My First Love Story

My First Love Story
Episode 150


__ADS_3

Hingga malam tiba, Kezia baru sampai di rumahnya. Rumah sudah benar-benar sepi dan Arland mengantar Kezia hingga ke teras rumah.


“Mimpi indah sayang…” ujar Arland seraya mengusap kepala Kezia.


“Iya, kamu juga hati-hati ya di jalan. Kabarin aku kalo udah nyampe.” Sahut Kezia dengan senyum hangatnya.


“Iyaa, I love you..” lirih Arland seraya mengecup kening Kezia.


“Love you more…” balasnya.


Arland mulai melangkahkan kakinya meninggalkan Kezia. Beberapa kali ia berbalik untuk sekedar menatap kembali kekasihnya. Kakinya terasa berat, ia sangat tidak ingin berpisah dengan Kezia. Kezia hanya tersenyum dari pintu rumahnya. Memandangi bahu tegap itu yang semakin lama semakin menjauh. Hingga akhirnya bayangan Arland menghilang di balik pintu mobilnya yang melaju perlahan.


Kezia berbalik dan segera masuk ke rumahnya. Lampu ruang tamu sudah di matikan, hanya beberapa lampu kecil yang masih menyala. Sebelum ke kamarnya, Kezia terlebih dahulu mampir ke kamar Sean. Anak tampan tersebut sudah terlelap dalam tidurnya. Bibir mungil nya tersenyum, mungkin ia sedang bermimpi indah.


Kezia mengusap kepala Sean kemudian mengecupnya dengan lembut. “Mimpi indah sayang..” lirih Kezia.


Kezia menarik selimut Sean hingga ke dada. Terlihat Sean menggeliat dan membalik tubuhnya. Kezia tersenyum gemas melihat tingkah anak kecil ini. Setelah puas memandangi wajah Sean, ia segera kembali ke kamarnya.


Sampai di kamarnya, Kezia meletakkan tas tangannya di atas meja rias. Ia menggulung rambutnya dan mengikatnya tinggi-tinggi. Di raihnya handuk yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Bayangannya menghilang di balik pintu kamar mandi.


Kezia menghujani tubuhnya dengan air hangat. Punggungnya yang pegal terasa di pijat kecil-kecil oleh derasnya air yang memancar dari shower. Kezia membersihkan tubuhnya dengan segera karena hawa dingin terasa menyelinap di balik kulitnya.


Seusai ia membersihkan badan, ia hanya menggunakan jubbah mandinya. Ia berjalan ke tempat tidur karena handphonenya menyala. Sebuah panggilan video dari Arland.


“Hay.. Udah nyampe?” sapa Kezia seraya tersenyum.


“Iya, baru banget. Kamu udah mandi?”


“Udah dong, badan aku lengket banget.”


“Aku baru mau mandi.” sahut Arland sambil memindahkan bantal yang menghalangi dadanya lalu menyenderkan tubuhnya di ranjang.


Terlihat otot-otot kekar yang menutupi dada dan perutnya membuat Kezia malu sendiri.


“Ish kamu kok gag pake baju?” Kezia menutup matanya dengan tangan kanan


“Kan aku udah bilang mau mandi.” kilah Arland seraya tersenyum.


“Iya, tapi gag usah telanjang gitu juga depan aku.”


“Loh telanjang apanya, aku masih pake celana kok. Cuma baju emang baru di lepas, mau ngeringin keringet dulu.”


“Nanti kamu masuk angin yang…”


“Hah apa?”


“Nanti kamu masuk angin!”


“Enggak bukan, setelah itu kamu bilang apa?”


“Emang aku bilang apa?”


“Ya udah coba di ulang”


“Nanti kamu masuk angin…”


“Tadi bukan gitu ahh.” Protes Arland


“Yang,,, itu maksud kamu?” sahut Kezia yang tak bisa menahan senyumnya.


“Nah iya, itu sayang…” tukas Arland yang juga ikut tersenyum.


“Makasih ya buat hari ini…”


“Makasih buat apa?”


“Buat semuanya lah. Aku terharu banget…”


“Tambah cinta gag sama aku?” Kezia hanya mengangguk dengan tangan menutupi wajahnya. “Kamu tambah gemesin kalo kayak gitu.” imbuh Arland.

__ADS_1


“Gombal!” timpal Kezia. Arland terkekeh melihat ekspresi kesal Kezia


“O iya yang, besok aku ada urusan, kayaknya baru bisa ketemu kamu malem. Kamu bisa nahan kangen kan?”


“Urusan? Kamu mau pergi ke luar kota?”


“Nggak, masih sekitaran sini. cuma pasti agak sibuk.” sahut Arland.


“Oh ya udah gag pa-pa, yang penting kamu jangan sampe lupa makan dan jaga kondisi.”


“Okey ibu negara!” seru Arland denagn hormat singkatnya.


Obrolan demi obrolan terus bergulir. Hingga malam semakin larut. Pembicaraan keduanya terhenti, saat Arland akan membersihkan tubuhnya.


