
10 menit kemudian Aku sampai di rumah sakit. Langsung saja aku bergegas mencari keberadaan istriku. Saat membuka pintu hal pertama yang aku lihat adalah Wajah jutek Ella yang menatap sebal ke arahku.
Meski begitu, aku tak terlalu peduli. Mungkin benar kalau aku salah. Tapi aku sangat bersyukur dia selamat dari kecelakaan maut yang baru saja terjadi. Aku berlari mendekat lalu memeluknya dan menghirup nafas lega disana.
"Huft.. Huft.. Udah berakhir La. Semuanya udah selesai!" Ujarku tergesa dipundak istriku.
"Mas apa sih? apanya yang udah selesai." Ella melepaskan pelukanku dan menatap cemberut kearahku.
"Aku seneng La, kamu udah bangun. Tadi aku takut banget, aku pikir kamu bakalan kenapa kenapa?" Ujarku menjelaskan singkat.
"Oh.. jadi kamu nyumpahin aku mati!" Ujar Ella tegas. "Biar bisa balik ke selingkuhanmu!" lanut Ella tajam.
"Kok ngomongnya gitu. Aku kan.."
"Nggak tau ah.. bodo. Aku benci sama kamu!" Ujar Ella seraya mengeluarkan tetesan air mata dari sudut sudutnya.
Hah.. seriusan, Ella masih ngambek aja. Barusan dia tabrakan loh, nabrak tiang listrik. Hampir sekarat pula, Eh.. abis siuman malah lanjut marahnha. Ampun dah istri gue gini amat..
"Kesel banget sih.." Apalagi sih ni orang.
"Kesel kenapa sih La." Ujarku bertanya pelan.
"Ya itu sama pengurus resto, Xin xin. Masa aku dibilang gak becus jadi istri. Emangnya aku kurang apa sih?" Tegas Ella menatap ke arahku.
Aku menggelengkan kepala lalu bersandar kepundaknya lagi. Mau bilang apa? Disaat kayak gini pasti posisiku serba salah. Mau bilang yang bener pasti disalahin, apalagi kalau udah ngomong yang salah. Pasti jadi bubur!
"Mas!"
"Hem..!" Jawabku pelan.
"Inget ya, kamu masih tetep jadi tersangka buat aku." Ujarnya tegas ditelingaku.
"Iyah" Jawabku pasrah. Lalu aku memegang pundak istriku yang lain, menyebrangi tubuhnya.
Aku tak menyangka dia akan membalas pelukan lembut ku itu. Dengan tanggannya Ella mengelus kepalaku dengan halus. Tak sampai disana dia juga ikut menyandarkan pipi halusnya dikepalaku.
"Mas! jangan jauh jauh dari aku ya!" Pinta Ella lembut.
"Nggak mau ah! Kamu belum mandi" Ujarku sambil menghindar darinya.
Cetit.....
__ADS_1
Salah satu pipiku langsung diremasnya fengan sangat keras. "Ih nyebelein banget sih, kenapa emangnya kalo aku belum mandi." Ujar Ella dengan perasaan jengkel dan wajah juteknya.
Aku tertawa ringan sambil menahan rasa sakit dari cubitan jari jarinya. Kalau dilihat lihat Lagi rasanya makin gemash, Ella masih sama seperti dulu. Aku rasa dia bener bener sudah sembuh. Hanya saja perban dikepalanya itu yang terus membuatku merasa bersalah.
"Ih.. Aku lagi marah kamu malah ketawa ketawa!" ujarnya menyilangkan tangan. "Aku kangen dicubit istriku yang manis ini." Ujarku menggodanya.
"Gak tau ah!" Ujarnya memalingkan muka sambil memyembunyikam senyum menggelikan di wajahnya.
"Sebel!" Dia kembali berbalik kearahku, menatapku beberapa saat lalu mengatakan satu kejanggalan datiku yang baru ia sadari.
"Kok badanmu bau parfum cewe." Ujar Ella mengerutkan dahi.
"Wangi ya..!" Sautku tertawa. Lalu aku keluarkan sebuah parfum dari balik bajuku kedepannya. "Ini parfumnya bu dokter, wangikan." lanjutku menyemprotkan sedikit ke tangan.
"Eh iya wangi!" Ujar Ella. "Tapi kok parfum bu dokter ada dikamu." Lanjutnya.
"Aku pinjem sih tadi, cuman lupa bilang aja." sautku pelan.
"Oh pinjem! " Ujarnya menatapku aneh. "Bu dokter, parfumnya diambil sama Nanda!" Teriak Ella spontan.
