
Malam mulai menjelang namun dari ruang tempat Kezia di rawat masih terdengar suara tawa dan obrolan hangat Kezia bersama para sahabatnya. Mereka bercerita dengan seru membahas keseharian mereka di sekolah.
“Key, lo tau gag, try out terakhir kemaren, dena dapet nilai C.” ledek Kania sambil tertawa geli.
“Sialan lo, emang lo hobi banget yaa bongkar aib gue! Gag sekalian aja lo umumin di toa mesjid aib gue biar semuanya denger?” sahut Dena yang mendelik kesal.
“Emang lo ikut TO jurusan apa?” selidik Kezia yang ikut tertawa geli melihat tingkah sahabatnya.
“Administrasi Negara. Tapi kayaknya gue harus nyerah deh…” keluh Dena sambil menyandarkan kepalanya di bahu Kezia.
“Makanya, kalo pelajaran PKn, lo masuk kelas, simak tuh pelajaran bener-bener, jangan cuma nyampe gerbang doang!” timpal Sherly yang diikuti kekehan geli membuat Dena semakin kesal.
“Iihhh sherly, lo yaa… Dasar anak kembar!” Dena memukul paha Sherly beberapa kali karena kesal.
“Yaaangg… dena mukul akuu…” rajuk Sherly pada Ricko.
“Denaaa….” Panggil Ricko.
“Apaan lo, mau ikutan urusan cewek?" Dena melototi Ricko membuatnya tidak jadi melanjutkan kalimatnya. "Lo lagi dikit-dikit ngadu. Lo liat yaa kalo nanti gue udah punya pacar,, eeemmmm lo gag bakalan berani bully gue lagii…” sahut Dena sambil mengerucutkan bibirnya.
Ketiga sabahat Dena dan juga Ricko hanya bisa tertawa melihat tingkah Dena. Namun, ada satu orang yang sejak tadi termenung, seolah pikirannya tidak berada disana. Kezia menolehnya namun sepertinya Arland memang sedang berada dalam pikirannya.
Flash Back on
Siang itu, Arland berniat untuk menjenguk Kezia karena ia merasa sangat merindukan pacarnya hari ini. Kakinya menapaki lantai koridor rumah sakit dengan langkah santai. Di tangan kanannya ia membawa sekeresek penuh jeruk, buah favorit Kezia, sementara tangan kirinya dimasukkan ke saku celana. Suasana rumah sakit begitu hening saat itu. Bibirnya melukiskan sebuah senyuman saat membayangkan akan bertemu dengan gadis kesayangannya.
Beberapa saat sebelum sampai di pintu kamar Kezia, Arland melihat seseorang dari arah berlawanan. Mereka bertemu pandang.
“Sedang apa kamu di sini?” Tanya Angga pada Arland yang berdiri mematung di hadapannya.
“Gue mau ketemu pacar gue lah, lo yang mau apa?” Tanya Arland dengan sedikit sombong.
“Hah, pacar? Apa saya tidak salah denger?” sahut Angga sambil memperlihatkan senyum mengejeknya.
“Lo gag perlu iri gitu dong kalau kezia hanya nganggap lo kakak. Gue pacarya sekarang, jadi jangan terus-terusan deketin dia dan berlagak seolah lo kakak yang baik.” Tantang Arland tanpa menurunkan pandangannya sedikitpun.
Rupanya, ucapan Arland sedikit banyak menyulut emosi Angga. Angga menarik kerah baju Arland dan mendorongnya ke dinding kamar Kezia.
“Hey dengar, saya sudah memberi kamu kesempatan berada di sampingnya. Tapi menjaganya saja kamu tidak bisa dan malah membuatnya hampir mati. Masih berani sombong di depan saya dengan mengaku sebagai pacarnya?” gertak Angga dengan serius. “Apa yang bisa kamu berikan buat dia? Cinta? Jangan bermimpi, hidup tidak seindah cerita di novel romantis.” Imbuh Angga sambil melepaskan tangannya.
Arland mulai tertunduk. Ucapan Angga terasa seperti petir yang menampar Arland. Begitu keras dan sangat menyakitkan.
“Hahahha, anak kecil. Lihat dirimu, digertak begitu saja langsung diam.” Gumam angga dalam hatinya.
