
Terdengar suara ketukan di daun pintu kamar Kezia. Kezia yang tengah menyisir rambutnya segera bangkit dan membuka pintu. Tampak seorang pelayan berdiri di hadapannya. Seorang pelayan dengan wajah asia tersenyum padanya.
“Nona, tuan muda menunggu anda untuk makan siang…” tutur pelayan tersebut dengan bahasa Indonesia yang fasih.
“Ya tuhan, kamu dari Indonesia juga?” mata Kezia berbinar saat menemukan lawan bicara yang pas.
“Betul nona…” jawab pelayan dengan sopan
“Apa kamu bisa bahasa Jerman?” lanjut kezia
“Sedikit nona..” sahutnya lagi.
“Baiklah, nanti aku mau kamu ajarin aku bahasa jerman yaa… Aku sudah belajar beberapa kosakata, tapi khawatir pelafalannya salah.” Terang Kezia. pelayan tersebut hanya terangguk. Baru kali ini tuan rumahnya mau berbicara dengan dia lebih dari 5 kata. Biasanya hanya kata-kata perintah yang ia dengar. Dia tersenyum senang. “Kamu mau kan?” suara Kezia membuyarkan lamunan pelayan tersebut.
“Baik nona…”
“Tunggu, siapa namamu?”
“Saya sarah nona..” sahutnya sambil tetap tertunduk.
“Baik sarah, tunggu sebentar di sini. Aku selesaikan dulu menyisir rambutku, kita ke ruang makan sama-sama.” Pinta Kezia. Sarah mengangguk setuju.
Kezia memilih untuk ke ruang makan bersama Sarah, agar tidak kesasar di rumah yang begitu besar ini. Dengan setia Sarah menunggu di depan pintu.
Selesai merapihkan rambutnya, Kezia keluar dengan tampilan yang sudah segar. Dia memakai dress selutut tanpa lengan yang dipadukan dengan kemeja panjang yang sengaja tidak di kancingkan. Rambut panjangnya di biarkan terurai alami. Sarah ternganga melihat, nona muda yang ada di hadapannya.
“Cantikk sekali… Apa ini calon istri tuan muda? Sungguh sangat serasi…” gumam Sarah dalam hati.
“Yuk!” seru Kezia sambil menutup pintu kamarnya.
“Ah iya nona, silakan…” Sarah tergagap karena baru tersadar dari lamunannya.
Sepanjang perjalanan menuju ruang makan, mata Kezia terus mengeliling memperhatikan setiap sudut ruangan di rumah mewah tersebut. Tampak Angga yang sudah duduk di meja makan dengan Rana dan Martin. Tatapannya tertuju pada Kezia yang segera duduk di samping Rana. Pandangan Angga tidak beralih dari Kezia dan hal itu terlihat jelas oleh orang-orang yang berada di ruang makan kecuali Kezia sendiri.
“Wah, ada ayam rica-rica…” celetuk Kezia sambil mengigit garpu yang ada di tangannya. Air liur serasa mau keluar.
“Silakan nona…” Sarah mendekatkan piring besar berisi ayam rica-rica.
“Terima kasih sarah…” sambut Kezia yang segera mengambil sepotong ayam rica-rica dan memindahkannya ke piring miliknya.
Angga mengernyitkan dahinya. Dari sekian banyak wanita yang duduk di meja makan bersama Angga, baru Kezia yang mengucapkan terima kasih pada pelayan. Begitu pun Rana, sikapnya langsung berubah saat duduk di dekat Angga. Tatapan Angkuh terlihat jelas dimatanya.
Kezia dengan lahap menyantap makan siangnya. Sementara Rana, makan dengan tak tenang. Matanya sering sekali mencuri pandang pada Angga, sosok yang dikaguminya sejak lama. Namun Angga justru sebaliknya, dia tidak suka Rana yang terus-terusan menatap dan mencari perhatiannya.
