
Selesai makan siang, Fritz terlihat anteng dengan anak-anak panti sementara Dena mengajak Kezia ke kamarnya.
“Mandi gih, bau asem…” ledek Kezia seraya menutup hidungnya.
Dena mengendus tubuhnya sendiri. “Iya ya? Hahaha…” Dena tergelak saat menyadari kebenaran ucapan Kezia. Dalam beberapa saat Dena pergi untuk mandi.
Tinggalah Kezia yang terduduk di tempat tidur Dena. Ia mengusap boneka yang dulu ia berikan pada almarhum Anis. Wajah cerianya hilang seketika, berganti raut sedih mengenang orang-orang yang disayanginya. Kezia berhadapan dengan kenyataan 2 orang yang disayanginya Angga dan Anis, “pulang” dan meninggalkannya, sementara laki-laki terkasihnya pergi karena berpaling pada temannya sendiri. Batinnya teriris perih dan hanya butiran air mata yang bisa mewakilinya.
“Keey,, lo kenapa?” tanya Dena pada Kezia yang tengah terdiam dengan air mata menggenang.
Kezia tersenyum pilu.
Segera Dena menghampirinya dan memeluknya dengan erat. Kezia tersedu di pelukan Dena. Dena hanya terdiam, tidak bisa mencerna kondisi saat ini. Pilihan terbaik adalah membiarkan Kezia menumpahkan semua kesedihannya dan menunggunya untuk berbicara sendiri.
Cukup lama Kezia terisak di pelukan Dena. Tangis yang tak kunjung habis setelah kejadian kemarin sore. Dadanya mulai sedikit lega. Tidak lagi terasa terhimpit batu besar yang nyaris memecahkan rongga parunya. Pelukan Dena begitu hangat, membuatnya merasa begitu nyaman.
“Na, gue pisah sama arland…” dengan bibir bergetar Kezia memulai kalimatnya.
“Jangan becanda lo key….” gertak Dena yang kaget dengan ucapan Kezia.
Kezia hanya menggeleng. "Gue sama arland bener-bener udah berakhir…” lanjut Kezia yang kali ini tanpa diiringi tangisan.
Mungkin ia sudah bisa menegarkan dirinya sendiri atau karena kenyataannya begitu menyakitkan.
“Kenapa key? Bukannya lo udah bener-bener buka hati lo lagi buat arland?”
Kezia mengangguk. “Masalahnya bukan pada perasaan kami tapi gue emang gag bisa ngelanjutin semuanya sama dia. Arland,” Kezia mengumpulkan keberaniannya dengan menarik nafas dalam-dalam. “Dia ngehamilin difa…” lanjut Kezia yang kemudian menggigit bibitnya sendiri. Terasa sakit, terlebih hatinya.
“Yang bener lo key?! Anjrit ya tu si arland, berani-berani dia nyelingkuhin lo! Cari mati tuh anak!” dengus Dena dengan kesal. “Si difa juga, perempuan macam apa kayak begitu. Emang cocok ya tuh orang 2.” Lanjut Dena sambil mondar-mandir di hadapan Kezia dengan tangan mengepal karena kesal. Kezia hanya terpaku, umpatan Dena terasa mewakili perasaannya yang bergejolak.
“Udah, lo cari cowok lain! masih banyak cowok ganteng yang ngantri buat lo.” Seru Dena dengan semangat.
Kezia hanya tersenyum melihat tingkah Dena. Tingkah jenaka yang selalu sukses menghiburnya.
“Sini dong lo temenin gue duduk…” pinta Kezia seraya menarik tangan Dena perlahan.
“Oh iya sory key, habis emosi gue. Kebangetan tuh orang. Gue sikat baru tau!” Amarah Dena masih menggebu. “Key, gue tau, fritz cinta sama lo. Kenapa gag coba lo buka hati lo buat dia dan lupain arland. Gue yakin dia bisa bahagiain lo.” tutur Dena dengan tulus.
Kezia menatap manik hitam di tengah mata Dena.
