
Matahari pagi membiaskan cahayanya di balik gorden kamar Angga. Cahayanya masuk melalui celah dan menyapa di sudut mata kezia. Kezia menggeliat , merenggangkan setiap otot tubuhnya yang terasa pegal. Matanya mengerjap hendak membuka. Tampak suasana kamar dengan cat putih dan lampu yang tidak terlalu terang.
“Guten morgen schnucki… (selamat pagi, schnucki…)” sapa Angga seraya tersenyum.
Angga tengah berdiri di depan kaca besar, dari menatap wajah bingung Kezia yang terpantul di sana. Dia tengah mengancingkan lengan kemejanya dengan kerah baju yang masih berdiri.
“Aku kok bisa tidur di sini?” Tanya Kezia dengan wajah paniknya.
“Yang penting kan kamu terbangun dalam kondisi baik-baik saja…” sahut Angga sambil terkekeh melihat wajah Kezia yang kebingungan. Kezia melihat ke dalam selimut, pakaiannya masih tetap yang sama dan menempel di tubuhnya. “Jangan pikir saya laki-laki yang tidak senonoh ya!” seru Angga yang tiba-tiba ada di samping Kezia dengan telunjuk siap menjentik di dahinya.
Kezia menepis tangan Angga dengan segera. Wajahnya memerah Karena malu.
“Ayo bersiaplah, temani saya ke rumah sakit…” pinta Angga sambil mengacak rambut Kezia.
“Iihhh ngeselin…” protes Kezia. Angga hanya tergelak melihat ekspresi kesal Kezia.
Kezia segera bangkit dan keluar dari kamar Angga. Perlahan ia menuruni anak tangga dengan kaki jinjit agar derap langkahnya tidak terdengar oleh orang lain. Apa kata dunia kalau sampai orang lain tahu Kezia tidur di kamar Angga. Bagaimana pun ia harus menjaga nama baik Angga dan dirinya sendiri.
“Hati-hati terjatuh nona…” suara Hendra tiba-tiba mengagetkan Kezia, membuat wajahnya pucat seketika.
Kezia hanya mengangguk dan segera berlari menuju kamarnya. Sesampainya di kamar, Kezia menghela nafas panjang. Diraihnya handuk dengan segera dan melakukan runititas mandi cepatnya.
****
Dengan langkah ragu Kezia berjalan menuju ruang makan. Tampak Angga duduk sendirian menikmati sarapannya. Hendra berdiri di sampingnya dengan sigap. Kezia segera menarik kursi dan duduk di samping kanan Angga. Angga tersenyum dengan hangat.
Kezia melirik ke orang-orang sekitar, namun mereka hanya tertunduk. Pagi ini Kezia masih salah tingkah karena kedapatan keluar dari kamar Angga. Sementara Hendra ekspresinya masih sama, tenang dan tidak memandang Kezia sedikitpun.
“Kak, pak hendra suruh duduk aja. Kasian dia berdiri terus nungguin kita sarapan. Lagian dia udah tua, kakinya pasti pegel.” Cerocos Kezia di telinga kanan Angga.
“Duduk lah pak hendra, kezia memintamu menemaninya sarapan.” Tutur Angga dengan mengorbankan setengah gengsinya. Kezia membalasnya dengan senyuman.
“Wah, udah ada nasi goreng aja. Siapa yang bikini?” Tanya Kezia dengan mata berbinar.
“Saya nona… semoga nona menyukainya.” Sahut Sarah yang masih tertunduk.
“Terima kasih sarah, pasti masakanmu enak seperti biasanya…” sahut Kezia dengan jujur.
Angga memandangi Kezia masih dengan perasaan kagumnya melihat Kezia yang memiliki sikap yang baik terhadap orang lain.
“Mulai hari ini, kalian wajib berbicara menggunakan bahasa Jerman.” Tutur Angga dengan tegas.
“Termasuk aku juga kak?” Kezia menunjuk batang hidungnya sendiri.
