My First Love Story

My First Love Story
Episode 68


__ADS_3

Tanpa terasa, selama 1 minggu sudah Kezia terbaring di ruang ICU dan belum sadarkan diri. Setiap hari sahabat-sahabatnya datang bergantian untuk menjenguk.  Ada kesedihan yang mendalam saat melihat tubuh lemah Kezia terbaring dengan berbagai alat yang terpasang di tubuhnya. Mereka hanya melihat dari jendela ruangan yang sesekali gordennya di buka saat jam besuk.


Hari itu, Arland sudah berpakaian rapi. Ia datang ke rumah sakit dengan membawa bucket bunga. Wanginya terasa begitu lembut memanjakan saraf-saraf di hidung.


“Hay key…”sapa Arland seraya duduk di kursi samping tempat tidur kezia.


Di tatapnya wajah pucat yang tampak terlelap dengan damai. Bibir tipisnya terlihat kering dengan mata yang sedikit membengkak. Arland menghela nafas dalam-dalam. Berusaha tersenyum walau terasa sulit. Tangannya tergerak meraih tangan kezia yang tergolek lemas. Ia menggenggamnya dengan erat seolah sedang mengalirkan kekuatan untuk kezia. Perlahan ia mengecupnya dengan lembut.


“Key, kemaren ada pertandingan basket. Aku di pilih jadi kaptennya. Kami menang lagi dari SMA taruna. Mereka terlihat sangat kesal karena lagi-lagi kalah. Heemhh.. kenapa mereka harus membenciku karena aku lebih mampu dari mereka?” tutur Arland meracau tak jelas. Ia selalu teringat keceriaan Kezia saat memberi dukungan padanya dari kursi penonton. Tampak antusias dan penuh semangat. Ia begitu merindukan saat-saat itu.


Ia kembali menatap wajah kezia yang tetap sama seperti sebelumnya. Hati Arland berdenyut ngilu, mengapa semuanya terasa begitu menyakitkan baginya.


“Putri tidur, kapan kamu akan bangun? Aku sangat merindukanmu….” lirih Arland parau. Ia memijat pangkal matanya, berusaha menahan laju air mata yang sepertinya akan menetes begitu saja.


Hari-hari ia lewati tanpa bisa mendengar suara dan tawa Kezia. Terasa begitu sepi dan waktu lamban berputar. Hanya kenangan bersama Kezia yang terus berulang di dalam ingatannya. Semua tentang Kezia semakin membuatnya merasa sedih dan menyesal, walau ia berusaha menguatkan hatinya sendiri di hadapan Kezia.


“Setelah kamu bangun, kita akan pergi ke banyak tempat. Berjalan bersama, bergandengan tangan dan makan spageti sampai kamu kekenyangan. Kita akan lebih banyak membuat kenangan bersama. Bangunlah key….” lanjut Arland yang kemudian memalingkan wajahnya sejenak, untuk mengusap lelehan air mata yang menetes tanpa permisi.


Ia semakin mengeratkan genggamannya dan berkali-kali mengecupi tangan Kezia. Butiran air mata itupun ikut membasahi tangan Kezia, Sesak, seperti itu perasaan Arland saat ini.


*****


Kondisi Kezia semakin membaik. Walau Dia belum tersadar, tapi kondisinya secara medis terus menunjukkan perbaikan. Hari ini Kezia dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Beberapa alat sudah di lepas. Orang-orang yang akan menengoknya sudah bisa lebih leluasa walau tetap ada beberapa batasan yang diberikan oleh dokter.


“Hay key…. Gimana kabar lo? Apa lo marah karena baru hari ini gue berani nyamperin lo?” Tanya Kania dengan mata berkaca-kaca. Selama beberapa hari Kezia di rawat, memang baru kali ini Kania berani mendekat. Ia takut tidak bisa mengendalikan dirinya, seperti saat ini. Sepertinya peringatan dokter untuk tidak bersedih di hadapan Kezia begitu sulit untuk ia patuhi.


Berkali-kali Kania menarik nafas dalam-dalam seraya mendongakkan wajahnya untuk menenangkan dirinya sendiri. Ia berusaha menahan laju air matanya yang seolah tidak bisa di ajak berkompromi. Dena dan sherly menghampiri Kania dan berdiri di sampingnya. Diusapnya bahu Kania perlahan.