Angga begitu menikmati setiap suapan yang masuk ke mulutnya, karena di hadapannya ada seorang gadis yang begitu ia rindukan. Hendra yang sedari tadi memperhatikan, tersenyum simpul melihat tuan mudanya yang mampu menghabiskan makan siangnya dengan porsi besar.
Selesai menyantap makan siang, pelayan menyajikan dessert, berupa beberapa jenis buah potong dan makanan manis. Mereka berbincang santai mengenai rencana perkuliahan.
“Kak, kalo daftar test masuk universitas itu kapan?” tanya Kezia di sela mereka menikmati dessertnya.
“Besok kamu daftar online dulu. Nanti akan ada jadwal untuk Qualification Assesment exam. Jangan lupa lengkapi syarat administrasi dari sekolahmu sebelumnya yaa…” terang Angga.
Kezia mengangguk paham.
“Zia, sepertinya papah harus pulang besok. Karena ada beberapa hal yang harus papah lakukan di kantor dan di sekolah kamu…” tutur Martin sambil menatap Kezia.
“Iya pah, zia gag masalah kok. Nanti zia kabari lulus apa enggaknya…” sahut Kezia sambil tersenyum.
__ADS_1
“Kamu pasti bisa nak…” Martin mencoba menyemangati.
“Makasih pah…”
“Rana, kamu sudah siap-siap juga kan? Ini kesempatan baik buat kalian.”
“Iya om, rana juga akan berusaha sebaik mungkin. Tapi kalo ternyata rana gag lulus d sini, mungkin rana akan memilih universitas lain di sini atau kembali ke indonesia.” Sahut Rana dengan pesimis.
“Kak rana, semangat dong.. kita sama-sama berusaha ya…” Kezia menggenggam tangan Rana dengan hangat. Rana hanya mengangguk mengiyakan.
“Saya permisi istirahat lebih dulu ya, sepertinya masih jetleg…” tutur Rana sambil memundurkan kursinya.
Kezia mengangguk setuju. Rana berlalu menuju kamarnya.
“Mari saya antar Nona…” tawar Hendra yang hanya di angguki Rana. “Nona, sebaiknya anda tidak membuat tuan muda kami merasa tidak nyaman dengan sikap anda.” Bisik Hendra setelah mereka cukup jauh dari ruang makan.
Rana menatap Hendra dengan tatapan nanar. Dia tahu persis mengenai sikap yang di maksud Hendra. rupanya Angga merasa tidak nyaman dengan cara Rana menarik perhatian tuan muda tampan tersebut. Rana hanya bisa mengangguk mengiyakan ucapan Hendra.
“Saya permisi dulu…” pamit Hendra. Rana hanya terpaku, lalu bergegas kembali ke kamarnya.
“Andai aku ada di posisi kezia, aku tidak akan meminta apa-apa lagi tuhan…” lirih Rana yang merasa kalau hidup Kezia begitu sempurna. Cantik, pintar dan dikagumi laki-laki seperti Angga. Benar-benar sebuah keberuntungan. Tanpa dia tau, kondisi Kezia sebenarnya.
****
“Om, saya mau mengajak Kezia jalan-jalan sebentar. Apa om mau ikut?” Tanya Angga dengan sopan.
“Tidak tuan muda, sepertinya saya mau istirahat saja.” Sahut Martin dengan canggung.
“Om, saya sudah pernah bilang, om bisa panggil saya angga, tidak perlu memanggil saya tuan muda…”
“Baik tuan muda, eh nak angga, maafkan om…”
“Tolong om jangan sungkan…” sambung Angga.
“Baik nak Angga…” sahut Martin
“Tetep yaa kerasa aku atasan dan om martin bawahan. Padahal aku paling benci situasi seperti ini…” batin Angga.
“Yuk key, kamu siap-siap dulu…” pinta Angga.
“Iya kak, aku ke kamar sebentar.” Sahut Kezia.
