
Kezia terdiam sendirian di ruangannya. Ia memejamkan kedua matanya dan berusaha mengatur nafasnya agar lebih tenang. Ia berusaha mengingatkan dirinya bahwa ini hanya sementara dan ia pasti akan sembuh. Berkali ia mengangguk menyemangati dirinya sendiri.
Tangannya mulai turun, meraba kadua kakinya yang tampak terlihat normal. Ia menatap penasaran kedua kakinya dengan mata berkaca-kaca. Apa yang salah, pikirnya. Berkali-kali ia mengusap kedua tungkai kakinya, namun tetap, ia tidak merasakan apapun. Kezia menghela nafasnya dalam berusaha menahan perasaannya yang sebenarnya berkebalikan dengan logika yang berjalan.
"Hey, kalian kenapa?!" Teriak Kezia yang memukul kedua kakinya sendiri dengan geram.
Ia mulai menangis tersedu dengan bahu bergetar menunjukkan tangisnya yang pecah. Kakinya benar-benar tidak merasakan apa-apa bahkan saat ia pukul, berganti tangannya yang memerah karena menghantam kakinya.
"Aarrrggghh!!!!" teriak kezia seraya mengacak selimut dan bantal yang ada di tempat tidurnya. Ia mengacak rambutnya frustasi dan menangis sejadinya, menangisi dirinya yang teramat malang. Nyatanya, ia tidak bisa sekuat itu menerima kondisinya saat ini.
Dan di luar sana, para sahabat dan kedua orang tuanya hanya bisa melihat dari celah pintu tanpa berani mendekat seperti permintaan Kezia. Tangis mereka terdengar lirih. Ketiga sahabatnya saling berangkulan dan Eliana tersedu di pelukan Martin.
Lelah dengan tangisnya, Kezia hanya bisa membaringkan tubuhnya lemah. Ia menatap langit-langit kamar perawatan yang bercat putih. Rasanya semua akan runtuh menimpanya, seperti halnya semangatnya yang mulai runtuh. Ia meneteskan air mata tanpa isakan sedikitpun. Ia benar-benar tak berdaya dan berharap tidak ada seorang pun yang melihat kelemahannya saat ini.
Sebuah pompaan ketat di lengan kanannya menyadarkan Kezia dari lamunannya. Rupanya, tensi meter otomatis yang terpasang di lengannya sedang mencoba memeriksa kembali tekanan darahnya. Kezia menoleh ke arah monitor yang masih setia berbunyi dengan teratur. Untuk beberapa saat Kezia teringat mimpinya saat bertemu kakaknya. Ia pun mengingat wajah-wajah yang sudah beberapa hari ini pasti sangat mencemaskannya. Tapi seketika mereka tersenyum saat Kezia bisa membuka matanya. Kezia kembali menghela nafasnya dalam-dalam.
“Bukankah ini yang aku harapkan, bertemu dan berbicara kembali dengan orang-orang yang aku sayangi? Lalu kenapa aku harus meratapi satu kemalangan ini dan melupakan kasih sayang yang berlimpah dari mereka yang menyayangiku?” gumam Kezia menyemangati dirinya sendiri.
Kezia menyeka air mata dengan punggung tangannya. Ia tidak ingin lagi bersedih. Walau terasa berat, ia yakin ia bisa menghadapi semuanya. Karena terpuruk pun tidak akan membuatnya menjadi lebih baik.
“Bersemangatlah key, inget kata dokter herdiman, tidak ada sakit yang tak bisa sembuh. Jadi berjuanglah, jangan menyerah!”
Kezia mengepalkan tangannya berusaha menyemangati dirinya sendiri. Ya, sebesar apapun semangat dan pengobatan yang ia terima, tidak ada artinya kalau ia tidak punya motivasi diri untuk melewati semuanya. Berhentilah meratap, berhentilah mengeluh, ia yakin ini cara tuhan membuatnya lebih kuat.
