dalam perjalanan buat olimpiade gais…. Di sini ada King sama Queen math nya SMA Harapan bangsa. Liat mereka serasi yaaa….” Tutur Rana sambil tergelak.


Kezia memalingkan wajahnya dari kamera Rana begitu pun dengan Tyo.


" Ahh mereka malu-malu. Okey kita maju ke depan….” Seru Rana sambil terus berjalan dan mewawancarai siswa di jok depan Kezia. Tanpa Kezia dan Tyo sadari , wajah mereka masih ikut terekam.


" Kamu mau key?” tanya Tyo sambil menyodorkan minuman isotonic dalam kemasan kaleng.


"Thanks kak..” seru Kezia sambil menerima pemberian Tyo dan meneguknya. Tenggorokannya mulai terasa dingin setelah tadi terasa begitu perih karena kering. Dari samping Tyo sambil tersenyum melihat wajah cantik Kezia yang


begitu sempurna.


" Kamu bangun tidur aja cantik Key…” lirih Tyo yang sejak tadi memperhatikan Kezia tertidur dengan pulas.


Tyo meraba dadanya, jantungnya berdetak tak karuan ketika melihat Kezia meneguk kembali minuman yang


diberikannya. Dengan sudut matanya Kezia menyadari kalau Tyo sedang melihat ke arahnya. Kezia memilih untuk melihat keluar jendela, memperhatikan pepohonan dan baligo yang berlarian di tinggalkan bis yang melaju dengan cepat.


****


Sementara itu di waktu yang bersamaan, Arland dan teman-temannya sedang berkumpul di kantin menikmati waktu istirahat. Dari meja yang tidak jauh dari tempat mereka duduk, berkumpul Irene dan teman-temannya yang sedang menyimak siaran langsung Rana dan ikut bergabung disiaran langsung tersebut.


"Waahh pak ketua osis duduk sapa siapa tuhh?” tanya Irene dengan suara keras dan di dengar oleh semua orang yang sedang duduk di kantin.


Ricko menyikut Arland yang duduk disampingnya. Perhatian Arland ikut terarah pada Irene.


"Iyaa serasii bengeett yaa…” jawab Irene sambil tergelak bersama para sahabatnya. Irene menoleh Arland yang sedang memperhatikannya dari kejauhan.


"Ran, salamin yaaa buat King sama Queen Math nya SMA Harapan bangsa…” seru Irene sambil dadah-dadah.


Arland yang paham maksud pembicaraan Irene, tampak kembali menyeruput jus jeruk yang ada di hadapannya dengan cepat sebelum berlalu menghampiri Irene dan berdiri di belakangnya. Di layar handphone Irene terlihat Kezia yang sedang meneguk minuman yang diberikan oleh Tyo. Sorot mata Tyo mempertontonkan rasa kagumnya pada gadis yang duduk di sebelahnya.


Terdengar dengusan kesal dari mulut Arland. Dadanya terasa bergejolak melihat tayangan tersebut. Arland segera mengambil langkah menjauh dari Irene dan berlari menuju lapang basket. Irene tersenyum puas melihat reaksi Arland, lalu mematikan handphone nya. Baginya itu cukup untuk membuat emosi Arland meledak.

__ADS_1


***


__ADS_2