
Jadi sejak hari itu kami membangun bisnis kami. Awalnya kami berjualan berbagai barang sembako dan juga minuman yang biasa kami buat. Perlahan namun pasti toko berkembang begitu maju.
Hingga akhirnya ide gila muncul dikepalaku bagaimana seandaikan Es cincau yang aku buat bisa diminum setiap saat lewat kemasan sachet. Awalnya aku ragu, tapi saat aku mengatakannya pada Nanda. Dia sangat menyetujui ide dariku, tapi kami tahu jalannya akan sulit.
"Kita harus mencari investor!" Ujar Nanda.
"Investor? Tapi siapa orang yang mau menginvestasikan uangnya pada dua orang bocah seperti kita." Lanjutku.
"Aku mengenal beberapa rekan ayahku, sepertinya salah satu dari mereka mau menginvestasikan uangnya." ujar Nanda bersemangat.
"Benarkah? Apa kamu yakin?" Raguku.
"Zaman sekarang koneksi itu sangat penting. Makanya aku menjalin hubungan dengan banyak orang. Percayalah padaku kita akan sukses besar!" Ujar Nanda bersemangat.
Akhirnya kami pergi menemui beberaoa orang yang memiliki koneksi dengan Nanda. 10 tempat kami datangi dan 10 tempat pula mengusir kami. Aku sempat putus harapan tapi tidak dengan Nanda. Dia sangat yakin tempat terakhir yang akan kami datangi akan memberikan hasil yang baik.
"Sekarang katakan Kenapa aku mau menginvestasikan uangku pada ide konyol kalian berdua." Ujar investor.
"Ide kami tidak konyol tapi briliant, Pangsa pasar dari produk kami akan sangat luas. Dengan begitu jika bapak menginvestasikan uang bapak pada kami. Angkanya akan berkembang berkali kali lipat dengan sangat cepat." Ujarku meyakinkannya.
"Percayalah bapak tidak akan kecewa." lanjutku meyakinkan.
"Hahaha.. Aku sudah banyak menemui orang sepertimu. Kebanyakan dari kalian hanyalah omong kosing dan hanya bisa berjanji, pergilah jangan mengganggu waktuku." Balasnya ketus sambil mengibaskan tangan.
Hilang sudah harapanku ketika pria itu mengusir kami. Tapi lagi dan lagi Nanda menunjukan kehebatannya didepanku.
Brek...
"Ayo kita pergi Lily, jangan buang waktu kita bersama pria baik ini. " Ujarnya sambil memukul meja.
"Hah.. Apa maksud perkataanmu?" sautnya.
"Apa? Aku?" Ujar Nanda sok bodoh.
"Jangan meremehkanku bocah! Kamu pikir kamu ini siapa?" Sautnya tegas. Nanda tertawa mendengar orang itu.
"Siapa aku? Aku adalah orang yang datang dan menawarkan keuntungan pada orang yang sanggup mempercayainya."
"Aku sudah datang ke 10 tempat dan semuanya terlalu takut untuk percaya. Jadi jika kau termasuk bagian dari para pengecut itu, sebaiknya kami tidak membuang waktu kami. Selamat tinggal!" Ujar Nanda berdiri.
"Aku belum selesai bicara denganmu. Kamu pikir aku ini pengecut..?" Ujarnya jengkel.
"Aku tahu jejak investasimu, selama ini kamu hanya berinvestasi pada perusahaan yang tergolong aman saja. Kau terlalu takut untuk bergerak di luar zona nyamanmu." Ujar Nanda dengan Nada meledek.
Negosiasi berjalan sangat Alot sampai 2 jam lamanya. Namun kali ini semuanya tidak sia sia, Nanda berhasil mendapatkan investor pertama kami.
"Aku masih tidak percaya orang itu menginvestasikan 200 juta." Ujarku gemetar.
"Hmmm.. Aku juga tidak. Tadinya aku kira kita akan dipukuli terlebih dahulu sebelum diusir." Ujar Nanda.
"Hah? Apa?"
Aku terkejut sambil menatap tajam kearahnya. Tapi Nanda malah cengengesan dan tertawa didepanku.
"Nanda apa kamu pikir kita akan berhasil?" Tanyaku serius padanya.
"Aku sangat yakin!" jawab Nanda spontan.