******
“Pah, ini kartu debit mamah. Masih ada sedikit tabungan, semoga bisa menutupi sedikit biaya rumah sakit…” lirih Eliana seraya menyodorkan kartu debitnya pada Martin.
“Jangan mah, uang mamah untuk sementara sebagai jaga-jaga biaya hidup kita sehari-hari. Biar papah berusaha lagi mencari uang untuk membayar biaya rumah sakit, paling tidak setengahnya.” Jawab Martin yang segera menolak pemberian Eliana.
“Tapi papah mau nyari kemana? Uang yang kita butuhkan tidak sedikit…” Eliana menatap Martin dengan penuh kekalutan.
“Ssttt… mamah jangan keras-keras… nanti zia denger… “ Martin menempatkan jari telunjuknya di bibir, ia berusaha mengingatkan Eliana.
Saat ini Eliana dan Martin berbincang di ruang tunggu kamar Kezia yang hanya di sekat dengan gorden. Eliana dan Martin berfikir, Kezia masih tertidur dan tidak mendengar pembicaraan mereka. Namun nyatanya mereka salah, sedari tadi Kezia mendengar semua pembicaraan mereka dan hanya bisa memejamkan matanya. Ia merasa, kali ini ia telah menambah beban bagi kedua orang tuanya. Sangat menyedihkan.
“Seminggu kemaren kan papah lembur, papah akan coba tanya bagian finance barangkali lemburan papah sudah bisa dibayarkan. Kekurangan lainnya, akan coba papah pikirkan lagi. Yang pasti mamah harus yakin, papah membiayai kalian dengan uang yang halal.” Tukas Martin sambil mengusap bahu Eliana. Eliana hanya bisa mengangguk mengiyakan. “Sekarang papah minta, tolong jaga zia baik-baik. Jaga dia untuk papah, karena mungkin papah akan jarang menemaninya, hem?” tutup Martin.
Eliana tak kuasa menahan perasaan sedihnya. Ia memeluk Martin dengan erat. Ia terisak lirih di bahu Martin.
“Menangislah selagi zia tidak melihatnya. Tapi dihadapan zia, mamah harus jadi pendukung terkuat okey! Kita sama –sama berjuang, dia berjuang untuk sembuh dan kita berjuang untuk tetap memberikan ia semangat agar tidak menyerah.” Lirih Martin yang masih di dengar Kezia.
Dada Kezia kembali terasa sesak. Namun dia tidak ingin meneteskan air matanya lagi. Dia harus kuat, sama seperti mamah dan papahnya. Walau sementara pura-pura kuat, tapi kedepannya dia yakin akan benar-benar terbiasa kuat.
Terdengar derap kaki berjalan ke arahnya. Tampaknya Martin dan Eliana menghampirinya.
“Zia masih tidur pah, biar nanti aja mamah pamitin yaaa…” bisik Eliana seraya menatap wajah Kezia yang sedang terlelap. Ia mengusap kepala Kezia dengan lembut seraya berusaha tersenyum.
Martin terangguk, ia berjalan mendekati Kezia. Dikecupnya pucuk kepala Kezia cukup lama. Kezia membuka matanya dan pura-pura baru terbangun.
“Pah….” Lirih Kezia dengan senyuman yang tersungging di sudut bibirnya.
“Sayang, apa papah membangunkan kamu nak?”
“Emmm… nggak kok pah… ” jawab Kezia seraya tersenyum. Kezia sadar, senyum ini yang dirindukan kedua orang tuanya. “Papah mau ke kantor lagi?” lanjut Kezia.
__ADS_1
“Iya nak, mungkin hari ini papah akan lembur… Apa kamu ingin papah tetap di sini?”
“Emmm zia, hanya ingin agar papah juga selalu menjaga kesehatan papah. Jangan terlalu lelah…” sahut Kezia dengan manja.
“Tentu sayang, papah akan memperhatikan kesehatan papah. Dan mamah juga, iya kan mah?” seru Martin sambil mengulurkan tangannya ke arah Eliana yang sejak tadi hanya terpaku.
