My First Love Story

My First Love Story
Perjuangkan


__ADS_3

Pagi itu setelah selesai menunaikan kewajibannya sebagai muslimnya, Kezia membantu Eliana di dapur. Ia berencana membawakan sarapan untuk Arland dan Linda.


Menu sehat ia sajikan di tempat berbeda dengan menu penuh cinta untuk Arland. Ia sangat bersemangat menyiapkan semuanya.


" Non ada temennya di depan.”Ujar  Ida sambil tersenyum.


" Oh iya bi , makasih.” Jawab Kezia yang bergegas merapikan barang bawaannya. Eliana membuka sedikit gorden dan melihat keluar.


" Iihh mamah, gag usah kepo deh!” seru Kezia yang tersipu malu.


"Hahahaha iya sayang, maaf yaa…” sahut Eliana.


"Aku berangkat dulu, makasih ya mah udah bantuin.” Seru kezia sambil mencium tangan Martin dan Eliana bergantian.


Kezia pun bergegas menemui Arland di depan rumahnya.


Ada sesuatu yang berbeda. Hari ini Arland memakai motor berwarna Hitam. Terlihat klasik namun sangat terawat. Kezia merasa tidak perlu menanyakan alasan Arland memakai kendaraan yang berbeda, karena bukankah keduanya tetap memiliki fungsi yang sama?


"Hay!” sapa Kezia dengan senyum manisnya.


"Hay... Hari ini aku jemput pake motor ini, kamu gag keberatan kan?” Tanya Arland.


"Gag masalah. Kamu jemput pake sepeda juga aku tetep ikut.” Jawab Kezia.


"Yakin kamu akan ikut kalo aku jemput pake sepeda?”


" Ya iya lah… Asal kamu sanggup aja gowesnya.”


Arland tertawa mendengar jawaban Kezia.


"Thanks key…” lirih Arland.


"Terima kasih untuk apa?”


"Terima kasih udah bikin aku ketawa sepagi ini.” timpal Arland dengan tatapan laman yang selalu membuat jantung Kezia berdetak cepat.


Kezia hanya tersenyum tanpa menimpali.


"Yuk berangkat…” Kezia mengambil posisi duduk di boncengan Arland.


" Jangan lupa helm nya non…” Arland menyodorkan Helm kepada Kezia. Kezia menerimanya dengan senang hati.


Arland mulai melajukan motor antiknya menuju rumah sakit. Udara pagi ini masih terasa sangat segar. Belum tercemari asap knalpot sama sekali.


15 menit, waktu yang mereka butuhkan untuk sampai di rumah sakit. Di ruangan, Linda telah selesai mandi dengan di bantu oleh perawat yang menjaganya. Ia terlihat lebih segar pagi ini.


"Pagi tan..." sapa Kezia yang muncul dari balik pintu.

__ADS_1


"Pagi key..." sambut Linda dengan ramah.


"Tante udah cantik aja. Mau sarapan sekarang?" tawar Kezia seraya menaruh kotak makanan untuk Linda.


"Aduh ngerepotin banget sih ini..." ujar Linda yang mencium wangi makanan yang di bawa Kezia.


"Nggak ngerepotin kok tan..." Kezia menata makanan yang dibawanya di atas meja sementara Linda masih memandangi Kezia dan sesekali melirik Arland.


Melihat menu yang di bawa Kezia, perut Linda terpancing untuk berbunyi terlebih saat mencium wangi makanan yang begitu menggoda rasanya air liurnya akan segera menetes.


Arland duduk di sofa, memperhatikan dua wanita yang tengah sibuk dengan makananya.


"Tante tangan kananya di infus, aku suapin mau?" tawar Kezia yang membuat mata Arland sontak membelalak. Dengan segera ia menghampiri, ia tak ingin perhatian Linda lebih besar pada Kezia.


"Boleh kalo nggak ngerepotin." sahut Linda seraya tersenyum.


Suapan pertama mendarat mulus di mulut Linda, matanya tampak membulat. Kezia yakin Linda bisa menerima makanannya dengan baik.


"Wah ini enak banget. Kamu yang masak key?" puji Linda dengan sungguh-sungguh.


"Aku gag pinter masak tan, ini di bantu mamah. Aku asisten doang..." terang kezia dengan polos.


"Aturan jawab aja iya ini bikinan kamu." cetus Arland yang menelan ludah melihat Linda mengunyah makananya.


"Ya enggak lah, kalo nanti aku di minta masakin dan dilihat langsung ternyata gag bisa, malu-maluin dong!" timpal Kezia dengan serius.


Arland pun mengacak rambut Kezia karena gemas.