“Iya, bukannya kamu ingin segera lancar bahasa Jerman? Kalau Cuma baca sajak romantis, tips dan trik belajar bahasa Jerman tapi gag kamu pakai sehari-hari , kapan pinternya?” sahut Angga setengah meledek.
“Ya tapi masalah aku baca sajak romantis gag usah di bahas di sini juga kali kak…” protes Kezia sambil mengerucutkan bibirnya.
Angga tertawa dengan renyahnya mendengar protesan Kezia. Ia pasti malu setengah mati ketahuan membaca sajak-sajak romantis. Wajah Kezia memerah antara menahan kesal sekaligus menahan malu.
“Wir gehen ins Krankenhaus, beenden Sie Ihre Mahlzeit schnell! (kita akan ke rumah sakit, cepat habiskan makananmu!)” ujar Angga.
“Hah?!” Kezia hanya melongo mendengar ucapan Angga yang tidak menempel sedikitpun di otaknya.
“Fokus!” gertak Angga sambil menjentikkan jarinya di dahi Kezia.
“Duh, lama-lama aku beneran jadi **** nih, di sentil mulu!” keluh Kezia sambil mengusap dahinya.
“Worüber sprichst du? Ich verstehe nicht.. (Kamu bicara apa? Saya tidak mengerti..)” sahut Angga.
Kezia sedikit kesal dengan Angga yang benar-benar mulai menerapkan wajib bicara bahasa Jerman. Kezia mengeluarkan kamus kecilnya.
“Ich sage nichts, junger Meister, nur ein kleines Gähnen! (saya tidak bicara apa-apa tuan muda, hanya sedikit menguap!)” sahut Kezia dengan terbata-bata dan pelafalan yang kaku.
__ADS_1
“Guter Versuch ... (usaha yang bagus...)” sungut Angga sambil mengusap kepala Kezia perlahan.
“Dia gag ngerti majas pleonasme apa? Malah senyum!” dengus Kezia dalam hatinya.
****
“Kak, nanti aku pergi ke toko buku bentar yaa…” pinta Kezia.
Saat ini mereka dalam perjalanan menuju rumah sakit. Kezia dan Angga duduk di belakang. Namun Angga tidak menjawab sedkitpun ucapan Kezia, seolah tidak mendengar.
Kezia membuka kamusnya. Bibirnya komat kamit mencoba melafalkan.
“Schwester, ich gehe für eine Weile in die Buchhandlung…” Kezia mengulang kalimatnya.
“Mai.. (Boleh..)” jawab Angga singkat.
“Ih ni orang, aku udah usaha ngomong pake bahasa jerman, jawabnya gitu doang. Dasar ngeselin!” gerutu Kezia dengan kesal.
Angga tersenyum saat melirik Kezia yang tampak sedang mengupati dirinya.
Perjalanan menuju rumah sakit sangat hening. Hanya suara Kezia yang membuka-buka halaman bukunya, dengan bibir komat kamit berlatih melafalkan. Tidak ada kata-kata yang terucap.
Angga menutup matanya dan menyandar di bahu Kezia. Kezia menoleh Angga yang sudah memejamkan matanya. Kezia tak tega membangunkannya, akhirnya membiarkan Angga menjadikan bahunya sebagai bantal. Kezia terus belajar dan belajar. Hendra sesekali melihat keseriusan Kezia dari pantulan spion tengah mobil yang dikendarainya.
FYI: Mulai sekarang, mereka berbicara dengan bahasa Jerman ya…
****
Mobil yang dikendarai Hendra telah sampai di depan Gedung rumah sakit. Mereka masuk melalui pelayanan rawat jalan dan menuju ke bagian khusus Spesialis Onkology. Kezia membaca setiap tulisan yang tertulis di petunjuk arah rumah sakit. Persis orang desa yang baru pertama kali ke kota. Angga menyunggingkan senyumnya melihat tingkah Kezia.