“Liat, mereka pasti mau ngomelin gue karena nangis depan lo key….” lanjut Kania tanpa mengalihkan pandangannya dari Kezia. Dena dan Sherly menempatkan kepalanya di bahu kiri dan kanan Kania. Mereka ikut memandangi Kezia dengan bibir yang bergetar menahan tangis. “Key, gue kangen sama lo… apa lo mau tidur terus?” Kania memekik dengan tangis yang pecah. Bahunya naik turun seirama tangisnya yang dalam.


Kekuatan yang ia kumpulkan selama seminggu ini ternyata tidak bisa membantunya. Sherly dan Dena memeluk Kania. Mereka sama-sama terisak. Ricko segera menghampiri berusaha menenangkan.


“Hay key, lo liat, temen-temen lo yang belagu ini cengeng banget ternyata ya…” tutur Ricko sambil tersenyum ketir. Usahanya untuk menenangkan para gadis rasanya gagal. Ia ikut terlarut dalam kesedihan. “Ayo bangun key, kita makan sama-sama lagi di kantin. Dan liat tuh, cowok lo kayaknya kangen banget sama lo…” imbuh Ricko sambil menatap Arland yang terduduk di sofa dengan kedua tangan menyangga kepalanya yang tertunduk. Arland tak berani menoleh ke arah Ricko yang menatapnya sendu. Ia hanya bisa terisak. Rasanya air matanya tak pernah habis.


“Key, besok lo ulang tahun. Lo mau gue kasih hadiah apa? Tahun kemaren kita bikin kue bareng di rumah lo, tahun ini….” Dena tak bisa melanjutkan kata-katanya. Dia tersedu di bahu Kania. Bibirnya terasa kelu dan suaranya mulai parau.


“Key, dari tadi mereka buang ingus di baju gue… nanti kalo lo bangun, lo mesti nyuciin baju gue ya key…” timpal Sherly dengan suara bergetar.


Kali ini Sherly mulai berbicara, setelah selama satu minggu ini dia hanya terdiam dan tidak pernah berbicara sepatah kata pun.


“Key, bentar lagi kita UN,  gue gag ada temen buat nyontek catetan… Ayo lo bangun key,  kita kesepian gag ada lo…” tukas Dena yang tidak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya.


Pada akhirnya mereka hanya bisa menangis sambil berangkulan. Ricko dengan setia menemani para gadis. Jangankan untuk menenangkan ketiganya, menenangkan dirinya sendiri pun rasanya sulit.


“Tok, tok,tok…”


Suara ketukan di pintu mengalihkan perhatian mereka. Tak lama berselang, terlihat laki-laki paruh baya yang muncul dari arah pintu yang mulai terbuka. Dia menganggukan kepala pada  sahabat-sahabat Kezia.


“Silakan tuan muda…” tuturnya pada seseorang yang masih di luar.


Sesosok laki-laki dengan tubuh tegap dan wajah tampan masuk kedalam ruangan. Tanpa menyapa siapa pun dia masuk dan segera menghampiri Kezia.

__ADS_1


“Ryangara….” Lirih Dena yang mengenal sosok tersebut. Ia tidak pernah menyangka kalau Angga akan datang.


Arland yang sejak tadi tertunduk segera mendongakkan kepalanya saat mendengar lirihan Dena. Tak salah dengan yang di dengarnya, laki-laki itu tengah berdiri di samping Kezia. Dalam beberapa saat, Arland ikut berdiri.


“Hay schnucki…” sapa Angga dengan hangat.


Arland cukup terkejut saat ia mendengar panggilan yang dilontarkan Angga. Ada rasa kesal di dadanya saat ia panggilan itu terdengar begitu akrab seperti mereka memiliki ikatan sendiri. Arland tak rela dan rasanya ia ingin menjauhkan Angga dari Kezia.


Ricko melihat gelagat tidak suka dari Arland. Ia memegangi lengan Arland untuk mengingatkannya agar tidak melakukan hal bodoh. Ini bukan saatnya, pikir Ricko.


Angga menatap wajah Kezia yang pucat pasi. Beberapa helai anak rambut jatuh menutupi sebagian pipinya. Angga membelai pipi Kezia yang semakin menirus. Senyum ceria yang selalu membangkitkan semangat dirinya, kini tak terlihat lagi di wajah Kezia. Mungkin hanya rasa sakit yang sekarang ia rasakan. Dada Angga terasa begitu sesak. Mengapa mereka harus bertemu lagi dalam kondisi seperti ini.


