
Nanda masuk kedalam club sambil membawa botol berisi air putih yang tadi diberikan Lily padanya. Ketika dia masuk beberapa orang wanita langsung melirik dan mendekat ke arahnya.
"Hy tampan bisa aku menemanimu malam ini?" Ujar seorang wanita yang berpakaian sexy.
"Bagaimana kalau bertiga, itu lebih menarik bukan?" Saut seorang wanita lain sambil menggandeng tangan Nanda.
"Jauhi dia jalang, dia milikku!" sapa seorang wanita lainnya.
Nanda tertawa saat melihat beberapa wanita disana memperebutkannya. Ternyata gadis gadis masih menyukaiku seperti dulu, syukurlah. Batin Nanda.
"Maaf nona nona, sebenarnya aku tersanjung dengan tawaran kalian. Tapi sayangnya aku sudah punya kencan dengan sorang wanita dan namanya botol minum." Ujar Nanda sambil memamerkan air putih ditangannya.
Nanda kemudian Meninggalkan gadis gadis itu dan menuju ke bar. Lalu dia menghampiri seorang bartender yang kebetulan adalah seorang wanita.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" Tanya bartender halus.
"Tolong berikan gelas kosong dan 2 potong es batu padaku." Pinta Nanda sambil tersenyum.
"Anda tidak mau minum? Bir kami adalah yang terbaik disini." Balasnya halus.
"Tidak, terima kasih!" Saut Nanda ramah.
Bartender kemudian memberikan pesanan Nanda. Sebuah gelas berukuran medium berisi 2 potong es batu didalamnya. Dia kemudian menuangkan air putih yang dia bawa kedalam gelas itu lalu meminumnya perlahan.
"Sepertinya gadis gadis disini menyukai Anda." Lanjut Bartender sambil mengelap beberapa gelas ditangannya.
"oh ya lalu bagaimana denganmu Cantik?" Sapa Nanda tersenyum.
"Saya tidak akan punya kesempatan cukup baik untuk mendekati tuan. Apalagi jika gadis disana juga tertarik pada anda." Ujarnya sambil memberikan kode arah dengan menggerakan kepala.
Nanda kemudian mencari arah yang ditunjukan si Bartender. Lalu dia melihat beberapa orang gadis yang diduduk di sofa vip. Namun yang paling mencolok adalah gadis dengan Dress merah yang duduk ditengah.
Jangan melihatku seperti itu, mendekatlah Rita. Batin Nanda. Nanda tersenyum karena gadis yang dimaksud Bartender adalah targetnya. Kemudian Nanda membalikan wajah seolah dia tak peduli dengan Rita.
Rita yang melihat sikap dari pria tampan yang dia perhatikan mengacuhkannya jelas dia tidak terima. Rita terpancing dan dia mendekati Nanda untuk menaklukan pejantan yang liar itu.
"Siapa gadis itu?" Tanya Nanda pada bartender.
"Dia adalah nona Rita hasanata. Dia sangat cantik, berbakat dan berkelas." Ujar Bartender sambil tersenyum.
"Dia biasa saja, sama seperti wanita yang lain yang aku temui." Ujar Nanda meremehkan rita.
"Wah.. kau sangat sombong sekali ya, bocah es batu." Ujar Rita dari belakang Nanda.
"Es batu itu sangat menyegarkan tapi tak mudah disentuh karena sangat dingin. Aku rasa bocah es batu adalah nama yang bagus untukku." Jelas Nanda sambil tertawa.
"Wah kau cukup menarik juga ruapanya. Tapi semua orang disini tau. Tidak ada lelaki yang dapat menghindari pesona dariku, Rita hasanata." Jelas Rita sambil menatap penuh rasa pada lelaki dihadapannya.
"Kalau begitu aku pantas mendapatkan mendali karena aku baru saja mencetak rekor baru. Aku jadi yang pertama mengacuhkanmu nona Rita Hasanata!" Ujar Nanda tak kalah sombongnya.
"Hem..!" Rita tertawa mendengar perkataan Nanda. Dia tahu Nanda berbeda dari para lelaki yang pernah dia temui sebelumnya.