"huft.. dasar, tapi sebelum itu ada hal yang harus kita lakukan." Lanjutku.
"Aku tahu bagaimana cara menyelesaikan semuanya."
30 menit kemudian.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanyaku kesal.
"Aku selalu kesini setiap hari."
__ADS_1
"Kau tau tempat apa ini kan?" Tanyaku jengkel.
"He'em." Nanda mengangguk.
"Lalu apa yang kita lakukan disini? Ini kuburan Nanda. Tidak ada apa apa selain makam ditempat ini." ujarku keras.
"Jadi begitu..!" Ucap Nanda.
Sekeras apapun aku berbicara dia tetap tidak melirik kearahku. Dia terus saja memandangi makam didepannya.
"hah? Kamu tidak mendengarkanku kan." lanjutku.
"Yah dia memang sedikit kasar!" Ujar Nanda.
"Nanda..!" Ujarku sambil menarik sebelah telinganya.
"Aw.. itu sakit Lily!" Balas Nanda sambil menghindar.
"Itu tidak seberapa seharusnya aku mencabut telingamu. Seharusnya kita mencari nama untuk perusaahan kita. Tapi kamu malah membaeaku ke tempat ini dan mengacuhkanku begitu saja. " Ujarku jengkel
"PT Bumi Rahayu!" Ujar Nanda.
"Apa?"
"Ibuku bilang nama perusahaan kita adalah PT BUMI Rahayu." Lanjutnya.
"Kau berbicara dengan makam ibumu?" Ujarku pelan.
"Memang kenapa? Dia juga bilang kamu itu adalah perempuan yang galak, cerewet, dan tukamg marah marah." Ujar Dia sambil menunjuk kearahku.
"Itu hanya khayalanmu saja, sebenarnya kaukan yang mengatakan itu semua."
Aku mengejar Nanda yang berlari duluan setelah mengucapkan kalimatnya padaku. Sejak hari itu PT Bumi Rahayu mulai beroperasi.
***
"Nanda berbicara dengan makam ibunya?" Ujar Faiz bingung.
"Itu keren!" Saut bella.
"Itu gila!" Balas Arin spontan.
"Ternyata Nanda sudah aneh dari dulu." ujar Ella.
"Aku masih tidak yakin dengan ceritamu, Apa itu semua benar?" Ujar Faiz ragu.
"Tentu saja semua itu benar kalo tidak, Bagaimana mungkin sekarang ini ada perusahaan yang bernama PT Bumi Rahayu." Saut Bu maya sambil membawa tumpeng buatannya.
"Wah ada tumpeng!" Ujar Bella.
"Aku kira kita tidak akan membuat tumpeng!" Saut Lily.
"Ibu ngidam pengen bikin tumpeng, tapi gak sempet bilang kekamu." Saut bu maya.
"Hey tunggu ceritanya belum lengkap bagaimana dengan kebakaran Gudang. Bukankah Gudang pernah terbakar dan perusahaan hampir bangkrut." Ujar Arin.
"Kau benar." saut Lily.
***
Produk kami laku keras, dalam sekejap perusahaan menjadi besar. Kami merekrut sejumlah orang diantaranya adalah Pak yogi dan pak mochtar dan banyak irang lainnya yang berperan sebagai operator.
Tapi tepat 2 tahun perusahaan berdiri. Gidang kebakaran, semua produk jadi dan mentah terbakar dan hampir tidak ada yang bersisa.
Aku sangat terpukul dengan kejadian itu. Aku menangis didepan gudang yang sudah hangus dan berubah menjadi abu. Bukan cuman aku saja tapi karyawan lain juga begitu.
Tapi Nanda dia berdiri dengan tegarnya sendirian. Dia berdiri menatap gedung yang sudah hangus. Lalu dia melihat kearahku, dia tersenyum dan meraih tanganku.
__ADS_1
"Menagis hanya sia sia, menyesalpun tak ada gunanya. Tetaplah berdiri dan menghadapi semua masalah dengan kuat." Ujar Nanda.
"Bangunlah Lily, kita harus membereskan semua ini." Lanjut Nanda tersenyum.
Entah bagaimana dia masih punya Energi untuk terus tersenyum. Tapi percaya atau tidak, sebab itulah semangat kami kembali bangkit. Kami bergotong royong untuk membereskan hasil dari kebakaran waktu itu.
