
Di lapangan basket
Arland mendribling bolanya beberapa kali kemudian melemparnya ke keranjang. Namun bola membentur pinggiran keranjang dan terlempar jauh. Diambilnya kembali bola tersebut dan mengulang driblle bola dan melemparnya, kali ini lemparannya mengenai tiang dan berbalik memantul kearahnya. Arland menangkap bola tersebut lalu melemparnya dengan keras.
"SHIITTT!!!” dengus Arland dengan kesal.
Arland berjalan ke pinggir lapangan dan terduduk di sana dengan kaki diselonjorkan. Kedua tangannya menopang
tubuh atletisnya. Wajahnya menengadah melihat langit biru yang terasa begitu menyilaukan. Ditutupnya kedua matanya sambil bernafas dengan kasar. Tubuh dan pikirannya terasa begitu lelah.
"Lo gag bisa terus kayak gini land.” Seru Ricko yang berjalan ke arah Arland.
Disodorkannya sebotol air mineral pada Arland. Arland menegakkan posisi duduknya lalu mengambil botol yang diserahkan Ricko.
"Kenapa lo gag coba hubungin dia lagi…” tutur Ricko sambil duduk di samping Arland dengan kedua kaki di tekuk.
"Gag tau berapa kali gue hubungin dia, gag ada yang dia jawab!” lirih Arland sambil meneguk air mineral di tangannya. “ Pesan dari gue, gag ada yang dia baca.” Lanjut Arland sambil melempar Botol minum yang telah habis dia tenggak. Perasaannya benar-benar kacau. Hanya dalam beberapa jam Kezia terasa berubah menjadi sosok yang tidak bisa di kenalinya.
Ricko merasakan kegundahan yang dirasakan sahabatnya. Baru kali ini Ricko melihat Arland bersikap seperti ini.
"Coba nanti sore lo hubungin lagi, ato lo langsung samperin dia.. Lo jangan nyerah Bro!” seru Ricko sambil menepuk bahu Arland.
Arland hanya menoleh lalu mengacak-acak rambutnya yang klimis dengan frustasi. entahlah apa Kezia akan memberinya kesempatan untuk berbicara atau kembali menghindar dan tidak menanggapinya.
*****
Tepat pukul 1 siang, rombongan siswa tiba di sebuah hotel bintang lima tempat dilaksanakannya olympiade. Mereka turun dari bis dan membawa barang bawaan masing-masing. Sesampainya di loby, panitia memberikan kunci kamar pada masing-masing peserta.
"Key, makan siang dulu yuk…” ajak Tyo. Kezia mengangguk sebagai respon.
Mereka berjalan beriringan menuju resto. Walau jam makan siang hampir lewat, resto masih penuh dengan peserta olympiade dari sekolah lain. Mereka duduk di kursi dengan meja bundar di depannya. Masing-masing menikmati makan siangnya dengan lahap. Dari kejauhan tampak beberapa pria memakai jas lengkap dan rapi meninggalkan resto menuju lift. Kezia mengabaikan penglihatannya dan kembali memilih menu yang akan disantapnya.
"Kayaknya ini enak deh.. Kamu mau key?” tawar Tyo sambil mengambil semangkuk kecil sup sayuran.
"Emmm aku coba menu yang lain kak..” Kezia berusaha menolak.
Diambilnya beberapa menu dan di tata di atas piring yang dipegangnya. Kezia dan Tyo berjalan menuju meja yang
di tunjuk Tyo. Sesekali Kezia menoleh ke belakang. Rasanya ada seseorang yang sedang memperhatikannya. Namun sejauh mata memandang tidak ada sepasang mata pun yang melihat ke arahnya membuat Kezia bergidik ngeri.
Tyo menarikan kursi untuk Kezia duduk dan menempatinya setelah mengucapkan terima kasih.
"Aku kok udah mulai gugup ya, ngeliat saingan-saingan kita.” Cetus Tyo sambil tersenyum.
"Santai kak, kita kan baru mulai besok pagi, jadi nanti malam masih ada waktu buat belajar.” Tutur Kezia berusaha menyemangati teman seperjuangannya. Tyo mengangguk setuju.
"Ayolah key, jangan tersenyum seperti itu. Kamu buat aku tambah grogi…” lirih Tyo dalam hati. Sesekali Tyo melirik Kezia yang sedang lahap menikmati makan siangnya. ada di dekat Kezia kerap membuat perasaannya nyaman dan tenang.
****
"Hay key! Kita sekamar ternyata…” seru Rana yang sudah duduk di atas tempat tidurnya.
"Hehe iya kak…” sahut Kezia seraya menaruh tas ranselnya di dekat lemari. Sepatu cats nya di taruh di atas rak yang berada persis di sebelah kamar mandi. Kamarnya lumayan luas dengan twin bed.
