
Awal hari aku bergegas dengan terburu-buru menuju ke SMA Cendrawasih yang begitu terkenal dan populer, tentu tak lebih dari sebuah rumor yang digosipkan.
POV Caca Nandika
Alarm berbunyi disamping tepat di meja tidurku.
"Nghh... Jam berapa ini?," tanyaku pada diri sendiri sembari menguap lalu mengambil jam beker.
"Hah?! Jam 8?! Mati aku, bisa kena hukuman nih!".
Aku berhamburan kesana kemari untuk mencari pakaian di lemari yang seharusnya sudah ku siapkan. Namun, apa daya aku sendiri terlalu berangan-angan nanti mau ngapain dan akhirnya sulit untuk tidur.
flashback ON
Perkenalkan sebelumnya namaku Caca Nandika, biasa dipanggil Caca, aku memiliki satu sahabat yang bernama Rendy, dia sahabat kecilku dan hingga sekarang kita masih bertetangga. Walaupun salah satu orang tuaku meninggal akibat kecelakaan dan hanya Ayahku yang terselamatkan. Hanya saja sekarang aku tinggal sendiri saat ini, karena Ayahku yang sekarang menjadi bertindak moody di rumah sakit akibat dari kecelakaan. Mungkin kejiwaannya memiliki masalah setelah kecelakaan tersebut dan tanpa mengingatku dan ibuku. Aku masih menyimpan beberapa kenangan sebelum kecelakaan terjadi.
Hanya saja saat itu aku masih di titipkan di tempat Nenekku yang kini sepertinya sudah tiada seingatku. Dan sebelum kehilangan nenekku aku dipertemukan dengan Rendy yang kini menjadi teman kecil dan tetanggaku.
flashback OFF
Saat kini aku bergegas keluar rumah tak lupa menyampaikan salam pada kenangan yang berupa foto keluargaku.
"Pa.. Ma.. aku berangkat dulu," dan berlari keluar karena tak banyak waktu untuk bisa sampai ke sekolah yang berjarak jauh dari rumah.
Selama perjalanan aku mengumpat diriku yang ceroboh sembari berlari tak beraturan dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Ugh...Sial... Di hari pertama seperti ini aku bisa terlambat?! "
... 1½ Jam Kemudian ...
"Hah.. Hah.. (nafas tak beraturan) Akhirnya sampai juga," kataku sambil mengambil nafas berulang-ulang.
'Setelah ini berlalu aku harus bagaimana kedepannya? Di hari pertama saja sudah terlambat begini?', berkata dalam hati sembari mengusap dada.
'Tenang Ca, tenang, kamu pasti bisa terbiasa', aku mulai menyemangati diri dan berjalan masuk menuju gerbang sekolah.
Tentu saja tidak mudah untuk menjadi lebih sembarangan, melompat pagar pun tidak bisa.
"Ini sekolah apa sih?! Masa iya gerbangnya 2 rangkap begini! Yang benar saja aku harus baris diluar?! ", umpatku asal-asal.
Hingga membuat salah satu seorang ketua OSIS mendengar ucapanku yang sembarangan. Tentu saja aku merasa kaget dengan kehadirannya.
'Yups, tertangkaplah aku!', hatiku mulai meracau sesuka ria. Dan ketua OSIS itu terlihat sinis menatapku seolah-olah ingin menangkap mangsanya tanpa berkata-kata.
Kemudian pengurus OSIS lainnya memanggilku.
"Hei, kamu ngapain bengong disana?! ", serunya begitu terdengar tegas membuatku merinding.
Aku berlari kecil ke arah yang memanggilku tadi dan benar saja aku berkumpul dekat dengan anak lain yang tentunya juga terlambat. Tak heran SMA Cendrawasih begitu ketat akan peraturan yang sudah menjadi tradisi dan rumor yang digosipkan memang benar adanya. Siapa sangka aku bisa berada di tempat seperti ini, entah apa ini sesuai dengan keinginanku atau orang tuaku.
