My First Love Story

My First Love Story
Episode 137


__ADS_3

Kezia dan Arland tiba hampir bersamaan di restoran tempat mereka akan makan siang bersama. Semua makanan yang di pesan sudah terhidang di atas meja. Dena melihat kedatangan Kezia bersama Arland , Fritz juga si kecil Sean.


“Astaga, bakal ada perang dunia nih.” gumam Dena yang melihat wajah tidak santai kedua laki-laki di samping Kezia.


Dena duduk berhadapan dengan Kezia. Di sampingnya ada Arland dan Sean. Sementara Fritz duduk di samping Dena berhadapan dengan Arland.


“Lo gag salah ngumpulin mereka? Gag sekalian ngajak kak tyo juga?” bisik Dena yang merasakan hawa dingin dari 2 laki-laki yang datang bersama Kezia.


“Makanya lo bantuin gue cairin suasana…” sahut Kezia perlahan.


“Hemm… Gue lagiii… Udah tau gue gag bisa nyambung ngomong sama si bule.” tukas Dena dengan penuh penekanan pada suara pelannya.


“Makanya, mulai sekarang lo simpen buku-buku bahasa korea lo, ganti sama buku bahasa jerman.” ledek Kezia.


“Iyaaa demi lo ya ini key, cakep banget lo!” protes Dena, namun Kezia hanya tersenyum.


Mereka mulai menyantap makan siangnya. Tidak ada yang berbicara sedikitpun. Sean pun ikut anteng menikmati makanan di hadapannya.


“Kamu makan apa? Kayaknya enak?” tanya Arland dalam bahasa jerman. Sepertinya ia sengaja ingin di dengar Fritz.


“Ini brokoli, kamu mau?” Kezia bingung sendiri, padahal di hadapan Arland juga ada makanan yang sama.


“Suapin aku..” sahut Arland masih dalam bahasa jerman dan suara lebih keras membuat perhatian Fritz tertuju padanya.


Kezia menyuapi Arland. Lama-lama Arland menggeser piringnya dan terus minta Kezia untuk menyuapinya. Fritz yang melihatnya dibuat hampir tersedak. Dena segera mengambilkan air minum untuk Fritz.


“Rupanya ada yang lebih kekanak-kanakan dari sean hari ini.” ledek Fritz dengan seringai tipisnya.


Arland menatap Fritz dengan sinis. Mereka saling bertatapan seperti ada tegangan listrik dari masing-masing mata mereka dan saling menyambar.


“Gila key, horor gini sih..” bisik Dena.


“Lo ajak fritz ngobrol, jangan biarin mereka tatap-tatapan lama-lama. Tar mereka saling jatuh cinta, gue yang repot.” cetus Kezia.


“Bukan waktunya ngelawak beg*k!” kesal Dena sambil menendang kaki Kezia.


“Aww!” Kezia mengaduh.


“Kenapa?” ujar Arland dan Fritz bersamaan.


“Gag pa-pa, cuma ngeri aja liat cahaya laser dari mata kalian.” timpal Kezia seraya menyuapkan lagi nasi yang ada di sendoknya.


Hingga makan siang berakhir, ekspresi Arland dan Fritz masih belum berubah, benar-benar dingin dan datar. Arland kembali ke perusahaannya sementara Kezia dan Fritz pulang bersama Sean. Dan Dena? Dia lebih memilih taksi online.


*****


 

__ADS_1


Siang itu Arland mengumpulkan karyawan di bagian pengembangan untuk membahas beberapa proyek pembangunan, salah satunya adalah rumah sakit. Kepala pengembangan menyampaikan bahwa proyek pembangunan sudah berjalan sekitar 40% dan kemungkinan akan selesai tepat waktu. Arland meminta detail pembangunan dan pembiayaan yang sudah digunakan untuk pembangunan rumah sakit tersebut.


