My First Love Story

My First Love Story
Episode 153


__ADS_3

“Ting tong!” suara bell mengejutkan Kezia yang tengah asyik menata makan malam.


Kezia segera membuka pintu dan terlihat para sahabatnya berdiri dengan wajah cemas di hadapannya.


“Astaga key, lo baik-baik aja kan?” Dena yang pertama berhambur memeluk Kezia dengan erat.


“Kita cemas banget sama lo key…” tambah Sherly yang ikut memeluk Kezia.


“Gue baik-baik aja ko,..” sahut Kezia seraya tersenyum. “Ayo masuk dulu.” Kezia melepaskan pelukan kedua sahabatnya.


Mereka segera memenuhi ruang tamu apartemen Arland.


“Hey anak tampan…” sapa Kezia seraya mengusap lembut pipi bayi yang ada di gendongan Kania.


“Leher lo gag pa-pa kan key?” Kania memperhatikan dengan seksama.


Kezia menyentuh lehernya yang terbalut kasa tipis. “Gag pa-pa ka,, ini cuma kegores aja…” sahutnya


“Arland dimana key?” Ricko terlihat celingukan.


“Ada di kamar sama sean… Gue liat dulu ya, udah pada bangun apa belum.”


Ricko mengangguk mengiyakan.


Daun pintu berderit pelan, di dalam kamar terlihat Arland yang terbangun saat mendengar suara pintu. Ia mengucek matanya. Di sebelah kirinya ada Sean yang masih terlelap dalam pelukannya. Kezia segera mendekat.


“Gimana, masih sakit phiu?” bisik Kezia yang takut membangunkan Sean.


“Udah gag terlalu…” Arland menyahuti.


“Di luar ada temen-temen, mau ditemuin di sini apa mau ke depan?”


“Ke depan aja, aku pegel baringan terus..”


“Hem okey, ayo aku bantu…” Kezia membantu memindahkan Sean dari pelukan Arland. Perlahan Arland mulai beranjak dengan tubuh Kezia sebagai tumpuan. Kezia memegangi Arland dengan kedua tangannya. “Bisa? Awas pelan-pelan…” lanjut Kezia.


Arland melingkarkan tangannya di pinggang Kezia. “Bisa dong!” sahutnya seraya mengecup dahi Kezia.


“Pegangannya ke bahu dong, nanti kamu jatuh…”


“Nggak, ini tempat pegangan favoritku..” kilah Arland sambil mengeratkan tangannya di pinggang Kezia.


“Ish dasar nakal!” Kezia mengerlingkan matanya seraya tersenyum.


“Jangan gitu dong, nanti aku makan baru tau kamu…” tukas Arland yang merasa gemas melihat ekspresi Kezia.


“Makanannya udah aku siapin kok, tenang aja…” Kezia menyahuti.


Arland terkekeh, ia sadar makan versi dia dan Kezia berbeda jauh.


Kezia mulai memapah Arland perlahan, menemui sahabatnya yang menunggu di luar.


“Ya ampun, sini gue bantu…” dengan sigap Ricko membantu Arland berjalan dan mendudukannya di sofa. “Katanya perut lo yang kena? Kok gag di rawat di rumah sakit aja?” lanjut Ricko.


“Nggak, gue mau di rawat di rumah aja, kan ada yang rawat gue.” bibir Arland menyeringai senang saat menatap Kezia.


“Ah itu mah emang akal-akalannya elo, biar di rawat sama si key..” cetus Kania. Dan Arland hanya tergelak.


“Tadi gimana ceritanya sih key, kok lo bisa ketemu sama dua perempuan gila itu?” tanya Dena yang sudah tak sabar.


“Jadi tadi tuh…” memory di kepala Kezia kembali berputar mengingat kejadian menyeramkan tadi siang.

__ADS_1


Flash back on


Setelah berkutat dengan pekerjaannya dari pagi buta, Kezia berencana menjemput Sean dan mengajaknya makan bersama karena sejak berangkat ke rumah sakit, Kezia belum menyentuh makanan sedikitpun.


Kezia keluar dari area parkir rumah sakit dengan mengendarai sedan hitam miliknya. Ia berbelok ke arah raya yang menuju sekolah Sean. Di depannya terlihat seorang perempuan yang tiba-tiba berlari ke depan mobilnya. Sontak Kezia menghentikan laju kendaraannya. Dari dalam mobil ia mengenali wanita tersebut sebagai Difa.


Kezia segera menepikan mobilnya dan keluar dari mobil.