Suasana di ruang makan benar-benar terasa sangat canggung, walau Angga dan Martin sudah banyak berbincang. Angga pun sudah menjanjikan bahwa dia akan menjaga Kezia dengan baik saat berada di Jerman.
****
Sore itu, Angga mengajak Kezia berkeliling di kota Heidelberg. Kota yang terkenal dengan bangunan kastil ,kota tua yang resik dan universitas terkenal, terlihat sangat indah. Memang ada beberapa bangunan yang dibangun dengan gaya semi modern, namun tidak bisa di bandingkan dengan kondisi dominan gaya bangunan klasik di sana. Sepanjang perjalanan, Kezia memperhatikan jalanan yang dilaluinya. Beragam tulisan yang dilihatnya coba dia ingat dan lafalkan. Sesekali ia membuka kamus mini bahasa Jerman yang selalu dia bawa kemana pun, persis anak kecil yang sedang belajar membaca. Angga tersenyum melihat tingkah Kezia.
Angga memarkir mobilnya di depan sebuah café yang berada tidak jauh dari Universitas Heidelberg. Rupanya café ini adalah favorit mahasiswa Heidelberg. Angga mengajak Kezia turun dan masuk ke dalam café. Disana terlihat beberapa orang sudah mengisi kursi yang disediakan. Ada yang asyik dengan laptopnya, ada pulang yang asyik menikmati latte yang ada di hadapannya. Angga memilih kursi yang berada di dekat jedela kaca dan menghadap langsung ke jalan. Tangannya terangkat tanda memanggil pelayan untuk mendekatinya.
“Was mochtest du heute abend ganießen? (Apa yang ingin anda nikmati di sore ini?)” sapa laki-laki bermata biru yang menghampiri Kezia dan Angga. Kezia memperhatikan dialek yang digunakan laki-laki tersebut, yang tanpa sadar membuatnya menatap serius pelayan tampan yang ada di hadapannya. “Dein madchen macht mich ein bisschen nervos. (gadis anda membuat saya sedikit nervous)” lanjut laki-laki tampan tersebut sambil tersenyum pada Kezia. Kezia membalas senyuman pelayan tersebut dan membuat laki-laki itu menggaruk kepalanya walau tidak gatal. Angga menatap tajam Kezia.
“ Bring mir sofort 2 portionen pfannkuchen und cappucinno latte fur uns pas auf deine Augen auf. (Segera bawakan saya 2 porsi pancake dan cappuccino latte untuk kami. Dan jaga matamu.)” sahut Angga dengan wajah tak bersahabat. Laki-laki tersebut hanya mengacungkan jempolnya sambil tersenyum pada Angga.
Hingga pelayan tersebut berlalu, Kezia masih berusaha mencerna pembicaraan Angga dan laki-laki tersebut.
“Haiisshhh kenapa ngomongnya cepet banget sih!” keluh Kezia dalam hati. Ia mencoret-coret kamus kecilnya dan mengingat beberapa kata yang di ucapkan laki-laki tadi. “Astagaaa….” Seru Kezia sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
“Apa kamu sudah tau kesalahan kamu?” tanya Angga sambil terkekeh.
“Itu bukan salahku kak, dia aja yang geer!” cetus kezia sambil mengerucutkan bibirnya saat dia tau arti kalimat yang diucapkan pelayan tadi. Angga kembali tersenyum melihat ekspresi Kezia.
“Lain kali, jangan melihat laki-laki dengan tatapan seperti itu. Kalau gag dikira gag sopan, kamu akan dikira jatuh cinta sama dia.” Angga kembali terkekeh saat Kezia memperlihatkan wajah kesalnya.
Kezia menoleh pada pelayan tersebut, ternyata dia pun sedang memandangi Kezia dari kejauhan dan tersenyum manis saat mereka bertemu pandang. Wajah Kezia memerah karena malu. Ingin rasanya dia segera keluar dari café itu dan berharap tidak bertemu lagi dengan pelayan tersebut.
