My First Love Story

My First Love Story
Episode 119


__ADS_3

Sepulang dari butik, Angga mengajak Kezia berjalan-jalan ke sebuah taman di pinggiran sungai Neckar. Dari sana mereka bisa menikmati pemandangan jembatan tua yang masih berdiri kokoh. Kota Heidelberg dan Alten Brücke seperti sisi dua mata uang yang tidak bisa di pisahkan.


“Indah bukan?” lirih Angga saat melihat Kezia yang begitu menikmati pemandangan di hadapannya.


Kezia terangguk mengiyakan lirihan Angga. Ia memejamkan  matanya merasakan desiran angin yang menerpa wajahnya. Rambut hitamnya berpedaran terkena terpaan angin yang bertiup dengan lembut. Angga mendekati Kezia dan memeluknya dari belakang. Tangannya melingkar di pinggang Kezia dengan dagunya menumpu pada bahu Kezia. Angga bisa menghirup wangi rambut Kezia yang membelai lembut pipinya. Kezia menyentuh pipi Angga dan mengusapnya perlahan.


“Aku sangat bahagia schnucki, sangat teramat bahagia.” bisik Angga dengan penuh perasaan.


"Tentu, kakak harus bahagia. Kebahagiaan kakak penting buat aku." timpal Kezia seraya menoleh Angga yang berada di samping wajahnya. Ia tengah memandangi Kezia dengan berjuta perasaan yang tidak bisa dijelaskan.


“Apa kamu mulai mencintaiku...”


Kezia sedikit tersentak mendengar pertanyaan Angga. Rasanya ia belum bisa menjelaskan perasannya sendiri. Angga tersenyum tipis melihat Kezia yang hanya terdiam. Ia membenamkan wajahnya di bahu Kezia, mengecup dan menyesapnya perlahan. “Tenanglah, aku bisa melihatnya...” lirih Angga pelan.


Kezia memalingkan wajahnya dari Angga. Ia memandangi riakan air yang tampak tenang namun bergemuruh di dasar sungainya. Seperti itulah perasaan Kezia saat ini. Terlalu banyak gemuruh yang tidak bisa ia kendalikan dan kenali. Namun di hadapan Angga ia tetap berusaha tenang. Iya, ia sedang belajar menerima kehadiran Angga di hatinya. Menempatkannya di satu sudut khusus yang hanya ia sendiri yang tahu.


"Aku tau, kamu sedang sangat berusaha keras schnucki. Terima kasih, terima kasih untuk semuanya." batin Angga.


“Schnucki, apa kamu akan merindukanku saat aku pergi?” Angga bersuara tanpa di duga.


“Kakak ngomong apa sih?” suara Kezia terdengar parau. Kezia melepaskan pelukan Angga dan melangkah menjauh. Namun dengan segera Angga menahan tangan Kezia. Ia membalikkan tubuh Kezia menghadapnya. Di genggamnya tangan kezia dengan erat. Netra coklat itu kini menatap Kezia dengan hangat.


“Dengar, kalau suatu hari aku pergi lebih awal, tolong jangan bersedih terlalu lama. Kuatlah seperti kezia yang biasa aku lihat. Kirimi aku do’a dan jangan lupa untuk merindukanku. Hiduplah dengan baik dan selalu bahagia. Aku mencintaimu, selalu mencintaimu.” tutur Angga dengan mata yang berair.


Mata Kezia ikut memerah dan berair. Rasanya kumpulan bulir itu akan segera menetes begitu saja.


“Lihat, schnuckiku sangat mencintaiku, belum apa-apa udah mau nangis." senyuman Angga kali ini membuat Kezia semakin sesak. "Tenanglah sayang, aku masih di sini dan akan selalu disini.” tukas Angga seraya mengusap wajah Kezia dengan lembut.