Aku kaget bukan main saat mendengar teriakannya. Ternyata sikap usilnya sudah kembali lagi.
Pintu lalu terbuka, Dr.Anne langsung datang seketika mendengar suara dari Ella. Dia menatap jengkel ke arahku,tapi yang paling membuatku kahet adalah sosok yang mengikutinya dari belakang.
"Jadi kamu ambil parfum ibu juga!" Ujarnya lantang didepanku.
"Nanda pinjam ya bu!" Ujarku sedikit merasa bersalah.
"Sini balikin!" Pintanya padaku. Langsung saja aku kembalikan padanya, lagi pula aku sudah tidak membutuhkannya lagi.
"Parfumnya wangi baget bu!" Ujar sosok yang membuntutinya.
"Iya bu, ini parfum dari saya masih muda. Nggak pernah ganti yang lain."Ujar Bu dokter.
"Bu dokter, Udah kenal sama ibunya Ella." Ujarku pelan.
"Heh..!" Bentak ibu mertua sambil memukul bahuku. "Kamu apain anak ibu? Kok Ella bisa kayak gini?"Lanjutnya memarahiku.
Ya ilah kena marah lagi inimah. Ella malah ketawa ketiwi mulu. Bantuin kali La, suamimu lagi di aniyaya.
"Anu itu bu, Itu.." Jujur aku bingung menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
"Kenapa gagap gini, Nda. Kamu itu laki laki, seorang suami. Harusnya kamu bisa bertanggung jawab sama kondisi istri kamu. Jagain Ella baik baik, dia anak ibu satu satunya. Ibu nggak rela kalau samoai Ella disia siain." Ujarnya tegas memarahiku.
"Ya maaf bu, Nandakan nggak tahu Ella bakal nabrak tiang Listrik." Ujarku pasrah.
"Ya emang Nanda, Dimana mana juga sama. Celaka nggak ada yang tahu." Ujarnya bersikukuh menyalahkanku.
"Lagian kok aneh banget sih, kenapa cuman Ella yang ada didalam mobil. Kamu dimana pas Ella nabrak?" Sautnya heran.
"Soalnya kalau Nanda juga ikut nabrak, nantinya repot bu. Siapa yang mau jagain Ella coba." ujarku mengeles menutupi kesalahan.
Ibunya Ella malah menggertakan gigi, kesal pastinya dengan jawabanku. Sementara Bu dokter memutuo mulut dan menyembunyikan tawanya. Begitu juga dengan Ella yang tertawa didepanku.
"Udah udah..!" Potong bu dokter. "La, Nda, Bu, ini sudah malam sebaiknya kita semua istirahat. Terutama kamu La, harus banyak istirahat. Jangan banyak omong mulu, pulihin tenaga kamu." Ujarnya halus.
"Boleh nggak Nanda tidur bareng Ella!" Ujarku bertanya.
"Enggak boleh! Sana kalau mau tidur disofa aja." dia menunjuk ke sofa dekat ranjang Ella. "Kalau nggak di ruangan ibu juga boleh." Tawarnya.
"Jangan! Mamas tidur disofa aja, biar bisa nemenin Ella." Lanjut Ella spontan.
"Saya boleh tidur di ruangan anda, Saya nggak tahan sama dingin Ac soalnya." Lanjut Bumer.
"Jangan panggil Anda, panggil saja anne!" Pinta bu dokter. "Mari ke ruangan saya." Lanjutnya mengajak ibu mertua.
***
Diluar ruangan, 5 menit yang lalu.
"Nanda sama Ella keliatan serasi ya bu!" Ujar Bu dokter
"Iyah, pas datang tadi. Nanda buru buru lari terus meluk istrinya. Cinta udah tumbuh diantara mereka berdua." Saut ibunya Ella.
"Kalau liat mereka pelukan, rasanya kayak saya jadi muda lagi. Dulu suami saya juga sama, tiap ketemu pasti langsung minta peluk." Lanjut bu dokter tertawa pelan.
"Eh tapi kok kayaknya mereka lagi berantem!" Ujarnya ketika melihat putri semata wayangnya sedang beradu mulut dengan Nanda.
"Iya juga sih, tapi kok logat Nanda kayak gitu!" Saut Bu dokter heran.
"Gitu gimana bu? Nandakan emang begitu, Sikapnya masih kek anak kecil banget, liat aja gelagatnya!" Ujar bu Ella memperhatikan dari balik pintu.
Jadi dia belum tahu, kalo Nanda udah sembuh. Apa Ella juga belum tahu? Kenapa kamu sembunyiin sih Nda?Ada apa?
__ADS_1