
Selesai kelas, Kezia segera menuju Carolinum. Dengan tergesa-gesa fritz mengikutinya dari belakang.
“Kamu mau kemana?” jegal Fritz
“Carolinum..” sahut Kezia.
“Mau apa?” Fritz mengernyitkan dahinya. Kezia hanya mengacungkan brosur yang sedari tadi di simpannya.
“Kamu mau berpartisipasi?”
“Hem…”
Kezia segera mengambil sepedanya dan menungganginya. Pun Fritz melakukan hal yang sama.
“Selamat siang mrs carollin,,,” sapa Kezia pada wanita yang sedang ayik membaca.
“Yaa nonaa….”
“Kezia…” Kezia mengingatkan Carolin pada namanya.
“Ya Kezia… ada apa menemuiku?”
“Ini mrs carolin, saya mau bertanya tentang kegiatan ini…” Kezia menyodorkan brosur yang ada di tangannya.
“Apa kau berminat?” tanya Carolin kemudian. Kezia mengangguk. “Apa kamu juga ikut gabung fritz?” Carolin tersenyum pada Fritz.
Kezia menoleh Fritz yang berdiri mematung di pintu ruangan Carolin. Bukannya menjawab, Fritz malah memalingkan wajahnya. “Hemm baiklah… jadi hanya kezia yang berminat. Kegiatan ini memang sering kami adakan 4 kali dalam setahun. Kalo kamu mau ikutan, buatlah 2 artikel sesuai tema yang di tentukan. Kalau tulisanmu bagus, kamu bisa ikut seminar secara gratis sekaligus mendapatkan hadiah. Artikelnya kamu upload di data kemahasiswaanmu, untuk menambah point prestasimu.” terang Carolin. Kezia mengangguk paham.
“Baik, saya akan mempersiapkannya segera.” Sahut Kezia yang mulai bisa memperkirakan artikel apa yang akan ia tulis.
“Iya… semoga beruntung…” sahut Carolin.
Kezia segera pergi meninggalkan ruangan Carolin. Raut wajah Fritz masih terlihat kesal.
“Kenapa wajahmu seperti itu? Apa kamu pernah di hukum mrs carollin, sepertinya kamu tidak menyukainya.” Cerocos Kezia.
“Memangnya akan ada orang yang menyukai dia?” ketus Fritz.
“Aku menyukainya. Juga menghormatinya. Dia wanita yang baik, cerdas dan sangat lembut.”
“Jangan terlalu cepat menilai apalagi menyimpulkan kalau kamu menyukai dan menghormatinya.” Protes Fritz.
“Loh apa salahnya? Dia lebih tua dariku. Seperti apapun dia, ya aku harus menghormatinya.”
“Sudahlah! Aku tidak suka kamu membicarakan wanita itu!” gertak Fritz.
Kezia segera mengunci mulutnya rapat-rapat. Fritz pergi mendahului Kezia tanpa pamit sedikitpun. Wajahnya benar-benar terlihat kesal.
“Anak itu kenapa? Gag suka sama carolin ya silakan, tapi kenapa marah sama aku…” dengus Kezia.
****
“Kamu dimana? Aku sudah menunggumu di kantin”_Kak Angga.
Kezia tidak membalas pesan yang dikirim Angga karena ia sudah tiba di pintu masuk kantin kampusnya. Kezia melihat Angga dari kejauhan. Dihadapannya duduk seorang wanita berambut pirang sedang berbicara dengan Angga tapi sepertinya Angga tidak terlalu tertarik dengan lawan bicaranya. Melihat kedatangan Kezia, Angga segera melambaikan tangan.
“Schnucki lama sekali, aku hampir mati kepalaran…” tutur Angga sambil mengusap kepala Kezia. wanita tersebut memandang Kezia dengan tatapan kesal.
__ADS_1
“Kenapa gag makan duluan aja, nanti kamu kurus nyalahin kamu.” sahut Kezia.
“Gimana bisa aku makan gag di temani kamu.” tukas Angga. Kezia mengernyitkan dahinya, rasanya Angga begitu berlebihan padahal di hadapannya ada wanita cantik yang menemaninya.
“Kak angga kenapa lebay banget sih? Berani kayak gini depan orang lagi” gumam Kezia.
“EHM!” wanita berambut pirang berdehem. Kezia segera tersadar.
“Ini temen kakak?” tanya Kezia.
“Hay, saya cellina, teman dekat ryan…” ucap wanita itu sambil mengulurkan tangannya pada Kezia. Tatapannya terlihat angkuh.