“Iya sayang…” sahut Eliana.
“Boleh zia minta peluk, zia kangen sama mamah dan papah…” ujar Kezia sambil merentangkan tangannya.
Dengan segera Eliana dan Martin merangkul Kezia dan mengeratkan pelukannya. Ada perasaan hangat yang sangat mereka rindukan satu sama lain. Dalam hati Kezia berjanji, ia akan kuat untuk kedua orang tuanya.
****
“Selamat pagiii…” sapa dokter Herdiman yang sudah datang untuk visit pagi.
“Selamat pagi dok…” sahut Kezia dan Eliana bersamaan.
“Saya periksa dulu ya sebentar…” izin dokter Herdiman yang sudah mengeluarkan stetoscope dari saku jas putihnya.
“Silakan dok…” sahut Eliana memberi ruang pada dokter Herdiman.
Dokter Herdiman mulai memeriksa Kezia dengan seksama. Saat pandangan Kezia dan Dokter Herdiman bertemu, dokter Herdiman tampak tersenyum dengan senang.
“Progresnya bagus… beberapa alat sudah bisa di lepas. Infusan pun tinggal habiskan yang ini, lalu boleh di lepas. Dan perban lukanya jangan lupa di ganti sehari 2x yaa…” terang dokter Herdiman pada perawat yang mengikutinya. Sang perawat terangguk paham.
“Ayo kita tos dulu!” ajak dokter Herdiman. Kezia membalasnya. Dokter Herdiman mengenggam erat tangan kezia dan meminta Kezia untuk membalasnya. “Semangat yang bagus, saya yakin kamu akan segera sembuh!” imbuh dokter Herdiman sambil melepaskan genggaman tangannya. Kezia tersenyum dengan senang.
“Dok, setelah saya pulang, apa saya bisa terapi berjalan di rumah saja?” Tanya Kezia. Ia sadar bahwa biaya untuk terapi pasti tidaklah murah.
Kezia terangguk paham. “Kalau semangatmu setinggi ini, sepertinya besok sudah boleh pulang.” Imbuhnya sambil menuliskan sesuatu di catatan medis Kezia.
“Baik dok, terima kasih banyak…” sahut Kezia yang semakin bersemangat. Eliana mengusap punggung Kezia dengan lembut, ia bisa melihat binar bahagia yang memancar dari mata Kezia.
“Sama-sama” sahut dokter Herdiman sambil mengacungkan jempolnya kemudian berlalu.
“Sayangg… Kamu anak hebat mamah, sebentar lagi kita bisa pulang…” ungkap Eliana seraya memeluk Kezia. “Mamah mau ngasih tau papah dulu. Dia pasti senang banget.” Imbuhnya.
Kezia hanya mengangguk mengiyakan.
Eliana berjalan ke sofa mengambil handphonenya dan mencari nomor Martin. Tapi seketika, tangannya berhenti bergerak saat dia sadar, jika Kezia bisa pulang besok, itu berarti mereka harus sudah menyiapkan uang untuk pelunasan ke pihak rumah sakit. Eliana mengecek mobile bankingnya dan memeriksa sisa saldo yang dia miliki,nominalnya tak banyak dan kemungkinan besar akan kurang.
“Mah…” Kezia memanggil Eliana dengan suara perlahan. “Mah,,, mamah kenapa?” Kezia mengulang panggilannya, ia melihat Eliana terpaku kebingungan. “Mamah…” seru Kezia mengeraskan volume suaranya.
“Ya sayang…” Eliana terperanjat.
“Mamah kenapa, katanya mau telpon papah…”
“Eemm iyaa, pulsa mamah habis. Mamah ke depan dulu ya, isi ulang pulsa dulu…” jawab Eliana sekenanya.
“Pake hp zia aja mah…” tawar Kezia
“Gag sayang, sekalian mamah isi ulang, takutnya nanti perlu lagi. Mamah tinggal sebentar gag apa-apa kan?”