“Lo begitu sombong, padahal yang lo miliki sekarang cuma pemberian orang tua lo!” cetus Arland dengan lantang pada Angga.
__ADS_1
“Hem… lalu apa salahnya? Kalau kamu merasa mampu menyaingi saya? Bekerja kelaslah, karena masalahnya bukan kamu lahir di keluarga seperti apa, tapi apa yang sudah kamu lakukan untuk memantaskan diri. Sekarang belajar dulu dengan benar, duat diri kamu layak buat Kezia, atau saya akan merebutnya pelan-pelan. Dan itu akan sangat menyakitkan!” ancam Angga seraya merapikan baju Arland yang di buat kusut olehnya.
Arland mengibaskan tangan Angga dan Angga hanya tersenyum sinis sebelum pergi meninggalkan Arland.
Angga sangat tidak suka dengan perkataan Arland. Setiap orang selalu beranggapan Angga bisa hidup dari harta kedua orangtuanya, mereka tak pernah berfikir bagaimana usaha Angga untuk keluar dari cengkraman kekayaan orangtuanya dan menunjukkan bahwa orang bisa menghargai Angga sebagai seorang Ryanggara, bukan pewaris keluarga wibawa.
Perlahan bayangan Angga menghilang di balik pintu kamar Kezia.
“Kamu hampir membuatku kehilangan schnucki –ku, kamu harus belajar banyak untuk menebusnya.” Gumam Angga dalam hatinya.
Rasanya tubuh Arland terasa begitu lemas. Dia jatuh terduduk dengan punggung masih menempel di tembokan. Perkataan Angga terus berulang di kepalanya dan rasanya seperti dapat tamparan berkali-kali. Arland menundukkan kepalanya. Tangannya mengepal dan memukul udara di sampingnya. ia mulai mengacak-acak rambutnya sendiri. Ia memang telah gagal menjaga Kezia.
“Apa gue emang gag layak ada di samping kezia?” lirih Arland dalam hatinya.
Seketika hatinya terasa remuk redam. Terlalu banyak hal yang tidak bisa dia lakukan, bahkan hanya sekedar untuk menjaga kezia. “Kamu bodoh Arland, kamu bodoh!” pekik Arland sambil memukul dadanya sendiri. “Bangun bodoh, bukan waktunya untuk menangis dan menyesal!” seru Arland pada dirinya sendiri. Arland segera bangkit. Disimpannya sekantong jeruk yang ada di tangannya, dan menaruhnya di kursi tunggu yang ada di koridor rumah sakit.
Arland berjalan meninggalkan ruangan tempat Kezia di rawat. Langkahnya menjauh meninggalkan rumah sakit. Eliana yang baru keluar kamar Kezia melihat bayangan Arland. Diliriknya ada sebuah kantong yang ternyata berisi jeruk. Eliana mengambilnya lalu tersenyum hangat.
“Terima kasih nak…” lirih Eliana menatap bayangan Arland yang semakin menjauh dan menghilang.
Flash back off
*******
“Land… Land….” Kezia memanggil nama Arland berulang kali, namun Arland tidak juga menjawab.
“Iyaaa key…” Arland tampak gelagapan. “Anak-anak pada kemana?” tanya Arland yang kebingungan saat sadar hanya tinggal mereka berdua yang berada di kamar Kezia.
Kezia menggelengkan kepalanya. “Kamu kenapa sih, dari tadi ngelamun aja? Sampe-sampe temen-temen pamit juga kamu gag sadar…” keluh Kezia sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
Arland menggeser duduknya mendekati Kezia. Arland menatap wajah Kezia yang tengah mengerucutkan bibirnya karena kesal.
“Maafin aku ya key….” Lirih Arland tanpa melirik ke arah Kezia, dia masih tetap tertunduk dengan kedua tangan yang menopang kepalanya.
“Hey kamu sebenernya kenapa?” Kezia mengulang pertanyaannya, kali ini dia merasa sedikit cemas.
“Aku… harusnya aku bisa menjaga kamu baik-baik. Tapi aku malah gag bisa ngelakuin apapun buat bantu kamu apalagi menjaga kamu. Aku bener-bener gag berguna…” cetus Arland dengan frustasi mengacak-acak rambutnya sendiri.
