
Malam semakin tenggelam di telan kelam. Untuk alasan itulah Fritz tidak bisa membiarkan Kezia pulang sendirian ke flatnya. Di tepi jalanan terlihat mobil Angga sudah terparkir, berarti sang empunya sudah pulang. Fritz menemani Kezia menapaki satu per satu anak tangga sambil menceritakan kegiatan rutinan kampus. Kezia terlihat sangat tertarik. Tidak sia-sia ia belajar jauh ke negri orang ketika bisa begitu banyak hal yang ia temukan.
“Kenapa pulang malam sekali?” suara Angga membuyarkan perbincangan antara Fritz dan Kezia. Ia sudah berdiri di depan pintu flat seraya menatap tajam Kezia dan Fritz.
“Kakak, udah pulang?” Kezia berusaha mengabaikan tatapan tajam Angga yang begitu menakutkan. Sisi over protectivenya kembali muncul sebagai seorang laki-laki yang ingin melindunginya.
“Siapa laki-laki yang kamu bawa pulang?” Angga bertanya dengan sinis.
“Ooohh kenalin kak, ini fritz temen sekelasku. Fritz, ini kak angga, kakakku…” terang Kezia.
Fritz mengulurkan tangannya. Tapi Angga tidak membalasnya. Malah tatapan tajam yang ia terima.
“Kamu masuklah. Udah malem.” sahut Angga yang tidak menganggap penting perkenalan dengan laki-laki di hadapannya.
Kezia menoleh ke arah Fritz dengan isyarat permintaan maaf tapi tidak terucap. Fritz mengangguk paham.
Kezia segera membuka pintu flatnya dan menutup kembali pintunya rapat-rapat. Dari celah pintu Ia mengintip keluar, namun tubuh Angga menghalanginya. Akhirnya Kezia memilih untuk menaruh barang bawaannya dan segera masuk ke kamar mandi. Biarlah itu antara sang kakak dengan teman laki-lakinya.
Sementara itu di luar kamar Kezia, Angga masih menatap Fritz dengan tatapan tidak suka. Dan Fritz hanya bisa menyentuh tengkuknya canggung.
“Saya dengar kamu seorang don Juan kampus, apa adikku salah satu mainanmu?” tanya Angga dengan kasar.
Fritz tersenyum tipis berusaha mengerti kekhawatiran sang kakak dari gadis yang didekatinya. “Saya berteman baik dengan adik anda dan tidak berniat mempermainkannya.” sahut Fritz dengan tulus.
“Ubah dulu sikapmu, baru berteman dengan adikku. Dan jangan coba-coba mengganggunya.” Ancam Angga. Fritz hanya terdiam. “Nunggu apa? Cepat pergi!” gertak Angga. Fritz hanya mengangguk dan segera pergi.
“Haiisshh anak kecil ini. Baru aku tinggal 5 hari sudah bawa laki-laki pulang. Dasar anak nakal!” gerutu Angga sambil masuk ke flatnya.
Sementara Fritz pergi dengan langkah gontai. Ia masih menoleh pintu flat Kezia, berharap gadis itu akan kembali keluar dan menemuinya. Sayangnya, semua hanya harapan Fritz.
****
Pagi hari, Angga sudah mengetuk-ngetuk pintu flat Kezia. Kezia yang belum selesai memasak segera membuka pintu dengan memakai celemek dan rambut yang di gulung handuk.
“Kakak, biasanya juga langsung masuk…” protes Kezia saat tau siapa yang mengetuk pintunya.
Ada senyum tertahan di bibir Angga saat melihat Kezia dengan penampilannya. Penampilan yang ia rindukan selama 5 hari ini.
Angga segera masuk dan duduk di sofa.
“Mana sarapanku?” tagih Angga tanpa mengubah air mukanya.
“Bentar lagi selesai. Kakak tunggu dulu yaa…” sahut Kezia yang segera kembali ke balkon belakang.
__ADS_1
Tak lama ia kembali dengan 2 piring nasi goreng seperti biasanya. Angga segera menyantap nasi goreng yang ada di depannya.
“Em Asin!” keluh Angga. “Apa kamu sedang jatuh cinta, masak sampe asin begini?!” tutur Angga sambil menaruh kembali nasi gorengnya.
Kezia mencicipi nasi goreng yang ada di hadapannya. Rasanya masih sama seperti biasa dia buat.
“Punyaku gag asin kok kak…” sahut Kezia sambil terus mengunyah.
“Ya udah sini, tukeran!” Angga merebut piring nasi Kezia lalu melahapnya.
Kezia hanya bisa terpaku seraya menggelengkan kepalanya. Ia tidak habis pikir dengan kelakuan Angga pagi ini. Diambilnya nasi goreng milik Angga dan mulai di nikmatinya, ternyata rasanya sama dan tidak asin.
“Apanya yang asin? Rasanya sama tau!” cetus Kezia seraya mengerucutkan bibirnya namun Angga tidak menanggapinya serius. Tentu saja tidak asin, hanya perasaannya saja yang tidak karuan.