Dari kejauhan dokter Albert menghampiri Angga dan mengajaknya langsung ke ruangan terapi. Angga mengajak Kezia untuk masuk dan menemaninya saat chemo. Walau sudah beberapa kali melakukan chemo dan Angga sudah hafal prosedur yang biasa di terimanya, dengan gamblang dokter Alfred tetap menjelaskan prosedur dan kondisi yang mungkin di alami angga saat chemo. Kezia menyalakan mode perekaman untuk merekam penjelasan dokter Albert. Tujuannya untuk dia belajar beberapa kondisi medis yang mungkin suatu saat akan dia temui di bangku kuliahan.
Di ruang perawatan
Angga mengangguk seraya tersenyum. Kezia mengambil beberapa lembar roti gandum dan selai buah serta semangkok buah kering untuk topping. Kezia mengolesi roti dengan selai dan memberinya topping. Setangkup roti tersebut di potong dengan ukuran untuk satu suapan. Kezia menggunakan garpu untuk menyuapi angga.
“Aku mau di suapin pake tangan aja…” rengek Angga.
Kezia segera menaruh garpu dan menyuapi Angga dengan tangannya.
Kepala angga terlihat berkeringat. Wajahnya sedikit pucat. Kezia menyentuh dahi angga dengan punggung tangannya. Tidak terasa demam.
“Apa kakak merasa tidak nyaman?” Tanya Kezia di sela suapannya.
Angga menggelengkan kepalanya , melanjutkan mengunyah makanan yang ada di mulutnya. Kezia dengan telaten menyuapi Angga. Selesai makan, Angga menyandarkan tubuhnya dan mulai menutup matanya. Kezia setia di sampingnya dengan buku kecil yang terus ia buka perhalaman.
Angga melirik Kezia yang sedari tadi di sampingnya. Begitu serius ia membaca setiap kata yang ada di buku catatannya. Angga tersenyum lalu mengelus kepala Kezia.
“Ada apa kak?” Kezia baru tersadar akan Angga yang terus memperhatikannya.
“Kamu belum makan apapun, pergilah keluar dan belilah beberapa makanan…” tutur angga dengan perlahan.
“Kalau aku keluar, nanti aku ketemu sama kuman-kuman, terus kalau aku masuk lagi, aku bawa kuman-kuman ke deket kakak. Itu gag sehat.” Sahut Kezia.
“Tapi kamu belum makan, saya khawatir kamu sakit schnucki…”
“Tenang aja kak, di sini banyak buah-buahan. Kalo aku laper, aku akan memakannya beberapa.” Terang Kezia dengan tenang.
“Baiklah…” Angga tidak mau berdebat lagi, karena badannya sangat lemas hingga mengiyakan saja apa yang Kezia katakan.
“Sebentar lagi selesai, kakak istirahat dulu…” tutup Kezia sambil melirik jam yang ada di ruangan perawatan Angga. Angga mengangguk mengiyakan.
****
__ADS_1
Tiga jam berlalu, Chemo terapi Angga sudah selesai dilakukan. Dokter Albert yang kini tengah memeriksa Angga, menyarankan agar Angga di rawat sehari di rumah sakit karena kondisi tubuhnya yang cukup lemah. Angga menyetujuinya dan meminta Hendra membawakan beberapa barang keperluan Angga dan Kezia.
Perawat yang merawat Angga mulai melepas beberapa alat yang terpasang di tubuh Angga. Ia melakukannya dengan sangat hati-hati. Selesai dengan tugasnya, ia segera meninggalkan Angga dan Kezia.
Angga tampak gelisah di atas tempat tidur. Beberapa kali ia berganti posisi dan Kezia menyadari itu.
“Kakak ada yang sakit? Biar aku panggilkan dokter…”
“Enggak key, saya hanya merasa tidak nyaman karena badan saya sangat lengket oleh keringat.”
“Apa kakak mau mandi? Biar ku panggilkan perawat…” tawar Kezia yang segera beranjak dari tempat duduknya.
