
Ella POV
Pagi ini suasana kantor terasa aneh bagiku. Semua orang memanggilku dengan sebutan yang berbeda.
"Pagi bu Bos!" Ujar mereka padaku.
Sebenarnya aku risih karena sebutan Bu bos yang diberikan padaku. Tapi Lily mengatakan supaya aku mulai membiasakan diri dengan panggilan tersebut.
Karena ini adalah hari sabtu, karyawan bekerja dengan lebih santai daripada hari biasanya. Sementara aku, Lily, pak yosef, dan sejumlah orang penting lainya tengah rapat rutin mingguan. Kami membicarakan banyak hal mengenai, Renovasi kantor, penambahan mesin, planing kantor dan lain sebagainya.
Ketika rapat selesai aku kembali ke meja kerjaku yang lama. Setidaknya sampai ruangan untuku selesai dibuat. Kurang lebih seperti ruangan Lily meski ukurannya lebih kecil. Sebenarnya Lily menawarkan ruangan nya untuk kami pakai bersama.
Tapi aku lebih suka untuk menolaknya. Habisnya aku masih resah karena insting Lily yang begitu tajam. Bisa bisa dia akan terus bertanya mengenaiku dan Nanda. Lagipula renovasinya sudah sampai 79%. Senin mungkin sudah dapat aku gunakan.
"Rapatnya udah bu Bos!" Ujar Bella.
"Jangan panggil gitu lah Bel. Aku risih dengernya." Balasku hangat.
"Kamu harus biasa La, Sekarangkan kamu juga bos. Jabatan kamu setingkat sama Lily." Ujar Faiz.
"Eh La ngomong ngomong, Nanda apa kabar? Dia sehatkan La." Ujar Arin padaku.
"Nanda sehat kok, dia ada di apartemen. Tadi sih pas aku berangkat Nanda lagi sarapan." Ujarku menjelaskan.
"Bu bos bu Bos, Gimana rasanya nikah sama Nanda. Btw kalian lagi nunggu anak pertama ya?" Tanya Bella.
"Bener tuh Bu Bos. Gimana perasaannya nikah sama Nanda." Lanjut Arin.
"Gimana ya? Setelah aku nikah sama Nanda. Rasanya kayak aku tuh bebas banget. Mau ngelakuin apapun nggak ada yang larang. Nanda gak pernah nolak perkataan aku. Dia gak pernah komplen soal masakanku. Apapun yang aku masak pasti dia makan. Dia suka bantu beresin rumah dan seterusnya deh. Terus kalau kekurangannya, Aku jadi istri plus kepala keluarga juga." jelasku pada mereka.
"Terus soal momongan, gimana bos?" Sambung Faiz.
"Kalau soal momongan kayaknya Aku masih belum siap. Karena banyak hal yang mungkin akan terjadi kalau aku udah punya anak. Tapi yang pasti aku harus siap dengan kemungkinan terburuk sekalipun." Ujarku sambil tertawa lepas pada mereka.
"Argghh.. Ella." Ujar Bella Haru. Dia kemudian mendekat dan memelukku
"Kok kamu nangis bel?" lanjutku memeluk Bella yang meneteskan air mata.
"Kamu nggak sadar ya La, pipimu juga basah." Sambung Arin ikut memeluku.
Kemudian aku mengelap pipiku yang juga basah. Rupanya tanpa sadar aku juga mengeluarkan air mata. Namun aku tidak merasa sedih sama sekali. Jadi sudah pasti ini adalah air mata haru.
'Ya tuhan, apa aku sudah mencintai Nanda.' lanjutku dalam hati, sambil memeluk kedua temanku.
***
Disisi lain bagian kantor, seorang wanita menguping pembicaraan Ella dan rekan rekannya. Lalu dia mengangkat ponsel dan menelepon seseorang.
__ADS_1
Tet... tet.. tet..
"Halo Lily, ada apa?" Terdengar suara seorang laki laki disebrang sana.
"Selamat yah, kamu sudah berhasil mendapatkan cinta dari keluargamu. Dia sudah mencintaimu sobat. Kamu yang menang." Ujar Lily tersenyum.
"Aku tidak akan bisa melakukan semua ini tanpa bantuanmu, Ly. Kamu terus mendorong Ella dengan memberikan arahan padanya." Ujar Nanda.
"Nanda berjanjilah kamu akan menjaga Ella dengan sepenuh hatimu!" Balas Lily.
