
“Yeay… Sean aß omas gebratenen reis. Es muss sehr lecker sein. Danke Oma… (Yeaayy Sean makan nasi goreng buatan nenek. Pasti sangat enak. Terima kasih oma..)” seru sean seraya mengecup pipi Eliana. Mata Eliana membelalak, tiba-tiba mendapat kecupan dari Sean.
“Sean seneng sarapan sama nasi goreng buatan mamah. Pasti enak. Terima kasih oma.. gitu katanya mah…” Martin menerjemahkan untuk Eliana.
“Oh ya ampun…” Eliana tersipu malu. Ia mengeluarkan handphonenya lalu mengetikkan sesuatu. “Gern geshchehen, schatz. Veil essen… (Sama-sama sayang, makanlah yang banyak…)” sahut Eliana sambil membaca tulisan yang ada di handphonenya. Sean mengangguk seraya tersenyum.
Kezia dan Martin ikut tergelak melihat kegemasan di pagi hari. Yang Eliana lakukan tidak beda jauh dengan yang dilakukan Kezia beberapa tahun lalu. Bahkan Martin pun pernah mengalaminya. Saat ia harus presentasi di hadapan manajemen dengan menggunakan bahasa jerman, mesin penerjemah ini sangat membantunya.
“Pah, siang nanti zia ke kantor papah.”
“Ada apa nak?” Martin mengernyitkan dahinya.
“Zia ada rapat manajemen dengan beberapa orang di kantor papah, untuk pembangunan rumah sakit.” terang Kezia sekali lalu menyuap nasi gorengnya.
“Rumah sakit?” Martin semakin bingung.
“Iya pah, papah mahesa meminta zia untuk membangun rumah sakit khusus kanker. Rumah sakit ini ia dedikasikan untuk kak angga.” terang kezia dengan tatapan nanarnya.
“Baiklah sayang, papah akan menunggu di kantor.”
“Tapi pagi ini, zia mau nemenin mamah belaja ke supermarket dulu ya… Katanya ada beberapa bahan yang kurang. Sekalian nyari sekolah buat Sean, supaya dia gag bosen di rumah. Gag papa kan mah?”
“Tentu sayang, mamah seneng kalo kamu mau nemenin mamah belanja.” sahut Eliana yang semakin terharu.
Suasana sarapan begitu riuh. Terdengar gelak tawa diantara mereka. Sean menjadi moodboster hari itu. Eliana yang sangat ingin berbicara lebih banyak dengan Sean, menggunakan handphonenya berkali-kali untuk menerjemahkan maksud ucapannya. Namun berkali-kali mereka tertawa saat Eliana begitu lucu melafalkan gaya bicara berbahasa Jerman.
*****
Pagi itu, setelah sarapan, Kezia dan Sean menemani Eliana untuk berbelaja bahan makanan di supermarket. Mereka membawa keranjang besar karena daftar belanjaan yang cukup panjang harus mereka beli. Kezia memilih-milih sayuran yang akan di beli. Sean mengikutinya dari belakang. Dia merasa sedikit bosan terus menerus mengekori Kezia dan Eliana yang asyik memilih sayuran.
“Mima, Kann ich ein paar spielsachen kaufen? (Mima, bolehkah aku membeli beberapa mainan?)” tanya Sean seraya menarik baju Kezia. Kezia melihat wajah sean yang mulai bosan.
“Mai kind lass uns mima zum spielzeugladen bringen. (Boleh nak. Ayo mima antar ke tempat mainan.)” sahut Kezia. Kezia mengantar Sean ke tempat mainan anak-anak. Di sana beragam mainan ada. Sean terlihat sangat antusias. “Sie wahlen das spielzeug, das sie wollen. Mima wird dich spatter hier abholen. (Kamu pilihlah mainan yang kamu mau. Nanti mima akan menjemputmu di sini.)”
Dengan semangat Sean mengangguki. Ia mulai memilih mainnan yang dia mau, dan sesekali mencobanya. Sementara itu Kezia kembali menghampiri Eliana untuk memilih bahan makanan.
Sean mengambil beberapa mainan dan memasukkannya ke keranjang yang tidak jauh dari tempatnya berada. Selesai memilih mainan, ia melihat anak kecil yang sedang lahap memakan es krimnya. Ia segera mencari Kezia, namun ia lupa harus memilih jalan yang mana. Sean terus berjalan di sekitar supermarket hingga keluar. Ia celingukan dan kebingungan. Wajahnya mulai panik.
Seseorang memperhatikan Sean dari kejauhan. Ia merasa mungkin anak kecil ini tersesat. Laki-laki itu menghampiri Sean.
“Kamu nyari siapa nak? Orang tuamu mana?” tanya laki-laki tersebut dengan ramah. Sean segera mengibaskan tangan laki-laki tersebut dari bahunya.