Hingga lamunanku dibuyarkan oleh seorang sekretaris OSIS yang ramah tamah.
"Kau kenapa? Apa kau sakit? ", tanyanya padaku.
Aku hanya menggelengkan kepala dengan kecil.
"Baiklah kalau begitu, kau bisa mengikuti barisan yang lainnya?", titahnya.
Dan aku pun hanya menganggukkan kepalaku.
Tak lama kemudian aku melihat sosok sahabat kecilku yang ternyata dia berada di lantai ke 2 dengan bergurau ria dengan teman temannya.
'Apa dia melupakanku? Bukankah kita satu tetangga?',ucapku dalam hati sambil menatap ke arah dirinya.
Dan pada akhirnya dia pun juga menemukanku menatapinya. Ia tak pernah sungkan untuk menyapaku berkali-kali walaupun dirinya memang suka tebar pesona, tapi yang ku kagumi darinya ialah caranya memperlakukan orang lain dengan apa adanya. Seperti yang kalian ketahui dirinya adalah Rendy sahabat kecil yang ku kagumi sampai saat ini.
__ADS_1
"Hei... Caca... !!!", teriak Rendy dari lantai 2 hingga memecahkan lamunanku. Lalu hanya kubalas dengan lambaian tangan dan senyum.
Kemudian tanpa melihat jalan aku merasa ingin menghampirinya, namun terhenti dan membuatku tertabrak dengan seseorang yang mungkin sedikit pendek dari ukuran tinggiku.
"Hei, lihat lihat dong kalau mau jalan!", ucapnya dengan kasar.
"Maaf ,dek kamu terlalu kecil dariku", aku meminta maaf dengan cara sesopan mungkin. Karena aku tahu bahwa tidak mudah berurusan dengan seseorang yang berada di SMA Cendrawasih.
"Lain kali liat liatlah, gunanya mata apa?!",racaunya seperti orang tua memarahi anaknya yang melakukan kesalahan.
"Iya iya aku bakal pake mata aku kok lain kali", ucapku membela diri.
"Suruh siapa situ kecil", lanjutku dengan nada lirih.
"Hah?! Apa kamu bilang?!",bentaknya membuatku sontak menjadi kaget.
"Hah? Eng-enggak kok, nggak ada", jawabku sambil mengalihkan pandangan.
"Ya sudahlah, aku malas berdebat denganmu, dan lagi urusanku lebih penting", ucapnya mengalah dengan arogan.
'What?!'
Aku dikejutkan lagi oleh sisi lain orang ini. Siapa sangka aku bisa ketemu orang macam ini. Penuh temperamen, kekanak-kanakan, dan bossy.
'Semoga di kehidupanku selanjutnya tidak bertemu dengannya', ucapku dalam hati.
POV Andra Duke
"Sial banget dah, debat sama innocent kitten", sembari membuka pintu ruang OSIS dengan kasar tanpa memperhatikan yang lain.
"Hei, lo kenapa bro?", ucap Aldo yang memperhatikan sahabatnya yang dari tadi meracau dengan tidak jelas.
"Hufh... Huh? Aku? Yang benar saja gue ketemu INNOCENT KITTEN!!! Mana gue dikata kecil lagi ", ucapku dengan kesal.
"Hah? Siapa? ", sontak Aldo kaget mendengar ucap Andra dan membuatnya penasaran.
Lalu teman yang lain tidak bukan ialah Avan, karena tau ia menjadi bagian sekretaris dan mengalihkan pembicaraan untuk membahas rapat tentang pendisiplinan SMA Cendrawasih.
Dan rapat pun berlalu dengan lancar adanya.
POV Author
Para siswa siswi baru berlalu lalang memasuki kelas masing-masing. Dan tentu tak lupa kalau yang terpopuler di SMA ini adalah anggota OSIS.
