My First Love Story

My First Love Story
Bukan keinginanku


__ADS_3

“Sore mah..” sapa Kezia pada Eliana yang sedang asyik menata makanan di atas piring.


“ Hay sayang, sudah pulang nak?” Tanya Eliana dengan wajah ceria. Kezia hanya mengangguk lalu mendudukan tubuhnya di hadapan Eliana.


"Kamu kenapa nak?” Tanya Eliana sambil terus memperhatikan Kezia yang begitu lesu.


"Gag papa mah, zia cuma capek aja.” Jawab Kezia sambil menelungkupkan badannya di atas meja makan.


"Maahh,  Mamah…” teriak Martin dari ruang keluarga.


"Ada apa pah?” Tanya Eliana sambil menghampiri Martin.


Martin datang dengan langkah yang sangat ringan. Di bibirnya terkembang senyum merekah.


"Mah, barusan kantor papah telpon. Katanya mereka minta maaf karena sudah menuduh papah yang bukan-bukan. Bahkan mereka meminta papah kembali bekerja dan akan membayar kompensasi atas tuduhan mereka. Menurut mamah gimana?” Tanya Martin dengan wajah berbinar.


Kezia hanya terdiam menyaksikan kebahagiaan yang dirasakan oleh Martin, karena semuanya hanya tipuan.


Perusahaan Martin tidak benar-benar melakukan apa yang Martin fikirkan, melainkan hanya sebuah kompensasi atas pilihan yang ia ambil.


"Pah, kalau ada pilihan pekerjaan lain, apa papah akan tetap bekerja di sana atau menerima pekerjaan lain?” Tanya Kezia dengan serius.


"Zia, kamu ngomong apa nak?”


" Nggak mah, zia hanya berfikir, perusahaan papah begitu mudah memberhentikan papah lalu memintanya bekerja lagi. Mengapa mereka tidak melakukan penyelidikan dulu sebelum mempertanyakan integritas papah yang sudah bekerja di sana bertahun-tahun?” tutur Kezia dengan serius. Eliana dan Martin terdiam. Martin mencoba mencerna


maksud ucapan anak gadisnya.


"Papah akan mempertimbangkan tawaran ini nak. Lagi pula, usia papah udah gag muda lagi, gag gampang nyari kerjaan buat papah." tutur Martin yang mencoba realistis, walau sebenarnya ia pun mempertanyakan kondisi yang terjadi saat ini.


Mnedengar jawaban Martin, rasanya tidak ada yang bisa kezia debat. "Mah, pah, zia naik dulu ya…” tutur Kezia dengan langkah gontai.


"Istirahatlah nak, jangan lupa nanti turun untuk makan malam.” Pinta Eliana sambil mengusap pucuk kepala Kezia. Kezia hanya terangguk lalu berlalu meninggalkan Eliana dan Martin.


*****


Kezia merebahkan tubuhnya di atas kasur. Air matanya tak henti meleleh dari matanya. Pembicaraannya dengan Irene siang tadi, terus berputar di kepalanya. Mengapa begitu cepat waktu mengubah tawa menjadi air mata.


"Harusnya, aku tidak pernah memulai semuanya…” lirih Kezia dalam penyesalannya.


Bayangan Arland berkelebat dalam ruang imajinasinya. Kezia memejamkan mata, ia mengingat kembali setiap kebersamaannya dengan Arland yang mungkin hanya akan menjadi kenangan.


Handphonenya terus berdering mengusik imajinya. Kezia mengambil benda pipih yang berada di sampingnya. Dilihatnya ada 11 panggilan tidak terjawab dari Arland, 6 panggilan tak terjawab dari Dena dan 1 panggilan video dari Angga.


Kezia mengusap air mata yang jatuh di pipinya. Berkali-kali ia menengadahkan wajahnya agar air matanya berhenti mengalir. Ditarik-tariknya kedua belah pipinya agar kembali terbiasa tersenyum. Kezia berdehem. Kemudian menekan nomor telpon Angga dan melakukan video call.


"Hay schnucki …” sapa Angga yang sedang bersandar di tempat tidurnya. Suaranya terdengar serak.


"Hay kak, kakak lagi sakit?” Tanya Kezia sambil memincingkan matanya.


"Gag apa-apa, aku hanya lelah habis terapi jalan…” terang Angga sambil membenarkan posisi tubuhnya. “ Mata mu bengkak, kamu nangis?” Tanya angga sambil memperhatikan Kezia dengan seksama.


"Ooh iya kah? Padahal aku gag nangis kak, mungkin karena capek aja…” jawab Kezia sambil memalingkan wajahnya. “ Tumben kakak hubungin aku, bukannya bentar lagi jadwal kemo?” Tanya Kezia mengalihkan pembicaraan.


