
Kezia terpaku, menatap sendu wajah Arland di hadapannya. Arland menggenggam erat tangan Kezia lalu mengecup punggung tangannya dengan lembut.
“Aku sayang kamu key, gag pernah sedetikpun di pikiran aku buat selingkuhin kamu. Kamu satu-satunya yang ada di hati aku. Kalo kamu marah, marahlah, tapi jangan pernah acuhin aku apalagi ninggalin aku…” tutur Arland.
Kezia menyadari kesalahannya yang tidak mempercayai Arland. Kezia merasa saat ini ia belum benar-benar mengenal Arland. 11 tahun jarak memisahkan mereka, nyatanya tidak merubah sedikitpun perasaan Arland. Harusnya ia tidak sedangkal itu menilai kesetiaan Arland bukan?
Ia masih mengingat dengan jelas saat cinta pertamanya hadir saat pertama kali ia melihat Arland. Memperhatikan gerak geriknya menjadi candu tersendiri bagi kezia. Ia bisa begitu berbunga-bunga hanya karena mendengar suaranya atau hingga tak bisa terlelap hanya karena melihat senyumnya.
Begitu banyak kenangan yang di lewati Kezia bersama Arland. Tak pernah terpikirkan olehnya, hal itu akan membuat cintanya semakin kuat. Saat ia memutuskan pergi, ia berharap perasaannya bisa terkubur bersama waktu yang akan merubah segalanya, namun tak pernah ia sangka, bahwa perasaan itu bisa bertahan hingga saat ini meski begitu banyak peristiwa memilukan yang harus ia alami bersama Arland.
“Land…” suara Kezia terdengar parau
“Ya…” Arland masih asyik mengecupi tangan Kezia.
“Aku minta maaf karena aku sempet gag percaya sama kamu. Aku juga sempet bilang kamu brengsek dan nampar kamu. Apa masih sakit?” ujar Kezia seraya menyentuh pipi kiri Arland. Arland hanya menggelengkan kepala seraya tersenyum.
“Aku juga minta maaf, karena bikin kamu sedih. Tapi yang terpenting sekarang, kita udah sama-sama tahu kebenarannya. Jadi, apa kita bisa melanjutkan semuanya?” lirih Arland dengan tatapan lamannya.
Kezia mengangguk dengan segera. Arland memeluk Kezia dengan erat. Hari baru baginya telah di mulai. Kesempatan kesekian yang ia dapatkan untuk kembali bersama gadis yang dicintainya dan tidak akan pernah ia sia-siakan.
“Kruukk…” suara perut keroncongan Kezia hadir di saat yang tidak tepat. Kezia mengelus perutnya dengan perasaan bersalah karena merusak suasana.
“Kamu laper?”
Kezia mengangguk seraya tersipu. Arland hanya terkekeh. Ia menangkup sebelah wajah Kezia dengan tangan kanannya seraya mengusap pipi Kezia dengan lembut. Sungguh ia sangat menikmati setiap saat beradu pandang dengan Kezia dan menatap kedua bola matanya yang bulat dengan telaga bening yang menghanyutkan.
“Aku yang masak ya sebagai permintaan maaf…” tawar Kezia.
“Hemm..” sahut Arland seraya tersenyum.
Kezia segera beranjak dari duduknya, meninggalkan Arland yang masih menikmati romansanya. Kezia berjalan cepat menuju dapur. Ia mengambil beberapa bahan makanan seadanya dari kulkas.
Beberapa butir telur, slice daging dan sayuran mulai Kezia racik dengan cepat. Ia memilih menu yang sekiranya tidak terlalu rumit.
Arland mendekati kezia yang masih memakai kemejanya. Dengan keringat yang bercucuran dan rambut yang di ikat tinggi, membuat Kezia terlihat sangat seksi. Arland melingkarkan tangannya di pinggang Kezia dan mencium lehernya dengan lembut.
“Aku kan udah pernah bilang, jangan kasih liat leher kamu ke laki-laki…” bisik Arland.
“Land, aku lagi masak, jangan gangguin ah..” cetus Kezia menggeliat berusaha melepaskan pelukan Arland.
“Jangan gerak-gerak terus dong, aku kan cuma nemenin gag gangguin…” kilah Arland tanpa menghentikan aksinya.
“Tapi aku jadi susah gerak…” protes Kezia.
