
"Kamu adalah wanita itu, kamu selingkuhannya Nanda iyakan." Tuding Fanny dengan keras.
Sial... Fanny tidak tahu kalau aku pergi bersama rita kemarin. Dia hanya menebak nebak saja, apa yang terjadi. Aku terlalu panik sehingga tidak berpikir jernih. Gumam Nanda dalam diamnya.
"Selingkuhan?!" Ujar Lily dengan wajah kaget.
"oh.. Jadi begitu Ella masih curiga kalau kamu selingkuh." Ujar Lily sambil tersenyum kearah Nanda.
"Lihatkan La, lihat aja kelakuaannya. Dia berani mesra mesraan sama cewe lain didepan kamu istrinya." ujar Fanny secara spontan sambil menunjuk kearah Lily yang terus meremas pundak sahabatnya.
"Pantas aja Ella sampai minta talak, kamu yang ngehasut Ella dari tadikan." Ujar Lily membalikan keadaan.
"Weh.. apa maksud perkataanmu itu?" Ujar Fanny kembali melawan. Lily kemudian berpindah dan mengusap bahu Ella dengan lembut.
"La menurutku kamu harus hati hati sama temenmu yang satu ini. Kalo dia emang temenmu seharusnya dia ngedukung pernikahanmu ini bukannya malah ngehasut kamu supaya cerai sama Nanda." Ujar Lily pelan.
"Jangan dengerin dia La! Itu cuman akal akalan dia aja biar gak di curigain." Ujar Fanny.
"Tapi Fanny, Nanda gak mungkin pergi sama Lily. Kemarin jam 02.00 siang Lily masih ada dikantor sama aku.." Ujar Ella pelan sambil mengusap air matanya. Fanny langsung tersentak kaget saat mendengar perkataan Ella.
"Tunggu dulu, darimana kamu yakin kalau Nanda selingkuh." Ujar Lily.
"Tapi jelas jelas mbak ini yang lihat, Dia saksinya kalau Nanda selingkuh." Ujar Fanny keras. Lily kemudian menatap wajah pelayan itu yang terlihat cemas.
"Apa kamu yakin dengan apa yang kamu lihat?" Tanya Lily santai.
"Iya.. eh tidak.. eh aku tidak yakin." Ujar Pelayan gelagapan saat mendapat tatapam tajam dari Lily.
"Kalau begitu apa boleh buat?" Gumam Lily pelan.
"Apa yang mau kau lakukan?" Ujar Fanny.
"Hey! Tolong panggilkan bosmu kesini ya!" Ujar Lily pada pelayan seraya tersenyum.
"Tapi bu, saya.."
"Tenang saja kamu tidak akan dipecat!" Ujar Lily segera memotong perkataan pelayan.
Karena situasi yang semakin memanas si pelayan mau tidak mau memanggil bosnya. Tak lama kemudian si Bos datang menemui mereka. Dia seorang gadis muda yang sangat cantik, lijat saja kaki jenjangnya yang menawan banyak pria itu.
"Halo xin xin." Sapa Lily.
__ADS_1
"Eh.. cici, Aku kira siapa yang memanggilku. Tadinya aku pikir ada pelanggan yang mau ngomel ngomel. Aduh aku jadi bisa sedikit tenang sekarang." Ujar Xin xin sambil tersenyum dengan manisnya.
Si pelayan terdiam tak percaya saat mengetahui salah satu pelanggan sangat dekat dengan bosnya. Kini dia semakin takut akan kehilangan pekerjaannya.
"Mengurus sebuah restoran besar di usia muda sangat merepotkan yah Xin." Ujar Lily basa basi.
"Iyah benar, tapi aku harus semangat supaya bisa menjadi bisnis woman yang hebat seperti cici." Ujarnya dengan riang.
"Bagus semangat yah!" Ujar Lily memberi dukungan.
"Oh iya xin, Apakah kemarin kamu melihat Nanda datang kemari bersama seorang gadis?" Ujar Lily kembali bertanya.
"Nanda? Egh.." ucap xin kaget saat melihat pria yang tak asing baginya juga berada disana.
"Koko juga ada disini, Astaga maaf yah aku terlalu cemas sampai tidak memperhatikan." lanjutnya cengengesan. " Ngomong ngomong koko sekarang tambah ganteng, hahah" Ujar Xin tanpa ragu.
Ganteng..! Batin Ella jengkel mendengar perkataan dari wanita sexy pengurus resto. Dia semakin menatap tajam penuh kebencian pada suaminya.
"Egh.. La kamu nggak papa kan?" Ujar Nanda ragu.
