
"Hallo Pak! Saya sudah berhasil menemukan pria yang bapak cari." Tegasnya lewat sambungan telepon.
"Cepat sekali! Siapa Namanya?"Tanya Alex lebih mendetail.
"Maaf pak saya tidak sempat menanyakan namanya. Tapi yang pasti dia sudah mendapat balasan yang sepantasnya!" Jelas Fanny singkat.
"Bagus!" Balas Alex senang. "Balik kamu kesini, saya punya urusan yang lebih penting!" Tegas Alex sambil tertawa.
"Baik pak saya kesana sekarang!" Balas Fanny kemudian mematikan sambungan telepon.
Pak Alex nggak perlu tahu kalau pria itu Nanda. Baik pak Alex ataupun Nanda mereka sama jahatnya. Mereka berdua nggak pantas buat Ella. Ujar Fanny dihatinya.
***
Waktu terus berlalu, hingga menjelang malam Ella tetap tidur diranjang dan memikirkan tindakan suaminya. Tanpa bantal, tanpa selimut, dan tanpa seorangpun disisinya. Sejak kejadian tadi, Ella menolak semua barang maupun manusia untuk mendekatinya.
Tepat pukul 20.00 wib, Ella merasakan sakit pada perutnya. Wajar saja karena satu satunya nutrisi yang masuk adalah sarapannya bersama sang suami pagi tadi. Selain itu Ella belum mengkonsumsi apapun lagi.
Perlahan sakitnya makin terasa, perlahan dia menjulurkan tangan untuk mengambil segelas air di beside table. Hanya Gelas bening inilah yang terus bersamanya selama beberapa jam terakhir. Tapi kali ini sakit diperutnya tak tertahankan, dia memanggil ibunya dengan suara lirih.
"Bu...!" ucapnya sambil merintih kesakitan. Sayang baginya tak ada yang mendegarkan. Suaranya lirih dan sangat kecil. Beberapa saat kemudian Ella merasa pasrah dengan keadannya sendiri.
Hiduppun untuk apa? Tidak ada gunanya sama sekali. Ujar Ella pasrah. Namun 1 detik kemudian pintu terbuka.
Ceklek....
Mata Ella berbinar, dia tidak menyangka bahwa yang akan datang adalah suaminya. Dia menatap lelaki itu dengan tatapan sarkas. Tetapi Nanda malah tersenyum menanggapi dirinya.
Nanda berjalan dan mengambil bantal dan selimut yang tergeletak di lantai. Lalu dia memberikan bantalnya kepada Ella. "Mau apalagi kamu kesini!" Ujar Ella dengan suara lirih dan tatapan kebenciannya.
"Aku datang kesini, karena istriku juga disini." Balas Nanda tersenyum. "Pergi! aku nggak butuh pria busuk sepertimu" Usir Ella. Setelah mengusir suaminya dia menekan perutnya lagi kuat kuat karena sakitnya kembaii terasa.
Nanda yeng melihat istrinya menggeliat dan mengeluh kesakitan langsung ikut memegang perut istrinya itu. Namun Ella berusaha menolak dia tak sudi disentuh oleh suaminya. Nanda merasakan ada yang aneh dengan istrinya dia berusaha lebih jauh untuk memastikan keadaan istrinya.
"Pergi! singkirin tangan kamu dari aku." ujar Ella lagi. Tapi Nanda tak mendengarkan perkataan istrinya.
__ADS_1
Dia menyentuh perut istrinya yang terasa hangat begitu juga dengan keningnya yang berkeringatan. Semenyara kaki dan tangan Ella suhunya sangat dingin. "Awas! Awas! Aku nggak mau deket kamu!" Bentak Ella lagi.
"La apaan si!"
"Pergi sana!"
"Nggak"
"Pergi!" bentak ella lebih keras.
Nanda kemudian mengelap wajah ella dengan kedua tangannya lalu dia memegang kedua pipi istrinya dengan halus. Seketika Ella terlihat menangis dan terlihat sangat menyedihkan. "La.. aku tau aku salah. Kamu bebas mau apain aku. Tapi Nanti setelah kamu sembuh, kita urus semuanya. yah..!" Bujuk Nanda.
Kemudian Dia mengangkat kepala istrinya sedikit dan menyelapkan bantal disana dan menidurkan istrinya dengan berhati hati. Selanjutnya dia memasangkan selimut ditubuh istrinya. "Sekarang bilang sama aku, Perutmu kenapa?" Tanya Nanada lembut untuk meluluhkan istrinya.