Kezia memeluk Angga dengan erat. Perasaannya tak karuan. Angga mengusap punggung Kezia dengan lembut. Hingga tanpa terasa tangis pun pecah. Angga tak melepaskan pelukannya, hingga Kezia benar-benar merasa lebih tenang.


****


“Nak, hari ini kamu pingitan yaaa sama kezia, baru boleh ketemu pas akad. Jangan coba-coba cari celah.” ujar Anna dengan serius.


“Heemm,,, Pantesan dia nggak nyiapin sarapan buat aku mah...”


“Ehh siapa bilang, ini semua kezia yang masak. Tapi tadi pagi-pagi dia langsung ke rumah sakit, katanya ada pasiennya yang gawat.” terang Anna seraya menyodorkan sarapan favorit Angga.


“Pantas rasanya masih sama...” Angga terkekeh di akhir kalimatnya.


“Dasar kamu ini..” Anna mengacak rambut putranya dengan gemas.


Di rumah sakit Kezia sedang menangani Emma. Kondisinya memburuk karena penyakit komplikasinya. Kezia membuat penjadwalan pengobatan untuk Emma agar di tangani oleh dokter spesialis dalam juga. Kondisinya sangat mengkhawatirkan.


Setelah berjibaku dengan tugasnya Kezia kembali ke ruangannya. Tubuhnya terasa begitu lelah.


“Key, kamu masih masuk hari ini?” tanya Fritz yang duduk di samping kezia. Kezia menurunkan botol minum yang sedang diteguknya.


“Iya, setelah ini aku pulang. Aku hanya ingin memastikan kondisi nyonya emma.”


“Menurutku dia akan tertolong. Rencana pengobatan yang kamu susun sudah sangat lengkap dan terjadwal.” Fritz mencoba menenangkan Kezia.


“Iyaa semoga...” Kezia terlihat begitu lelah.

__ADS_1


“Bersiaplah untuk pulang, aku akan mengantarmu.” Lanjut Fritz.


Kezia segera menuju kamar mandi dan mengganti pakaiannya. Fritz sudah menunggunya di depan pintu.


“Kenapa menatapku seperti itu?’ tanya Kezia melihat Fritz yang terus menatapnya.


“Besok kamu akan menjadi milik orang lain, aahh hatiku sangat sakit.” dengus Fritz dengan sesungguhnya.


“Berbahagialah untukku Fritz...” Kezia menatap Fritz dengan sendu.


“Tentu. Tidak ada yang lebih penting selain kebahagiaanmu.”


Kezia terangguk seraya tersenyum. Fritz memang laki-laki yang sangat baik. Walaupun persahabatan antara laki-laki dan perempuan itu memang tidak pernah ada tapi masih ada laki-laki seperti Fritz yang sangat menghormati sikap dan pilihannya.


****


Sampai di rumah Kezia mengendap-endap menuju kamarnya. Ia tidak mau sampai harus bertemu Angga karena pasti urusannya akan sangat panjang.


“Apa kak angga di rumah?” bisik Kezia pada Sarah.


“Tuan muda sedari tadi di ruang baca nona dan nyonya besar tidak mengizinkannya untuk turun. Makan siang pun di antarkan ke ruang baca.” terang Sarah yang ikut berbisik.


“Hemm.. Semoga dia gag bosan ya…”


“Saya yakin beliau tidak akan bosan, tapi akan sangat merindukan nona…” tutur Sarah seraya tersenyum.


“Ahh kamu ini sarah… Ya sudah, aku ke kamar dulu..” tukas Kezia.


“Baik Nona.. Tapi, apa nona akan makan malam bersama yang lain?”


“Baik nona…”


Kezia segera masuk ke kamarnya. Tubuhnya terasa sangat lelah. Tapi ia tidak lekas menuju tempat tidur, ia terlebih dahulu membersihkan tubuhnya. Cukup lama ia berada di kamar mandi.


Setelah badannya dirasa benar-benar bersih ia segera keluar kamar mandi dan memakai pakaian tidurnya. Tak lama terdengar suara ketukan pintu. Kezia membuka sedikit demi sedikit daun pintunya, khawatir yang di depan kamarnya adalah Angga.