“Hay aku kezia…” sambut Kezia seraya tersenyum. “Ayo makan siang bareng kami kak…” ajak Kezia saat melihat Angga dan Cellina belum memesan apapun.
“Dia sudah mau pergi. Kita makan berdua saja.” Angga mengangkat tangannya ke arah pelayan kantin.
“Baiklah aku permisi." sepertinya Cellina sadar kalau kehadirannya tidak di harapkan. "Ryan, nomorku masih sama kalo kamu mau menghubungiku.” tutur Cellina sambil mengerlingkan matanya pada Kezia. Sangat menakutkan.
Cellina pergi meninggalkan Kezia dan Angga. Pelayanpun datang dan memberikan buku menu.
“Sudah lama kau tidak datang ke sini. Aku kira kau anak baru sampai memanggilku ke sini. Mau makan apa?” tanya pelayan kantin yang terlihat akrab dengan Angga.
Alasan angga sebenarnya memanggil George (nama pelayan kantin) adalah sebagai isyarat agar Cellina segera pergi.
“Aku akan pergi ke sana dan melihatnya.” sahut Angga sambil menepuk bahu George. George pun berlalu. “Kamu mau makan apa? Ayo kita pilih di sana…” ajak Angga.
“Kak angga aja yang pilihin, aku nunggu di sini.”
“Okey, kamu tunggu sebentar.” pungkas angga.
Kezia merasa enggan memilih menu makan siangnya. Selera makannya tiba-tiba hilang saat mengingat tatapan Cellina tadi. Tatapannya seolah mengatakan kalau Angga adalah miliknya dan Kezia harus menjauh. Namun selama ini, Angga tidak pernah membahas sedikitpun perihal Cellina .
“Adikku.” jawab Angga singkat.
“Sejak kapan kamu punya adik secantik itu?” tanya George yang tahu bahwa Angga tidak memiliki adik.
“Apa pedulimu?” Angga tersenyum mendengar perkataan George. George paham maksud ucapan Angga.
“Kemarin dia makan siang di sini dengan don juannya fakultas kedokteran. Fritz namanya.” Terang George. Angga terdiam mendengar perkataan George. “Apa kalian sedang berebut gadis?” goda George.
“Apa kau yakin wanita itu dia?” tanya Angga sambil menoleh Kezia.
“Tentu saja. Anak laki-laki lain memandanginya dari atas sampai bawah, mana mungkin aku lupa.” sahut George.
“Sial , berarti kau juga memandanginya hah?” Angga mulai kesal namun George malah tertawa lebar. Tentu saja, menurut kabar laki-laki eropa banyak yang tertarik pada gadis asia. “Aku akan mencari tau siapa lalat pengganggu itu!” seru Angga seraya mengambil piring yang masih di pegang oleh George. “Antarkan minumannya seperti biasa.” imbuh Angga seraya berlalu.
George hanya terkekeh. Kawan lamanya ini benar-benar berbeda dari biasanya.
Angga menghampiri Kezia yang terlihat sedang melamun. Angga menaruh piring dengan cukup kasar dan mengagetkan Kezia. Kezia pun terperanjat.
“Kamu kemaren makan siang sama siapa?” tanya Angga sambil duduk.
“Siapa? Nggak ada…” kilah Kezia.
“Heemmm adik kecilku sudah mulai belajar tebar pesona dan berbohong yaaa…” cetus Angga dengan tatapan dingin.
“Kakak juga gag cerita siapa cellina .” Kezia menyahuti.
__ADS_1
Tanpa kezia sadari kata-kata itu keluar begitu saja.
“Sudahlah, jangan balik menyerangku. Habiskan dulu makanannya.” balas Angga sekali lalu melahap spagetinya.
Kezia malas untuk menimpali. Lagi pula Kezia harus memperkenalkan Fritz sebagai siapanya. Sangat merepotkan pikir Kezia.
****
Usai makan siang, sementara Angga kembali ke kantor, Kezia berencana pergi ke perpustakaan. Matanya membelalak saat melihat bangunan bak istana zaman dulu yang berdiri megah di hadapannya. Dengan semangat ia memasuki perpustakaan. Suasananya hening, seperti halnya perpustakaan pada umumnya. Buku-buku berjejer rapi, lebih tepatnya terlihat seperti lautan buku.
Tak jauh dari pintu masuk, seorang penjaga perpustakaan duduk di sana dengan sebuah komputer di depannya. Wajahnya tenang memandangi computer di hadapannya. Kezia memilih langsung masuk dan berkeliling mencari sendiri buku yang ia butuhkan. Rasanya akan begitu menyenangkan saat ia bisa menghabiskan waktunya dengan buku-buku di sekelilingnya.