Ia membaca dengan dengan teliti setiap laporan yang disampaikan oleh pegawainya. Arland merasa puas dengan apa yang dicapai oleh para karyawannya. Rapat pun baru berakhir saat hampir usai jam kerja.


Di ruangan kerjanya yang luas, Arland tampak terpaku sendirian seraya memijat pangkal hidungnya yang terasa begitu penat. Di satu sisi ia merasa senang bisa berada di posisinya saat ini yang memang merangkak dari nol. Di sisi lain ia merasa tubuh dan pikirannya sangat letih. Ia ingin sekali berlibur atau sekedar beristirahat dan mengembalikan kesegaran tubuh dan fikirannya.


Lamunannya terhenti saat dering ponselnya memberikan notifikasi sebuah pesan masuk.


“Kezia…” lirih Arland saat melihat gambar yang di terimanya.


Terlihat Kezia sedang berada di depan sebuah kamar hotel dengan 806 bersama seorang laki-laki. Sepertinya mereka baru akan masuk ke kamar tersebut. Melihat dari postur tubuhnya Arland yakin itu adalah Fritz. Arland mendengus kesal membayangkan hal negatif di kepalanya. Tangan kekarnya mengepal begitu saja saat ia kembali mengingat tatapan Fritz pada Kezia.


Sebuah panggilan masuk dari Difa  dan dengan segera Arland menerimanya.


“Kamu udah liat fotonya land?” suara Difa terdengar provokatif dari sebrang sana.


“Kamu dapet dari mana fotonya?” Arland berseru dengan nada suara tinggi, ia benar-benar tidak bisa menahan emosinya.


“Aku ngeliat sendiri mereka masuk kamar. Ini udah setengah jam tapi mereka masih belum keluar. Apa mungkin mereka sedang….”


“Terus ngapain kamu di hotel? Bukannya kamu lagi sakit udah 4 hari gag masuk kantor?” sela Arland yang semakin kesal.


“Em anu, ini aku ada urusan di sini, kebetulan liat kezia jadi aku ikuti. Aku gag ada maksud apa-apa land, cuma…”


“Tutt tutt tutt…” sambungan telpon terputus.


Difa tersenyum puas berhasil memantik kecurigaan di benak Arland.


“Sial!” Arland menggebrak meja kerjanya dengan keras.


Beragam pikiran aneh semakin kuat mengisi kepalanya. Arland mencoba menghubungi nomor Kezia namun tidak juga di angkat. Akhirnya Arland memutuskan untuk langsung pergi ke rumah Kezia.


*****


Jarak berkilo meter rasanya terlewati begitu saja oleh Arland. Entah berapa kali ia mengumpat, membunyikan klakson dan menyalib kendaraan di depannya. Semuanya ia lakukan karena ingin segera sampai di rumah Kezia.


Arland kembali menghubungi Kezia saat mobilnya belum terlihat terparkir di depan rumahnya. Ia melangkahkan kakinya menuju kedai seraya melonggarkan dasi yang terasa mencekiknya. Eliana masih di sana dan mulai membereskan barang-barang dagangannya.


“Arland, ada apa nak?” sapa Eliana yang melihat raut wajah tak karuan Arland.


“Kezia belum pulang tan? Arland telpon gag di angkat-angkat.” tanya Arland dengan frustasi karena Kezia tidak menjawab panggilannya.


“Belum. Kalo gag salah tadi Kezia mau nyariin hotel buat fritz.” terang Eliana. Wajah Arland semakin memerah dan itu bisa dilihat jelas oleh Eliana. Sepertinya laki-laki tampan dihadapannya sedang di landa cemburu. “Duduklah dulu, tante bikinin minum.”


Arland terduduk patuh. Belum selesai Eliana membuat minuman, terdengar suara mobil Kezia yang berhenti di depan rumah. Terlihat Kezia berjalan beriringan bersama Fritz sambil tertawa-tawa. Arland memandanginya dengan kesal. Ia segera berdiri dan menghampiri Kezia.