“Hemm, matanya biru. Rambutnya coklat. Kayaknya dia gag ngerti bahasa Indonesia.” gumam laki-laki tersebut.
“Are you sepatared from your mother? Whats your name?” lanjut laki-laki itu.
Tapi Sean malah menggelengkan kepalanya. Laki-laki itu menggaruk kepalanya walau tidak gatal. Sepertinya dia sedikit frustasi.
“Ich suche meine Mima?” tutur Sean dengan ragu-ragu. Laki-laki itu mengernyitkan dahinya.
“Germany?” tanya laki-laki itu. Sean mengangguk.
Laki-laki itu mengusap wajahnya dan merasa lebih tenang.
__ADS_1
“Wer ist dein name , sohn? (Siapa namamu nak?)” tanya laki-laki tersebut dengan terbata-bata.
“Sean..” jawab sean.
“Okey Sean, wie heißt deine mutter? (Siapa nama ibumu?)” lanjut laki-laki itu.
“Schnucki…”
“Schnucki?” laki-laki itu mengulang ucapan Sean. Sean mengangguk.
“Lass uns nach deiner mutter suchen.. (Ayo kita cari ibumu nak)” ujar laki-laki itu seraya meraih tangan Sean.
Sean sedikit tidak yakin dengan laki-laki yang terus berbicara dengan menatap layar handphonenya. Padahal sebenarnya laki-laki itu sambil membuka terjemahan untuk berbicara dengan Sean. Namun karena tidak ada pilihan lain, akhirnya Sean mengikuti.
Sementara itu, Kezia dan Eliana sedang panik karena Sean tidak ada di tempat mainan. Hanya ada keranjang mainan yang berisi mobil-mobilan dan kereta di sana yang kemungkinan pilihan Sean.
“Mah, gimana ini. Sean gag ada? Zia takut dia diculik.” Pikiran-pikiran aneh mulai mengisi rongga kepala Kezia.
“Sayang tenang, kamu segera cari sean. Ada fotonya kan?”
“Ada mah. Ya udah zia cari sean dulu.” tutur Kezia dengan tergesa-gesa.
Kezia menanyai setiap orang yang ia temui, juga security dan kasir. Namun tidak ada satu pun yang melihat Sean. Kezia semakin panik.
“Ya tuhan,,,, Tolong jaga Sean. Semoga dia baik-baik aja…” batin Kezia.
****
Kezia keluar supermarket dan mencari Sean ke toilet laki-laki, tempat paling mungkin di datangi Sean. Walaupun malu, Kezia menungguinya di luar toilet. Tatapan laki-laki yang melewati Kezia tampak bingung. Ada senyum tersungging dari bibir mereka yang melihat Kezia berdiri di depan toilet laki-laki.
Kezia menutup sebagian wajahnya dengan syal yang ia gunakan. Namun lama menunggu , tidak ada juga bayangan Sean keluar dari toilet. Kezia semakin tak karuan dan ia memutuskan kembali mencari Sean.
“Panggilan kepada Ibu schnucki, anak anda bernama sean menunggu di pintu masuk mall. Sekali lagi, panggilan kepada ibu schnucki, anak anda bernama sean menunggu di pintu masuk mall” suara seorang wanita menggema di pengeras suara mall.
“Astaga!” Kezia segera berlari menuju pintu masuk mall. Dan benar saja Sean sudah berdiri di sana. Ia mengenggam tangan seorang laki-laki.
“Mima!!!” seru Sean yang segera berlari ke arah Kezia.
“Sean, maafkan mima… Mima sangat teledor. Apa kamu baik-baik saja?” tanya Kezia. (Dalam bahasa Jerman.)
“Ya mima. Paman di sana menemaniku mencari mima.” tunjuk Sean.
Kezia mendongakkan kepalanya melihat laki-laki yang di tunjuk Sean berjalan ke arahnya dengan tatapan kagetnya.
“Key… ini kamu?” tanya laki-laki di depan Kezia yang tidak lain adalah Ricko.
“Ricko…” lirih Kezia.
“Astaga key…” Ricko tertawa sambil memegangi kepalanya.
Dia kaget bukan kepalang. Ia memandangi Kezia dari atas hingga ke bawah. Tampilannya semakin dewasa semakin terlihat cantik dengan rambut hitam terurainya. Terlihat sebuah cincin melingkar di jari kezia. cincin pemberian Angga yang selalu di pakai Kezia. “Dia,,,” tunjuk Ricko pada Sean. Kezia hanya mengangguk, menandakan memang Sean yang ia cari.
Namun tidak begitu dengan Ricko, Ricko mengira Sean adalah anak Kezia.
__ADS_1
Ricko mengangguk beberapa kali. Memandangi Sean dan Kezia bergantian.
“Dia tampan, seperti kamu yang cantik.” puji Ricko.