Tapi Ella tetap keras dia meremas dan mendorong keras bahu suaminya untuk menajuh. Dia juga tak menjawab pertanyaan suaminya. Dia hanya mampu menggelengkan kepala untuk menolak suaminya.
"La hey hey hey, Percaya sama aku La. Aku nggak akan bohongin kamu. Kita urus semuanya Nanti setelah kamu sembuh." Ujar Nanda lagi.
"Hmphh..." Rintih Ella. Dia tak ingin mengatakan apapun lagi pada suaminya. Namun sakit yang dia rasakan mengalahkan ego yang dia miliki. "Laper...!" Ucap Ella sambil meringis kesakitan.
"Kamu belum makan?" Tanya Nanda bingung. Ella kemudian mengangguk lalu kembali memegangi perutnya.
Pantas aja perutnya sakit.. Tegas Nanda. Nanda lanjut bergegas mencari dapur umum untuk mendapatkan makanan yang lebih hangat. Disana dia bertemu dengan seorang OB yang masih bekerja.
"Mas saya minta makanan yang hangat yah buat istri saya." Ujar Nanda keras.
"Istrinya belum makan mas, inikan udah leeat dari jam makan." lanjutnya membals.
"Udah mggak usah kebanyakan tanya. Siapin aja makanannya!" Bentak Nanda disana.
"Eh iyamas iya!" Balas si OB ketakutan. Beberapa saat kemudian, Nanda berhasil mendapat makanan hangat yang dia inginkan. Dia segera kembali ke kamar istrinya.
"La nih makan dulu, biar perutmu nggak sakit." Ujar Nanda pada istrinya. Sejenak Ella menatap makanan itu lalu menatap ke arah suaminya. Hatinya masih enggan untuk memakannya, tapi perutnya yang keroncongan terus mencubitnya dari tadi.
Akhirnya Dengan terpaksa Ella menerima suapan pertama dari tangan suaminya. Nanda juga sigap dan langsung menyuapi istrinya secara terus meneris dengan tempo yang lumayan cepat.
__ADS_1
"Hmm.. pelan pelan!" Protes Ella.
"Makannya yang cepet La, Nanti supnya keburu dingin." Balas nanda. Setelah menghabiskan setengah dari porsi piringnya Ella merasa perutnya sudah lebih baikan. Dia kemudian ingin melankutkan makannya sendirian.
Nanda kemudian menuruti permintaannya dan mengatur over bed table supaya Ella lebih mudah saat menyantap makanannya.
Ketika Melihat Istrinya mulai membaik, Nanda menatap istrinya tajam dan seketika. Dia semakin merasa bersalah atas dosa dosa yang pernah dia lakukan pada istrinya.
"Apa?" Tanya Ella sambil menatap Aneh pada suaminya.
"Aku ambilin teh anget ya!" Les Nanda. Kemudian dia pergi keluar lagi.
Dikamar Ella menatap pintu yang kembali tertutup saat Nanda pergi dari kamarnya. Sekarang hatinya penuh dengan kebimbangan. Kenapa kamu balik lagi kesini sih Mas! Aku nggak ngerti jalan pikiran kamu. Gumamnya dalam hati.
Ella kemudian melanjutkan makan malamnya dengan santai. Hingga beberapa waktu kemudian Nanda kembali lagi beserta Teh hangat yang sebelumnya dia janjikan.
Nanda berjalan dengan sangat berhati hati lalu dia meletakan Teh hangat itu di over bed table istrinya. Ella kemudian memgambil segelas teh itu dan sedikit meniupnya.
"Hush.. jangan ditiup!" Ujar Nanda spontan. "Minum aja pelan pelan!" Lanjutnya lagi. Ella kemudian mengikuti perintah suaminya dan meminum teh angat itu secara perlahan.
"Ibumu ada diluar, dia tidur di lorong. Tapi kamu nggak usah khawatir. Tadi aku idah selimutin dia pake selimutnya Dr.Anne. Kayaknya ibumu kecapekan." Ujar Nanda santai pada Ella.
"Abis makan nanti kamu minum obat terus langsung tidur ya La." Ujar Nanda terus. Ella tak menjawab apa apa, dia hanya bisa diam dan menuruti perintah suaminya. Setelah makan Ella merasa perutnya sudah lebih baik dari sebelumnya lalu dia meminum obatnya.
Tak lama kemudian Nanda menginstruksikan pada Ella untuk segera tidur. Ella pun menurutinya dengan hati hati dia memasang posisi tidur yang nyenyak dan menaikan tinggi selimutnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Like comment vote.