“Lihat, kamu tidur seperti bayi. Apa mimpimu begitu indah sampai tidak mau terbangun, hem?” Tanya Angga seraya tersenyum pilu. “ O iya, ada salam dari mamah, papah dan kak Indira. Katanya mereka merindukanmu, sama seperti aku.” Angga menggenggam tangan Kezia yang terasa dingin. Ia tidak peduli pada tatapan para sahabat Kezia dan sekalipun Arland tengah mengeram kesal. “Apa dia tidak bisa menjagamu dengan baik, sampai-sampai ada orang yang bisa mencelakaimu schnucki?” Tanya Angga sambil menatap tajam ke arah Arland.


Arland hanya tertunduk, secara tak sadar mengiyakan ucapan Angga. “Bangunlah schnucki… kelak aku akan mendengarkan semua ucapanmu dan tidak akan mengataimu bawel lagi. Selain itu, aku akan memenuhi janjiku untuk makan es krim di tempat yang waktu itu kita tinggalkan begitu saja." Angga menjeda kalimatnya dengan sebuah tarikan nafas dalam. Ia berusaha kembali mengumpulkan kekuatannya. "Kedepannya, aku janji akan menjagamu lebih baik agar tidak ada seorangpun yang bisa melukaimu, hem….” tukas Angga terpekik.


Dada Arland terasa semakin panas. Rasanya ia tak rela mendengar laki-laki lain mengucap janji di hadapan Kezia.


Namun kali ini, Arland hanya bisa terpaku dengan sekelumit perasaan yang berkecambuk.


****


Arland melenggang ke luar ruangan Kezia. Wajahnya terlihat dingin dan dipenuhi amarah. Ricko bergegas menyusulnya.


"Land, tunggu! Lo mau kemana?" Ricko berusaha menarik tangan Arland namun Arland mengibaskannya.


"Apa? Mau apa lo? Lo liat kan, gue gag bisa jaga kezia baik-baik. Gue membiarkan kezia kesakitan dan gue cuma bisa nonton. Benar, gue emang gag berguna. Sangat tidak berguna!" seru Arland seraya mengacak rambutnya frustasi.


Ia menarik tangan Arland dan membawanya untuk duduk. Arland tampak mengusap wajahnya kasar. Ia merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa melakukan apa-apa. Ia ikut duduk di samping Ricko seraya tertunduk dan menopang kepalanya dengan kedua tangan.


"Kezia butuh lo sekarang. Tapi bukan arland yang seperti ini. Lo harus inget, yang bersedih saat ini bukan cuma lo. Ada om martin dan tante Eliana yang bahkan belum bisa memejamkan matanya dan tertidur. Ada sherly yang gag pernah ngomong sepatah katapun selain hari ini. Ada Kania dan Dena yang sering menangis sesegukan tanpa kita tau, tapi lo, lo harus kuat land. Siapa lagi yang bisa nyemangatin kezia untuk bangun selain lo!" ungkap Ricko yang menatap Arland lekat.


Arland menghembuskan nafasnya kasar. Ia menyandarkan kepalanya pada dinding. Matanya terpejam namun sudut matanya masih terlihat meneteskan bulir-bulir air mata.


Ya Ricko benar, bukan saatnya lagi ia merutuki keadaan. Ia harus kuat untuk Kezia. Membantu Kezia bangun dari tidur panjangnya dan tentunya mencari pelaku dari kecelakaan ini.


****


Alarm di handphone Dena berbunyi nyaring. Rasanya ia baru terlelap beberapa jam lalu dan kini hari sudah menjelang pagi. Ia meraih benda persegi yang masih berdering tersebut dan melihat layarnya yang menyala.


"Selamat ulang tahun key..." lirihnya yang berusaha tersenyum.


Dena kembali menarik selimutnya dan menutupi tubuhnya hingga ke atas kepala. Ia menangis sesegukan di bawah selimut.


"Selamat ulang tahun key..." Lagi, ia mengulang kalimatnya. Dadanya terasa begitu sesak. Biasanya di malam pergantian tahun kelahiran Kezia, Ia akan menginap di rumah kezia dan menghabiskan waktu semalaman dengan kezia hanya untuk mengenang apa saja yang mereka lakukan selama satu tahun terakhir. Tapi kali ini, semuanya berbeda. Ia hanya bisa mengenang satu tahun terakhir ini sendirian.


Nia yang melewati kamar Dena, melihat putrinya masih berada di bawah selimut. Ia berjalan mendekati Dena dan duduk di samping tempat tidurnya.


"Na, ini udah siang sayang..." ujar Nia dengan lembut.