“Heyy, siapa yang nyalahin kamu, ini bukan kesalahan kamu kok…” Kezia menarik tangan Arland yang sejak tadi tertunduk. “Yang namanya orang celaka, sakit bahkan meninggal, itu sudah jadi takdir… ada yang bisa kita hindari tapi banyak yang juga gag bisa kita hindari. Dan aku gag menyalahkan siapapun…” terang Kezia.
Arland mulai mengangkat kepalanya dan menatap Kezia.
“Iya tapi kalau saja…”
“Gag ada kalau aja land… Semuanya memang harus seperti ini… Tugas kita hanya menjalaninya dan ikhlas, itu aja dan aku gag pernah nyalahin siapapun terlebih itu kamu” Kezia menatap Arland dengan penuh kesungguhan.
__ADS_1
Arland berusaha tersenyum melihat manik hitam yang begitu penuh kehangatan. Kehangatan yang selalu Arland rindukan beberapa hari ini.
“Aku laper, ayo temenin aku makan…” sambung Kezia sambil mengalihkan pandangannya. Arland mengangguk setuju.
“Kedepannya, aku akan menjaga kamu lebih baik…” gumam Arland dalam hati sekali lalu menoleh Kezia.
“Key, tunggu sebentar…” tutur Arland.
“Kenapa?” Kezia mengernyitkan dahinya.
Arland mengambil sesuatu dari saku celananya. Sebuah kotak berwarna navy ada dalam genggamannya.
“Selamat ulang tahun….” Tutur Arland sambil membuka kotak tersebut di hadapan Kezia.
Mata Kezia berbinar. Ia refleks menutup mulutnya sendiri karena terkejut dengan apa yang dilihatnya. Sebuah kalung dengan inisial AK ada di hadapannya.
“Aku tau ini terlambat, tapi aku harap kamu gag marah yaa…” lanjut Arland sambil berdiri hendak memasangkan kalung tersebut.
Kezia mengelengkan kepala seraya tersenyum. Ia memegangi rambutnya agar Arland leluasa memasangkan kalung di leher jenjang Kezia. Arland melingkarkan tangannya di leher Kezia dan memakaikan kalung yang dihadiahkan.
“Thanks phiu….” Ujar Kezia sambil memainkan inisial nama di kalung tersebut.
“Apa kamu suka?”
Kezia mengangguk dengan yakin. Arland tersenyum seraya mengusap lembut pipi Kezia.
“Baiklah, sekarang kamu makan dulu…”
Arland segera bangkit dan mengambil makanan yang berada di dekat pintu masuk. Ia mendorong meja tersebut lalu menempatkannya di depan Kezia.
“Kamu udah makan?” tanya Kezia sambil tetap membuka-buka plastik yang menutup makanannya.
“Makanlah, aku udah kenyang” tutur Arland.
“Grruukkk…” tanpa di sangka perut Arland malah berbunyi.
Arland tersenyum sambil menggaruk kepalanya walau tidak gatal. Kezia ingin tertawa tapi takut dosa. Akhirnya satu suapan mendarat di mulut Arland, lalu menguyahnya dengan santai.
Malam itu makan malam dengan menu rumah sakit terasa begitu nikmat. Satu piring berdua, cukup membuat mereka kenyang dengan banyaknya romansa yang hadir di antara keduanya. Selepas makan malam, Arland menemani Kezia membaca buku pelajaran. Kezia di tempat tidurnya, sementara Arland berbaring di sofa. Waktu seolah sepenuhnya menjadi milik mereka.
Mereka tenggelam dalam materi yang mereka baca masing-masing. Eliana dan Martin yang melihat dari jendela ruangan Kezia, hanya tersenyum saat melihat Kezia yang tampak senang di temani Arland.
Hari semakin malam, Arland beranjak untuk pulang. Selintas terlihat, wajah Kezia tertutup oleh buku. Arland mengambil buku yang menutupi wajah Kezia dan ternyata Kezia sudah terlelap. Arland tersenyum kecil melihat Kezia tertidur pulas. Disimpannya buku tersebut di samping Kezia.
“Aku pulang dulu mhiu..” lirih Arland sambil mengusap lembut pipi Kezia dan bergegas keluar dari ruang perawatan.
__ADS_1
****