
Selesai memeriksa pasien, Kezia kembali ke ruangannya. Ia kembali mempelajari kondisi masing-masing pasiennya. Ia mengetuk-etuk meja yang ada di hadapannya dengan ballpoint sementara pikirannya seolah menelusuk aliran darah di tubuh pasien.
“Apa kau sangat lelah?” sapa Fritz yang memperhatikan Kezia dari pintu ruangannya.
“Hay fritz.. kemarilah...” sahut Kezia. Fritz berjalan mendekati Kezia.
“Kita makan siang dulu, ada menu enak di dekat sini.”
“Aku cuma bawa baju ganti 1. Makan di kantin rumah sakit aja ya...”
“Heemmm baiklah tuan putri. Mari..” sahut Fritz seraya mengulurkan tangannya pada Kezia. Kezia membalasnya dengan senyuman membuat Fritz menatap tangannya sendiri. Ia lupa kalau Kezia memang tidak seperti para gadis yang mudah ia jamah.
Kezia menggantung jasnya dengan rapi, lalu berjalan beriringan dengan Fritz. Dari kejauhan terlihat dokter Albert tersenyum senang. Entah apa yang ada di pikirannya.
“Aku dengar, kamu akan menikah?” tanya Fritz. Kezia mengangguk. “Apa kamu mencintainya?” lanjut Fritz.
“Menurutmu?” sahut Kezia seraya tersenyum.
“Ah sial, harusnya aku tidak menanyakannya. Malah jadi tambah sakit hati.” dengus Fritz seraya mengenyuh dadanya dramatis.
“Kamu pun kelak bisa menemukan wanita yang sangat mencintaimu.” hibur Kezia.
“Tapi sayangnya, keburu ada kamu di sini.” sahut Fritz dengan senyum pilunya.
Kezia hanya terdiam. Memang sudah beberapa kali Fritz mengungkapkan perasaannya pada Kezia baik secara serius atau pun lewat candaan.
“Aku merasa sangat nyaman saat kamu disisiku sebagai sahabatku.” dan jawaban itu yang selalu menjadi jawaban absolut Kezia untuk Fritz dan tentu saja Fritz tidak pernah bisa mendebatnya.
****
“Mamah...” seru Kezia saat melihat Eliana sudah menunggunya di rumah. Ia memeluk Eliana dengan sangat erat. “Mah, zia kangen sama mamah, kangen bangeett...” lirih Kezia.
“Iya sayang, mamah juga kangen kamu...” sahut Eliana. Eliana melepaskan pelukannya lalu memperhatikan Kezia dengan seksama. “Bagaimana bisa bayi mamah tumbuh secepat ini?” lanjut Eliana sambil terisak.
“Ayolah maahh, aku bukan anak kecil lagiii...” protes Kezia sambil mengerucutkan bibirnya. “Papah apa kabar??” di peluknya laki-laki gagah yang berdiri di samping Eliana.
“Baik sayang, ..” Martin memeluk Kezia dengan hangat.
“Gimana hari pertamamu? Apa menyenangkan?” tanya Eliana
“Sangat menyenangkan mah...” seru kezia dengan ceria. “Mah, zia mandi dulu yaa gag enak banget bawa kuman dari rumah sakit.” tukas Kezia.
“Ya sayang, pergilah bersih-bersih.” tutup Eliana.
Kezia segera menuju kamarnya. Ia melepaskan baju yang membalut tubuhnya dengan segera dan masuk ke kamar mandi. Butiran air mulai menghujani tubuh Kezia, terasa begitu segar. Setelah tubuhnya terasa cukup bersih, Kezia memakai handuk sebatas dadanya dan rambut basahnya masih meneteskan air. Ia segera mengeringkan tubuh dan rambutnya. Dikenakannya pakaian santai. Setelah merasa rapi Kezia segera keluar kamar menghampiri keluarganya.
“Hay!” sapa Angga
“Astaga! Kakak ngagetin aja...” sahut Kezia yang refleks memegangi dadanya. Angga tertawa senang melihat ekpresi Kezia. “Ngapain kakak di sini?” Angga sedari tadi berdiri bersandar pada dinding di samping pintu kamar Kezia. Ia tidak sabar untuk beremu gadisnya yang lebih dari 8 jam tidak dilihatnya.