Mengumpulkan yang tersisa dan Membuang yang tidak terpakai. Tapi tak lama saat kami sedang beres beres seseorang datang ketempat kami yang sudah berantakan.
"Wah.. Aku bingung sekali saat ini, Sebenarnya angin apa yang membawamu datang ke tempatku yang jelek ini." Ujar Nanda.
"Aku hanya datang mengunjungi putraku." Ujar seorang lelaki.
Aku berbalik dan melihat ke arah suara itu berasal, ternyata itu adalah ayahnya Nanda. Aku kaget bukan main saat melihatnya apalagi saat mendengar kalimatnya. Apa dia mengakui Nanda sebagai putranya.
"Dia..?" Gumamku pelan.
"Aku datang untuk memberikan tawaran kepadamu." ujarnya.
"Apa yang kau inginkan dari kami hah?!" Ujarku keras.
"Aku akan memberikan kalian suntikan dana yang sangat besar. Tapi dengan satu syarat Kau harus bergabung dengan perusahaan milikku." Ujarnya sambil menunjuk kearah Nanda.
"Hah.! Kenapa kami harus percaya kepadamu?" Ujarku keras.
"Aku tidak berbicara denganmu bocah, aku berbicara pada anakku." Bentaknya keras.
Saat mendengar bentakannya aku lanhsung merasa lemas. Aku sadar orang ini sangat berbahaya dan kuat.
"Baiklah Aku akan bergabung dengan Perusahaanmu. Tapi sebagai gantinya kamu harus memberikan suntikan dana yang besar bagi perusahaanku ditambah 1 permintaan." Ujar Nanda.
"Nanda..?" gumamku pelan.
"Apa yang kau inginkan?" Ujarnya.
"Aku ingin kamu mengingat wajah dari wanita yang telah melahirkan aku ke Dunia. Ingatlah wajah ibuku dengan baik. Lalu disaat itu kamu boleh memanggilku sebagai anakmu." Ujar Nanda lantang.
"Baiklah itu bukan hal yang sulit." Ujarnya lalu dia pergi ke mobil.
"Nanda apa yang kamu lakukan?" Ujarku sambil menghampiri Nanda. Aku memukul mukul tubuhnya berulang kali. Karena aku tahu dia akan meninggalkan aku dan juga PT bumi rahayu.
"Lily dengar aku lihatlah kemari!" Ujarnya menghentikan serangan dariku.
"Ini satu satunya cara menyelamatkan PT kita. Hanya dengan begitu kita bisa bangkit." Ujar Nanda.
"Tapi untuk apa kita bangkit, kalau kamu tidak ada disini." Ujarku sambil mengguyurkan air mata.
"Hey.. Lily! Semua orang membutuhkan PT. Bumi Rahayu. Anak anak panti bisa bertahan karena pt kita. Mereka bisa bekerja karena ada pt kita. Ingatlah tujuanmu untuk mencari orang tua kandungmu. Semuanya akan mudah jika PT bumi Rahayu tetap ada." ujar Nanda.
"Tapi siapa yang akan memimpin perusahaan."
"Kamu Lily, Jadilah wanita yang kuat. Aku yakin kamu bisa melakukan semuanya dengan baik. Anak anak panti membutuhkanmu. Para pegawai membutuhkanmu." ujar Nanda.
"Sejak awal perusahaan berdiri, aku sadar hari ini akan tiba. Sejak itu pula aku memberitahumu semua yang aku bisa dalam hal bisnis. Dan hari ini kamu telah siao. Kamu adalah CEO berikutnya. Jadialh tegar Lily, kuatkan Hatimu." Ujar Nanda.
Lalu Nanda pergi bersama ayahnya, sementara aku membangun perusahaan kami sendirian. Banyak hal berlalu dan kalian mulai bergabung kedalam PT.
3 tahun berjalan, Nanda akhirnya pulang ke indonesia dari austalia. Aku sangat ingin bertemu denhannya dan mengatakan perkembangan perusahaan.
Tapi takdir berkata lain, Nanda malah kecelakaan dan dia jadi seperti Sekarang. Sejujurnya aku sangat sedih akan hal itu. Tapi aku masih merasa bersyukur setidaknya Nanda masih berada bersama kita hari ini.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.Like comment vote