“Gag perlu. Saya tidak mau sembarangan orang menyentuh tubuh saya.” Tolak angga.
“Ayolah kak, Aku tau kakak tampan dan di puja banyak wanita, tapi mereka akan melakukannya dengan professional.” Elak Kezia.
“Apa kamu sedang memuji saya?” Angga sengaja menggoda Kezia.
“Iya lah, aku tidak buta. Kakakku sangat tampan, wanita mana yang bisa menolak pesona kakak.” Sahut Kezia seraya tersenyum.
Angga membalasnya dengan jentikan jari di dahi Kezia.
“Lalu, kapan kamu akan menerima pesonaku?” lirih Angga dalam hati.
“Kamu aja yang bantu saya menyeka tubuh saya.” Angga kembali menggoda kezia.
“Hemm dasar manja! Baiklah, tunggu sebentar aku siapkan dulu air hangatnya.” Sahut Kezia tanpa berfikir panjang.
Kezia segera menuju kamar mandi dan menyiapkan air hangat untuk Angga. Tanpa Angga sangka, Kezia menyanggupinya. Dadanya berdebar kencang, membayangkan Kezia menyentuh setiap lekuk tubuhnya. Wajahnya bersemu merah.
Tak lama Kezia segera kembali dengan membawa air hangat dan waslap di dekatnya. Kezia mulai melepas pakaian atas Angga dengan perlahan. Pembawaannya sangat tenang. Terlihat tatanan roti sobek tergambar di dada dan perut angga. Sangat seksi, benar saja tidak mungkin ada wanita yang bisa tahan melihat pesona Angga, kecuali Kezia.
Kezia mulai mengelap tubuh Angga dengan lembut.
Darah Kezia berdesir. Ia teringat pelukan hangat Arland dan tubuh bidangnya.
“Apa dada dan perut arland juga seperti ini? Ya tuhan kenapa aku malah membayangkan yang tidak-tidak? Apa aku gadis mesum? Huft, sangat memalukan!” gumam Kezia dalam hatinya.
Angga melihat tatapan kosong Kezia. Angga tahu, tubuh Kezia memang di hadapannya tapi tidak dengan hati dan fikirannya.
“Cepatlah sedikit, nanti saya masuk angin!” ketus Angga yang mulai kesal melihat ekspresi Kezia.
“Hah? O iya maaf, sebentar aku keringkan.” Kezia tergagap karena Angga menyadarkannya dari lamunannya tentang Arland.
Kezia menghanduki Angga dengan lembut. Hal yang sama ia lakukan pada punggung Angga. Setelah itu, ia segera memakaikan baju yang baru untuk Angga.
“Minggu ini , mamah sama kak indira bakal dateng ke sini…” ujar Angga menghilangkan kecanggungan.
“Beneran kak? Wah aku akhirnya aku bakal ketemu sama tante dan kak Indira lagi. Apa om juga ikut?” ucap Kezia dengan semangat.
“Papah gag ikut, banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan.” Sahut Angga dengan tenang.
“Ooo…” Kezia membulatkan mulutnya. “Aku buang air ini dulu sebentar ya kak…” lanjut Kezia sambil membawa air dalam wadah ke kamar mandi.
Tanpa sengaja Kezia melihat orang-orang berjalan-jalan di taman rumah sakit yang terlihat dari jendela kamar Angga. Mereka tampak senang menikmati matahari sore.
“Kakak mau jalan-jalan gag?” tawar kezia dengan mata berbinar.
Angga menoleh ke arah Kezia, dilihatnya orang-orang yang berada di luar jendela. Angga mengangguk mengiyakan. Kezia segera mengambil kursi roda dan memapah Angga untuk duduk di sana. Angga sebenarnya bisa berjalan, tapi Kezia khawatir kalau Angga berjalan terlalu lama dan jauh akan membuatnya kelelahan.
Kezia mendorong Angga dengan perlahan menuju taman.
****
__ADS_1