"Dia siapa? kenapa dia menangis?" Lanjut xin melihat ke arah Ella yang mengelap air matanya disana.
"Dia istrinya Nanda!" Ujar Lily singkat.
"Suami istri ini sedang bertengkar, Nanda lagi dicurigain selingkuh makanya.." Belum sempat selesai Xin langsung memotong perkataan Lily tanpa ragu.
"Tidak sopan, Dengar yah Koko tidak akan mungkin selingkuh. Dasar payah bisa bisanya kau menunduh Koko seperti itu, Kau ini istri macam apa? Dasar gendut!" Ujar Xin dengan Nada jengkel disertai emosi.
Brekkk...
Suara nya terdengar begitu keras saat Ella tiba tiba berdiri sambil memukul meja dengan sangat kuat. Dia kemudian menatap ke arah Xin dengan wajah merah padam dan mata menyala yang sarat akan kebencian.
Fanny nampak begitu panik dan melotot saat melihat sahabatnya memukul meja. Gue gak inget kapan terakhir kali Ella marah sampai segitunya. Batin Fanny.
Begitu juga si pelayan yang perasaannya semakin kacau tidak karuan. Fix gue bakalan dipecat sama nona Xin. Batin pelayan.
Xin yang mendapat tindakan tegas dari Ella langsung memegangi tangan Lily dan bersembunyi dibelakang cicinya. Sementara Nanda membalikan muka sambil menggeratakan gigi setelah menyaksikan perbuatan sang istri.
Sementara itu Lily sedikit menunduk dan tidak berani menatap wajah Ella. Disaat yang bersamaan matanya bertemu dengan tatapan Nanda yang juga nampak panik. Kedua sahabat itu saling bertatapan dan mengirimi sebuah sinyal dengan bola mata mereka.
Kayaknya Ella bener bener marah ya. Batin lily
__ADS_1
Lu nggak ngerti, Ella itu galak banget. Belum ketahuan aja udah kayak gini, apalagi kalau aib gua kebongkar. Bisa habis gua sama dia. Batin Nanda.
Selang beberapa saat kemudian Ella nampak mengalirkan air mata dari sudut sudut matanya. Lalu dia mengambil tas dan beranjak pergi darisana dan meninggalkan semua orang termasuk Nanda.
Nanda yang sempat shock tetap duduk dikursinya saat melihat Ella berlari keluar Resto. Beberapa detik kemudian saat Lily memukul bahunya dan mengatakan Ella sudah pergi. Nanda baru sadar dan pergi mengejar istrinya keluar.
"Ella pergi keluar tuh.." Ujar Lily menegur sahabatnya.
"Hah.. egh.. Ella tunggu!" Ujar Nanda terlambat. Nanda kemudian beranjak dari kursi dan berlari untuk mengejar istrinya yang sudah duluan pergi keluar.
Beberapa saat kemudian Fanny berdiri dan juga merapihkan tasnya dia juga mengeluarkan dompet dan hendak menuju kasir untuk membayar. Tapi sayang baginya tidak semudah itu. Saat hendak pergi, Lily langsung mencengkram lengan Fanny dengan sangat kuat.
"Aw.. lepaskan tanganmu dariku!" Ujar Fanny beeusaha melepaskan diri.
"Aku rasa kamu tidak akan pergi semudah itu. Duduklah ada banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu." Ujar Lily dengan tegas. Fanny kemudian menghentakkan tangan dan melepaskan genggaman Lily di lengannya.
"Dengarlah baik baik aku tidak mengenalmu, dan tidak ada yang harus kita bicarakan." Singkat Fanny. Dia kemudian berbalik dan melanjutkan niatnya untuk pergi dari sana.
"Xin tutup pintunya!" Ujar Lily spontan saat melihat Fanny masih berusaha pergi.
Prok.. prok..
Xin menepukan kedua tangannya dan memberikan isyarat kepada satpam penjaga pintu. Dalam sekejap mata satpam langsung menutup pintu rapat rapat dan menguncinya.
Fanny langsung berhenti melangkah saat pintu keluarnya di kunci dan dihalangi oleh satpam yang berpostur tinggi besar dan terlihat sangat memyeramkan.
"Aku harap dulu kamu anak yang riang dan sangat suka bermain . Karena sekarang kita akan bermain mie baik dan mie jahat." Ujar Lily tegas sambil mendekati wajah Fanny.
"Aku akan menghajarmu!" Gumam Fanny lalu berbalik dan menatap wajah Lily.
"Aku juga berharap kamu tidak akan bosan, karena aku lebih suka menjadi mie jahat." Ujar Lily sambil tertawa sinis.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.Like comment vote