“Mima, kennst du diesen onkel? (Mima, apa mima mengenal paman ini?)” tanya Sean. Kezia mengangguk mengiyakan.
“Thanks ko.. makasih udah jagain Sean.” sahut Kezia.
“Sama-sama… Okey, aku pulang dulu…” pamit Ricko “Sampai jumpa jagoan…” seru Ricko sambil mengajak Sean tos. Sean membalasnya sambil tersenyum.
“Danke onkel..” seru sean. Ricko mengacungkan kedua ibu jarinya pada Sean.
Ricko pun berlalu begitu saja. Sesekali ia menoleh pada Kezia yang terlihat masih mematung.
“Land, apa kali ini lo bakal nyerah?” gumam Ricko sambil memandangi Kezia dan Sean dari kejauhan.
****
Sepulang dari Supermarket, Kezia lebih banyak terdiam. Ia lebih memilih menyandarkan tubuhnya dan menatap jendela taksi yang membawa mereka. Eliana dan Sean saling berpandangan namun tak saling bicara.
Saat Eliana dan Sean turun, Kezia hanya melambaikan tangannya tanpa sepatah kata pun. Ia memilih untuk segera menuju perusahaan milik Group wibawa. Beberapa kali Kezia menarik nafas dalam dan membuangnya dengan perlahan.
“Nona, kita sudah sampai…” tutur Supir taksi yang menatapnya.
Perjalanan begitu tidak terasa. Rasanya baru sebentar memory Kezia berputar mengingat kenangan para sahabatnya dan Arland. Sebuah hal berat yang selalu coba dia lupakan namun tidak pernah berhasil.
“Terima kasih pak…” tutur Kezia sambil menyerahkan sejumlah uang. Ia segera turun.
Di hadapannya berdiri megah kantor Wibawa grup. Kezia melangkahkan kakinya dengan yakin. Di sana sudah menunggu Hendra yang memang diminta untuk membantu Kezia mengurus rencana pembangunan rumah sakit milik Angga dan Kezia.
“Selamat siang non, lama tidak bertemu.” sapa Hendra, hangat seperti biasanya.
“Siang pak…”
“Mari kita segera ke ruang rapat..” ajak Hendra menunjukkan jalan pada Kezia. Kezia menganggukinya dan mengikuti langkah kaki Hendra.
Mereka menaiki lift menuju lantai 18, tempat ruang rapat manajemen berada.
Selama Mahesa dan keluarga berada di Jerman, perusahaan ini dijalankan oleh Profesional manajemen yang dipekerjakan oleh Mahesa. Mereka bekerja dengan baik. Sebagian besar dari mereka adalah karyawan yang dulu bekerja di perusahaan yang di Jerman. Mereka cukup familiar dengan Kezia, karena beberapa di antara mereka mengenal Kezia sebagai menantu pemilik group wibawa.
Hendra membukakan pintu ruang rapat untuk Kezia. Beberapa orang sudah menunggu Kezia di sana. Hendra memperkenalkan Kezia dan menyampaikan rencana pembangunan rumah sakit milik Angga dan Kezia.
Secara detail, Hendra mempersilakan untuk Kezia menyampaikan konsep dari rumah sakit yang akan di bangun. Kezia menginginkan agar rumah sakit yang akan didirikannya di bangun sesuai konsep yang ada termasuk dari segi tata ruang.
Kezia meminta manajemen melakukan pemilikan vendor secara terbuka, dan memilih vendor yang memiliki design dengan konsep yang sesuai keinginan Kezia. Mereka menyetujuinya. Bagian sekretaris segera membuat pengumuman di website perusahaan terkait rencana rekrutmen vendor. Rapat di tutup dan disetujui jajaran manajemen.
Selesai rapat, Kezia menyempatkan untuk mengunjungi ruangan direktur utama, yaitu ruangan milik Mahesa. Ruangannya tampak rapi dan bersih. Beberapa foto terpajang di dinding ruangan. Salah satunya adalah foto Angga. Kezia tersenyum memandangi foto Angga yang terlihat gagah dengan pakaian jas hitam lengkap.
“Kak,mimpi kita akan segera terwujud…” lirih Kezia. Kezia terduduk di sofa dan memandang lurus ke foto Angga. “Kamu tampan seperti biasanya. Tapi aku baru liat kakak dengan sedikit kumis dan jambang. Mungkin bagusnya rambut kakak di sisir tengah…” gumam kezia yang terus berbicara dengan foto Angga. Sesekali ia tertawa, membayangkan apa yang ia lakukan bersama Angga. “Kak, aku rindu, sangat rindu…” lirih Kezia dengan mata berkaca-kaca.
Cukup lama ia berbicara dengan foto angga. Hendra yang melihat hal tersebut, sesekali tampak menyeka air matanya. Ia tau benar seperti apa kasih sayang antara Angga dan Kezia.
****
__ADS_1