“Ini cara lo ngehibur gue na? Murahan banget!” cetus Kezia seraya tersenyum.
“Loh apa yang salah, bener kan dia cinta sama lo? Lagian kata orang, obat patah hati itu ya dengan hati yang baru.” sungut Dena.
__ADS_1
Kezia menggelengkan kepalanya. “Kalo lo, lo suka gag sama fritz?” kali ini Kezia yang balik bertanya.
“Gue?!” Dena menunjuk hidungnya sendiri. Kezia mengangguk. “Kenapa malah bahas gue sih? Yang lagi sedih kan elo key…” Dena memalingkan wajahnya dari Kezia.
Kezia tahu, Dena sedang berusaha menyembunyikan perasaannya dengan segala tingkah konyolnya.
Kezia meraih tangan Dena dan menggenggamnya dengan erat. “Na, kalo pun gue harus pindah ke lain hati, itu bukan karena gue kecewa sama satu laki-laki. Gue pengen mencintai seseorang dengan tulus, bukan dengan alasan pelampiasan dari laki-laki lain. Gue pernah mencoba mencintai seseorang dan berusaha melupakan seseorang, ternyata gue gag bisa. Gue malah nyakitin dia, karena saat bersama dia, bayangan laki-laki lain yang muncul di pikiran gue. Gue gag cukup bisa mencintai dia, sampai akhirnya dia pergi dan gue nyesel. Harusnya gue gag pernah menjanjikan sesuatu yang mungkin gag bisa gue tepati terutama masalah perasaan. Termasuk fritz, gue sayang sama fritz, tapi cukup cuma sebatas sahabat gue dan gag lebih.” tutur Kezia dengan tenang.
“Tapi key, lo gag boleh terpuruk terus kayak gini. Lo harus lupain arland…”
“Na, gue pasti move on kok. Gag ada lagi yang bisa gue harapin. Gue cuma butuh waktu, waktu buat ikhlas dan terbiasa dengan semuanya. Gue tau, gue gag akan bisa lupain semua tentang arland. Gue hanya harus menerima kalo semua memang udah berakhir.” tukas Kezia yang tersenyum di akhir kalimatnya.
Dena memeluk erat Kezia. “Kalo gue cowok, gue ajak lo nikah hari ini key…” lirih Dena dengan senyum pilu.
“Jangan mikir aneh-aneh, tar lo kecewa…” balas Kezia seraya tersenyum.
Dena melepaskan pelukannya. Ia menatap Kezia dengan lengkungan senyum di bibirnya.
“Gue yakin lo bisa ngelewatin semuanya dan suatu hari gue akan liat lo hidup bahagia dengan orang yang lo cinta, hem...” tukas Dena.
“Thanks na, lo juga harus bahagia…” Kezia menyahuti seraya mengeratkan genggaman tangannya.
****
Terdengar suara ketukan pintu di rumah Difa. Difa yang tengah bertelpon segera bangkit dan mengintipnya dari jendela.
“Arland!” gumamnya dengan raut bahagia di wajahnya.
Difa segera berlari untuk membukakan pintu rumah setelah sebelumnya memastikan penampilannya telah rapi.
“Land….” sapa Difa dengan sumeringah saat melihat laki-laki yang dicintainya berdiri di hadapannya. “Ayo masuk land…” tawar Difa seraya membuka pintu rumahnya lebar-lebar.
Arland melangkahkan kakinya memasuki rumah Difa. Saat ini di tangannya ia membawa makanan dan buah-buahan. Ia duduk di salah satu sudut sofa dan meletakkan barang bawaannya di meja.
“Aku seneng banget kamu mampir ke sini land…” ujar Difa seraya meraih tangan Arland namun dengan segera Arland memindahkan posisi tangannya. Difa berkerut kesal.
“Gimana kabar anak aku?” tanya Arland perlahan.
Terlihat ekspresi bahagia di wajah Difa saat mendengar pertanyaan Arland.
