
Pagi itu, cahaya mentari pagi menyilaukan mata kezia membuatnya mengerjapkan mata berkali-kali. Mata bulatnya belum terbuka sempurna. Kezia menggeliat dan merenggangkan tubuhnya yang terasa sangat pegal. Ia memiringkan kepalanya ke kiri dan ke kanan lalu menengadah. Rambut panjangnya ia ikat tinggi-tinggi dan sembarang.
“Selamat pagi,,,” Sapa Arland
“Astaga!!!” Kezia terperanjat saat melihat orang yang di sampingnya bukan Difa, melainkan Arland. “Kamu ngapain di sini?”
“Cuma pengen liat kamu pas tidur dan bangun …” sahut Arland dengan senyuman tipis d bibirnya.
“Gimana bisa kamu ada di sini?” Kezia menoleh ke kiri dan kanan, siswa lain masih terlelap.
“Aku menderita penyakit tidur berjalan…”
“ Apa termasuk penyakit meminta orang lain menyingkir?” Sinis Kezia.
“Kadang-kadang” jawab Arland sambil terkekeh.
Kezia mengerlingkan matanya dengan kesal. Namun Arland hanya tersenyum gemas melihat reaksi Kezia.
Arland menatap lekat Kezia dan Kezia membalasnya tanpa ragu.
"Apa?!" Kezia membulatkan matanya lebar-lebar.
Arland hanya tersenyum sambil memalingkan wajahnya. Desiran halus itu kembali memacu jantung Arland untuk berdetak lebih cepat.Ia menyentuh dadanya dan mengusapnya perlahan, debarannya benar-benar tidak terkendali.
“Baik anak-anak, kita sudah sampai. Silakan untuk masuk ke penginapan dan menempati kamar yang sudah disiapkan panitia. Jam 10 kita berkumpul di lobby.” Seru wali kelas Kezia melalui pengeras suara.
Mendengar perintah wali kelasnya, Kezia segera berdiri, namun Arland menahan Kezia dan membuatnya kembali terduduk.
“Ayo turun Land…” ajak Kezia sambil mengibaskan tangannya.
“Kamu mau berdesakan? Tunggulah sampe semuanya turun baru kita turun.” Terang Arland yang masih menatap Kezia.
“Berhenti ngeliatin aku kayak gitu” tegas Kezia sambil mengibaskan tangannya di hadapan Arland.
“Kenapa ?”
“Karena aku gag suka!”
“Tapi Aku suka.”
"CK! Kezia memalingkan wajahnya dari Arland, dan Arland hanya tersenyum melihat tingkah menggemaskan kezia.
***
“Buuu apa boleh bertukar kamar????” Rengek Dena pada wali kelasnya.
“Gag boleh… kamu gag boleh pilih-pilih temen begitu!”
“Tapi bu, saya terbiasa menggertakan gigi saat tidur, dan itu akan sangat menganggu orang lain…”
“Memang teman tidur yang kamu pilih tidak akan keberatan?”
“Enggak dong Bu, dia sudah mengenal saya luar dalam…” terang dena dengan sumeringah.
“Ya udah, asal jangan laki-laki, kamu boleh bertukar kamar.” Tutup bu wali kelas.
__ADS_1
“Baik Bu… makasih…Yeaayy!!! Kita sekamar!” seru Dena sambil memeluk Kezia.
“Hemm baiklah… suka menggertakan gigi yaaa,,, sejak kapan lo ngelakuinnya?” Tanya Kezia seraya memincingkan matanya.
“Mungkin gue mulai nanti malem…” Dena tersenyum senang tidak peduli dengan tatapan Kezia. Ia melingkarkan tangannya di pundak Kezia dan mengajaknya berjalan dengan cepat.
“Dasar anak nakal!” cetus Kezia sambil tertawa.
****
“Key, lo bawa topi gag?” Dena mengacak-acak isi kopernya dan mencari-cari benda bundar yang ia rasa sudah dimasukan ke dalam koper.
“Bawa dong tapi Cuma 1, hahaha”
“Sial, lupa gue masukin kali ya…” lanjut Dena sambil menendang kopernya kesal.
“Topi gag terlalu penting, nanti pasti banyak yang jual. Yang penting lo gag lupa sama buku tugas Lo kan?”
“Ada dong…” Dena mengangkat bukunya dan menunjukkannya pada Kezia.
“Tok tok tok”
Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Kezia segera beranjak untuk membuka pintunya.
“Haaayyyy….” Seru Kania dan sherly bersamaan
“ Hayy… ayo masuk…”
“Oohhh baiklah… ayo Na, buruan!” Kezia bergegas mengambil tas selendang serta topinya.
"Iya!" sahut Dena dengan malas.
“Hay gadis!” sapa Ricko yang datang bersama Arland.
“Hay….” Sahut Sherly yang langsung meraih tangan Ricko dan melingkarkan tangannya di lengan Ricko dengan manja.
Pandangan Arland tertuju pada Kezia yang saat itu terlihat manis dengan celana jeans selututnya dan kaos polos serta topi dan sneaker yang senada.
“Itu mata, tolong di Kontrol ya bapak….” Seru Dena sambil melirik Arland. Arland berusaha menyembunyikan senyumnya sambil memalingkan wajah.
“Berisik lo!” Kezia menyenggol lengan Dena dengan sengaja membuat sahabatnya terkekeh geli.