“Eemm kamu yaa, beneran pinter ngerusak suasana deh..” gemas Arland yang menggigit lembut telinga Kezia. Kezia hanya tergelak.
“Tapi kalo gag gitu nanti kamu keterusan…” timpal Kezia yang memelankan suarannya di akhir kalimat.
“Keterusan? Keterusan ngapain?”
Arland mematikan kompor yang masih menyala. Ia memutar tubuh Kezia menghadapnya dan terus mendekatinya hingga Kezia terpaksa mundur beberapa langkah. Langkah Kezia terhenti saat tak ada ruang lagi untuknya melangkah.
Arland menatap Kezia lekat-lekat dengan kedua tangan kokohnya yang mengunci Kezia di tembok. Jantung keduanya berdebar tak menentu. Wajah keduanya semakin dekat dan dekat lagi, Arland benar-benar mengikis jarak di antara mereka. Kezia memejamkan matanya dan terasa Arland mengecup bibir Kezia dengan lembut.
Kezia hanya terpaku dengan tangan mengepal karena gugup. Arland tersenyum melihat respon menggemaskan kekasihnya. Berikutnya Arland tidak hanya memberi kecupan lembut, tapi memberikan gigitan-gigitan kecil yang membuat Kezia terpaksa membuka mulutnya. Dan tanpa di duga, Kezia mengalungkan tangannya di leher Arland hingga Arland dengan leluasa mel*mat bibir Kezia. Keduanya terhanyut dalam sebuah gairah dan terdengar Kezia mendesah tanpa terkendali.
Untuk beberapa saat mereka menikmati ciuman panas yang membakar keduanya. Hingga harus terhenti saat Kezia menepuk dada Arland karena merasa kehabisan nafas. Mereka sama-sama mengambil udara dengan suara nafas menderu tanpa menjauh satu sama lain. Indahnya pagi ini bagi Kezia dan Arland yang masih terengah dengan wajah kemerahan.
****
Siang itu, Arland berrencana mengajak Kezia untuk melihat proyek. Ia menjemput Kezia ke rumah sakit namun karena Kezia belum selesai dengan pekerjaannya, Kezia meminta Arland untuk menunggunya di ruangan. Beberapa pasang mata memperhatikan Arland yang masuk ke ruangan Kezia dan di antaranya saling berbisik.
“Pacar dokter kezia sebenernya yang mana sih?” tanya seorang perawat dengan badan padat berisi.
“Gag tau, tapi dua-duanya cakep sih”
“Iya lah, dokter kezianya cantik.”
“Duhh andai aja gue jadi dokter kezia, gue pacarin deh dua-duanya…” cetus perawat yang satu dengan kepala mendongak mengkhayalkan saat ini berperan sebagai Kezia.
“Ah kamu, dokter kezia aja yang cantik gag serakah, kamu yang biasa-biasa aja malah mau keduanya. Nyadar dong…” ledek teman satunya yang diiringi gemuruh tawa cukup riuh.
“Hahaha namanya juga ngayal, bebas kali, mumpung masih gratis…”
“Uuhh ngareepp…” sahut perawat lainnya.
Kezia yang melintasi nurse station hanya tersenyum simpul mendengar candaan para perawat.
__ADS_1
“Siang dok…” sapa perawat yang satu mengingatkan teman-temannya kalau ada Kezia di belakang mereka. Kezia hanya membalasnya dengan senyuman dan anggukan.
Kezia segera menuju ruangannya. Terlihat Arland tengah duduk di sofa dan memainkan handphonenya.
“Udah lama?” tanya Kezia.
“Oh, belum sayang…” sahut Arland. “Udah selesai periksa pasiennya?” lanjutnya seraya berdiri hendak memeluk Kezia.
“Eit tunggu, aku ganti baju dulu…” Kezia menahan dada Arland yang sudah mendekat.
“Loh emang kenapa?”
“Aku kan habis dari ruang perawatan, bawa kuman. Masa kamu mau maen peluk aja…”
“Ouhhh iyaa… tapi mhiu, kamu seksi sih pake jas dokter gitu. Pasti banyak pasien yang godain.” cetus Arland yang memperlihatkan kecemburuannya.
“Mana ada pasien mikir godain dokternya, mereka mikirin penyakitnya aja udah ngabisin sebagian besar waktunya.” timpal Kezia.
