
“Key, pinjem catetan biologi lo dong..” seru dena sedang asyik menyalin buku-buku catatan kezia.
“Nih..” Kezia memberikan bukunya pada Dena.
"Udah kelas 3 aja ya kita, bentar lagi ujian. Gilaaa tambah banyak aja ini tugas." Keluh Dena yang rasanya tidak ada hentinya menulis.
“Na, kenapa gag lo copy aja sih itu catatannya Kezia? Males banget harus nyalin…” cetus Sherly yang sedari tadi memperhatikan Dena.
“Kalo gue salin, gue ada proses baca,mikir sama nulis. Gue kan jadi hafal. Kalo gue copy, nanti tukang fotocopyan yang tambah pinter, gue yang tambah b*gok!” cetus Dena tanpa menoleh Sherly yang ternganga mendengar jawaban Dena.
“Tumben lo bener!” sahut Kania sambil mendorong bahu Dena.
Dena hanya terkekeh geli. Hari ini, mereka memilih belajar di Panti. Karena Dena tidak bisa meninggalkan adik-adiknya saat Nia mengantar Anis untuk pengobatan.
“Kalian mau minuman segar gag?” Tawar Kania.
“Boleh…” sahut ketiga sahabatnya bersamaan.
“Key, anter gue ke minimarket depan yukkk.. Kita beli makanan sama minuman..” ajak Kania yang mulai beranjak. Kezia bergegas berdiri mengikuti Kania.
Mereka berjalan menuju minimarket yang persis berada di sebrang panti. Suasana jalanan memang cukup ramai di week day seperti sekarang. Mereka berjalan beriringan. Tak sampai 5 menit, mereka sudah samapi di minimarket. Diambilnya beberapa cemilan dan minuman isotonic untuk menemani mereka belajar. Satu keranjang kecil telah penuh terisi makanan dan minuman yang segera mereka bayar.
Dari tempatnya berdiri, terlihat seorang penjual buah potong keliling yang tengah mengipasi badannya yang kegerahan. Kania pergi sejenak dan memesan buah potong.
Dari kejauhan, Kezia melihat ada seorang nenek yang akan menyebrang jalan dengan sebuah tongkat di tangan kanannya.
“Ka, gue ke sana dulu yaa… kayaknya nenek itu mau nyebrang..” tutur Kezia. Kania mengangguk mengiyakan tanpa suara. Karena mulutnya sedang asyik menikmati permen loli.
Kezia berjalan mendekati nenek tua yang terlihat kebingungan saat akan menyebrang.
“Nek, nenek mau kemana?” tanya Kezia yang sudah berdiri di samping nenek.
“Nenek mau nyebrang nak,,, rumah nenek di sebelah sana…” tunjuk nenek pada sebuah rumah tua yang berjarak tidak jauh dari panti.
“Ayo saya bantu nek..” tawar kezia sambil memegangi tangan kanan nenek tersebut.
“Makasih nak…” sahut nenek. Kezia membalasnya dengan senyuman.
Kezia melihat ke kiri dan kanan, menunggu kendaraan sedikit sepi karena nenek yang cukup kesulitan saat berjalan. Kezia mengayun tangannya memberi isyarat pada beberapa kendaraan agar memperlambat lajunya. Suasana jalan mulai sepi. Kezia memapah nenek dan berjalan perlahan mengimbangi langkah nenek. Saat mereka sudah berada di garis tengah jalan, tiba-tiba ada sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi, Kezia melambaikan tangannya agar mobil tersebut memelankan laju kendaraannya, namun ternyata ia tidak mengurangi lajunya sedikitpun dan malah semakin kencang,
“BRAK!!!!”
Mobil tersebut menabrak Kezia dan sang nenek. Nenek jatuh tersungkur sementara Kezia terpelanting cukup jauh.
“Gusti Allah!!!” seru tukang buah potong yang melihat kejadian tersebut. Kania segera menoleh dan melihat tubuh Kezia sudah tergeletak jauh dari tubuh nenek.
__ADS_1
“KEY!!!!” teriak Kania.
Sekantong makanan yang ada di tangan Kania terjatuh berhamburan. Kania segera berlari menghampiri Kezia. Beberapa kendaraan tampak berhenti dan orang-orang mulai berkerumun.