"Jangan bercanda denganku Lily, Tanpa berjanjipun, tentu saja aku akan menjaganya dengan sepenuh hati. Sudah sekalian Lama aku berharap ada seseorang yang bisa menerimaku apa adanya." Balas Nanda.
"Yah kamu benar, Akupun berharap hal yang sama denganmu Nda." ujar Lily berlinang.
"Jangan bersedih seperti itu Ly. Kelak saat waktunya tiba, aku akan membantumu menemukan orang itu." ujar Nanda meyakinkan.
"Apa mungkin itu terjadi? Rasanya aku tidak bisa mempercayainya Nda. Orang yang aku cintai, dia menutup dirinya dari dunia luar. Dia berpaling dan meninggalkan semuanya. Apa mungkin dia bisa kembali?" ujar Lily menangis.
"Kalau dia tidak mau, aku yang akan menyeretnya keluar." Ujar Nanda tegas.
"Aku ragu apa dia masih mencintaiku?" Lanjut Lily.
"Jangan pesimis seperti itu Ly. Kamu harus yakin dengan perasaanmu sendiri dan juga kepadanya." Ujar Nanda meyakinkan Lily.
Teeet...
Lily mematikan sambungan telepon saat tiba tiba seseorang masuk kedalam ruangannya.
"Yah, aku baik La" Balas Lily.
"Lalu kenapa kamu menangis?" Tanya Ella.
"Aku hanya teringat dengan seseorang." Lanjut Lily.
***
Setelah pulang kantor, Ella kini sedang berkendara menuju salon yang kemarin ditunjukan oleh Faiz.
"Kita mau kemana sih La?" Tanya seorang pria di sampingnya.
"Udah, nanti Mas juga tahu kok!" Balas Ella.
"Kamu dari tadi senyum senyum gitu La. Aku jadi curiga sama kamu. Jangan jangan kamu mau jual aku ke tante tante yah!" Lanjut Nanda.
Sontak dia mendapat cubitan keras dari istrinya.
"Rasain tuh, sembarangan aja!" Ujar ella.
__ADS_1
"ya habisnya kamu aneh. Ketawa ketawa sendiri dari tadi." Gumam Nanda.
"Ya kamu ngomongnya gitu!" Jawab Ella ketus.
"Lagian mana ada sih, tante tante yang mau sama kamu." Ujar Ella keras sambil cengengesan.
"Jangankan yang tua La, yang masih seger aja ada kok yang sayang sama aku." Balas Nanda datar.
"oh ya Siapa?" Tanya Ella menegaskan.
Kemudian Nanda diam tak menjawab pertanyaan Ella. Sebaliknya Nanda malah tersenyum dan menatap tajam ke arah istrinya.
"Nggak, Aku nggak sayang sama kamu." Ujar Ella keras sambil menahan tawa.
"Aku nggak bilang orang itu kamu La." Lanjut Nanda.
Kalimat Nanda kemudian memicu reaksi keras dari istrinya. Tentu saja karena secara tidak langsung Ella kedapatan menyatakan perasaannya. Jadi dia malah salting sendiri dan menyalahlan Nanda dengan mencubit Nanda beberapa kali.
"Arghh.. kamu gitu ih." Lanjut Ella tertawa.
"Ih jangan gitu La. Kamu mau aku koma lagi di rumah sakit." Ledek Nanda.
"Biarin...! kamu nyebelin tau nggak." Balas Ella.
Belakangan hubungan mereka semakin hangat dan bertambah baik. Saat mereka berduaan mereka akan saling bercanda dan tertawa bersama sama.
Tidak lama setelahnya mereka sampai di tempat yang mereka tuju. setelah memakirkan mobil Ella langsung mengajak suaminya turun dan menuju ke Salon.
"Kamu ngajak aku ke salon La." ujar Nanda pada istrinya.
"Iyah!" Balas Ella tersenyum.
'Aku ngerti maksud kamu La. Kalau gitu aku bakal tunjukin diri aku yang dulu sama kamu. Ya penampilannya aja dulu. Aku pengin tahu apa reaksi kamu.' Pikir Nanda dihatinya.
Setelahnya mereka kemudian berjalam masuk kedalam salon.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.Like comment vote.
Hi readers thank you kalian udah setia baca novel ini. Budayakan kalian menekan tombol jempol keatas ya. Dukung terus author biar bisa update tiap hari.