"Aku sebelah sini, gag pa-pa kan? Soalnya aku takut kalo tidur menghadap jendela kaca, suka horror..” tutur Rana sambil bergidik.
__ADS_1
"Ih kak rana, nakutin aja..” jawab Kezia sambil menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur.
Rana hanya terkekeh mendengar jawaban Kezia.
Rana adalah teman sekelas Tyo. Dalam olimpiade sekarang Rana mengambil biologi sebagai cabang perlombaan yang diikutinya.
Rana bangkit dari duduknya, diambilnya handuk yang ada di lemari Hotel.
"Aku mandi duluan ya key…”
"Iya kak, aku mau tiduran dulu aja..”
Rana pun berlalu dan bayangannya menghilang di balik pintu kamar mandi. Kezia merogoh ponsel yang ada di sakunya. Ada 8 panggilan tak terjawab dari Arland. Sejenak Kezia terpaku, mengingat kejadian kemarin saat bertemu Arland. Wajahnya terlihat begitu kesal, tapi Kezia tetap pura-pura tidak memperdulikannya. Sakit memang, pura-pura tidak peduli pada orang yang kita sayangi. Sudut hatinya merasakan kegetiran, namun ia tak punya kuasa untuk merubah pilihannya.
Kezia mencari nomor handphone Kania dan mulai menghubunginya.
"Halo key…” jawab Kania dengan suara berat.
"Ka, gimana kabar lo?” tanya Kezia dengan segera
"Gue baik-baik aja. Papih juga udah siuman tadi pagi.”
"Syukurlah… Gimana hasil pemeriksaan dokternya?”
"Kalo kondisinya stabil, besok papih operasi buat pemasangan ring jantung.” Jawab Kania yang terdengar lemas.
"Sabar ya ka, lo harus tenang. Saat ini om irwan butuh lo, gue yakin lo bisa ngehadapin semuanya dengan kuat.”
"Makasih key.. Walopun lo jauh, gue selalu ngerasa lo ada di samping gue.” Kania terisak. Ia memang sangat membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekatnya.
Selama di perjalanan Kezia terus mencari info terbaru mengenai kondisi perusahaan milik orang tua kedua sahabatnya. Dari beberapa berita menyebutkan bahwa kondisi perusahaan mulai membaik dan pihak perusahaan mengkonfirmasi bahwa mereka tengah mengadakan rapat dengan para investor yang kembali bergabung.
Kezia menghela nafasnya dalam, ada sedikit kelegaan mendapati semuanya mulai membaik. "Makasih ren, lo udah penuhin janji lo..” batin Kezia. Ia merasa langkah yang di ambilnya tidaklah sia-sia. Semuanya berangsur normal, walau tidak bisa seperti sediakala.
"Key, lo udah nyampe mana sekarang? Perjalanannya lancar kan?” tanya Kania membuyarkan lamunannya.
"Emm, gue baru nyampe kamar. Mungkin istirahat dulu baru nanti ngulang lagi beberapa yang masih gue ragu…” terang Kezia dengan semangat.
"Goodluck ya key, semoga lo sukses!”
"Thanks ka…”
Kezia mengakhiri panggilan telponnya. Pikirannya kembali berlarian di ruang kepalanya. Bayangan kedua orang tuanya, Arland, dan ketiga sahabatnya, semua datang silih berganti. Hingga tanpa terasa air mata meleleh di pipinya. Ada rasa sesak yang tidak bisa diceritakan, ketika semua terasa begitu penting untuk Kezia, maka hatinya yang harus mengalah.
****
"Keyy, ada tamu di depan, cepetan yaaa…” seru Rana pada Kezia yang masih membersihkan diri.
"Ya kak…” seru Kezia dari dalam kamar mandi.
Memang sudah cukup lama Kezia berada di kamar mandi. Tubuhnya terasa begitu lelah, sehingga mandi dengan air hangat di rasa dapat membuat tubuhnya lebih rileks. Dia berendam di bath tube yang di isi dengan sabun dan aromaterapi. Matanya terpejam dengan pikiran yang coba ia kosongkan.
"Fokus key, selesaikan yang ada di hadapanmu..” gumam Kezia menyemangati dirinya sendiri.
Kezia bangkit berdiri lalu berjalan menuju shower dan membasuh tubuhnya. Badannya terasa lebih segar. Kezia
__ADS_1
membalut tubuhnya dengan handuk. Rambut panjangnya digulung hingga tidak terlihat tertutupi handuk. Kezia membuka pintu kamar mandi lalu menutup kembali pintunya dengan perlahan.