“Keyy!!! Bangun keyyy!!!” teriak Kania saat melihat Kezia sudah bersimbah darah di hadapannya. Tangannya gemetar, ia tidak mengerti bagian tubuh Kezia yang mana yang harus di sentuhnya. Diangkatnya kepala Kezia dengan lengan kananya dan menjadikan lengan kirinya sebagai penyangga. “Key bangun keyyy… gue mohon ayoo banguunnn!!!” teriak Kania dengan suara bergetar. Tapi tak ada sedikitpun respon dari Kezia. “Tolong…. Tolong teman saya tolonggg!!!!” teriak Kania.
Mobil yang menabrak Kezia berhenti sebentar kemudian kembali memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Beberapa orang mengejarnya, namun mobil tersebut menghilang dengan cepat.
“Cepet bawa ke rumah sakit non!” seru tukang buah yang ada di samping kania.
Sementara itu, anak-anak panti yang melihat kejadian tertabraknya Kezia, segera memanggil Dena dan Sherly. Tak lama Dena dan sherly segera berlari tanpa memperdulikan apapun.
“Astaga Key!!!” teriak Dena. Dena segera menghampiri Kezia dan Kania. Sementara Sherly malah jatuh terduduk melihat sahabatnya bersimbah darah.
“Na, kezia berdarah na…” tutur kania dengan tangan gemetar berselimut darah merah terang yang coba dia tunjukkan pada Dena. Wajahnya pucat pasi, dengan derai air mata yang menetes begitu saja tanpa bisa ia tahan.
“Kenapa kalian hanya Diam, cepat tolong!” seru seorang laki-laki paruh baya yang turun dari mobilnya.
Dia segera mengangkat tubuh Kezia dan membaringkannya di jok belakang bersama Kania yang menjadikan pahanya sebagai bantalan. Sementara Dena segera menarik tubuh Sherly dan duduk berdua di depan.
Laki-laki paruh baya tersebut segera menancap gas dan memacu kendaraan dengan cepat.
“Key,, bangun keeyy… jangan kayak giniii… gue mohon…” teriak Kania sambil terus mengusap darah di wajah Kezia yang entah berasal dari mana.
“Hati-hati dengan kepalanya de, sepertinya kepalanya terbentur…” tutur laki-laki yang sedang mengemudikan mobil tersebut.
“Keeyyy jangan nakut-nakutin gue keeyyy,,gue mohon lo harus kuat dan bangun…” seru Dena dari jok Depan. Sementara Sherly hanya terdiam dengan air mata menganak sungai dan tangan bergetar serta wajah pucat pasi. Ia memejamkan matanya dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dia tidak sanggup untuk berbicara apalagi menatap Kezia yang bersimbah darah dan tak sadarkan diri.
****
Suasana rumah sakit sangat ramai, orang-orang berlalu lalang. Petugas medis datang dengan cepat membawa blankar untuk Kezia saat mobil yang membawa mereka berhenti di depan UGD rumah sakit. Dua laki-laki bertubuh tegap mengangakat tubuh Kezia dan dengan hati-hati membaringkannya di blankar. Mereka berlari di belakang sambil mendorong blankar Kezia. Kania, Dena dan sherly mengikutinya dengan cepat. Langkah mereka terhenti saat pintu ruang UGD di tutup.
“Kalian tunggu di sini dan segera hubungi keluarganya.” Titah laki-laki paruh baya tersebut. “ Saya permisi dulu. Semoga teman kalian cepat sembuh.” Lanjutnya sambil mengusap bahu Kania yang masih mematung.
“Terima kasih om…” sahut Dena seraya mengangguk. Laki-laki itupun segera berlalu dan menghilang di balik pintu mobilnya.
Dena segera mengambil handphonenya dan menghubungi Eliana. Sementara Sherly masih terpaku dengan tatapan kosong, dan Kania, hanya tertunduk sambil menatap tangannya yang masih terbalut darah Kezia yang mulai mengering.
Telpon tersambung. Dena segera menceritakan kejadian yang menimpa Kezia. Tak ada sahutan suara dari sebrang sana selain tangis Eliana yang memekakan telinga Dena. Dena segera menutup telponnya.
“Maaf tante, harusnya aku gag ngabarin tante dengan cara seperti ini…” lirih Dena sambil menggenggam benda persegi di tangannya dengan erat.