“Aku nunggu kamu lah... Pantesan lama banget, hasilnya secantik ini.” tutur Angga yang mencium aroma wangi dari tubuh dan rambut Kezia.
__ADS_1
“Udah deh, jangan gombal. Yuk kita samperin orangtua kita.”
“Heemm baiklah...” pasrah Angga.
Saat itu kedua orangtua Angga dan Kezia serta Indira dan Sean sedang berbincang di ruang keluarga. Mereka tampak lebih akrab.
“Pak martin jangan panggil saya tuan besar, kita kan akan jadi besan. Panggil saja saya mahesa...” tutur Mahesa dengan dikuti tawa renyah. Martin menimpali tawanya.
“Nah, ini calon pengantinnya udah dateng. Emang ya calon pengantin ini beda auranya.” Goda Indira.
“Kak indiraaa...” Kezia tersipu mendengar ujaran Indira.
Mereka mulai membicarakan rencana pernikahan Kezia dan Angga. Karena di laksanakan di Jerman, rencananya mereka hanya akan mengundang orang terdekat saja. Tradisi yang digunakan pun adalah tradisi di tanah kelahiran mereka. Kedua orang tua mempelai terlihat sangat antusias membahas pernikahan ini.
“Jadi tanggal berapa pelaksanaannya, supaya kita bisa mendaftarkan pernikahan mereka segera.” tanya indira.
“Bagaimana kalau minggu depan. Di hari minggu. Jadi keluarga bisa datang.” Saran Anna.
“Loh kita kan hanya mengundang keluarga dekat, 3 hari kedepan pun pernikahan bisa dilaksanankan.” Sahut Mahesa.
“Pah kita kan harus menyiapkan segala sesuatunya. 3 hari tidak akan cukup untuk menyiapkan perintilan pernikahan. Belum milih baju pengantin dan lain-lainnya...” saran Indira. Para orang tua terlihat mulai berfikir.
“Baiklah, 5 hari lagi kalau gitu. Hari minggu yaa.. gimana besan setuju?” tanya Mahesa pada Martin.
“Iya saya setuju. Saya rasa waktu 5 hari cukup untuk mempersiapkan pernikahan.” Sahut Martin.
“Ahhh syukurlah... Akhirnya kita akan segera menjadi besan dan sama-sama punya cucu..” seru Mahesa sambil memeluk Martin dengan erat. Begitu pun Eliana dan Anna, mereka saling berangkulan.
“Tuh, dengerin tuh. Kalian harus kebut, cepet-cepet ngasih cucu!” ledek Indira.
Angga menatap Kezia dengan bahagia. Kezia pun membalas pandangan Angga dengan hangat.
****
Waktu terasa begitu cepat. Mereka sangat sibuk menyiapkan pernikahan Angga dan Kezia. Indira merancang pernikahan Angga dan Kezia dengan baik. Walau hanya akad dan pesta Kecil dengan keluarga dekat saja, Indira benar-benar memikirkan hingga ke hal detail. Pernikahan Angga dan Kezia adalah salah satu kebahagiaan terbesar Indira. Sementara itu, Kezia masih tetap melakukan pekerjaannya di rumah sakit. Ia hanya meminta cuti 2 hari saja.
Malam semakin larut. Malam ini Kezia ingin tidur dengan Eliana. Mereka menghabiskan waktu dengan berbincang. Kezia berbaring dengan kepala berada di pangkuan Eliana.
“Sayang, apa kamu bahagia nak?” tanya Eliana seraya mengusap lembut rambut tebal Kezia.
“Zia bahagia mah, saat melihat semua orang yang zia sayang pun bahagia.” jawab Kezia dengan tatapan lurus ke langit-langit kamarnya.
“Apa kamu mencintai nak angga?” lirih Eliana.
Kezia bangkit dari baringannya. Ia duduk berhadapan dengan Eliana.
“Kak angga laki-laki yang baik, tidak sulit untuk mencintai kak angga.” sunggut Kezia.
“Sayang, mamah hanya meminta, jangan pernah menghianati perasaan orang yang menyayangimu, apalagi membohongi perasaanmu sendiri.” Lanjut Eliana.
__ADS_1
“Apa mamah tau, saat kak angga sedih, zia merasa kalau hati zia juga sedih. Saat dia terluka, zia pun merasakan sakitnya. Zia gag tau, apa ini cinta atau bukan. Yang zia tau, zia harus berusaha membahagiakan dia di sisa hidupnya...” tutur kezia dengan senyum tersungging.