Aldo Wicaksana yang merupakan Ketua OSIS, dan Andra Duke merupakan Wakil Ketua OSIS, tak lupa Sekretaris yang mendampingi mereka yaitu Avan Nova untuk mengurus tata tertib di SMA Cendrawasih. Dengan karakter dari masing-masing membuat mereka mengeluarkan pesonanya. Benar saja saat mereka berjalan bersamaan diiringi dengan aneka penggemar yang menyoraki. "Wah, keren! Aku mau jadi pacar nya ketua OSIS, lihat karakternya", bisik salah satu perempuan.
"Kalau aku mah, Wakil Ketua dong, lihat tuh... Kecil dan imut lagi", dan perempuan lain pun membandingkan ketiga anggota OSIS.
"Hem, kalau aku sih sekretaris Avan dong, dia lebih beda sendiri, nggak angkuh, ramah tamah pula", sahut yang lainnya.
Dan di suatu sisi Caca yang hanya terdiam dibangku tempat ia duduk sekarang yaitu kelas 1-B dengan memperhatikan teman yang lain sedang menatapi anggota OSIS. Sedangkan Caca sendiri tak mempedulikan anggota OSIS, bisa di bilang ia cuek bebek dengan keberadaan mereka. Seakan ingin menjauh dari para anggota OSIS.
POV Caca Nandika
Aku memulai aktivitas kecilku dengan memperhatikan teman yang berkerumun di dekat jendela. Entah apa yang mereka lakukan hanyalah untuk menarik perhatian dengan para anggota OSIS yang menyebalkan dengan berbagai aturan.
Saat ini aku berada di kelas yang berbeda dengan sahabat masa kecilku yang ku kira ia melupakanku ternyata itu hanya pikiranku saja. Namun, dia berada di kelas yang bersampingan denganku. Dan tiba-tiba ia berteriak asal padaku.
"Hoii... Ca... Eh?! Ada apa dengan perempuan disini? Tak jauh berbeda dengan seisi kelasku", ujarnya dengan berjalan ke arahku sambil minum jus orange kotak kecil setelah berteriak demgan hebohnya.
'Hah? Kukira dia tau kenapa? Ini malah balik nanya? Yang benar saja?', gumamku lirih.
"Entahlah, menurutmu apa yang terjadi?", ucapku tak peduli pada kerumunan yang masih setia menatap para anggota OSIS.
"Tumben kau ke sini, kemana teman-temanmu?", lanjutku dengan heran.
__ADS_1
"Yaaa... Kau taulah kita lama sekali tak ketemu, dan aku menyadari kau berada di sini...itu membuatku merasa lega...hehehe..", lalu menjawabku dengan cekikikan.
Aku hanya ber-oh ria saja mendengar jawabannya.
flashback ON
Ya, pada hari itu aku dengan sahabatku Rendy ini pernah berpisah cukup lama karena keluarga Rendy sendiri yang notabene tak ingin menerima kondisiku setelah keluargaku menjadi setengah hancur. Seperti yang orang lain lihat pada umumnya setiap orang mudah berubah pada waktunya. Keluargaku dan keluarga Rendy di kehidupanku yang sebelumnya ialah sahabat karib. Orang tua kami yang memperkenalkanku dengan Rendy. Dan kami menjadi akrab, namun setelah beberapa hal terjadi dalam kehidupanku. Mereka mulai mengacuhkanku yang entah alasannya apa, membuatku penasaran tapi ku urungkan untuk mengetahui hal itu. Aku hampir sering menyapa keluarga Rendy saat berpapasan, namun orang tua Rendy hanya tersenyum miris padaku. Dan membuat hatiku terasa sakit. Selanjutnya aku hanya memulai membiasakan hariku dengan sesukaku. Tentu saja, aku tak berdandan, tak mempedulikan hal yang menarik perhatian, dan melihat kondisi saat ini tak memungkinkan bagiku untuk berhura ria menghabiskan uang tabungan hanya untuk hal seperti itu.