“Land, kamu disini? Aku kira masih di kantor..” Kezia keheranan melihat penampilan Arland yang cukup berantakan.

__ADS_1


“Aku telpon kenapa gag di angkat?” Arland bertanya dengan cukup kasar.


Kezia segera mengecek handphonenya yang berada di dalam tas.


“Ooh sory, tadi handphonenya aku silent, soalnya…”


“Karena kamu lagi sama fritz di hotel?” Arland memotong kalimat Kezia.


“Land, kamu salah paham. Aku bisa jelasin.” Kezia meraih tangan Arland lalu mengajaknya duduk.


Arland duduk di samping Kezia tapi matanya masih menatap kesal pada Fritz. Fritz hanya tersenyum dan mengajak Eliana untuk masuk.


“Land, aku nemenin fritz buat nyari hotel, karena dia kan gag tau daerah sini. Dia gag mungkin kalo harus nginep di rumah, gag enak di liat orang.”


“Terus kenapa sampe setengah jam kamu gag keluar-keluar dari kamar hotel?” selidik Arland.


“Ya itu karena… eh bentar deh, kok kamu tau aku di dalem kamar lebih dari setengah jam? Kamu mata-matain aku? Kamu gag percaya sama aku?” kali ini Kezia yang meninggikan suaranya.


“Loh kenapa kamu malah balik marah, kan aku yang lagi marah” protes Arland.


“Kamu tuh mikirnya udah aneh-aneh. Kalo kamu emang gag bisa percaya sama aku, ya udah, ngapain kamu masih ke sini?!” gertak Kezia seraya berdiri hendak meninggalkan kezia.


“Key tunggu, urusan kita belum selesai.” Arland menahan tangan Kezia.


“Apanya yang belum selesai? Kamu gag percaya kan sama aku, ya udah gag usah temuin aku lagi!” cetus Kezia sambil mengibaskan tangan Arland.


Tapi tiba-tiba Arland malah menarik tubuh Kezia dan memeluknya. Kezia hanya bisa terdiam.


“Aku udah pernah bilang, kamu kalau marah ya marahlah. Jangan minta aku pergi apalagi ninggalin aku, karena saat kamu bilang aku harus pergi, jantung aku serasa berhenti berdetak.” lirih Arland dengan sesal di dadanya. Kezia melepaskan pelukan Arland.


“Land, fritz itu sahabat aku oke, SAHABAT AKU!” terang Kezia dengan penuh penekanan.


“Iya kamu nganggap dia sahabat tapi belum tentu dia…”


“Udah ah aku capek. Kamu emang gag bisa percaya sama aku. Sebenernya yang penting buat kamu itu perasaan aku ke dia atau perasaan dia ke aku hah?” kali ini mata Kezia terlihat menyalak, terang saja ia sangat marah dengan prasangka yang di buat Arland.


Arland kembali mencoba berfikir rasional walau dadanya terasa mendidih karena kesal. “Iya okey, yang penting itu perasaan kamu ke dia dan perasaan kamu ke aku. Aku gag akan nanya lagi. Tapi tolong kamu jangan marah…” bujuk Arland dengan wajah memelasnya.


“Isshh dasar ngeselin.” cetus Kezia seraya memalingkan wajahnya dari Arland. Melihat ekspresi laki-laki di hadapannya membuat Kezia gemas sendiri.


“Maafin aku ya mhiu…” rengek Arland. Kezia hanya mengangguk.


“Lain kali jangan di ulang. Ayo masuk, kita makan malam.”


Dengan senang hati Arland mengikuti langkah Kezia sambil menggenggam tangannya. Arland mengecup punggung tangan Kezia dan Kezia hanya tersenyum melihat tingkah Arland.


"Jadi ngapain kamu setengah jam lebih di kamar hotel?" gumam Arland yang masih bisa di dengar Kezia.

__ADS_1


"Bongkar koper fritz yang lupa passcode." timpal Kezia seraya terkekeh mengingat kelakuan Fritz siang tadi.


****


__ADS_2