Eliana menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Berbahagialah nak, do’a mamah selalu untuk zia.” tukas Eliana seraya mengecup kening putri kesayangannya.
“Makasih mah... zia sayang mamah...”
Dipeluknya Eliana dengan erat. Pelukan yang selalu Kezia rindukan setiap malam selama bertahun-tahun. Rasanya ia tidak ingin waktu berlalu dengan cepat.
****
Siang itu Angga mengajak Kezia untuk melakukan fitting baju pengantin. Angga menjemputnya sebelum makan siang. Kezia terlebih dahulu meminta izin pada dokter Albert dan ia mengizinkan. Setelah berganti pakaian ia segera menghampiri Angga yang menunggunya di tempat parkir.
“Hay kak, sory ya nunggu lama...” tutur Kezia yang segera duduk di samping Angga.
“Ga papa, kamu udah siap?”
“Sudah...” sahut Kezia setelah melingkarkan seat belt di tubuhnya.
Dengan sedan mewahnya mereka keluar dari area rumah sakit. Angga membawa Kezia ke sebuah butik yang sudah di pilih oleh Indira. Butik ini adalah langganan Indira dan Anna saat berada di jerman. Mereka sudah membuat janji untuk bertemu.
Sesampainya di butik, Mrs Marlyn pemilik butik segera menyambut kedatangan Kezia dan Angga.
“Wah, calon pengantinnya sangat cantik..” puji Mrs Marlyn.
“Terima kasih mrs marlyn...” sahut Kezia.
“Baiklah, silakan untuk mencoba terlebih dahulu baju yang kami buatkan. Ini kami buat sesuai permintaan mrs Indira, Simple elegan. Setelah saya lihat calon pengantinnya, sepertinya akan sangat cocok.” terang Mrs Marlyn dengan sumeringah.
Kezia mengambil 2 gaun yang disodorkan oleh Mrs Marlyn dan segera mencobanya. Sekitar 5 menit Kezia mencoba gaunnya. Angga menunggunya di tempat tunggu setelah mencoba jas pengantinnya. Dengan langkah perlahan Kezia menghampiri Angga.
Angga begitu tercengang melihat Kezia di hadapannya. Ia terlihat anggun dengan gaun berwarna putih hasil karya Mrs Marlyn. Gaunnya tidak terlalu panjang dan berekor, lehernya berbentuk V neck, memperlihatkan leher Kezia yang jenjang. Bagian dada dan bahunya di tutupi kain brukat tipis dengan jahitan halus sepanjang tangannya. Mrs Marlyn pun terlihat begitu senang. Mahakaryanya sangat cocok dipakai oleh Kezia.
“Apa aku terlihat cocok kak?” tanya Kezia sambil sedikit berputar di hadapan Angga. Mata Angga masih membelalak melihat maha karya tuhan yang begitu indah. “Kak angga...” Kezia mengibas-ibaskan tangannya di depan Angga.
“Ah iya Schnucki?” Angga tergagap.
“Aku gag cocok ya pake gaun ini?” terka Kezia dengan wajah sendu.
“Bukan, bukan seperti itu... Emm ini , anu,, bisakah kita menikah malam ini?” tanya Angga yang sangat salah tingkah.
“Isshh kak angga ngomong apa sih? Lusa kak, bukan malam ini.” Kilah kezia sambil mencubit lembut pipi Angga.
“Ahh aku benar-benar tidak sabar!” dengus Angga.
Mrs Marlyn terkekeh-kekeh melihat Angga dan Kezia membuatnya mengingat kembali kenangannya saat akan menikah dengan suaminya dulu.
“Kakak juga sangat tampan dengan jas pengantin itu.” cetus Kezia yang membuat Angga tersipu. “Ya udah aku ganti dulu yaaa...” pamit Kezia.
Angga mengangguk mengiyakan. Ia masih memandangi punggung Kezia yang semakin menjauh.
__ADS_1
"Tuhanm engkau begitu baik mengabulkan do'aku untuk memilikinya di sisa umurku. Tapi aku lupa tidak meminta waktu yang lebih lama untuk bisa bersamanya. Jika aku memintanya saat ini, apa aku sangat serakah?" batin Angga seraya mengusap air mata yang menetes tanpa permisi.
****