"Siapa namamu?" Tanya rita.
"Hm.. aku tidak punya nama. Kalau aku punyapun tak akan aku berikan namaku padamu." Ujar Nanda.
"Apa yang kamu lakukan disini? Tidak mungkinkan kalau kau tidak punya tujuan. Apa tujuanmu? mencari hiburan atau mencari wanita?" Tanya Rita mencoba lebih dekat dengan pria didepannya.
"Aku baru selesai olahraga malam di taman, Sayangnya minuman yang aku bawa sudah tidak dingin. Jadi aku kemari untuk mencari beberapa potong Es batu." Jelas Nanda jujur.
Rita tertawa saat mendengar tujuan Nanda. Dasar aneh, hanya datang untuk mencari es batu dia bilang. Tapi kalau aku lihat penampilannya, aku rasa dia tidak berbohong. Batin Rita.
"Kau sendiri bagaimana? Apa tujuanmu kemari?" Tanya Nanda membalikan keadaan.
"Aku mencari hiburan. Belakangan aku merasa pusing dengan masalah pekerjaan." Lanjut Rita.
__ADS_1
"Masalah pekerjaan! Kau bekerja dimana?" Tanya Nanda.
"Aku malas membahasnya, tujuanku untuk mencari hiburan dan pacar baru mungkin." Saut Rita sambil mengibaskan rambutnya.
"Kamu mau mendaftar? Kamu tinggi, gagah, tampan juga. Sesuai sekali dengan kriteria pria idamanku, dan sepertinya kamu orang yang jujur." Ujar Rita bersemangat.
"Aku kurang tertarik dengan wanita sepertimu!" Ujar Nanda kemudian menenggak habis minumannya.
"Kalau begitu ayo kita bermain!" Ujar Rita Menantang Nanda.
"Rossa berikan aku 4 bir." Pinta Rita kepada Bartender.
Bartender kemudian mengambilkan 4 botol bir dan meletakkannya dihadapan Rita dan juga Nanda.
"Masing masing 2 botol. Jika kau mabuk duluan setelah meminumya maka kau harus menjadi milikku." Ujar Rita.
"Hem.. tawaran yang menarik. Lalu bagaimana kalau kau yang kalah." Ujar Nanda sambil mengangkat satu alisnya.
"Aku akan mengabulkan 1 permintaanmu. Cukup adilkan." Ujar Rita menjelontorkan tawarannya.
"Sebenarnya itu belum cukup adil." Ujar Nanda tertawa.
Nanda kemudian memgambil 1 botol bir dan menggoyangkannya beberapa kali. Lalu dia membuka tutup botol dan meminumnya dalam satu kali tegak.
Glek.. Glek..
Air keras itu masuk seluruhnya kedalam perut Nanda. Ini yang pertama kalinya setelah sekian lama aku tak mencoba minuman beralkohol. Rasanya tidak pernah berubah. Batin Nanda.
"Tambah satu botol lagi." pinta Nanda.
"Sekarang baru adil, masing masing dari kita minum 2 sekarang." Ujar Nanda dengan wajah setengah mabuknya.
"Kamu cukup berani untuk melakukannya, Rossa tuangkan birnya." Ujar Rita sambio tersenyum lega.
Glek.. Glek.. Glek..
Mereka bersaing adu kuat malam itu, beberapa kali mereka tertawa, bercanda, dan mengobrol bersama.Sampai pada tuangan gelas terakhir Rita akhirnya mabuk dan dia menyandarkan kepalanya ke meja bar.
Terlalu cepat 100 tahun untukmu mengalahkanku gadis muda, Batin Nanda. Dia tertawa karena dengan begini Rita mempunyai satu hutang padanya yang harus dibayar. Tapi yang paling penting dia mendapatkan 1 ikatan yang akan membantunya.
Nanda kemudian mengambil sebuah pena dan menuliskan nomor teleponnya pada secarik kertas. Dia kemudian menyerahkan kertas itu kepada Bartender.
"Berikan nomor telepon ini kepada Rita nanti." Pinta Nanda laku memberikan nomornya pada Rossa.