Kezia mengambil beberapa buku dan mengeluarkan laptopnya. Ia mulai mencoret-coret buku catatannya dan menuliskan kerangka artikelnya. Tangannya dengan lincah menari di atas kertas putih polos dengan tinta hitam. Sesekali ia membuka buku yang ada di hadapannya, lalu mulai menuliskan idenya di laptop kesayangannya. Kezia semakin terlarut dalam pikiran dan ide-idenya.
Waktu berjalan begitu saja, tanpa terasa hari semakin larut dan beberapa orang sudah meninggalkan perpustakaan. Kezia menggeliatkan tubuhnya yang terasa begitu pegal.
“Nona, ini sudah larut… apa anda masih mau tinggal di sini?” tanya penjaga perpustakaan.
Mata Kezia berkeliling melihat suasana perpustakaan yang sudah sangat sepi.
“Emmm tidak tuan. Sebentar lagi pekerjaan saya selesai.” sahut Kezia dengan senyum ramah. Laki-laki itu hanya mengangguk seraya tersenyum. Ia berbalik pergi meninggalkan Kezia.
Kezia segera merapihkan laptopnya dan menyimpan kembali buku-buku yang dipinjamnya. Di kepalanya masih berkerumun ide-ide yang belum selesai ia tuliskan. Diraihnya tas punggung miliknya dan segera mengenakannya. Setelah berpamitan pada penjaga perpustakaan ia segera mengambil sepeda dan membawanya pulang.
****
Kezia menapaki satu per satu anak tangga dengan tenang. Pikirannya masih terhubung dengan ide-ide yang dia dapatkan. Sesekali bibirnya tampak bergumam dan sesekali Kezia menggaruk kepalanya walau tidak gatal.
Dari arah pintu flatnya, terlihat Angga yang sedang memperhatikan Kezia yang berjalan ke arahnya. Ia bersandar di daun pintu yang masih tertutup rapat. Kakinya menyilang dan di tangannya ada sebuah paperbag yang dia genggam dengan erat.
“Kenapa malem banget pulangnya?” suara pelan Angga menghentak lamunan Kezia. Angga masih tampak memakai pakaian kerjanya.
“Kakak, lagi ngapain depan pintu?” Kezia tergagap karena kaget.
“Tuan rumahnya belum pulang, jadi aku tunggu di sini…” sahut Angga seraya tersenyum dan menegakkan tubuhnya.
“Ah biasanya juga langsung masuk aja.” Kezia segera menghampiri Angga dan membuka kunci pintunya. “Emang kamar kakak belum selesai di bereskan?” lanjut Kezia. Pintu flatpun terbuka dan mereka bergegas masuk.
“Udah, tapi di kamarku sepi banget. Gag ada burung beo…” tukas Angga sambil duduk di atas sofa.
“Pujian macam apa itu?” gerutu Kezia dengan wajah kesalnya. Angga hanya tersenyum melihat ekspresi kesal Kezia.
“Ayo kita makan malem. Aku udah bawa makanan…” Angga menaruh papper bag di atas meja.
Ia beranjak mengambil piring dan gelas untuk menemani mereka makan. Sementara Kezia ia masih membuka sepatunya dan menyimpan barang bawaannya.
“Aku ke kamar mandi sebentar. Kakak makanlah duluan.” Sahutnya tanpa menunggu jawaban Angga.
Cukup lama Kezia berada di kamar mandi. Ia mandi dan membersihkan seluruh tubuhnya. Badannya terasa begitu lengket dengan keringat. Saat keluar kamar mandi, Kezia sudah tampak begitu segar. Rambutnya masih basah, membuat Angga merona melihatnya.
“Kenapa masih belum makan?” Kezia menghampiri Angga dengan rambut yang masih di tutupi handuk.
“Nunggu kamu.” sahut Angga. Angga mencium aroma segar dari tubuh Kezia yang duduk di sampingnya. “Ah, kamu bener-bener bikin aku LAPER!” imbuh Angga sambil mengacak rambut Kezia.
“Isshh aku kan udah bilang kakak makan duluan…” kilah Kezia yang tidak mengerti maksud ucapan Angga.
Angga hanya menelan ludahnya kasar-kasar lalu mengalihkan pandangannya pada makanan yang ada di depannya.
__ADS_1
Angga menikmati makan malam dengan dada yang berdegub kencang. Beberapa kali ia menarik nafas dan meneguk air putih. Tapi tidak banyak menolongnya, menghilangkan rasa gemetar saat di samping Kezia. Selesai makan malam, Angga segera pamit ke flatnya. Rasanya ia tidak bisa berlama-lama bersama Kezia.
****