“Fa, kenapa kamu berdiri di situ?” tanya Kezia. Terlihat penampilan Difa yang berantakan dan tengah menangis. Difa masih terpaku di hadapan Kezia. “Fa, apa kamu sakit? Wajah kamu pucet banget..” Kezia berusaha meraih tangan Difa namun Difa mengibaskannya.


“Gag usah sok baik sama gue! Lo seneng kan liat gue kayak gini? Iya kan, lo seneng kan?!!!!…” Difa berdecik sebal.


“Fa, kamu ngomong apa sih? Mana ada aku seneng liat kamu kayak gini? Ayo kita ke dokter dulu, kita periksa dulu kondisi kamu…”


“Gag usah sok peduli!” Difa mendorong tubuh Kezia dengan kasar, membuat Kezia memundurkan tubuhnya beberapa langkah. “Lo, sejak dulu lo selalu ngerebut semua yang gue suka. Perhatian kak tyo, perhatian guru-guru, perhatian temen-temen, perhatian anak-anak cowok dan sekarang lo ngerebut arland dari gue! Gue cinta sama arland key, tapi lo malah ngerebut dia! Harusnya lo gag usah kembali lagi ke sini! Tinggal di sana sampe lo mati!” teriak Difa dengan emosi menggebu-gebu.


Melihat kejadian tersebut, orang-orang mulai berkumpul mengerumini Kezia dan Difa. Kezia masih tidak habis pikir dengan ucapan Difa yang begitu membencinya.


Perlahan Kezia berusaha mendekat dan menenangkan Difa. “Fa, aku gag pernah berniat merebut apapun dari kamu, aku…”


“Cukup! Gue gag mau denger lagi. Lo perempuan jahat!” teriak Difa seraya menutup kedua telinganya.


Tiba-tiba dari arah belakang, ada seseorang yang mendorong Kezia dengan kuat. Kezia jatuh tersungkur di hadapan Difa. Sebilah pisau menempel di lehernya.


“Bangun lo, urusan kita belum selesai” bisik seorang wanita di telinga kezia. Kezia melirik dengan sudut matanya.


“Kak Irene?” lirih Kezia dengan nafas memburu.


“Mba, berhenti mba! Hati-hati dengan pisaunya…” teriak salah satu petugas keamanan. orang-orang tampak semakin panik saat melihat mata Irene yang menyalak dengan seringai puas berhasil menyandra Kezia.


“Jangan mendekat! Kalau kalian mendekat perempuan ini akan mati!” teriak Irene dengan diiringi tawa.


“Kak Irene, kita bisa bicara baik-baik, tolong jangan seperti ini…” lirih Kezia yang hampir putus asa.


“Bicara baik-baik sama lo? Lo udah bikin gue hampir di penjara, lo juga bikin gue tinggal di rumah sakit jiwa selama 10 tahun, lo pikir ini masih bisa dibicarain baik-baik hah?” teriak Irene seraya mengeratkan cengkramannya.


“Mba turunin senjatanya mba…” lagi-lagi petugas keamanan berusaha mendekat.


“Gue bilang jangan ada yang berani mendekat atau gue bunuh wanita ini!” seru Irene semakin tak terkendali.


“Mimaaa!!!” teriak Sean yang melihat Kezia sedang berada dalam cengkraman Irene dengan sebilah pisau mengarah ke lehernya.


“Sean, jangan ke sini nak!” teriak Kezia dengan suara bergetar.


Namun Sean malah berlari kearah Kezia. Sisa eskrim di tangannya terjatuh begitu saja. Arland tidak sempat menahan Sean yang berlari begitu cepat. Dengan cepat Difa menangkap tubuh Sean.


“Hahahaha bagus, kita dapet dua ikan sekaligus!” ujar Difa dengan puas.


“Difa, lepasin sean!” teriak Arland.


“Hay sayang… Kamu mau aku lepasin yang mana?” ujar Irene seraya terkekeh. Terlihat pula seringai jahat di wajah Difa.


“Kalian jangan becanda! Itu bahaya!” seru Arland.


“Loh, siapa yang becanda land? Kamu selalu ngelindungin kezia kan, coba lindungi lagi dia sekarang. Saat aku bener-bener cinta sama kamu, kamu malah lebih milih wanita serakah ini. Kalo aku gag bisa dapetin kamu, dia juga gag akan bisa dapetin kamu!” teriak Irene.


“Fa, kamu bisa bawa aku, tapi tolong lepasin sean, dia gag bersalah…” lirih Kezia dengan suara bergetar.


“Hahahaha gag bisa! Kalo kamu mau aku lepasin anak ini,  kamu harus janji kamu bakalan ngasih arland buat aku.” timpal Difa dengan kukuh.


