
Aku mengakhiri pesanku dengan tidak membalas isinya. Dan langsung saja ku pegang perlahan tangannya. Lalu tersenyum padanya. Seperti orang yang sedang diam-diam mencari kesempatan.
*****
Selama perjalanan yang entah menuju kemana, aku hanya menatap jendela mobil dengan lamunanku sendiri.
flashback ON
Seusai berkirim pesan dengan Rendy, aku hanya berdiam diri. Dan orang tua Rendy memulai pembicaraannya.
"Sebentar lagi kita sampai ke tempat tujuan"
"..."
Aku dan Rendy secara sontak langsung saling menatap. Dan aku memalingkan wajahku ke arah jendela mobil.
'Ini sebenarnya mau kemana sih?!'
flashback OFF
Dan sekarang aku berakhir di tempat yang mungkin terlihat rumit bagiku.
Coba tebak dimana?
Ya, di toko gaun ternama. Sepertinya akan ada acara yang mengharuskan diri ini berdandan.
Aku hanya mengikuti langkah kemana mereka menyeretku ke tempat ini.
Perlu kalian ketahui, ini hanyalah taktik dari ibu Rendy. Meskipun kerap kali aku selalu merasa ia sungguh licik. Dengan sabar hati aku menurutinya menuju tempat pemilihan gaun. Tentunya gaun yang akan ku kenakan dipilihkan olehnya. Kalian tahu bukan?
Selera pakaian pun juga di atur oleh beliau. Dan untuk tidak membuatnya malu dihadapan para pemirsa, oh... bukan, tapi para tamu. Rasanya bagiku ingin tertawa namun dalam hati. Namun, tiba saja kulihat dirinya tampak menghela nafas berat seakan ada beban yang selama ini ia tahan.
Hufh... (hela nafas berat)
"Sudah sampai sini kamu tak perlu mengingat apa yang sebelumnya di bicarakan oleh ayah Rendy yang terpotong olehku. Kau tau ini cara kami menjagamu untuk mandiri. Dan satu hal lagi, ini sudah ku pilihkan gaun sesuai dirimu. Coba pakailah", ucap ibu Rendy menyerahkan gaun padaku setelah panjang lebar menjelaskan.
'Tumben sekali bersikap seperti ini, padahal sebelumnya begitu pada-... Oh, tunggu sebentar, jadi inilah obrolan yang ia lakukan dengan cara seperti ini. Dia menghindar untuk membicarakan hal mencurigakan seperti. Untuk tidak diketahui oleh keluarganya sendiri? Sungguh? Ini beneran sungguhan?', ku berjalan menuju ruang ganti dan berpikir bahwa ternyata ibu Rendy selicik itu.
"AAWWW", ku cubit pipiku sendiri.
"Ternyata ini bukan mimpi!"
Kini aku masih berada di dalam ruang ganti dengan menatapi diri sendiri.
"Serius? Aku harus pakai gaun begini? Terus setelah ini mau dibawa kemana lagi? Mana cara pakainya ribet sekali. Apa iya aku harus cari ke google tentang cara memakai gaun mewah?", gerutuku karena ini membuatku berujung kesal.
Dan dengan cerobohnya diriku sendiri, kupastikan bahwa ini bukanlah mimpi. Aku berjalan keluar, tentunya beliau pasti kesal padaku. Yups, karena aku keluar tanpa memakai gaun pilihannya. Lihat dia sudah menatapku tak percaya, karena waktunya sudah tak cukup lagi untuk berdebat, bukan?
Dengan mencoba terlihat sabar meladeni diriku ini. Mungkin dalam pikirnya aku ini sungguh kekanakan atau tak tahu diri.
__ADS_1
Dan secara tiba-tiba...
"Pelayan! Cepat urus dia! Bantu dia mempercantik diri! "
'Ha? Apa? Jadi begini caranya dia mengurusku? Memangnya ini toko punya siapa sih?! Semena-mena banget!', umpatku dengan lirih.
Sepintas membuatku kaget melihat dirinya mulai menampakkan kekesalannya padaku, karena diriku tak bisa diatur dan di tinggalkan begitu saja pada pelayan suruhannya.
"Mari Nona kami bantu"
Kalian tahu betapa kesalnya diriku, namun ku tahan untuk tidak ku keluarkan pada sembarang orang. Aku hanya mengikuti para pelayan yang entah membawaku kemana. Di banding memberontak pun saat ini akan lebih sia-sia dan buang waktu membuatku lelah nantinya.
"Tunggu... Apa yang kalian lakukan padaku?!"