“Okeeyy terpesonanya di lanjut nanti yaaa… sekarang kita ke bawah duluu…” Kania menarik tangan Dena, sesama jomblo mungkin alangkah baiknya berjalan bersama.
Arland berjalan di samping kezia yang berada paling belakang. Sesekali mereka saling lirik namun tidak ada percakapan berarti.
Di lobby, tampak Rana dan anak-anak olimpiade berkumpul, termasuk tyo. Tyo terlihat menatap Kezia sejenak kemudian berlalu.
“Tumben, dia gag lari ke sini nyamperin Lo key?” celetuk dena yang juga memperhatikan Tyo.
“ Ngapain juga harus ke sini?” sahut Kezia acuh.
“Lo nolak Dia ya?” bisik dena.
“Sok tau Lo!”
__ADS_1
Arland yang mendengar pembicaraan Kezia dan Dena hanya tersenyum. Ada senyum kemenangan di bibirnya.
****
Terik matahari begitu menyengat. Beberapa siswa mencari warung atau mini market di sekitar tempat wisata. Hari ini mereka mengunjungi salah satu keajaiban dunia yaitu candi Prambanan.
Sekitaran candi lumayan ramai. Selain para siswa beberapa turis lokal dan mancanegara pun tampak takjub menikmati salah satu keajaiban dunia ini. Mereka asyik berswaphoto dengan latar belakang jajaran candi yang masih terjaga dengan baik. Kezia dan teman-temannya berkeliling mengitari area wisata sambil membawa buku tugas yang diberikan guru. Sesekali mereka mengambil foto baik itu foto candi atau foto mereka bersama.
“Wah lucuuu… yang ini kayak lagi prewed yaa…” seru Dena saat melihat foto Kezia yang duduk di salah satu tangga dan wajah menoleh ke sebelah kanan sementara kakinya terjuntai. Di sampingnya ada Arland yang sedang berdiri bersandar pada candi dengan kaki menyilang dan tangan kanan masuk ke saku. Arah pandangnya ke arah kezia.
“Mana coba gue liat…” Seru Kania. Sherly dan Kezia pun ikut mengerumuni Dena. “Wah bener bagus Na…” lanjut Kania.
“Boleh gue post d medsos gue kan key?” Tanya Dena.
“Jangan aneh-aneh deh….” Sahut Kezia
“Land, boleh kan?” Dena mengabaikan penolakan Kezia
“Apaan?” Tanya Arland yang masih berdiri dikejauhan
Dena menunjukkan fotonya pada Arland.
“Hem..” sahut Arland tanpa komentar.
Dena pun terkekeh, dengan senang hati ia memposting foto tersebut di akun media sosialnya. Ini pertama kalinya Dena mengambil foto dengan benar. Biasanya kalau tidak blur, gambarnya tidak simetris atau objek terlihat bogel. Kalian pernah kan di fotoin kayak gitu?
“Ngapain minta izin gue kalo mau tetep di posting!” Kezia melirik kesal Arland yang sedari tadi menahan tawanya. Tapi ketiga sahabatnya malah tertawa geli melihat ekpresi kesal kezia.
Kezia memilih berjalan-jalan sambil melihat candi-candi dan sesekali mencatat sesuatu di bukunya.
“Cekrek cekrek cekrek” beberapa kali Arland mempotret Kezia tanpa Kezia ketahui.
Bahkan terkadang sebuah video pendek yang dibuatnya. Arland mengecek gallery nya, terlihat wajah Kezia dengan berbagai ekpresi. Arland tersenyum tipis dan kembali memasukkan handphonenya ke dalam saku celananya.
“Makan mie ayam yuk!” seru Arland yang sudah berdiri di samping Kezia.
“Gag!” sahut Kezia tanpa menoleh.
Tapi Arland mengabaikan penolakan Kezia. Ia malah menarik tangan Kezia dan membawanya dengan langkah cepat.
“Duduk” Arland menekan bahu Kezia agar terduduk dan Kezia hanya bisa menurut. Mereka duduk di bangku yang disediakan penjual mie ayam keliling. “Dua ya pak..” pinta Arland dengan sopan.
“Baik den, tunggu sebentar, bapak bikinkan..” sahut penjual mie ayam.
Tangan telatennya mulai meramu mie ayam yang di pesan Arland. Dimasukkannya penyedap rasa, minyak sayur , Mie dan beberapa sendok ayam yang sudah dibumbui. Tak lupa saus merah dan pangsit menjadi pelengkapnya. Kezia menelan ludahnya sendiri. Arland tersenyum geli melihat ekpresi mupeng Kezia.
Mie ayam sudah ada di hadapan mereka. Tanpa berlama-lama Kezia dan Arland menyantap mie nya. Rasa pedas dan panas membuat mereka mempercepat suapannya. Di tambah udara yang sangat terik membuat butiran keringat mengalir deras di wajah dan tubuhnya. Kezia melirik Arland yang tengah asyik menikmati mie nya.
“Kenapa dia cakep banget kalo keringetan gitu…” lirih Kezia dalam hati.
“Habisin dulu mie nya, nanti keburu berubah jadi tambang!” seru Arland yang menyadari Kezia memperhatikannya.
Kezia gelagapan sendiri dan dengan segera kembali melahap mie nya. Sementara Arland masih tetap menikmati mie nya dengan sesekali tersenyum melihat Kezia yang ada disampingnya.
****
__ADS_1