Berbicara dengan Kezia menjadi kebiasaan baru bagi Arland. Kalau dulu, dia lebih banyak menunjukkan segala sesuatu dengan sikapnya, kali ini ia lebih berani menunjukkan dengan kata-katanya. Walau terkadang sikap lebih penting tapi kata-kata bisa menegaskan perasaanya yang mungkin tidak dipahami begitu saja oleh Kezia.


****


“Mimaaa… bangun dong mima…” seru Sean seraya menggungcang-guncangkan tubuh Kezia yang masih berada di bawah selimut. Kezia menggeliat, merentangkan tubuhnya yang terasa begitu pegal. “Selamat pagi mima….” sapa Sean saat melihat mata Kezia terbuka. Di kecupnya pipi kanan Kezia dengan lembut.


“Selamat pagi sayang…” sahut Kezia seraya tersenyum.


“Mima, ayo bangun!! Temenin sean olahraga pagiii. Kita jalan-jalan ke taman, kata ongkle arland ada taman bagus buat jalan pagi.” pinta Sean seraya menarik-narik tangan Kezia.


“Onkle arland? Kapan sean ngobrol sama onkle arland?” Kezia mengernyitkan dahinya.


“Tadi pagi onkle arland nelpon sean, katanya sean harus nyajak mima jalan-jalan supaya sehat.” terang Sean dengan penuh semangat.


“Ooo jadi kalian suka ngobrol ya di belakang mima. Ngobrol apa aja sama onkle Arland?” selidik Kezia seraya memincingkan mata


“Rahasia laki-laki dong mima. Mima kepo!” sahut Sean sambil turun dari tempat tidur Kezia. Kezia mendecik dengan seringai gemas di bibirnya. “Mima ganti baju ya, sean nunggu mima di bawah.” lanjut Sean seraya melambaikan tangannya pada Kezia.


“Astagaaaa, anak ini kapan gedenyaaa? kelakuannya mirip arland. Di cekokin apa sih dia sama arland.” gumam Kezia sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.


Dengan malas Kezia segera beranjak dari tempat tidur. Ia mencuci muka dan menggosok gigi lalu mengganti pakaiannya dengan pakaian olahraga. Kezia tersenyum menatap wajahnya yang terpantul di cermin. Entah apa yang ada dipikirannya yang membuat ia begitu bahagia pagi ini. Mungkin bayangan Arland yang selalu menari diingatannya.


“Pagi mah!” sapa Kezia saat melihat Eliana yang tengah duduk bersama Sean di ruang tamu.


“Kedai gag buka mah?” Kezia meraih sepotong apel yang ada di hadapan Sean lalu menggingitnya kuat-kuat.


“Enggak, hari ini mau ada tamu, jadi mamah mau siap-siap.”


“Tamu? Siapa mah?” selidik Kezia.


“Nanti kamu tanya papah aja, tuh papah lagi telponan.” sahut Eliana.


“Oo ya udah, aku mau jalan pagi dulu sama Sean. Yuk boy!” seru Kezia.


“Okey mima!” Sean berdiri dengan semangat.


Ia berjalan beriringan dengan Kezia. kali ini Sean sudah tidak mau kalau berjalan dengan tangan di pegang Kezia. Ia lebih sering menyelipkan tangannya di dalam saku celana. Sok dewasa bukan?! Kezia sudah merasa kehilangan banyak moment dengan Sean. Bahkan sekarang Sean sudah tidak mau di peluk atau di cium di depan orang lain. Ah, anak laki-laki ini sudah semakin besar, begitu pikir Kezia.


****


“Mima sering datang ke tempat ini?” tanya Sean yang sedang berlari kecil di samping Kezia.


“Iyaa, dulu taman ini tidak sebagus sekarang. Tapi onkle arland menata ulang taman ini menjadi lebih indah seperti sekarang.” kenang Kezia


“Apa dada juga pernah ke sini?”


Kezia menghentikan langkahnya. Pikirannya terhenti saat mengingat Angga.


“Maaf mima, Sean…”


“Ga pa-pa sayang…” Kezia mengusap kepala Sean dan berusaha tersenyum. “Dada belum pernah ke sini, tapi dada pasti akan senang kalau dia pernah ke sini.” lanjut Kezia dengan senyum tipisnya. Tiba-tiba hatinya merasakan keketiran saat harus mengenang Angga yang kini sudah tidak ada disampingnya namun Kezia berusaha kembali menguasai hatinya, agar tidak terlarut. “Ayo kita lari lagi…” ajak Kezia yang mulai berlari di depan Sean. Sean menyusulnya dengan langkah cepat.


Pagi ini adalah milik Sean. Ia bebas meminta apapun pada Kezia dan dengan senang hati Kezia mengabulkannya. Mereka menikmati tertawa bersama, saling berkejaran dan berebut makanan pinggir jalan.


Mata Sean terbelalak saat melihat banyaknya variasi jajan di depan matanya. Air liurnya nyaris menetes dan Kezia iseng mengerjainnya.

__ADS_1


“Mima, aku mau itu!” tunjuk Sean saat melihat beberapa anak menikmati sosis bakar dengan saus dan mayonnaise.


Sean lupa bahwa di tangannya sudah ada sekantong makanan yang sudah ia beli.