"Yaa… Perasaanku gag enak, tiba-tiba inget kamu. Kamu baik-baik aja kan?”


Kezia hanya terangguk. Dia masih mencoba menahan tangisnya. Entah mengapa saat kita bersedih dan seseorang menanyakan kondisi kita, rasanya malah ingin sekali menangis sejadinya meluapkan semua kegundahan yang bersarang di dada.


"Aku baik-baik aja." sahut Kezia sekenanya.


"Heemm… Gadis bodoh. Kamu gag pandai bohong schnucki…” tutur Angga sambil tersenyum kecut.


"Kenapa kakak begitu sok tau hah, kenapa?” Tanya kezia yang mulai kesal karena tebakan Angga benar. Angga tergelak.


"Kalo kamu nganggap aku kakakmu, maka cerita lah. Walopun aku gag bisa bantu cari solusinya, setidaknya aku bisa mendengarkan.” Tutur Angga dengan sungguh-sungguh.


Kezia menundukkan kepalanya, ia memang membutuhkan seseorang untuk mendengarkannya. Perlahan Kezia mulai menceritakan kejadian yang menimpanya. Angga hanya mendengarkan, tak ada komentar tak ada justifikasi.


*****


"Sayang gimana olympiade kamu?” Tanya Eliana memecah kesunyian mereka saat bersama di meja makan.


Belakangan ini Kezia terlihat lebih pendiam dan sering sekali melamun. Martin dan Eliana menangkap gelagat tak baik dari sikap Kezia.


"Zia berangkat lusa mah. Untuk yang science sekitar 8 orang dan 4 guru pendamping.” sahut Kezia dengan malas.


"Apa arland ikut nak?” Tanya Martin dengan antusias.


"Nggak lah pah, dia bukan tim olympiade…”


"Loh, padahal papah udah nitipin kamu sama dia loh.” Cetus Martin

__ADS_1


"Ya kali zia anak kecil kemana-mana harus ada yang jagain.” Jawab Kezia sambil menyuapkan sesendok nasi dan lauk ke mulutnya.


"Kamu berapa hari di sana?” Tanya Eliana yang terlihat cemas.


"3 hari mah. Nanti zia bakal sering ngasih kabar kok ke mamah. Cuma kalo zia gag ngasih kabar, mamah jangan cemas. Mungkin zia lagi sibuk di sana.” Terang Kezia sambil menggenggam tangan Eliana. Eliana hanya mengangguk, mencoba memahami putrinya.


"Papah denger, kalo juara 1 nanti dikasih beasiswa pendidikan sampe s3 dan bisa memilih kuliah diluar negri ya nak?” Tanya Martin.


"Iya pah, makanya zia mau sungguh-sungguh.”


"Semangat ya sayang, juara atau tidak, kamu tetap kebanggaan mamah sama papah.” Cetus Eliana sambil mengusap pucuk kepala Kezia.


"Iya mah..." Kezia menyahuti


Handphone Kezia bergetar dengan 1 pesan masuk.


" Key , salah satu anak perusahaan wibawa group lagi butuh staf keuangan. Mungkin papahmu mau coba.”_ Angga


Kezia tersenyum melihat isi pesan Angga. Ada harapan baru dalam dirinya.


"Pah, anak perusahaan wibawa group lagu butuh staf keuangan, papah mau coba apply?” Tanya Kezia.


"Apa? Perusahaan wibawa group?” Tanya Martin yang hampir tersedak. Kezia mengangguk sambil tersenyum. “Tapi itu perusahaan kelas internasional. Biasanya karyawannya lulusan dari luar negri semua. Papah mana sanggup saingan sama mereka” Nyali Martin mulai kendur


"Gag ada salahnya dong  papah coba ? Siapa tau rejeki papah.” Eliana berusaha menyemangati. Martin termenung sejenak. Sebuah kesempatan langka yang sayang kalau di lewatkan.


"Baik lah, demi kalian papah akan mencoba.” Seru Martin dengan semangat.


"Papah mau apply, kira-kira kapan?” _Schnucki


"Kata temenku besok bawa lamaran langsung ke kantornya. Ketemu sama pak hamid.” _Angga


"Siap… Makasih kak infonya..”_Schnucki


Kezia menyampaikan isi pesan itu pada Martin dan Martin terlihat sangat bersemangat.


****


Pagi itu, Kezia terbangun lebih pagi dari biasanya. Ia menyiapkan buku pelajarannya dan beberapa kali memastikan tidak ada yang tertinggal.


