My First Love Story

My First Love Story
Episode 113


__ADS_3

Tanpa terasa, hari wisuda sudah tiba. Kezia memakai pakaian rapi dan menyiapkan toga yang akan di pakainya. Wajahnya tampak bersinar cerah walau tetap ada segaris pilu yang ia coba sembunyikan. Hari ini adalah salah satu moment penting yang sangat ia tunggu, sayangnya kedua orang tuanya tidak bisa datang karena kondisi kesehatan Eliana yang kurang baik.


Acara segera dimulai. Mereka berkumpul di gedung aula lama. Bangunan megah dengan arsitektur lama dan warna coklat mendominasi warna bangunan ini. Semua mahasiswa duduk dengan rapi. Sementara keluarga berada di ruangan terpisah.


Acara ceremonial yang rutin dilakukan setiap tahun pun di mulai. Diawali dengan sambutan, speech dari perwakilan mahasiswa hingga pelantikan wisudawan dan wisudawati. Kezia mendapat kesempatan untuk naik panggung bersama Fritz karena meraih gelar wisudawan dan wisudawati  terbaik. Keluarga dari mahasiwa berprestasi pun di persilakan untuk mendampingi.


Angga dan Indira berjalan menghampiri Kezia yang sudah menunggunya. Sementara dokter Albert datang bersama dengan seorang wanita cantik di sampingnya.


“Fritz, bukankah itu…” Kezia berbisik di telinga Fritz.


“Ibuku…” sahut Fritz. “Aku yang memintanya untuk hadir.” terlihat senyum sumeringah menghiasi wajah Fritz yang rapi tanpa kumis tipis seperti biasanya.


Carolin terlihat sangat cantik dengan balutan gaun sederhana yang senada dengan pakaian yang dikenakan oleh dokter Albert. Kezia tersenyum bahagia untuk Fritz.


“Key, selamat ya, kakak ikut bangga…” tutur Indira sambil merangkul tubuh Kezia.


“Terima kasih kak…”


“Selamat schnucki…” bisik Angga di sampingnya dengan tubuh sedikit condong. Gesturnya terlihat sangat kaku.


“Kakak gag peluk aku?” tawar kezia. Tentu saja tanpa ragu Angga segera memeluk Kezia dengan erat.


“Aku sangat bangga padamu anak kecil…” bisik Angga penuh perasaan.


“Terima kasih tuan muda.” ledek Kezia. Untuk pertama kali Kezia memeluk Angga dengan erat. Laki-laki ini lah yang setia menemaninya belajar dan menjadi orang paling gigih menyemangati Kezia. Dengan jarak setipis ini Kezia bisa merasakan detakan jantung Angga dengan jelas. “Apa kakak, baik-baik saja?” lirih Kezia.


“Memangnya aku kenapa bu dokter?” goda Angga.


“Jantung kakak berdetak sangat cepat dan tidak beraturan…” Kezia menempelkan telinganya di dada Angga.


“Mungkin aku terlalu bahagia, sampai-sampai jantungku akan meloncat dari tempatnya.” Sahut Angga.


“Hemhh, dasar!” Kezia mencubit lembut lengan Angga dan perlahan melepaskan pelukannya.


“Peluk aku lebih lama Schnucki, karena mungkin aku tidak bisa memelukmu lagi lain kali.” Batin Angga. Kali ini Angga kembali meraih tubuh Kezia dan memeluknya sangat erat. Kezia terpaku di tempatnya. Ia menoleh wajah Angga yang berada di bahunya. Angga tampak memejamkan matanya dengan sebuah garis senyum yang sulit di artikan. Saat Angga melepaskan pelukannya, Kezia masih memandangi wajah Angga yang tak biasanya. Namun Angga malah mengusap wajah Kezia dengan telapak tangannya yang besar.


"Aku baik-baik saja schnucki." lirihnya. "Lihat ke sana, mereka akan mengambil gambar kita." Angga menghadapkan wajah Kezia ke kamera dan Kezia berusaha tersenyum walau perasaannya terasa tidak nyaman.


****


Seusai wisuda, Indira sengaja mengadakan pesta di rumah Angga. Rumah di hias dengan begitu indahnya. Semua tersenyum ceria dan saling berbagi cerita.


Angga memandangi Kezia yang duduk di sebrangnya dengan tawa yang begitu lepas. Tawa yang selalu Angga nantikan. Dadanya terasa hangat merasakan kasih sayang dari seluruh keluarganya termasuk Kezia.


“Aku mandi dulu sebentar ya…” pamit Angga seraya beranjak.