Suapan demi suapan dinikmati Linda. Satu porsi makan sehat tandas sudah berpindah ke perutnya. Sejak perusahaannya bermasalah, jangankan untuk makan enak, berpikir untuk makan pun kadang diabaikan oleh Linda. Berkat Kezia, Linda bisa menikmati sarapannya yang sudah lama ia tinggalkan.


Selesai menyuapi Linda, Kezia pamit untuk membersihkan tangannya. Tinggallah Arland berdua bersama Linda.


"Itu pilihan kamu nak?" tanya Linda di sela-sela perbincangannya dengan Arland. Arland tersenyum kemudian mengangguk. "Dulu mamih pikir, kalo mamih hanya punya anak laki-laki, mamih gag akan pernah merasakan kasih sayang seorang anak perempuan tapi ternyata mamih salah. Kamu mengenalkan mamih pada gadis yang begitu spesial, gadis yang bisa memberikan kasih sayangnya tanpa diminta. Jaga dia baik-baik nak..." tutur Linda penuh kesungguhan.


"Mih, arland sama kezia masih anak sekolahan, pikiran mamih jangan terlalu jauh." sahut Arland seraya mengecup tangan wanita yang dicintainya.


"Loh, emang kamu mau ngelepasin di gitu aja? Cuma sebatas pacaran gitu?"


"Heheheh ya nggak sih mih, sampe kapanpun arland pasti mempertahankan kezia, sesuai permintaan mamih." tegas Arland.


Linda tersenyum tenang. Hatinya dipenuhi rasa syukur tidak memaksa Arland untuk bersama Irene, karena nyatanya pilihan Arland lebih baik dari pilihannya.


****


 


“ Nih” Kezia menyodorkan sebuat kotak makan pada Arland setelah mereka sampai di sekolah.

__ADS_1


“ Wah beneran aku dibawain juga nih?” Seru Arland sambil mengambil kotak yang di sodorkan Kezia. Kezia hanya mengangguk. Ia tak bisa menyembunyikan raut bahagiannya. “Temenin sarapannya ya..” pinta Arland dengan ekspresi manjanya.


"Ya udah ayo. Mau di mana?”


"Di Perpus aja gimana, sambil nemenin kamu belajar.” tawar Arland. Kezia mengangguk setuju. Mereka berjalan menuju perpustakaan dengan segera.


Tiga hari ini Kezia memang dapat dispensasi tidak belajar di kelas karena sedang pemantapan untuk Olympiade.


Terkadang Kezia belajar sendiri dan seringkalinya belajar bersama Tyo.


Kezia dan Arland sampai diperpustakaan. Mereka duduk berdampingan. Arland membuka bekal makannya sementara Kezia membuka buku pelajarannya.


" Eemm.. enak! Pantesan mamih suka” seru Arland dengan kegirangan


" Ya udah habisin.” jawab kezia tanpa menoleh. Kezia mulai membolak-balik buku dan menulis beberapa angka di buku catatannya. Dibukannya buku karangan Ryanggara P Wibawa dan mulai membukanya dengan seksama. Arland memperhatikan wajah Kezia dari samping. Gadisnya benar-benar tengah serius.


"Key, kayaknya aku gag bisa nemenin kamu pas olympiade.” Tutur Arland sambil menghabiskan satu suapan terakhir.


"Gag apa-apa, kamu banyak urusan di sini. Lagian kamu harus nemenin tante.” Jawab Kezia tanpa menoleh Arland.


"Aku yakin kamu bisa jadi juaranya.” Seru Arland menyemangati. Kezia menoleh ke arah Arland yang sejak tadi memperhatikannya.


"Ya, aku harus jadi juara. Supaya aku dapetin hadiah beasiswa buat kuliah nanti.” Terang Kezia sambil menatap jauh kedepan.


"Kalau gitu aku juga akan berusaha keras untuk dapet beasiswa di sekolah bisnis.” Sahut Arland tak mau kalah.


"Yaa, kita akan sama-sama berjuang, hem? Semangaattt!” Kezia mengepalkan tangannya ke arah Arland disertai senyuman penuh semangat. Arland yang gemas mengelus-elus pucuk kepala Kezia dengan lembut.


Suara deringan telpon menjeda kebersamaan Kezia dan Arland.


"Bentar,” pamit Arland sambil mengangkat telponnya. Nama Ricko terpampang di layar ponselnya.


"Ya bro!”


"Lo dimana land?”


"Gue di perpus. Ada apa?”


"Ke kantin sekarang. Ada masalah di sini.”


“ Okey gue ke sana..” sahut Arland yang lalu memutus saluran teponnya.


" Aku ke kantin dulu. Ada urusan sama Ricko.” Seru Arland dengan serius. Kezia mengiyakan.


Diambilnya tas ransel yang ada di samping Kezia lalu berjalan menuju Kantin.


****

__ADS_1


__ADS_2