"Baik tuan." ujar Rossa.
Nanda kemudian bangkit dari temat duduknya untuk beranjak pergi dari sana. Tapi rita memegang tangannya dan tak menginginkan Nanda pergi.
"Wait honney! Kamu mau kemana? Cium aku dulu!" Ujar Rita pada Nanda sambil hendak mencim Nanda.
Plek..
Nanda menghalangi bibir rita dengan tangannya lalu mendorong rita perlahan dan tidur kembali di meja bar. Hanya ada satu wanita yang boleh menciumku. Batin Nanda. Dia sekarang membayangkan wajah istrinya yang masih tertidur di rumah.
Nanda kemudian berjalan menuju pintu keluar, tapi seorang pria yang ceroboh karena mabuk malah menabrak Nanda dari depan.
Brek..
Nanda kemudian menjambak rambutnya dan menyingkirkan kepala pria itu dari dadanya.
"Hey.. kau buta yah? Dasar kurang ajar!" Ujar Nanda sedikit jengkel.
"Ehm.. kita ketemu lagi, mas ganteng!" Ujar pria itu.
"Ah dasar bencong sialan!" Ujar Nanda sambil mendorongnya menjauh.
__ADS_1
Nanda shock saat melihat orang itu adalah yanto atau yanti. Pegawai salon yang dulu dia temui bersama istrinya dulu.
"Jangan galak galak dong mas!" Ujarnya pada Nanda.
"Ngapain sih loh disini?" Ujar Nanda jengkel.
"Ih. yanti tiap malem juga kesini, nyari berondong. Mas ganteng minta dong sunnya." Ujarnya dengan Nada dan gerak gemulai merayu Nanda.
"Apaan lo san sun san sun, nih mau!" Ujar Nanda sambil mengarahkan kepalan tangannya ke wajah yanto.
"Ih galak banget sih mas!" Ujar Yanti sambik mengrenyit kesal lalu pergi meninggalkan Nanda.
Tak lama setelah menghadapi masalah sepele dengan bencong tadi. Nanda keluar dan menuju ke tempat Lily yang dari tadi menunggunya di mobil.
"Ayo jalan!" Ujar Nanda sambil mengusap ngusap wajahnya. Lily kemudian menancap pedal gas dan pergi sana.
"Apa perlu selama itu untuk mendekati Rita, 2 jam!" Ujar Lily tegas. Lily menatap sahabatnya dengan seksama dan dia sadar Nanda baru saja minum Bir.
"Kamu minum?" Tanya Lily
"3 botol!" ujar Nanda.
"Heh... dia wanita yang cukup kuat, aku sedikit kesulitan menghadapinya. Tapi akhirnya dia yang kalah dan misiku berhasil." Lanjut Nanda setengah sadar.
"Cukup kuat? itu mengingatkanku untuk satu hal." Ujar Lily tegas sambil fokus menyetir.
"Apa?"
Ceplak......!
Lily memberi tanoaran yang sangat keras kewajah Nanda degan tangan kirinya.
"aw ****..!" Teriak Nanda kesakitan.
"Apa yang kau lakukan? itu sakit tahu!" Ujar Nanda mengusap pipinya yang seketika memerah.
"Apa yang aku lakukan? Heh.. apa yang kau lakukan disana. Minum alkohol, adu kuat, bersenang senang dengan adiknya alex. Jangan jangan kau memeluk dan menciuminya yah hah!" Ujar Lily jengkel.
"Apa? aku tidak melakukannya" Tegas Nanda.
"Lalu itu apa dibajumu?" ujar Lily menunjuk bekas merah didekat leher Nanda." Ujar Lily.
Nanda kemudian mengusap lehernya dan menemukan lipstik warna merah disana.
"Ouh ini pasti gara gara yanti. Berikan tisue aku harus menghilangkannya." Ujar Nanda agak panik.
"Siapa yanti?" Ujar Lily masih jengkel.
Nanda kemudian menceritakan yang terjadi didalam pada Lily sambil terus mengusap bekas merah di kaosnya yang sangat tebal.
.
.
.
.
.
.
.
.Like comment vote
__ADS_1