
Hampir 20 menit lamanya Ella diperiksa oleh Dr.Anne. Selama itu juga Nanda terus mengamuk diluar ruangan. Tak lama Dr.Anne keluar dengan membawa kabar baik. Ella berhasil selamat dari kecelakaam yang hampir menewaskannya itu.
"Bu, gimana sama Ella. Dia baik baik aja kan bu?" Tanya Nanda cemas.
Dr.Anne menatap lurus kearah putra angkatnya. Entah kapan terakhir kali dia melihat Nanda sangat cemas seperti ini.
"Duduk!" Ujar Dr. Anne sambil memegangi kedua bahu Nanda dan menyuruhnya duduk.
"Ella baik baik saja, kamu nggak perlu khawatir!" Ujar Dr. Anne lembut.
Setelah melewati 20 menit yang paling menakutkan dalam hidupnya. Kini Nanda bisa menghembuskan nafas lega, setelah mendengar kabar baik dari Dr.Anne.
"Huft... Alhamdulilah!" ujar Nanda sambil menghembuskan Nafas lega dan menunduk.
Bukan hanya Nanda saja, tapi juga Dr.Anne dan 1 rumah sakit. Karena selama 20 m2nit tadi rumah sakit juga merasakan dampaknya karena kegaduhan yang Nanda buat.
Dr. Anne memperhatikan putranya dan dia melihat luka yang cukup serius di punggung jari anaknya. Lalu dia juga melihat kondisi sekitar dan mendapati beberapa noda darah di bagian tembok yang rusak parah.
Lalu dia mengeluarkan selembar tisu dan membungkus tangan Nanda dengan lembaran tisu itu untuk mengelap darah disana.
"Aku baik baik saja!" Ujar Nanda pelan.
"luka seperti ini kamu bilang baik baik saja." Ujar Dr.Anne sedikit emosi. "Lihat kulit jarimu robek semua." Ujar Dr. Anne menunjuk kebagian jari yang Nanda gunakan untuk menghantam tembok.
"Ini tidak seberapa sakit, tenang saja. Nanda bukan orang lemah!" Ujar Nanda pada ibunya. "Aku mau lihat kondisi Ella." Ujar Nanda melanjutkan.
Saat berdiri dan hendak masuk ke UGD. Dr. Anne langsung menghentikan langkah Nanda dan menghalanginya untuk masuk.
"Tunggu! kamu nggak boleh masuk!" Ujar Dr.Anne.
"Awas bu, Nanda mau lihat.."
"Stop! Ella nggak boleh diganggu dulu sekarang. Mending sekarang kamu ke ruangan ibu. Terus obatin luka di tangan kamu!" Perintah Dr. Anne.
"Tapi.."
"Nanda..!" Potong Dr.Anne spontan. "Ella baik baik aja, kamu nggak usah cemas lagi. Tenangin dulu diri kamu!" Ujar Bu Dokter memperingati Nanda.
Meski Nanda lebih tenang dari sebelumnya. Tapi sebenarnya emosi Nanda masih belum begitu stabil. Maka dari itu Dr.Anne melarang Nanda untuk menjenguk istrinya semntara waktu. Apalagi kalau Nanda mengetahui fakta besar yang ada didalam ruang UGD.
__ADS_1
Akhirnya setelah beberapa kali diperingati Nanda mau menuruti perintah ibunya dan pergi ke ruangan bu dokter.
Sementara itu Dr. Anne masih berada di UGD untuk memastikan kondisi Ella membaik.
Baru beberapa saat setelah Nanda pergi, Telepon bergetar di saku baju Dr.Anne. Ponsel itu milik Ella yang diambil dari saku celananya saat diperiksa tadi. Rupanya Ada panggilan masuk dilayar ponsel tertera nama Ibu disana.
Langsung saja tanpa ragu Dr.Anne langsung mengangkat teleponnya.
"Assalamualaikum La. Kamu kemana ajasih dari kemarin!" Terdengar suara yang lantang dan tegas dari sebrang sana.
"Abis nikah sampai sekarang, nggak pernah pulang lagi ke rumah ibu. Telepon ke rumah aja kamu nggak pernah. Udah lupa sama ibumu." Lanjutnya dengan Nada kesal.
Mertuamu cerewet ya Nda. Batin Dr.Anne tersenyum geli.
"Waalaikumsalam ibu, ibu sehat!" Tanya Dr. Anne.