“Kalian gag boleh nyakitin mima, ga boleh!” teriak Sean sambil mengigit tangan Difa.

__ADS_1


“Aw! Sialan, dasar setan Kecil!” Difa mengaduh


Sean segera berlari dari Difa, namun Difa berusaha mengejar Sean dan mengarahkan pisau pada Sean. Di saat bersamaan Arland menghadangnya


“Sret…” sebuah luka sayatan mengenai perut Arland.


Arland memegang perutnya yang berdarah. Tangan Difa bergetar, ia tampak terkejut. Pisau yang digunakannya terjatuh.


“Land, aku gag sengaja…” ujar Difa dengan tangan bergetar berusaha menggapai tubuh Arland.


“Tolol kamu Difa!” teriak Irene. Irene mendorong tubuh Kezia hingga terkena luka goresan di lehernya karena Kezia berontak. “Ayo lari!” teriak Irene


Mereka berlari di bawah kejaran beberapa petugas keamanan.


“Ckiiiittt!! BRAK!!” sebuah mobil terhenti setelah menghantam tubuh Irene yang berjalan di depan Difa. Irene terkulai dengan bersimbah darah sementara Difa hanya mematung, ia terlihat sangat shock.


Flash back Off


*****


 


“Lo harus urus masalah ini sampe selesei key, bener-bener sampe selesei!” seru Dena yang tidak bisa menerima kejadian yang menimpa sahabatnya begitu saja.


“Lo selow dong mak, lo pengen anak gue bangun?!” tutur Kania sambil menatap Dena yang terlihat begitu emosi.


“Habis emosi gue! Jadi selama ini tuh perempuan emang kerjasama ya sama si irene? Gila tuh si difa. Depan lo aja dia bisa keliatan baik key, di belakang dia nusuk!” sunggut Dena.


“Tapi, mungkin emang seharusnya gue gag pernah kembali ke sini. Kalo gue tetep tinggal di sana, jauh dari kalian, gag akan ada lagi yang terluka gara-gara gue…” lirih Kezia seraya tertunduk.


“Hey, lo ngomong apa sih?! Semua yang terjadi sekarang, bukan gara-gara lo key,,, tapi memang udah takdirnya harus kayak gini…” ujar Sherly seraya memeluk Kezia.


“Gue takut sher, kalo di masa depan ada hal buruk yang menimpa kalian gara-gara gue. Gue gag akan bisa maafin diri gue sendiri kalo sampe ada hal buruk menimpa orang-orang di sekitar gue.” lirih Kezia seraya terisak.


“Key, ini semua bukan gara-gara lo, lo harus percaya sama gue…” timpal Sherly


“Key, apapun yang terjadi sama kita di masa depan, itu bukan tanggung jawab lo. Justru ada lo di sini, ini suatu berkah buat kita, iya kan gais?” sambung Dena yang di angguki setuju oleh sahabat-sahabatnya.


“Jadi, jangan pernah lo mikir buat pergi lagi. Kedepannya, kita akan hadapi semuanya sama-sama…” sambung Kania meyakinkan Kezia.


“Makasih girls, makasih kalian selalu ada buat gue…” pekik Kezia.


Mereka terlarut dalam suasana haru, suasana yang selalu mereka rindukan saat sedang tidak bersama. Menguatkan dan menyemangati satu sama lain.


“Terus gimana rencana kalian berdua tentang masalah ini?” Ricko mulai membuka suaranya. Kezia menatap Arland yang ada dihadapannya.


“Gue bakal serahin semuanya sama pihak berwajib. Gue yakin, negara kita punya hukum yang adil.” ujar Arland yang membalas tatapan Kezia.


“Difa lagi hamil, gimana nanti anaknya kalo Difa di penjara?” cetus Kezia dengan wajah polosnya.


“Mereka pasti tetap memperlakukan difa sebagai seorang manusia, jadi lo jangan khawatir key…” hibur Ricko, berusaha menenangkan Kezia.


“Gue harap, bayinya baik-baik aja. Karena gimana pun, anak itu gag berdosa…” lirih kezia.


Sejenak, hanya keheningan yang menjadi pengisi kebersamaan mereka. Pikiran Kezia masih terpaut dengan kondisi Difa dan bayi dalam kandungannya. Bagaimanapun, ia seorang wanita yang kelak akan mempunyai anak. Secara naluri, ia merasakan kegetiran saat membayangkan kondisi Difa saat ini.


*****


 


 

__ADS_1


__ADS_2