Matanya mengelilingi sekitar kamar, sepertinya Rana sudah tidak terlihat di sana. Mungkin dia sudah lebih dahulu keluar. Kezia mengambil celana kulot berwarna navy dengan atasan kaos polos berwarna putih. Dipakainya sepatu cats berwarna putih dan rambut panjangnya ia sisir dan dibiarkan tergerai. Kezia mengambil ponsel dan memasukkannya ke saku celana. Selepas itu ia bergegas keluar kamarnya.
Saat pintu terbuka, tampak Tyo sedang berdiri di hadapannya sambil bersandar ke dinding dan memainkan benda persegi di tangannya.
"Hay kak!” sapa Kezia yang membuatnya terkejut.
Rupanya tamu yang dimaksud Rana adalah Tyo.
"Malem key…” jawab Tyo yang terpesona dengan gadis di hadapannya. "Di luar ada taman yang bagus, kamu mau belajar di sana?”
"Boleh! Aku ambil buku bentar..” seru Kezia. Diambilnya buku karangan Ryanggara P Wibawa lalu bergegas keluar kamar menemui Tyo.
Kezia dan Tyo berjalan menuju taman yang berada di lantai 6 hotel tersebut.
"Waahh… Bagus bangeett viewnya.” seru Kezia yang terpukau melihat keindahan yang terpampang di depannya.
Dari lantai 6 tersebut, ada sebuah taman dengan kolam renang di sampingnya. Di bawahnya gemerlap lampu dari kendaraan yang hilir mudik dan bangunan-bangunan di bawahnya. Semua tampak berkerlipan saling menyapa. Semilir angin menerpa rambutnya yang basah terurai. Hawanya begitu sejuk, membuatnya bisa menghirup nafas dalam-dalam untuk mengisi rongga paru-parunya.
Laki-laki yang berdiri disampingnya tak kalah terpukau, ia memandangi wajah gadis cantik dengan senyum manisnya yang mampu meluluhkan siapapun yang memandangnya.
"Cekrek!” kilatan cahaya dari kamera Tyo menyadarkan Kezia dari pesona kota dihadapannya.
"Kak tyo iseng deh, hapus ah!” tutur Kezia yang sadar Tyo tengah mengambil fotonya. Ia mendekat hendak merebut handphone yang Tyo genggam.
Tyo hanya tersenyum dan segera menyembunyikan handphonenya di balik badannya.
"Kak…” rengek Kezia yang tanpa sadar melingkarkan tangannya di tubuh Tyo. Tatapan mereka bertemu. Tyo memalingkan wajahnya yang ingin menyembunyikan rona merah di pipinya. Kezia yang mulai tersadar segera mengembalikan posisi tubuhnya lalu menjauh dari Tyo.
"Hapus gag?” tanya Kezia sambil bersidekap tanpa memandang Tyo.
"Iya aku hapus. Udah gag ada kan?” seru Tyo sambil memperlihatkan layar handphonenya.
"Ya udah, yuk mulai belajar.” Ajak Kezia menghilangkan kecanggungan.
Kezia duduk di salah satu kursi dengan lampu taman yang cukup terang di sampingnya. Diangkatnya kedua kakinya ke atas kursi dan menjadikan bantalan bukunya.
Suasana mulai hening. Kezia tenggelam dalam rumus-rumus yang berputar di dalam pikirannya. Sementara Tyo tenggelam dalam lamunannya tentang Kezia yang ada di sampingnya.
"Aku ngambil minum dulu.” Seru Tyo sambil berlalu pergi. Kezia hanya mengangguk mengiyakan.
Di kejauhan Tyo bersandar di dinding salah satu kamar hotel. Tangannya menyentuh dada kirinya yang berdegub tak terkendali. Berkali-kali Tyo melakukan inhale dan exhale. Di teguknya air mineral yang ada di tangannya. Tyo tidak berani kembali ke samping Kezia sebelum ia mampu menguasai dirinya sendiri.
"Aku bisa apa dengan perasaan ini, selain menyimpannya diam-diam...” lirih Tyo dengan mata terpejam. Dalam pikirannya masih muncul wajah Kezia dengan kedua bola mata bulatnya.
Sementara itu, Kezia tak menyadari apa yang difikirkan Tyo. Angin menerpa tubuhnya perlahan dan hawa dingin mulai menelusuk. Kezia menggosok-gosok kedua belah tangannya berulang. Sesekali ia menoleh ke belakang. Sejak kedatangannya ke hotel, Kezia selalu merasa ada yang memperhatikannya dari kejauhan. Tapi tidak ada siapapun yang terlihat. Pikirannya mulai terisi halusinasi menakutkan. Kezia menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha mengusir pikiran aneh dari otaknya.
****
Annyeeooong.... Gimana kabarnya reader sekaliaaann?
Sehat selalu yaaa...
Terima kasih untuk yang masih setia baca. Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komen dan tambahkan sebagai favorit yaaa.. Terima kasih, stay healthy...
__ADS_1