"Loh ini siapa? mana anak saya?" Tanyanya dengan Nada kaget.
***
Diruangan Dr.Anne Nanda sedang duduk dan membersihkan luka ditangannya dengan anti septik. Nanda terus mengusap lengannya yang nampak masih berdarah sambil memikirkan istrinya. Apasih yang harus dia lakukan selanjutnya. Nanda masih bingung dan berusaha mengontrol dirinya sendiri. Apa yang harus dia katakan pada Ella saat dia bangun nanti.
Apakah kamu sesibuk itu, sampai tidak menjawab satupun pesan dariku. Tolong dengarkan permintaanku kali ini saja. Datanglah ke apartemen milikku di jalan Samarinda no.5. Aku akan memberikan apapun yang kamu mau. Aku serius!
Tulis rita dipesannya. Sebuah pesan ajakan yang sangat jelas tertera disana.
Benarkah itu? kamu tidak bercandakan. Balas Nanda pada Rita.
Aku bersungguh sungguh, Datanglah kemari aku menantimu sayang. Balas Rita lagi.
Pukul 08.00 malam Nanda sampai Di Apartemen yang dimaksud Rita. Langsung saja dia menelepon Rita dan memberitahu lokasinya saat ini.
"Halo, Aku sudah berada di depan gedung apartemenmu." Ujar Nanda santai dengan lembut.
"Baguslah kalau begitu orangku akan menjemputmu sekarang." Ujar Rita lalu mematikan telepon.
Tak lama kemudian seorang wanita menghampiri Nanda dan mengajaknya menemui Rita. Mereka kemudian masuk kedalam dan menuju apartemen Rita menggunakan Private lift. Tak lama berselang Nanda sampai dan langsung masuk kedalam apartemen.
"Wow tempat ini besar juga ya!" Ujar Nanda saat melihat Rita yang duduk hanya dengan memakai baju tidur transparan yang hanya menutupi sebagian tubuhnya.
__ADS_1
"Ayolah kita lama tidak bertemu dan yang ingin kamu bahas adalah Apartemen ini." Ujar Rita lanjut tersenyum. "Seharusnya aku yang kamu perhatikan." Lanjutnya lagi sambil tersenyum dengan manjanya.
"Untuk apa aku membahasmu? Aku rasa tidak ada yang menarik tentangmu bukan." Lanjut Nanda.
"Wow.. dingin sekali dasar es batu." Gumam Rita agak jengkel. "Mau minum Teh atau kopi?" Tawar Rita.
"Aku lebih suka kopi!" Ujar Nanda
"Buatkan tamuku kopi!" Perintah Rita pada wanita yang tadi menjemput Nanda.
"Aku bisa membuat minumanku sendiri."Sambung Nanda. "Pergilah!" Ujar Nanda.
saat mendengar perkataan dari Nanda, si Wanita kemudian mengalihkan pandangannya ke Rita. Rita kemudian juga mengisyaratkan supaya dia pergi dengan menggerakan kepalanya. Dia mengerimti dengan baik lalu pergi meninggalkan Nanda dan Rita berduaan.
"Jadi kita sudah berdua sekarang. Apa kau ingin melakukan sesuatu denganku, Sayang!" Ujar Rita dengan centilnya menarik perhatian Nanda.
Tapi Nanda tidak terlalu perduli dan lebih memilih beranjak menuju dapur lalu membuat kopi untuk dieinya sendiri. Merasa Diacuhkan oleh mangsanya Rita kemudian mengikuti Nanda ke island dapur.
"Ayolah jangan begitu padaku, kamu membuatku menggigil disini. Hangatkan aku sebentar saja!" Ujar Rita lalu menggengam tangan Nanda dengan erat. Nanda tidak menolak pegangan tangan itu dan terus fokus mengaduk kopinya.
"Ayo kita bicarakan beberapa hal tentang dirimu, mungkin sesuatu hal akan membuatku tertarik dan kita bisa melanjutkannya dengan cangkir yang lebih panas." Ujar Nanda.
"Iya Tentu saja. Jadi apa yang ingin kamu tahu?" Ujar Rita dengan wajah manis dengan manjanya.
Selanjutnya mereka mengobrol banyak hal dengan beberapa selingan kalimat kalimat manis yang dilontarkan bergantian. Waktu menunjukan pukul 21.30 malam dan obrolan mereka semakin menuju kearah yang lebih panas.
.
.
.
.
.
.
.Like comment vote
__ADS_1