Ditatapnya kedua sahabatnya yang sejak tadi hanya terdiam. Masing-masing masih berada dalam situasi yang tidak bisa mereka percaya. Dena menyandarkan tubuhnya ke tembok kemudian jatuh terkulai begitu saja. Begitu lemas, tidak ada tenaga sedikitpun.
****
__ADS_1
“Dena! Mana kezia?!” teriak Eliana yang baru datang bersama Martin.
Wajahnya pucat pasi dengan mata bengkak.
Dena terhenyak. Dia segera bangkit dan menghampiri Eliana.
“Tante, maafin Dena… Dena gag bisa jaga kezia dengan baik…” lirih dena sambil memeluk Eliana. Tapi Eliana hanya terpaku.
Bibirnya bergetar, tatapannya kosong.
Eliana melepaskan pelukan dena, dengan tergopoh-gopoh segera berjalan menuju pintu UGD. Kacanya tertutup. Diliriknya Kania dan Sherly yang hanya mematung tak bergeming.
“Apa ini darah zia?” tanya Eliana sambil bersimpuh di hadapan Kania dan mengenggam tanganya erat.
Kania hanya mengangguk sambil terisak, tanpa berani mengangkat wajahnya yang juga terkena noda darah Kezia. “Ya tuhaannn…. Jangan lagi kau ambil anakku….” Teriak Eliana sambil menangis meraung-raung.
Martin yang juga tak kuasa menahan tangisnya, segera menghampiri Eliana dan memeluknya dengan erat. Mereka menangis sambil terduduk dilantai, tidak memperdulikan orang-orang yang lewat berlalu lalang.
“Ada keluarga pasien atas nama kezia?” seseorang keluar dari pintu UGD.
“Saya dok, saya papahnya.” sahut Martin yang berusaha berdiri dan berjalan menghampiri dokter yang masih mengenakan masker dan sarung tangan yang terdapat noda darah.
“Silakan masuk, mohon ikut dengan saya…”pinta dokter tersebut sambil sedikit membukakan pintu. Eliana pun segera tersadar dan meraih tangan Martin untuk ikut masuk. Dengan langkah gontai mereka mengikuti sang dokter.
Di dalam ruang tindakan UGD, terbaring sosok Kezia yang masih dengan baju seragamnya. Noda darah masih memenuhi bajunya. Ada selang infus yang tersambung ke tangannya. Kepalanya berbalut kasa putih dan sebuah masker oksigen membekap mulutnya. Sebuah monitor berbunyi dengan ritme teratur di samping Kezia. Terdapat capitan yang menempel di jempol kanannya, yang mengukur kadar oksigen dalam tubuh Kezia.
Eliana dan Martin memandangi tubuh Kezia yang tidak berdaya. Matanya tertutup, wajahnya pucat pasi. Bahu Eliana bergetar menahan tangis yang hampir meledak. Martin mengusap bahu Eliana perlahan, berusaha menguatkan wanita yang dicintainya.
“Pak, Bu… kondisi anak bapak dan ibu saat ini dalam kondisi setengah koma atau kami menyebutnya semi comatus…” tutur dokter yang sejak tadi merawat kezia. Dia menghela nafas panjang saat akan meneruskan kalimatnya. Eliana kembali terisak lirih, terdengar begitu pilu. “Ada benturan hebat dikepalanya dan menyebabkan perdarahan. Kami harus melakukan tindakan operatif dengan segera. Namun, kemungkinannya 50:50. Kami akan berusaha melakukan yang terbaik, tapi semua kembali ke kehendak tuhan…” terang dokter bernama Herdiman tersebut.
“Silakan dok, tolong lakukan yang terbaik untuk anak saya, hasilnya kami berpasrah…” jawab Martin dengan suara terbata-bata di akhir kalimatnya.
Mendengar ucapan Martin, Eliana merasa hatinya benar-benar hancur. Di peluknya Martin dengan erat, ia meraung di dada martin, tak bisa lagi ia menahan tangis di dadanya. Tetesan demi tetesan air mata membasahi wajah Martin. Martin menatap Kezia dengan penuh rasa sakit.
“Sayang, bertahanlah untuk papah dan mamah….”batin Martin.
“Silakan pak…”
Dokter Herdiman segera meminta Martin untuk menandatangani surat persetujuan tindakan dan perawatan. Dengan tangan gemetar, dia membubuhkan tanda tangan di lembar yang persis sama ia tanda tangani beberapa tahun silam.
****
__ADS_1
Kuatlah key, jangan bikin aku nangis ;D