Aku hanya bekerja paruh waktu menjadi pelayan di Youth Café, hanya dengan cara ini aku mengumpulkan uang untuk kehidupan sehari-hari. Tak lupa aku juga sering mengunjungi Ayahku Chris Dika yang masih dalam perawatan.
flashback OFF
"Eh, lihat ini ternyata yang mereka lihat para OSIS"
"Kamu juga perlu lihat deh"
"Hah? Buat apa aku perlu lihat?", ucapku yang sontak kaget karena paksaan Rendy yang suka bertindak seenaknya.
"Dih, lihat aja dulu"
'Memangnya kenapa?',tanyaku heran.
Kemudian aku mengarah ke kerumunan, dan tak sengaja desakkannya membuatku hampir terjatuh, karena kelas ini berada di lantai 2. Aku kaget dan tak ada seorang pun yang mencoba menangkap tanganku.
BRUKKK
"Arrgh... Apa aku sudah mati?", ucapku sembarangan tanpa memperhatikan penampilan dan lainnya. Yang ternyata aku jatuh berada di depan anggota OSIS.
'Perasaan yang ku dengar anggota OSIS di SMA Cendrawasih hanya memiliki 3 orang saja, yang satunya mana?', tanyaku dalam hati.
"Ha-halo... Kakak -kakak OSIS", sapaku dengan senyum terpaksa tanpa ku sadari ada yang aneh, karena aku jatuh sembarangan.
Yang lain hanya shock melihatku, tentu pada perempuan penggemar OSIS, mulai menatapku dengan tajam membunuh.
"Hei, kau enak sekali ya, minggir dari punggungku! ", ucap seseorang yang meronta-ronta membuatku terasa seperti main kuda-kudaan.
Aldo dan Avan hanya terbelalak dan terbahak melihat kejadian itu. Dan Aldo memotretnya untuk menjadi kenangan sahabatnya itu.
"Ah... Maaf aku tidak sengaja, tapi terimakasih kak..Heheh... ", ucapku dengan segelintir senyum paksa.
"Kau... !", ucapnya sambil mengamatiku dengan mata sinisnya.
"Aku...? ", ucapku penuh tanda tanya.
"Kau yang tadi menabrakku kan? Kau juga... ",ucapnya terhenti karena ku tutup mulutnya.
Aku tersadar melihat reaksi yang ia ungkapkan, dirinya tampak ingin membuka aibku yang tadi terlambat dan terburu-buru. Dirinya meronta karena aku bersikap sembarangan padanya.
Kemudian keduanya menatap kami penasaran dan aku mulai melepaskan tindakanku.
Dan salah satu dari mereka mengeluarkan tanya padaku.
"Kau tau siapa kami?"
Aku menggeleng kecil, karena aku merasa kejadian ini mirip dengan kejadian sebelumnya.
"Kau jangan terlalu kasar begitu pada perempuan manis ini, biar ku perkenalkan dia ini Aldo Ketua OSIS, dan di sebelah ini adalah Andra Wakil Ketua OSIS, lalu aku sendiri adalah Avan sekretaris OSIS.", ucapnya menjelaskan.
Aku hanya mengangguk dan mengamati mereka.
"Lalu namamu siapa? ", lanjutnya menanyakanku.
"Aku adalah Caca Nandika", ucapku dengan tegap seperti saat pertanyaan paskibra. Mereka pun sontak terbahak, yang sebelumnya ku lihat di sisi lain hanya mengamatiku. Tak salah lagi si kecil, kalian pasti tau si kecil ini mengamatiku terlalu intens membuatku merasa merinding.
'Tunggu jadi dia WAKIL KETUA OSIS? Jadi orang yang ku anggap kecil ini ...'
__ADS_1
'Matilah aku, kalau sampai berurusan dengannya'