Kezia melangkahkan kaki keluar rumah dengan tentengan dua kotak sarapan buatan Eliana. Didepan gerbang rumah sudah menunggu ojek online pesanannya. Kezia langsung duduk diboncengan dan  langsung ditancap gasnya. 20 menit perjalanan, Kezia telah sampai di sekolah. Di depan perpustakaan sudah menggu Tyo dengan tampilan rapinya.


"Pagi key…” sambut Tyo dengan semangat. Sejak semalam Kezia dan Tyo berkirim pesan. Perasaan Tyo pagi ini terasa sangat bahagia.


"Kakak udah sarapan?”


Tyo menggeleng. Tanpa mereka sadari sepasang mata memperhatikannya dari kejauhan. Tyo membukakan


pintu perpustakaan yang masih tertutup lalu mempersilakan Kezia untuk masuk.


"Rambutmu masih  basah key, kenapa kamu iket?” Tanya Tyo sambil memegang beberapa helai rambut Kezia.


“Gag apa-apa kak, ini udah setengah kering kok.” Jawab Kezia sambil mengibaskan rambutnya yang diikat tinggi-tinggi dan memperlihatkan leher jenjangnya. “ Yuk kak, kita sarapan dulu.” Kezia membuka dua kotak makan dan menyodorkan salah satunya pada Tyo.


" Wah makasih banyak key..” seru Tyo. Kezia membalasnya dengan senyuman. “ Emmm enak banget… Ini bikinan kamu?” Tanya Tyo. Kezia mengangguk sambil mengunyah makanan di mulutnya. “ Wah beruntung banget calon suami kamu nanti, dimasakin sarapan enak setiap hari.” Tutur Tyo.


"Ah kakak, bisa aja..” jawab Kezia sekali lalu meneguk air mineral di hadapannya. Tyo terus menikmati sarapannya, sambil curi-curi pandang pada Kezia yang duduk disampingnya. Mereka segera menyelesaikan sarapannya dan memulai pelajaran.


Handphone Kezia bergetar dengan notifikasi sebuah panggilan suara dari Arland.


"Telpon key,” tutur Tyo sambil menunjuk handphone Kezia.


Kezia menekan tombol reject. Tyo hanya tersenyum. Berkali-kali panggilan suara dari Arland masuk, tapi tidak ada satupun yang Kezia jawab. Selanjutnya ia lebih memilih mematikan handphone-nya.


****


"Ke kantin yuk…” ajak Tyo pada Kezia tepat setelah bell istirahat berbunyi. Kezia mengiyakan dan bangkit dari tempat duduknya. Kezia berjalan beriringan dengan Tyo. Selama dalam perjalanan mereka tertawa bersama membicarakan perkara recehan.


Di kantin tampak club anak basket beserta Dena dan Sherly. Hari ini Kania masih belum masuk karena menjaga


papihnya di rumah sakit.


"Hari ini aku yang traktir ya…” bisik Tyo di telinga Kezia. Kezia mengangguk sambil tersenyum pada Tyo membuat remaja manis itu senang tidak terkira. “ Mau duduk dimana?” Tanya Tyo kemudian.


"Terserah kakak. “ jawab Kezia. Tyo menarikkan sebuah kursi dan mempersilakan Kezia untuk duduk. “ Thanks kak..”  tutur Kezia dengan diiringi senyum manis.


"Aku pesen makanan dulu, kamu mau makan apa?”


"Aku spageti sama jus jeruk aja..”


Tyo beranjak berdiri untuk pergi memesan makanan. Dari meja lain, beberapa pasang mata tidak berkedip memperhatikan Kezia dan Tyo. Tak lama Tyo kembali dan menu makanan pun tiba.

__ADS_1


Kezia dan Tyo menikmati makanan masing-masing. Sesekali Tyo mengajak Kezia bercanda dan Kezia tertawa dengan renyah membuat dada seseorang hampir meledak.


"Hay key…” sapa Irene yang baru datang. Kezia membalasnya dengan senyum karena mulutnya penuh makanan.


"Kalian berdua berangkat besok ya buat olympiade?” Tanya Irene dengan manisnya.


"Ya kak.” Jawab Kezia sambil terangguk.


"Goodluck yaa… Semoga kalian berdua bisa membawa trophy juara ke sekolah ini..” tutur Irene sambil melirik ke arah Arland.


"Thanks kak!” seru Kezia sambil tersenyum.


Irene berlalu berganti  Arland dan teman-temannya masih tidak habis fikir dengan kejadian hari ini. Air dan Api  tiba-tiba tampak begitu akrab.


Kezia dan Tyo lanjut melahap makanan mereka. Refleks Tyo mengusap saus yang menempel di bibir Kezia.


"Aku bisa sendiri…” tutur Kezia yang mulai merasa tidak nyaman dengan perhatian Tyo.