“Nona, ini makan malamnya…” Sarahlah yang kini berdiri di hadapan Kezia.


“Ooo makasih sarah.” Kezia segera menerima nampan yang berisi makan malamnya.


Sarah menganggukan kepalanya kemudian pamit. Kezia menutup pintu kamar dengan sikutnya.


Ia mulai menikmati makan malamnya. Di hadapannya ada laptop yang memutar video perawatan pasien. Kezia melahap makanannya sambil menonton video tersebut dengan kedua belah telinga tertutup headset. Selesai makan ia menaruh nampan tersebut dekat pintu kamarnya. Ia kembali terduduk di kasurnya membelakangi pintu sambil menonton video yang sejak tadi di putarnya.


“Cup!” seseorang mencium pucuk kepala Kezia. Kezia terperanjat. Matanya melotot tidak percaya saat melihat seseorang yang ada di hadapannya.


“Astaga! Kak angga!!” seru Kezia seraya melepas headsetnya. “Kakak ngapain ke sini? Bukannya udah di kasih tau kita pingitan?” protes Kezia.


Angga menaruh telunjuknya di bibir Kezia.


“Ssttt tenanglah… Jangan berteriak atau semua orang akan mendengar suaramu.” ancam Angga. Kezia mengangguk setuju seraya menyatukan bibirnya rapat-rapat.


“Kakak ngapain ke sini?” Kezia mengulang pertanyaannya dengar suara berbisik.

__ADS_1


“Aku merindukanmu…” lirih Angga dengan senyum manis di bibirnya.


“Ya ampunnn…” cetus Kezia sambil menepuk dahinya sendiri. “Kalo mamah tau, kita bisa di marahin loh…” ancam Kezia.


“Ya lagi, seharian aku gag liat kamu. Makan juga gag di temenin..” keluh Angga sambil menekuk wajahnya yang tetap terlihat tampan.


“Terus kakak ngapain ke sini malem-malem gini?”


“Siniii…” Angga menarik tangan Kezia dengan lembut dan membaringkannya di sisi tubuhnya. Kezia tercengang. “Rambutmu masih basah dan sangat wangi.” lanjut Angga sambil mencium rambut Kezia.


“Kak jangan kayak gini, gag baik…” Kezia sedikit menarik tubuhnya menjauh namun Angga menahannya


“Aku hanya ingin memelukmu, sebentar saja…” lirih Angga sambil melingkarkan tangannya di pinggang Kezia. Matanya menatap kezia dengan hangat dengan bibir yang tersenyum tipis. Kezia memalingkan wajahnya, namun Angga menahannya. Ia membenamkan kepala Kezia di dada bidangnya. “Harusnya sejak dulu aku bilang cinta sama kamu…” lirih Angga.


Kezia merasakan detakan jantung Angga yang sangat cepat. Kezia membuka matanya dan mendongakkan wajahnya menatap Angga yang terpejam.


“Apa kakak baik-baik aja? Detak Jantung kakak cepet banget.” tutur Kezia sambil mengusap dada Angga.


“Kamu merasakannya?” Angga membuka matanya dan menatap Kezia yang disahuti anggukan oleh Kezia. “Aku sangat gugup. Setiap di dekat kamu jantungku berdetak sangat cepat.” aku Angga dengan sebenarnya. “Ich liebe dich, schnucki…”


Kezia hanya tersenyum dan menatap Angga yang tengah memandanginya. Angga mendekatkan wajahnya pada Kezia, sangat dekat sekali. Dan terasa bibir Angga menyentuh lembut bibir Kezia. Kezia memejamkan matanya. Namun sekilas, bayangan Arland muncul di pikirannya. Hingga refleks Kezia segera memalingkan wajahnya.