“Emm iya sih… “ Arland mengangguk setuju.
“Makanya, jangan mikir mesum terus phiu…” ujar Kezia seraya berlalu ke kamar mandi.
“Mesum? Aku? Mesum apanya? Kalo ganteng sih iya..” gumam Arland menghibur dirinya sendiri.
Kezia hanya menggelengkan kepala mendengar sayup-sayup suara Arland. Ia segera mengganti pakaiannya lalu mencuci tangannya hingga bersih. Tak lama ia keluar dengan tampilan lain.
“Wuit!!!” Arland bersiul melihat Kezia yang baru keluar dari kamar mandi. Kezia hanya tersenyum geli. Ia segera mengambil tasnya, kemudian meninggalkan ruangan kerjanya bersama Arland.
“Nih, yang ini pacarnya. Dokter kezia tetep pilih produk dalam negri ternyata.” cetus perawat yang melihat Kezia bergandengan tangan dengan Arland.
“Duh, kasian ya abang bule. Padahal kalo dia suka sama produk kita, ade bersedia kok…” cetus perawat satunya yang dihujani sorakan oleh perawat lainnya.
****
“Siang pak arland, non kezia…” sapa kepala proyek saat melihat kedatangan Kezia dan Arland.
“Siang pak..” sahut Kezia
“Hem…” hanya itu sahutan Arland. Kezia melirik Arland yang memperlihatkan wajah datar dan dinginnya.
“Kamu kenapa sih manyun gitu?” bisik Kezia.
“Lah kamu kan emang udah berumur yang…” goda Kezia seraya terkekeh.
“Ish kamu yaa…” Arland mencubit gemas pipi Kezia. Tanpa mereka sadari kepala proyek melihat candaan mereka dan terlihat canggung.
“Mari non, saya tunjukkan bagian-bagian yang sudah selesai di bangun…” ajak kepala proyek.
Kezia mengikuti langkah kaki kepala proyek dengan Arland di sampingnya.
Pembangunan terlihat begitu cepat. Baru beberapa hari Kezia tidak datang melihatnya, sudah ada progress lain lagi yang semakin terlihat. Seluruh bangunan telah berdiri kokoh.
Sekitar 20% lagi, pembangunan rumah sakit akan selesai. Menurut kepala proyek yang biasanya lama adalah proses finishing, karena sangat menentukan hasil akhir dari detail bangunan. Untuk pencapaian saat ini, Kezia bisa memberi 4 jempol untuk proyek yang Arland pimpin.
Mereka berkeliling hingga ke bagian sanitasi dan rencana membuatan taman. Kezia kembali melihat rancang bangun yang di rencanakan, semuanya memang sudah sesuai dengan rencana awal.
Setelah puas berkeliling Kezia menjemput Sean bersama Arland. Di perjalanan ia membeli banyak makanan seperti biasanya karena ingin mengunjungi panti. Sean terlihat sangat antusias saat tau mimanya akan mengajaknya ke panti asuhan.
Sampai di panti asuhan, terlihat anak-anak sedang belajar di taman depan. Mereka menggunakan pohon yang rindang sebagai tempat berteduh. Dari kejauhan tampak Dena yang sedang mengajar bersama Fritz. Memang beberapa hari ini Fritz tidak menampakkan batang hidungnya dan rupanya ia sedang menghabiskan waktunya di panti.
“Mima, boleh sean ikutan ke sana?” tanya Sean dengan wajah senangnya.
“Tentu sayang, di sana ada onkle fritz juga, bergabunglah…”
Sean berlari menghampiri Fritz dan ikut bergabung. Dena yang melihat kedatangan Kezia pun segera menghampiri.
“Apa kabar key?” tanya Dena seraya memeluk sahabatnya.
“Baik na.. Lo gmna?”
“Sehat dong… Lo pa kabar land?” Dena mengalihkan pandangannya pada Arland.
“Baik!” sahut Arland singkat.
“Land, sory ya waktu itu gue udah maki-maki lo…” ujar Dena yang merasa bersalah.
“Gag pa-pa na, wajar kok lo marah.”
__ADS_1
“Iyaaa, tapi lain kali lo jangan bikin sahabat gue nangis lagi yaaa…”
“Pasti, gue janji.” tandas Arland seraya melingkarkan tangannya di pinggang Kezia.