Mahesa yang duduk di samping Angga mengiyakannya. Angga berjalan menuju tangga dengan sesekali melihat gelak tawa yang hadir diantara keluarganya.

__ADS_1


Tiba-tiba kepala Angga terasa sangat pusing. Angga berdiri mematung dan tidak ada yang menyadarinya. Terasa ada lelehan hangat yang keluar dari lubang hidungnya. Ya, darah segar. Angga segera mengusapnya dengan sapu tangan yang ada di saku celananya. Namun kepalanya semakin pusing , hingga akhirnya semua tampak gelap.


“BRUG!!!!” tubuh Angga rubuh.


“Dada!!!” teriak Sean yang melihat ke arah Angga.


Mereka terperanjat. Secepat mungkin Kezia berlari menghampiri Angga. Di raihnya kepala Angga dan menempatkannya sejajar dengan tubuhnya.


“Astaga nak, kamu kenapa?!” teriak Anna yang mulai histeris.


Kezia mencoba memenangkan diri. Ia memegang erat pergelangan tangan Angga berusaha meraba nadi yang detakannya tak beraturan seperti detak jantungnya tadi siang.


“Om tolong segera siapkan mobil!” suara Kezia terdengar bergetar.


Mahesa bergegas memanggil Hendra dan menyiapkan mobil. Kezia melonggarkan dasi dan baju Angga. Serta melepaskan Jas yang masih membalut tubuh Angga.


“Key, apa angga baik-baik saja?” lirih Anna.


“Kita harus segera membawanya ke rumah sakit” tegas Kezia.


“Dada… Bangun dada…. Jangan tinggalin Sean…” teriak Sean menambah kepanikan.


“Tenang sayang, dada akan baik-baik saja…” tutur Indira seraya mendekap Sean.


“Mima, tolong selamatkan Dada, mima…” teriak Sean dengan air mata berurai. Tak tega, perasaan pertama yang di rasakan Kezia saat melihat Sean. Sepertinya kecurigaannya benar bahwa jantung Angga mulai berdetak tidak normal. Kezia tetap berusaha menguasai emosinya di tengah kekalutan yang menghinggapi hati dan pikirannya. Ternyata sesulit ini mengendalikan perasaan saat yang menjadi pasien adalah orang terdekatnya sendiri.


Sean kecil mengangguk perlahan dan memeluk Indira yang terlihat sangat lemas.


*****


Hendra memacu mobil dengan kecepatan sangat tinggi. Salju mulai turun dan menghalangi pandangan matanya.


“Tetap perhatikan jalan di depanmu!” tegas Mahesa. Hendra mengangguk mengiyakan. Kezia tetap menggenggam tangan Angga dengan erat, merasakan detak jantungnya yang semakin melemah.


Tak lama mereka sampai di rumah sakit. Kezia segera menarik blankar dan meminta bantuan untuk mengangkat tubuh Angga. 2 petugas kesehatan dengan sigap membawa Angga. Mereka membawa Angga ke ruang resutitasi. Kezia mengejarnya dengan cepat.


“Mohon nona tunggu diluar.” tutur salah satu petugas. Kezia mengikuti perintahnya. Walaupun Kezia seorang dokter, saat berada di rumah sakit, ia harus mengikuti prosedur medis yang berjalan. Termasuk tidak ikut campur tanpa izin.


Mahesa duduk terpaku di kursi tunggu. Kedua tangannya memegangi kepalanya dengan erat. Wajahnya pucat pasi. Kezia segera menelpon Fritz agar memberitahukan kondisi Angga pada dokter Albert. Ia berusaha tenang dan menguatkan hatinya sendiri. Angga membutuhkannya untuk kuat, bukan ikut terlarut dalam kekalutan.


Tak lama, dokter Albert sampai di rumah sakit.


“Kau ikutlah masuk!” seru dokter Albert pada Kezia.


Kezia segera mengikuti langkah doketr Albert dan memakai alat pelindung diri.


“Nafasnya masih bagus, hanya saja denyut nadinya yang semakin melemah.” Tutur dokter Albert.

__ADS_1


“Sejak tadi siang detak jantungnya tidak beraturan dok.” imbuh Kezia.


“Baik, segera lakukan pemeriksaan laboratorium dan pindahkan pasien ke ruang ICU.” titah dokter Albert pada dokter yang sebelumnya memeriksa Angga. “Ada yang harus saya jelaskan. Mari ke ruangan saya.” lanjut dokter Albert.


Kezia mengajak Mahesa untuk ikut ke ruangan dokter Albert.