"Sudah kami bilang Nona, kami hanya membantumu"
"Arrggghhh! Jauhkan benda-benda menjijikkan itu dari wajahku"
"Ikat Nona itu"
"Kalian melukai pelanggan! "
Kalian tahu apa yang dilakukan para pelayan ini padaku?
Setelah mengganti pakaianku yang padahal kemungkinan bisa ku pakai sendiri terkecuali gaun ini. Padahal mungkin saja aku bisa cari di google bagaimana cara mengenakannya.
'Sial! Tau begini aku cari saja di google', umpatku dalam hati.
Setelah semua selesai salah satu dari seorang pelayan menyuruhku untuk membuka mataku.
"Nona, bukalah matamu!"
Perlahan mulai ku buka mataku dan tampak seseorang cantik nan anggun disana.
"Siapa itu? Aku tak kenal dengan perempuan itu"
"Nona, kau ini sangat lucu sekali. Mengenali diri sendiri sungguh sesulit itu kah? "
'Mengenali diri sendiri? Apa maksudnya?'
"Cepat panggil Nyonya Rana!"
Salah satu pelayan memanggil ibu Rendy, dan melaporkan padanya tentang apa yang sudah terjadi seperti orang yang panik dengan munculnya kebakaran.
Dan tampaklah dirinya...
"Nah, gini dong dari tadi, sebentar lagi kita akan ke pesta. Tapi sementara kita disini dulu menunggu Rendy kemari", ucapnya seakan ingin membuat kejutan yang pantas di pamerkan.
...25 Menit Kemudian...
__ADS_1
Rendy datang dengan ayahnya dan tak lupa dengan istrinya yang sumringah memperlihatkan diriku yang telah didandani.
"Lihat. Bagaimana pilihan Mama? Cocok 'kan sama Caca kita?"
Tanpa ku sadari aku menatap Rendy dengan pakaian yang lebih mirip buttler. Dan berhasil membuatku menatapnya lama sehingga membuat pipiku merona.
'Jadi seperti ini ya rasanya menjadi pusat perhatian? Tapi ini membuatku merasa aneh, dia menatapku tanpa berkedip'
"Iya, Mama memang yang terbaik dalam hal ini",puji Ayah Rendy pada istrinya.
"Tapi... Rendy juga tak kalah kerennya dari Papa 'kan Ma? Atau kita setara kerennya?", lanjutnya.
"Lihat deh Pa, Rendy saja gak berkedip loh sama karya Mama"
Aku merasa saat ini Rendy menjadi salah tingkah karena ku. Dan mulai memalingkan wajahnya.
"Eng-nggak kok, Ma"
'Sudah jelas jawabnya terbata-bata gitu, kalau bukan gugup apa deh??! '
"Sudah selesai semua, kita mulai berangkat ke pesta sekarang. Oh, ya kalian ngobrol biasa saja. Tak perlu canggung seperti itu.",ucap Ayah Rendy.
'Ha? Apa maksudnya? Apa ini kode?'
Pikirku dalam lamunan pun entah melayang kemana.
'Ayo Ca, Jangan halu! Ini bukan saatnya berpikir aneh-aneh seperti itu'
Drrttt... Drrttt... Drrtt...
Tiba-tiba dering ponselku mengagetkanku...
Ku cek siapa pengirimnya, tak salah lagi ternyata ... seseorang di sebelahku lagi.
Ku pikir Kepala Café, ternyata bukan. Padahal, aku masih penasaran pada seseorang yang memperlakukanku dengan arogan.
'Tunggu... kenapa bisa sih, aku memikirkan orang tidak jelas?!'
Kubuka pesan dari seseorang yang duduk di sebelahku dengan rasa malas.
Pesan Rendy
"Kamu... terlihat cantik dengan gaun itu"
'Dia ini sedang memuji siapa sih? Aku atau gaunnya? Jadi kalau aku nggak pakai gaun ini gak cantik?! Apa sih Rendy yang sebenarnya kamu pikirkan? '
Ku tatap dirinya dengan masam. Dan mengalihkan pandanganku keluar jendela.
Seiring berjalannya waktu memang terasa membuatku bingung. Mobil yang ku naiki pun dengan kecepatan standar diantara hal yang sudah kulihat sudah banyak mobil yang di parkirkan di tempat yang terlihat seperti istana.
__ADS_1
POV Author
Malam ini adalah acara dimana semua anggota ternama hadir ke acara pesta perayaan. Dengan pakaian pesta formal ala porm night dan penuh kemewahan yang elegan. Tak lupa keluarga bermarga Wicaksana, Nova, dan Rana ikut serta menghadiri acara besar Perusahaan keluarga Duke.