
Suasana seketika hening saat Alex juga bergabung dalam kericuhan. Ella mendadak sakit perut dan membuang mukanya saat melihat Alex. Hari ini diantara miliaran orang hanya Alex yang tidak ingin dia lihat.
"Kamu..! "
Alex juga terlihat sangat kaget ketika mendapati Ella ada diantara kerumunan. Apalagi dengan kondisi kaki yang lumpuh dan duduk di atas kursi roda.
Nafas Ella semakin memburu, dia berusaha mengusap matanya agar tak terlihat sedih. Sakit dan nyeri akibat perbuatan Alex di masa lalu seolah timbul kepermukaan. Nyeri sekali.
"Kamu kenal dengan mereka? " Tanya Marisa. Dia memegang tangan suaminya menunjukan kemesraan tepat didepan Ella dan semua orang secara umum.
"Tidak penting, wanita itu tak uwal gadis muruhan dipinggir jalan. " Ujar Alex dengan kalimat sarkas.
"Aku tidak menyangka akan bertemu lagi denganmu. satu hal yang paling tidak aku inginkan adalah melihat wajah busukmu lagi. Sekarang apa yang sedang kamu lakukan, berpura pura lumpuh dan memohon belas kasihan kepada orang lain. hah menyedihkan sekali. " Ujar Alex merendahkan Ella. Hal itu langsung dibayar dengan tamparan keras dari Rima. Dia melangkah dengan cepat dan menampar pipi Alex.
"Berani sekali kamu mengatakannya, kamu pikir kami ini apa? " Tanya Rima berteriak. Ubun ubunnya sekarang di penuhi oleh emosi yang sangat meledak ledak.
"hey sialan apa yang kamu lakukan. " Kali ini Marisa membalas dengan menamparnya juga. Rima sempat mengaduh kesakitan sebelum kembali memberikan perlawanan balik. Pada akhirnya mereka saling mendorong satu sama lain dan terpaksa dipisahkan oleh body guard dan pegawai super market.
Ella sendiri diam tidak bergeming, dia bingung dengan apa yang harus dia lakukan. Tapi saat Rima berteriak dengan kencang karena kesakitan sebab rambutnya yang ditarik oleh marissa. Ella berteriak dengan keras.
"Sudah cukup! " Ujar Ella. kondisi semakin riuh saat beberapa pengunjung juga menyaksikan keributan yang terjadi. Beberapa dari mereka bahkan mengambil ponsel dan menjepret beberapa foto untuk mengabadikannya.
"Kalian pikir kalian itu Tuhan yang bisa merendahkan manusia? Hah! " Ujar Rima berteriak.
"Hey kau laki laki kurang ajar, kami tahu kamu ini orang hebat, Pengusaha terkenal. Tapi bukan berarti kamu bisa merendahkan orang lain dengan mudahnya. " Balas Rima.
"Lalu kalian, kalian semua juga sangat menyedihkan. Kakak iparku sedang lumpuh dan kalian semua hanya diam saat melihatnya di lecehkan. Kalian semua najis, yang paling kotor. Kenapa? kalian takut kepada mereka karena mereka memiliki kekuasaan yang besar. " Ujar Rima semakin marah. Semua pegawai supermarket yang ada disana langsung terdiam dan tidak berani melihat ke arah Rima.
Tapi berbeda dengan para pegawai super market, semua body guard marissa dan Alex malah melotot. Nampak sekali kemarahan yang begitu besar dari mata mereka.
"Apa yang kalian lihat lihat hah? Aku tidak takut dengan kalian semua. Ayok maju akan aku habisi kalian semua. " ujar Dia kembali menantang semua orang yang ada disana.
Dia melangkah kedepan dan bersikap seperti layaknya kesatria yang sangat siap berperang dengan siapapun.
"Rima sudah cukup! " Ujar Ella.
"Kita pulang aja ya sekarang. " ujar Ella lagi menenangkan Rima yang sangat marah saat itu.
__ADS_1
Saat Ella berusaha memegang tangan Rima, justru Alex yang tiba tiba memegang tangan Ella lalu Menarik tangannya sampai Ella terjatuh dari kursi Roda.
"Akh..! " Ella mengaduh kesakitan saat dia terjatuh cukup keras. Belanjaan mereka juga seketika berjatuhan dan berserakan. Terdengar juga suara dari beberapa orang wanita disana berteriak.
"Teteh." ujar Rima kaget. Dia segera berbalik dan membantu Ella duduk di lantai. Terlihat Ella sangat kesakitan dan memegangi kakinya terus. Rima juga menampar tangan Alex yang masih berusaha menarik tangan Ella.