"Oh sory…” cetus Tyo sambil tersenyum.


Tiba-tiba, Arland berdiri dan menghampiri Kezia di mejanya.


"Key , aku perlu bicara..” tutur Arland sambil menatap tajam Kezia.


Kezia memalingkan wajahnya dengan acuh seolah tidak mendengar penuturan Arland.


"Aku lagi makan. Mungkin lain kali.” Jawab Kezia sambil meneguk air di depannya.


"Aku perlu bicara sekarang sama kamu!” gertak Arland sambil menarik paksa tangan Kezia.


"Lo gag dengar tadi dia bilang apa?” Sontak Tyo ikut berdiri dan menahan tangan Arland.


"Bukan urusan lo brengsek!” seru Arland sambil mendorong dada Tyo lumaya keras. Dan..


"BUK!” Tyo meninju pipi Arland dengan lumayan Keras. Arland hampir terjatuh namun Ricko dan Andes menahannya. Kezia tercengang tapi tak bisa melakukan apapun.


" Mainkan saja peranmu key!” lirih Kezia pada dirinya sendiri. Di sebrangnya, tampak Irene sedang asyik memperhatikan permainan Kezia. Kezia mengepalkan tangannya. Ditariknya tangan Tyo dan menjauh dari kerumunan sahabatnya.


"Ayo kak kita pergi dari sini.” Ajak Kezia sambil berlalu. Tyo mengikuti dengan senyum penuh kemenangan di bibirnya.


"Key tunggu!” seru Arland  namun Kezia tidak menanggapinya. Dia terus berjalan dengan menggenggam tangan Tyo.


"SHIT!!!” Arland meninju meja yang ada di hadapannya dan mengumpat tidak jelas. Ricko berusaha menenangkan Arland. Namun tak lantas mengurangi kekesalan Arland.


****


Kezia melepaskan genggaman tangannya dari Tyo. Ia mengguyar rambutnya dengan kasar. Ia sangat benci dengan kondisi ini tapi ia terpaksa harus memainkan perannya.


"Key, maafin aku ya atas kejadian tadi.” Tutur Tyo dengan lembut.


Namun Kezia masih terus berjalan di depan Tyo tanpa memperdulikan ocehan Tyo. Pikirannya semerawut, antara tidak tega pada Arland, merasa berdosa pada Tyo dan rasa kasihan pada teman-temannya. Kezia terus berjalan tanpa memperdulikan pandangan orang sekitar yang tertuju padanya.


Sampai di perpustakaan Kezia kembali membuka bukunya. Dia membaca buku perhalaman, namun tidak ada materi yang menempel dalam ingatannya. Kezia kembali berdiri dan berjalan menuju toilet tanpa permisi pada Tyo yang sejak tadi duduk disampingnya.


Suasana toilet sepi. Kezia menatap lekat-lekat bayangan wajahnya yang terpantul dari kaca.


"Sangat menyebalkan!” maki  Kezia seraya menyipratkan air pada bayangan dirinya saat mengingat semua kepura-puraan yang dia lakukan tadi.


Pura-pura tersenyum, pura-pura tidak ada masalah, pura-pura tega dan pura-pura tidak peduli.


"ARRGGHH!!!” teriak Kezia sambil memukul washtafel yang ada di depannya.


Kezia menyalakan keran dan menyatukan kedua tangannya hendak mengambil air. Dibasuhkannya air tersebut ke wajahnya. Kezia kembali menatap wajahnya dengan perasaan kesal. Di tariknya nafas dalam-dalam lalu membuangnya dengan perlahan. Berulang kali Kezia melakukan hal tersebut dan perlahan emosinya mulai mereda. Ternyata sesult itu Ia harus memainkan perannya.


" Bertahanlah Key, tahan sedikit lagi rasa sakitnya” lirih Kezia sambil memegangi dadanya.


Kezia berjalan keluar Toilet. Lalu kembali ke perpustakaan.


"Key…” sapa Tyo yang masih merasa tidak enak pada Kezia.


"Ya kak..” sahut Kezia tanpa menoleh Tyo sedikitpun.


"Kamu masih mau belajar atau mau pulang?” Tanya Tyo sambil menatap Kezia lekat-lekat. Sepertinya Tyo memahami yang dirasakan Kezia.


"Bisa antar aku ke rumah sakit?”


Tyo mengangguk mengiyakan.


Kezia dan Tyo membereskan buku mereka lalu bergegas menuju rumah sakit yang tidak jauh dari sekolah mereka. Selama dalam perjalanan tidak ada percakapan apapun diantara keduanya. Hanya suara klakson kendaraan lain yang menggetarkan gendang telinga mereka.


***

__ADS_1


__ADS_2