“Jangan aneh-aneh deh, banyak anak kecil!” cetus Kezia seraya melepas tangan Arland.
Arland hanya pura-pura tidak mendengarnya.
“Makanya, buruan halalin, nanti keburu di ambil orang nyesel lo!” ledek Dena seraya terkekeh
“Parah lo ya do’anya…” ketus Arland.
Dena hanya terkekeh melihat ekspresi kesal Arland.
Suara dering handphone Kezia menghentikan tawa mereka. Kezia segera menjawab telpon yang masuk.
“Iya pengantin baru, ada apa?” goda Kezia pada Sherly.
“Key cepetan ke rumah sakit! Kania mau lahiran, udah bukaan 8.” cerocos Sherly tanpa jeda.
“Ya ampun, di rumah sakit mana sher?”
“Tempat lo kerja, baru masuk barusan.”
“Ya udah gue ke sana sekarang” timpal Kezia.
Kezia segera mengakhiri panggilannya.
“Ayo kita buruan ke rumah sakit, kania mau lahiran.” seru Kezia yang segera menarik tangan Dena.
Mereka bergegas menuju rumah sakit agar bisa menemani Kania melewati perjuangannya.
*****
Dari kejauhan terlihat lambaian tangan Ricko. Kezia dan sahabatnya segera berlari menghampiri.
“Gimana sher?” tanya Kezia dengan segera.
“Itu, kania teriak-teriak mulu. Bang Amar gag mau nemenin, katanya ngeri.” timpal Sherly seraya melirik Amar.
“Aduuhhh sakit!!! Bang Amarr, sherly kalian dimana sih!!” teriak Kania.
“Tuh kan!” unjuk Sherly.
“Ya terus lo kenapa gag masuk sher?”
“Gue juga ngeriii. Lo aja yang nemenin key, lo kan udah biasa liat darah.” tandas Sherly yang bergidik ngeri.
Kezia segera menghampiri Amar yang duduk di tempat tunggu dengan wajah pusat. Beberapa kali ia mengusap wajahnya dengan kasar. Terlihat raut panik di wajahnya.
“Bang, ayo ikut aku masuk temenin kania. Dia butuh kamu temenin…” ajak Kezia seraya menarik tangan Amar. Amar mengikut saja walau dengan langkah ragu.
“Gag usah pegangan tangan juga kali yang…” dengus Arland yang hanya di balas kerlingan mata oleh Kezia.
“Cemburuan banget lo!” senggol Ricko.
“Gue tau ko, bang amar pernah naksir cewek gue.” Kilah Arland dengan tidak rela.
“Itu dulu kali, masih aja lo inget-inget.” keluh Ricko. Arland hanya mendengus kesal.
“Calon laki posesif nih!” cetus Dena dengan ringan.
Arland hanya menghembuskan nafasnya dengan kesal.
Dengan langkah takut akhirnya Amar masuk ke ruang persalinan. Disana terlihat Kania yang sedang meringis menahan sakit di perutnya. Amar mendekati Kania dengan perasaan was-was.
“Kamu kemana aja sih?! Bukannya temenin aku. Kamu tau gag ini tuh sakit! Doyan bikinnya doang!” gerutu Kania seraya mengusap perutnya. Kania terlihat berantakan dengan ikatan rambut yang sudah tidak jelas dan keringat yang bercucuran.
“Hahahha, rasain tuh!” cetus Sherly yang mendengar teriakan Kania dari luar ruangan.
“Yang, kamu gitu sih, nanti juga kamu ngalamin loh…” Ricko menatap tajam Sherly.
“Aku bukan ngetawain kania yang, tapi gemes sama bang amar, dari tadi di suruh masuk gag mau. Ujung-ujungnya di omelin preman kan!” terang Sherly. Ricko hanya tersenyum seraya mengusap kepala Sherly dengan gemas.
Semua menunggu proses yang terjadi di dalam. Beberapa kali terdengar teriakan Kania yang menggelegar sekaligus menegangkan. Semua terdiam dalam pikiran masing-masing.
Seketika terdengar tangis bayi yang memekakan telinga, begitu nyaring dan mengisi semua sudut di ruangan rumah sakit.
__ADS_1
“Alhamdulillah……” seru mereka bersamaan.
****