“Ga pa-pa mah…” sahut Kezia sambil tersenyum. “Tapi mah, hp zia dimana ya?” kezia celingukan.
__ADS_1
“Ada di laci sayang, sebentar mamah ambilin.” Eliana segera mengambil benda persegi milik Kezia dan menyerahkannya.
“Makasih mah…” sambut Kezia. Eliana hanya tersenyum.
“Mamah pergi bentar ya…” Eliana mengusap kepala kezia dan segera berlalu. Kezia hanya terangguk.
Kezia menyalakan handphonenya. Begitu banyak panggilan tak terjawab ke kotak suara dan pesan yang masuk. Namun ia hanya melihatnya sekilas. Dia segera mengecek saldo tabungannya. Ia tahu, saat ini kedua orang tuanya pasti sedang kebingungan untuk biaya rumah sakitnya..
Kezia tersenyum sedikit lega saat uang tabungannya masih cukup banyak. Kezia memeluk handphonenya sendiri. Dia berfikir, untung selama ini dia sering menyisihkan uangnya, sehingga dalam kondisi seperti ini ia bisa menggunakannya dengan baik.
****
"Mau pada makan apa nih?" tanya Dena yang tidak terlihat antusias. Ia sudah tiba di kantin bersama para sahabatnya yang juga terlihat lesu.
Kedua sahabatnya hanya terdiam dengan pikirannya masing-masing.
"Woy, mau makan gag nih?" Dena mengetuk-ngetuk meja guna menyadarkan kedua sahabatnya.
"Terserah lo aja na, gue gag selera makan. Gue kesepian, kangen sama key.." Ungkap Kania yang menelungkupkan wajahnya di atas meja.
"Sama,, gue juga..." timpal Sherly yang mengikuti apa yang Kania lakukan.
Dena mengguyar rambutnya kasar. Ia memandangi kedua sahabatnya bergantian. Tak lama ia menyalakan handphonenya dan melakukan panggilan video.
"Hay key!!" seru Dena saat Kezia menjawab panggilannya.
Kania dan Sherly terperanjat, mereka segera bangkit dan ikut menyapa kezia.
"Keeyyyy... Kanggeennn..." rengek Sherly seraya melambaikan tangannya.
"Hayy.. iya, gue juga kangen sama kalian. Kayaknya lagi pada di kantin ya?" Tanya Kezia yang mengenal benar suasana sekolahnya.
"Iyaa, tapi temen-temen gue lagi pada puasa. Lo temenin gue makan yaa.." seru Dena yang mendapat decikan sebal dari kedua sahabatnya.
"Bohong key... Ngarang aja lo!" sengit Kania seraya menyikut Dena.
"Ya lagi, tadi mereka jaim gitu mau makan padahal gue tau perutnya udah pada keroncongan." Ledek Dena.
"Kania mengusap wajah dena dengan kasar. Kezia terkekeh, ketiga sahabatnya selalu punya cara sendiri untuk menghiburnya.
"Kalian harus makan dong, tubuh kita lagi masa pertumbuhan jadi perlu banyak nutrisi." ujar Kezia yang di angguki ketiga sahabatnya.
"Lo kangen gag spageti di sini key?" tanya Dena dengan lemah.
"Kangen lah.. Tapi bentar lagi juga gue udah bisa makan bareng kalian lagi."
"Maksud lo?" tanya ketiga sahabatnya bersamaan.
Kezia terkekeh gemas. "Iya, besok gue udah boleh pulang kata dokter." terangnya dengan semangat.
"Hah, seriusan key? Alhamdulillah....." lagi-lagi mereka berseru bersamaan.
"Iyaaa, jadi nikmati dulu makan anteng tanpa gue gangguin." timpal Kezia yang membuat ketiga sahabatnya tertawa renyah.
Melihat ketiga sahabatnya, hati Kezia selalu merasa lebih nyaman. Mereka bisa mengalirkan energi positif untuk semakin menguatkannya.
__ADS_1
*****