“Kak, apa kakak sering ke sini?” Kezia berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Iyaa.. dulu waktu kuliah saya sering nongkrong disini, Cuma sekedar buat ngerjain tugas atau ngilangin jenuh.” Sahut Angga dengan santai.
“Apa kakak juga kuliah di sini?”
“Yaa… jurusan matematika.” Sahut Angga dengan cepat.
“Oohhh… Pantesan…” Kezia membulatkan mulutnya. Kekagumannya pada angga bertambah 1 point.
“Kamu harus mulai fokus mempelajari bahasa Jerman. Kalau kamu lulus di test pertama, untuk jurusan kedokteran ada Medizinertest, yang semua materinya adalah bahasa jerman dan disampaikan dengan bahasa jerman.” Terang Angga.
“Aduhhh,, apa aku bisaa?” Kezia menelungkupkan wajahnya di atas lengannya yang berada di atas meja.
“Heyy.. Kamu harus berusaha. Waktunya sebulan setelah kamu lulus test pertama…” terang Angga sambil mengusap-usap kepala Kezia dengan gemas. Kezia tidak meresponnya, nyalinya sudah mulai menciut. Angga bisa merasakan kegelisahan yang dirasakan Kezia. “Apa cuma segini usaha kamu untuk jadi seorang dokter yang bisa menolong orang banyak?” goda Angga sambil tersenyum dengan tampannya.
“Ayolaah kak,,, jangan bikin aku minder dong…” keluh Kezia sambil menghentak-hentakan kedua kakinya perlahan. Angga hanya tertawa melihat tingkah Kezia.
Tak lama pelayan tersebut datang dan membawakan menu pesanan Angga. Di taruhnya dua piring pancake dan cappuccino latte di hadapan keduanya. Laki-laki itu melirik Kezia dan tersenyum. Kezia sedikit canggung, ia memalingkan seraya menutup wajahnya dengan tangan kiri. Saat laki-laki itu akan berlalu, tiba-tiba..
“warte einen moment… (Tunggu sebentar)” tutur Kezia dengan bahasa Jerman tapi dialek Indonesia. Laki-laki tersebut menghentikan langkahnya kemudian berbalik menghadap Kezia.
“Ja vermisse? (Iya nona..)” sahutnya dengan sopan.
“ Entschuldigung, wenn ich mich unhoflich benahm… (Maaf kalau tadi saya berprilaku kurang sopan)..” sambung Kezia dengan sedikit terbata-bata.
Laki-laki itu hanya tersenyum lalu menganggukan kepalanya. Lalu segera pergi saat melihat tatapan Angga.
“Ctak!” Angga menyentil dahi Kezia. Kezia mengaduh dan mengusap dahinya.
“Kamu gag perlu minta maaf schnucki…” protes angga.
“Apa yang salah, aku cuma takut dia ngerasa kalo aku perempuan gag sopan…” sahut Kezia sambil mengerucutkan bibirnya karena kesal. Angga kembali tersenyum.
“Ya udah, makan pancake nya…” titah Angga sambil memberikan sendok kecil pada kezia. Kezia menerimanya dengan cepat.
“Ya beginilah kalo gadis polos dari timur datang ke barat, jangan pernah berubah ya schnucki...” gumam Angga seraya tersenyum memandangi Kezia yang mulai menyantap makanannya. Angga semakin kagum pada sikap Kezia.
“Apa kak?” Kezia tak begitu jelas mendengar ucapan Angga.
“Hah? Nggak. Saya gag ngomong apa-apa.” sahut Angga seraya melahap pancake yang sudah ada di depan mulutnya.
****
Alohaaa.... Masih setiap baca kah?
Buat yang masih setia baca, terima kasih banyak yaaa... Jangn lupa tinggalkan jejak dengan like dan komen juga tambahkan sebagai favorit yaa....
__ADS_1
Happy reading anyone...