“Kita harus menunggu sampai benar-benar sah…” lirih Kezia. Angga hanya terpaku dengan garis senyum yang tidak pernah pudar.


"Tentu, aku akan menunggunya." Angga mengecup kening Kezia dengan lembut lalu beralih pada kedua matanya, pipinya dan bibir tipisnya. Ia menempatkan dahinya menempel di dahi Kezia. Hawa hangat deru nafas Angga sangat jelas terasa menerpa wajah Kezia.


“Schnucki, nanti kita akan punya anak berapa?” Angga bertanya tanpa mengubah posisinya. Ia sangat menikmati setiap debaran jantung yang berdetak kencang saat Kezia di sisinya.


“Dua mungkin…” sahut Kezia sekenanya. Demi apapun jantung Kezia ikut berdebar kencang saat membayangkan kelak ia akan memiliki anak-anak bersama Angga.


Angga tersenyum kecil mendengar jawaban Kezia yang terasa seperti sebuah harapan baru. “Kira-kira kita akan tinggal dimana nanti?” Kali ini Angga ingin menatap Kezia lebih dalam. Ia ingin berusaha menyelami hati gadis yang sangat di cintainya.


Angga bangkit dari baringannya yang diikuti Kezia. Rasanya tubuhnya berubah memanas jika terus berada dalam posisi sebelumnya.


“Hemm… Mungkin kita bisa cari rumah atau apartemen sendiri. Kita tinggal berdua. Seperti yang kakak minta, kita nikmati waktu berdua."


“Emm aku pikir, sean akan ikut dengan kita. Tapi setelah kita bulan madu ya… Aku gag mau anak kecil itu menjadi penganggu.” ketus Angga sambil terkekeh. Kezia mengangguk sepakat. “Kamu tau, aku sangat menyayangi sean seperti anakku sendiri. Kelak dia kan menjaga kamu dan anak-anak kita. Dan terima kasih kamu pun begitu menyayanginya. Dan sepertinya kita harus segera memberi sean adik.” goda Angga sambil mengangkat dagu Kezia. tatapannya begitu dalam hingga terasa menghujam jantung Kezia. Sebegitu besarnya kebahagiaan Angga saat ini. “Terima kasih, sudah memilih berada di sisiku…” imbuh Angga. Ia meraih tangan Kezia kemudian menciumnya dengan lembut membuat Kezia kehabisan kata-kata.


“Baiklah , selamat malam schnucki… mimpi yang indah.” Ujar Angga. Rasanya sudah cukup ia mengungkapkan semua yang ingin ia katakan dan mendengarkan semua yang ingin ia dengar dari Kezia.


“Selamat malam kak…”


Angga beranjak dari tempat tidur Kezia. ia berjalan keluar kamar Kezia. Sementara itu kezia masih terpaku di tempat tidur dengan tangan menyentuh bibirnya. Angga membuka pintu kamar Kezia dan melambaikan tangannya sebelum menutup pintu. Kezia membalasnya dengan senyum.


Saat bayangan Angga sudah tak terlihat, Kezia menutup matanya dan menghembuskan nafasnya beberapa kali.


“Kak, maafin aku. Sampai saat ini aku masih belum bisa melupakan dia. Semakin aku berusaha, semakin tak bisa melupakannya. Tapi aku akan terus belajar, belajar mencintai kakak, tolong tunggu aku…” lirih Kezia yang tanpa ia sadari air mata menetes begitu saja di pipinya.


Bahunya bergetar karena tangis yang pecah. Ia menutup mulutnya sendiri karena khawatir suaranya terdengar oleh orang lain. Nyatanya hal tersulit harus ia lakukan, bukan belajar mencintai Angga tapi berusaha melupakan Arland.


Hati kecilnya selalu merasa bersalah pada Angga. Angga begitu mencintainya namun Kezia masih belum sepenuhnya menempatkan Angga di hatinya sebagai laki-laki satu-satunya.


"Maaf...."

__ADS_1


***


__ADS_2