“Boleh sayang, ayo kita beli.”


Bagaimanapun Sean tetaplah anak-anak yang akan merasa sangat senang saat keinginannya di turuti.


Dengan semangat Sean menuju penjual sosis bakar. Matanya tak berkedip memandangi penjual sosis bakar yang sibuk membolak balik bakarannya dan terkadang di selingi dengan memberikan topping di atas sosis yang sudah matang.


“Olahraga macam apa ini, ujung-ujungnya jajan.” gumam Kezia seraya tersenyum.


Sean menerima sosis bakar yang sudah matang dengan wajah bahagianya. Walau masih panas ia tidak sabar untuk menyantapnya.


“Ini sangat lezat mima!” seru Sean dengan mata berbinar.


“Hahaha.. baiklah, selamat menikmati!” sahut Kezia sambil mengusap pucuk kepala Sean.


Kezia menikmati jalan bersama Sean sambil ditemani sosis bakar di tangannya. Lintasan jogging mereka lewati dengan berjalan santai. Hingga makanannya habis, tidak terasa 2 putaran sudah mereka lewati. Sean terlihat sangat bahagia bisa menghabiskan waktunya bersama mima kesayangannya. Pun kezia merasakan hal yang sama.


***


Kezia dan Sean sudah sampai di depan rumahnya. Ia melihat sebuah mobil yang mengangkut bunga dan beberapa orang membawanya masuk ke dalam rumahnya. Kezia segera mendekati  Eliana terlihat berdiri di depan pintu mengatur tata letak bunga di ruang tamu. Kezia berlari menaiki satu per satu anak tangga.


“Mah, ada apa ini, kok banyak banget bunga?” tanya Kezia yang kebingungan.


“Eh sayang, ayo masuk bantuin mamah nata bunganya.” sahut Eliana yang mengabaikan pertanyaan Kezia.


“Tapi ini bunga buat apa mah, kenapa banyak banget?”


Eliana tak menjawab. Kezia mengekori Eliana dengan rasa penasaran.


“Sini duduk sayang..” ujar Eliana seraya menepuk sofa di sampingnya. Tak lama Martin datang menghampiri dan duduk di depan Kezia.


“Mah, pah , ini ada apa sebenarnya? Mamah bilang mau ada tamu, emang tamu siapa sih?” Kezia terlihat begitu bingung.


“Jadi gini sayang, hari ini rekan bisnis papah, mau berkunjung ke sini bersama keluarganya. Mereka ingin berkenalan dengan keluarga kita dan kamu tentunya.” terang Martin seraya tersenyum.


“Tapi pah, zia kan udah punya pacar dan kemaren arland ngelamar zia.” Kezia memperlihatkan cincin yang melingkar di jarinya.


“Sayang, papah gag tau kalo arland udah ngelamar kamu. Papah pikir, dia main-main sama kamu, soalnya dia gag pernah ngobrolin apa-apa sama papah soal hubungan kalian. Dia juga sering buat anak papah nangis. Papah cuma ingin yang terbaik buat kamu sayang.” tutur Martin dengan penuh kesungguhan.


“Pah, apa ini artinya papah jodohin aku?”


Martin mengangguk. “Maaf sayang, papah sudah janji sama rekan bisnis papah kalo malam ini keluarga kita akan bertemu dengan mereka.” tandas Martin.


Kezia tertunduk lesu. Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. Hatinya sangat sakit, dia tidak siap kalau harus kehilangan Arland untuk ke sekian kalinya.


“Pah, zia cuma cinta sama crland dan cuma mau nikah sama Arland. Apa bisa kalo acaranya di batalin aja? Zia gag siap kalo…” tangis Kezia hampir pecah namun ia menahannya dalam-dalam.


Ia menggigit bibirnya, tangannya saling mencengkram kuat.


“Sayang, papah mohon, kali ini tolong ikuti permintaan papah. Setelah ini, papah gag akan minta apapun dari kamu. Papah mohon, papah gag mungkin ngingkarin janji papah…” kukuh Martin seraya menggenggam tangan Kezia.


Martin tau, ini adalah cara paling ampuh yang bisa ia lakukan untuk meluluhkan hati putri kesayangannya.


Kezia mengangkat wajahnya. Dengan mata berkaca-kaca ia menatap laki-laki yang sudah tidak muda lagi di hadapannya. Terlihat harapan besar di kedua matanya.


Dan Arland, entah apa yang harus ia lakukan kemudian. Ia tak tau mana yang harus ia pilih, kebahagiannya ataukah kebahagiaan kedua orang tuanya.


Kezia menarik nafas dalam-dalam. Dadanya terasa begitu sesak.


“Apa zia gag punya kesempatan untuk menolak pah?” lirih kezia. Martin hanya menggelengkan kepalanya. Kezia tersenyum dengan sangat terpaksa. “Zia ke kamar dulu.” imbuhnya seraya berdiri dan meninggalkan kedua orang tuanya.


Sementara Eliana dan Martin hanya saling tatap melihat putri kesayangannya yang pergi begitu saja.


"Maafin mamah dan papah nak..." batin Eliana


****

__ADS_1


 


 


__ADS_2