Tidak ada sahutan dari Dena. Nia menarik sebagian selimut Dena dan tampak lah Dena yang tengah menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


"Kamu kenapa sayang, kok nangis..." Nia mengusap kepala Dena dengan sayang. Dena segera bangun dan memeluk Nia.


"Bun, hari ini key ulang tahun, tapi key malah...." Dena tidak melanjutkan kalimatnya. Tangisnya sudah terlebih dahulu pecah.


Nia paham benar perasaan Dena saat ini, karena ia pun merasakan kekosongan yang sama. Ia memeluk Dena dengan erat seraya mengusap pucuk kepalanya dan memberinya sebuah kecupan.


"Sayang,, hari ini key ulang tahun tapi kamu malah bersedih. Bukannya sebaiknya kamu berdo'a untuk kesembuhan dan kebaikan key? Bunda yakin, key juga gag mau liat kamu kayak gini." Ungkap Nia perlahan.


Dalam beberapa saat Dena mengusap air matanya. ia memandangi wajah Nia yang berada di atas kepalanya.


"Walaupun key gag bisa bangun, gag bisa bicara, tapi jangan lupa, dia bisa mendengar dan merasakan. Kesedihan kita mungkin key pun merasakannya. Key gadis yang kuat, kamu harus percaya kalau dia mampu melewati semuanya dan kembali terbangun." tandas Nia yang membuat Dena menghentikan tangisnya seketika. Ia menatap wajah Nia dengan lekat dan Nia tersenyum tipis untuk Dena.


"Iya bunda, aku harus kuat demi kezia..." timpal Dena dengan senyuman kecil di sudut bibirnya.


"Tentu, itu baru anak bunda." Nia kembali memeluk Dena dengan erat.


****


Ada yang berbeda dari suasana hari ini, di ruang perawatan Kezia tampak orang tua dan sahabat mereka datang dengan membawa beberapa bungkusan kado dan sebuah cake dengan lilin yang belum mereka nyalakan. Setelah mendapat  izin dari dokter, mereka akan merayakan ulang tahun kecil-kecilan untuk Kezia.


“Sayang,, coba tebak siapa yang datang… ada sahabat-sahabat kamu di sini nak…”lirih Eliana di dekat telinga Kezia.


Sahabat-sahabat Kezia mulai mendekat dan berdiri mengelilingi tubuh Kezia yang masih terbaring.


“Key… hari ini lo ulang tahun… kita bawain lo cake coklat keju favorit lo. Semoga lo suka ya key…” tutur Dena dengan senyum tipis di bibirnya.


“Key, gue akan minta dena buat gag ikut nyanyi, gue tau lo paling gag suka denger dia nyanyi. Kalo lo denger suara gue, gue harap lo akan segera bangun key…” sambung Kania sambil menggenggam tangan Kezia yang semakin kurus.


Dena menyenggol Kania dengan kesal tapi paling tidak ucapan Kania bisa membuatnya tersenyum.


“Happy bday to you.. happy bday to you.. happy bday, happy b’day , happy b’day Kezia….” semua lirih bernyanyi. Sherly yang sudah tak kuat menahan tangisnya, segera menjauh dan terduduk di sofa. Ricko menghampirinya dan memeluknya dengan erat.


“Sher… kamu harus kuat, kita udah janji kalo hari ini kita akan tersenyum di depan kezia…” lirih Ricko parau.


Arland masih berdiri mematung. Air matanya hampir menetes, ia kembali menengadahkan kepalanya agar bulir air mata itu tak jadi menetes.


“Key, ini kado buat lo. Novel limited edition yang pasti lo suka.” Tutur Kania sambil menaruh novel bercover warna jingga dengan hiasan pita di atasnya.


“Key… seperti biasa, tahun ini pun gue gag bawa hadiah buat lo. Tapi , kalo lo udah bangun, lo boleh minta apapun yang lo mau, dan gue akan berusaha mengabulkannya…” lirih Dena sambil tersenyum ketir.


Hening kembali mengambil alih suasana, masing-masing tenggelam dalam pikirannya dan kesedihannya. Betapa mereka sadar, Kezia telah menjadi salah satu sumber kebahagiaan mereka sekaligus kesedihannya.


****


 


Hay,, hay... Yang masih baca, makasih banyak yaa...


Maaf nih kalo updatenya lama... sambil nunggu, boleh loh mampir ke novelku satunya lagi. Yang itu tuh... "Oh my fak girl."


Makasih atas dukungannya selama ini. Jangan lupa like sama komen-nya yaa... Di usahakan update lebih rajin. Thanks....

__ADS_1


__ADS_2