“Temenin aku ke rumah sakit hari ini ya?” ajak Angga
“Kakak sakit?” reflex Kezia menaruh punggung tangannya di dahi Angga.
“Enggak, cuma dokter Albert nyuruh check up.”
“Ooo…” kezia membulatkan bibirnya.
*****
“Ada yang mau kamu jelasin soal semalem?” tanya Angga sekali lalu menatap Kezia yang duduk di sampingnya.
“Jelasin apa? Gag ada!” cetus Kezia yang asyik memainkan handphonenya.
“Kenapa kamu pulang di antar anak nakal itu?”
“Anak nakal siapa?” Kezia mulai menoleh pada Angga.
“Itu anak songong yang nganter kamu pulang! Emang habis darimana kalian?”
“Kakak, itu namanya Fritz. Dan bukan anak nakal. Kakak aja yang sok tau…” timpal Kezia.
“Hemm… Cinta memang buta ya?!” gerutu Angga dengan agak keras.
“Plak! Plak! Plak!” Kezia memukul lengan Angga sampai berkali-kali.
“Maksud kakak apa ngomong cinta cintaan segala?” gertak Kezia. Wajah Kezia terlihat sangat kesal. Angga mengaduh dan segera menepikan mobilnya.
“Kita perlu bicara !” cetus Angga.
__ADS_1
“Iya, memang kita perlu bicara.” Sahut Kezia yang tidak kalah kesal.
“Apa?!!!” seru Keduanya bersamaan.
“Ya udah, kamu duluan…” tawar Angga.
Kezia menarik nafas dalam sebelum memulai kalimatnya. Semua pertanyaan yang mau dia tanyakan telah dia siapkan.
“Kakak kemana aja hampir seminggu ini? Tiba-tiba ngilang, gag ada kabar, gag ada berita. Telpon enggak, kirim pesan juga enggak!” cerocos Kezia. Angga tertegun mendengarkan pertanyaan Kezia dengan cara yang menggebu. Ia bisa membaca gurat kekhawatiran di wajah gadis cantiknya.
Sejujurnya ia sengaja menghindari kezia beberapa hari ini karena berusaha menghilangkan fikiran anehnya tentang Kezia. Tapi itu tidak mungkin Angga ungkapkan. “Aku sibuk!” jawab Angga sekenanya.
“Ya kakak sibuk kan sama perempuan?!” sahut Kezia.
“Maksud kamu apa?” angga mengernyitkan dahinya.
Flash back on
Hari itu, sudah beberapa hari Kezia tidak bertemu Angga sama sekali. Di flat tidak ada, pulang pun selalu larut dan berangkat kerja sangat pagi. Ia khawatir sang kakak dalam masalah atau kesehatannya mungkin kembali terganggu. Untuk alasan inilah ia memutuskan untuk menemui Angga di kantornya dengan membawa makan siang.
“Selamat siang nona, ada yang bisa saya bantu?” sapa seorang receptionist.
“Saya mau bertemu pak ryan.” Begitu sapaan akrab Angga di kantornya. Sang resepsionis tampaknya ingat saat Kezia beberapa waktu lalu datang bersama Angga.
“Oh baik, mari saya antar.”
“Tidak, terima kasih, biar saya ke sana sendiri.” sahut Kezia yang kemudian diangguki sang resepsionis.
Kezia menggunakan Lift untuk menuju ruangan Angga. Suasana di lantai ruangan Angga sangat sepi. Mungkin karena jam istirahat. Kezia berusaha menghubungi Angga namun tidak di angkat. Kezia mendekati ruangan Angga, berusaha membuka pintu, dan ternyata tidak di kunci. Kezia mengintip sedikit ke dalam. Ia sengaja tidak mengetuk pintu karena ingin memberikan kejutan pada Angga.
Kezia memutar handle pintu ruangan kerja Angga perlahan agar tidak mengagetkan Angga. Saat pintu terbuka, terlihat Angga sedang berdiri membelakang Kezia dan memeluk seorang wanita yang tidak lain adalah Cellina . Kezia tercengang. Cellina melihat kedatangan Kezia lalu tersenyum sinis.
“Aku tau kamu masih menyayangiku… Ayo kita mulai semuanya dari awal…” tutur Cellina sambil memeluk Angga dengan erat.
Kezia kembali menutup pintu. Ia menyandarkan tubuhnya di pintu.
“Kenapa kak angga gag pernah bilang kalo dia punya pacar? Aku kan jadi gag enak sering bareng dia… Jangan-jangan mereka pisah gara-gara aku…” gumam Kezia.
Tanpa berfikir panjang, Kezia segera pergi dari kantor Angga. Kezia berfikir, Angga memang sengaja menghindarinya karena hubungannya dengan Cellina tak ingin terganggu. Dan sebaiknya ia memang mulai mengatur jarak dengan Angga. Ia tidak mau menjadi perusak hubungan sang kakak.
# Flash back off
****
__ADS_1