“Land, kamu mau ngakuin anak ini? Makasih Land, makasih banyak. Aku bener-bener bersyukur akhirnya kamu…”
“Kalau dia memang anak aku, aku menerimanya dengan senang hati. Tapi bukannya waktu itu kamu bilang kita gag ngelakuin apa-apa? Gimana bisa kamu hamil?” cerca Arland dengan tatapan dingin.
__ADS_1
“Land, kalo kamu ngerasa gag yakin, kamu gag perlu datang ke sini…” cetus Difa mencoba menarik ulur Arland dan membuatnya merasa bersalah.
“Kalo kamu yakin itu anak aku, kenapa kamu gag bilang dari dulu, dari sewaktu kita ngelakuinnya. Mau kamu hamil atau enggak, kalo aku ngerusak kamu, harusnya kamu kasih tau aku supaya aku tanggung jawab.” Terang Arland setenang mungkin.
“Maaf land, aku cuma takut….” sahut Difa yang tertunduk dengan jemari saling memilin.
“Kenapa kamu ngasih tau dulu kezia sebelum aku?”
“Emm aku, karena aku pikir kezia sama aku sama-sama perempuan, jadi dia bakal ngerti perasaan aku land…. Aku minta maaf kalo hal ini bikin hubungan kamu sama kezia jadi buruk. Aku bener-bener gag ada maksud apa-apa…” rengek Difa dengan air mata berurai.
“Aku akan tanggung jawab terhadap anak itu. Jadi kamu jaga dia baik-baik.” tegas Arland.
“Makasih land. Aku tau kamu laki-laki bertanggung jawab…” lirih Difa.
“Kamu mau ngelakuin ini karena permintaan kezia kan? Bagus, lain kali aku akan bikin kamu jijik sama kezia, supaya kamu bisa bener-bener jadi milik aku selamanya.” batin Difa dengan seringai tipis di bibirnya.
“Kamu mau minum apa land, aku bikinin…” tawar Difa.
“Hemm, terserah..” sahut Arland.
“Kamu tunggu bentar yaa, aku ambilin dulu kamu minum…” Difa berusaha berprilaku semanis mungkin di hadapan Arland dan itu membuat Arland semakin jijik.
Difa meninggalkan Arland sendirian di ruang tamu. Ia berencana membuatkan minuman untuk Arland. Diam-diam Arland masuk ke kamar Difa dan memeriksa sekelilingnya. Ia membuka laci hendak mencari obat yang dulu Difa berikan padanya. Namun nihil, semuanya rapi dan bersih tanpa ada yang bisa Arland temukan.
Terlihat handphone Difa yang tergeletak di atas kasur. Segera Arland mengambilnya dan memeriksanya. Ternyata handphonenya terkunci menggunakan sandi angka.
“Sial!” dengus Arland. Ia mencoba memasukkan kombinasi tanggal lahirnya dan ternyata, benar saja, layar handphone Difa terbuka. “Gila, obsesi banget nih perempuan!” gumam Arland.
Terlihat beberapa panggilan masuk dan pesan dari nomor yang sama dalam kurun waktu berdekatan. Arland segera mencatat nomor handphone tersebut dan mengembalikan handphone Difa ke tempatnya. Dengan segera Arland keluar dan duduk kembali di sofa.
“Diminum dulu land…” tutur Difa seraya menyodorkan segelas teh hijau pada Arland.
“Sory , aku buru-buru. Ada rapat penting yang harus aku hadirin.” Ujar Arland seraya melihat jam tangan yang melingkar di tangannya. Melihat teh hijau di hadapannya membuat Arland merasa sangat jijik karena ia teringat saat Difa menjebaknya.
“Emm okey… hati-hati di jalan. Makasih ya udah dateng…” ujar Difa seraya tersipu.
“Hem…”
Arland segera menuju mobilnya. Ia menghubungi beberapa anak buahnya dan memintanya untuk mengecek apa yang Arland minta. Dengan segera anak buahnya mengerjakan perintah Arland.
“Key, aku akan buktiin kalo aku cuma milik kamu…” lirih Arland seraya menatap wajah Kezia yang ada di handphonenya.
****
__ADS_1