“Mohon maaf… kondisi tuan ryan saat ini memburuk. Tidak ada cara lain selain harus melakukan transplantasi sumsum tulang dan itu harus segera dilakukan.” terang dokter Albert tanpa basa basi.


Kezia terdiam, bahunya melorot. Ia memandangi wajah Mahesa yang mulai berair mata. Terlihat jelas keputusasaan yang tergambar di garis wajah Mahesa.


“Baik dok, kami akan membicarakannya terlebih dahulu dan mencari donor sumsum secepatnya.” sahut Kezia yang tetap berusaha tenang. Dokter Albert mengangguk mengiyakan. “Om, kita jangan menyerah di sini. Walaupun kemungkinannya sekecil apapun, kita masih harus berusaha keras.” Kezia menatap Mahesa berusaha meyakinkan Mahesa masih ada harapan untuk kesembuhan Angga. Mahesa hanya mengangguk kemudian kembali tertunduk. Ia ingin membesarkan hatinya tapi melihat Angga yang terbaring tidak berdaya, rasanya hatinya ikut hancur. Ia bener-benar tidak siap kalau harus kehilangan putra kesayangannya.


****


Kezia masih memandangi Angga yang terbaring tidak berdaya dengan berbagai selang dan kabel yang terhubung dengan tubuhnya. Dadanya merasakan sesak saat membayangkan rasa sakit yang kembali harus Angga rasakan. Tidak pernah terbersit dalam pikirannya kalau hal ini akan terjadi kembali dan secepat ini. Kezia masih belum bersiap, ia bahkan belum melakukan apa-apa untuk Angga yang selalu menemaninya.


Angga adalah salah satu sumber kekuatan bagi Kezia. Disadari atau tidak, Angga menjadi support system saat Kezia terpuruk dengan segala kesulitan pikiran dan perasaannya. Lalu, hati mana yang tak meringis melihat laki-laki ini yang bernafaspun memerlukan bantuan sementara dengan kedua tangannya ia banyak membantu orang dan memberi harapan termasuk pada Kezia.


“Nona, bagaimana kondisi tuan muda?” suara Hendra mengaburkan lamunan Kezia.


Kezia mengusap wajahnya kasar tanpa mengalihkan pandangannya dari Angga. “Kita harus segera mencari donor sumsum pak..” sahut Kezia dengan lemas.


Terdengar helaan nafas dalam dari mulut Hendra. Tuan muda yang ia urus dari kecil, kini terbaring tidak berdaya. Masih teringat jelas dalam pikiran Hendra saat tuan mudanya yang kehilangan harapan bertemu dengan Kezia.


"Pak hendra, saya akan hidup seribu tahun lagi demi bisa bersama Kezia untuk waktu yang lama." ungkap Angga kala itu. Hendra bisa melihat binar kebahagiaan dan penuh harap yang kembali terpancar dari kedua matanya yang sayu setelah lama redup.


Ada sesuatu yang mengganjal di hati Hendra, ia ingin mewujudkan harapan tuan mudanya. Walau ragu, rasanya ia harus mengungkapkan hal tersebut pada Kezia.


“Nona, maaf jika saya lancang." Hendra memulai kalimatnya dengan ragu membuat pandangan Kezia tertuju padanya. "Sebenarnya ada 1 orang yang memiliki kecocokan untuk melakukan donor sumsum. Tapi saya tidak tau apakah tuan muda bersedia atau tidak.”


“Siapa pak?” dengan segera Kezia menimpali. Tentu saja, ia tidak mau melewatkan begitu saja kesempatannya.


“Nona cellina …” jawab Hendra.


Kezia terpaku di tempatnya. Ia menatap Hendra dengan penuh tanya. “Apa alasan kak angga dulu di jodohkan dengan nona cellina karena hal ini?” selidik Kezia. Hendra hanya mengangguk.


Kezia menghela nafasnya dalam. Sepertinya ia tidak bisa diam saja dan menunggu keajaiban datang. “Antar saya ke tempat nona cellina, saya akan berbicara dengannya.” ujar Kezia dengan yakin. Hendra hanya menatap Kezia dan tak berani mengatakan apapun.  Ia masih belum bisa menebak apa yang akan dilakukan gadis muda ini. “Ayo pak, waktu kita tidak banyak!” tepis Kezia. Dan Hendra hanya bisa mengikuti permintaan Kezia.


****


 


 


Huuffttt... Nyatanya ujian tiap orang beda yaaa...


Aku mau terminasi sekarang tapi gag siap, huhuhu

__ADS_1


Happy reading all...


__ADS_2