"hentikan kebohongan kalian, aku tahu kalian hanya berpura-pura. Dasar wanita rendahan. " Ujar Alex dengan kalimat yang sangat keras. Dia kemudian berusaha juga menyakiti Rima. Tapi Rima kembali berusaha melawan dengan sangat baik. Hingga membuat Alex mundur beberapa langkah.
Saat Rima akan kembali meledak dengan kalimat dan suara yang keras. Ella menarik tangan Rima dan memeluknya lalu dengan kalimat Lirih dia berbisik.
"Rima udah cukup, nggak akan ada yang membela kamu. semua orang takut karena Alex yang berkuasa disini. " Ujar Ella
"Tapi teh. " Ujar Rima.
"Udah Rima! " Rima yang seolah terpukul itu kemudian menangis mendengar kalimat dari Ella. Dia terus memeluk Ella dan melihat ke sekelilingnya. Nampak tatapan jengkel, iba, dan takut ada di sekitarnya.
"Hey kalian bantu aku? aku mohon! " Semua orang terdiam saat mendengar permintaan dari Rima. Mereka hanya menatap dingin dan tak bergerak sedikitpun.
"Hey kalian, ayoklah! cepat bantu aku. " Ujar Rima.
"siapapun tolong kami! "
Ujar Rima lagi, tapi hasilnya nihil mereka semua seolah menutup mata dan tak perduli jika ada yang membutuhkan bantuan. Rima mendesah pelan tak percaya, dia tidak menyangka tidak satupun dari mereka rupanya mau membantu.
"jangan mendekat, kita akan terkena masalh jika ikut mendekat. " Ujar Seorang dari kejauhan.
"mereka pasti akan menerima maslah yang besar. " bisik yang lainnya. sayup sayup Rima dan Ella masih bisa mendengar suara kabur seperti burung itu.
"Hei ******, lihatlah kalian membuatku berantakan seperti ini. " Ujar Marissa marah. Dia bahkan menendang Rima yang masih berusaha untuk melindungi Ella.
"Akh!" Jerit Rima memekik kesakitan.
"sudah cukup, jangan sakiti adikku" Ujar Ella mencoba menghalangi tangan Marisa yang hendak menendang lagi. Sementara Rima sedang mengusap bagian pinggangnya yang sempat di tendang.
Tapi untung saja sebelum hal itu kembali terjadi, Seorang wanita segera mencegahnya. Dia menangkap kaki marissa dan mengangkatnya dengan tinggi sehingga membuat Marissa terjatuh. Alex sendiri tak sempat merespon, sebab dia saja tidak bisa melihat pria itu datang dari tengah kerumunan.
"Aw... " Ujar marissa.
__ADS_1
"Marissa! " Alex membantu membangunkan Marissa yang terjatuh.
"Hey kalian tidak papa? ujar Seorang wanita yang nampak asing bagi mereka berdua.
Saat melihat kejadian tersebut, Alex lagi lagi akan maju mencoba menarik wanita tadi. Tapi seorang pria yang sepertinya suami dari wanita tadi tiba tiba menghentikan Alex dan mendorong Alex hingga mundur beberapa langkah.
"Allekin! " Ujar Alex saat menyadari siapa yang menghentikannya.
"Kamu mau menghajar istriku juga Lex? " Tanya Allekin dengan tatapan kosong. Dia tersenyum sinis seolah mentertawakan Alex.
"Nisa kamu tidak papa?" Tanya Allekin pada istrinya.
"Aku tidak papa? Tapi wanita ini harus segera dibawa ke rumah sakit. " Ujar Nisa yang melihat luka di kaki Ella.
"katakan dia sedang berbohong atau tidak? " Tanya Allekin lagi.
"Mister jangan bercanda lagi. Mereka tidak sedang berbohong, aku melihat sendiri luka di kakinya. Lagipula mereka datang kesini untuk berbelanja bukan untuk meminta di kasihani. " Ujar Nisa
Allekin kemudian berbalik dan menggotong Ella untuk kembali duduk diatas Kursi roda. Rima juga dengan sigap membantu dan memegangi kursi rodanya.
"Kamu sudah mendengarnya dengan sangat jelaskan Alex, dia tidak sedang berbohong. " Ujar Allekin lagi.
"Jangan ikut campur Allekin, ini adalah urusanku. Kamu tidak tahu siapa diakan? " Ujarnya lagi. Allekin tertawa lagi.
"Aku tahu dia, aku juga tahu kalian punya pengalaman yang buruk. Tapi bukan berarti kamu selalu bisa menyalahkannya Alex. " Balas Allekin. Terlihat Nisa sedang membereskan belanjaan Ella dan Rima. Sementara Rima masih berusaha tegar dan menahan tangisnya dibelakang.
"Cukup, aku tidak ingin mendengar ocehan darimu. "
.
.
.
.
.
__ADS_1
. Like comment Vote