
"Allekin sebaiknya kamu pergi dari sini kalau tidak? "
"Kalau tidak apa? Kamu mau menghajar ku atau mungkin mau membunuhku sekalian. " Allekin nampak tersenyum.
"Allekin! " Alex berteriak keras.
"Apa? Kenapa?" bentak Allekin lebih keras. Dia kemudian berbalik mengambil Ikan yang tadi diperebutkan oleh marissa dan Ella.
"Mereka tadi hanya berebut ikan segar. Rima tadi hanya terprovokasi dan tidak sengaja maupun tidak berniat mendorong Nyonya Marisa." ujar Nisa menambahkan. Allekin malah nampak tidak enak mendengar kalimat itu.
"Apa yang kamu katakan? jangan pakai kata Nyonya? Jangan merendah didepan mereka. " Perintah Allekin pada istrinya.
"Memangnya kenapa? itu hanyalah masalah sepele. " Ujar Nisa.
"Itu jadi tidak sepele, jika kamu yang mengatakannya. " Bantah Allekin lagi sedikit emosi.
"Mr Allekin, kamu meributkan hal sekecil itu disaat ada masalah yang lebih besar. " Ujar Nisa menggerutu.
"Hey.. jangan pernah membantah ku. " Ujar Allekin pada Nisa.
"Hmm... kenapa tidak boleh? istrimu tau dimana kedudukan dia yang seharusnya. Dan dia tahu siapa orang yang ada di posisi atas. " Ujar Marissa meremehkan Allekin, tanpa dia ketahui siapa sosok si Allekin ini. Allekin dengan santai memasukan ikan segar itu ke keranjang Ella dan Rima.
"Terimakasih! " Jawab Ella lirih.
"Hmm... "
"Terima kasih sudah membantu kami, aku tidak tahu lagi kalau kalian tidak ada disini. Aku sengaja memilih ikan ini untuk suamiku. Sejak aku lumpuh aku tidak lagi memasak untuk suamiku. Tapi tadi pagi suamiku yang biasanya tidak protes mendadak ingin memakan masakanku. Jadi aku ingin berbelanja sendiri dan malah menyebabkan masalah. Aku minta maaf Mr. Allekin. " Ujar Ella dengan tulus.
Allekin dan Nisa saling bertatapan, Dia tahu Ella ini orang yang jujur. Allekin juga pernah sayup sayup mendengar kabar hubungan yang hancur antara Alex dan sekertarisnya. Tapi dia memilih tidak peduli karena semua itu bukan urusannya. Allekin juga sempat bertemu dengan Ella di saat masih bekerja dengan Alex.
"Tidak apa, aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Alex memang jadi sangat tempramen sejak berpisah denganmu. " Ujar Allekin sambil sedikit tertawa.
"Kalian saling mengenal? " Tanya Nisa
"jangan cemburu seperti itu?"
"Aku hanya bertanya. " Ujar Nisa merasa jengkel karena Allekin masih sempat sempat nya menggoda Dia disaat yang genting seperti ini.
__ADS_1
"Ella aku tidak tahu kalau kamu sudah menikah. Ngomong ngomong apa kamu sudah punya anak? " Tanya Allekin lagi.
"Aku sedang mengandungnya! " Balas Ella sambil memegang perutnya.
"Kamu sedang hamil! " Ujar Nisa tersenyum. "selamat ya! "
"Antarkan dia pulang? " Bisik Allekin pada istrinya.
Mereka berdua berusaha menghibur Ella dan Rima yang tadi sempat terpuruk. Mereka secara terang terangan mengabaikan Alex dan marissa yang ada di belakangnya. Tanpa mereka sadari juga setiap kalimatnya sudah menyayat hari seorang wanita di sana.
"Alex jadi dia wanita yang dulu kamu lamar. " Alex mengangguk.
"Oh jadi begitu, Kamu sengaja menggangguku karena tidak terima Alex menikah denganku kan. " Ujar Marissa dengan sangat keras. Allekin mendecak.
"Tentu saja dia lebih memilih aku dari pada kamu wanita panggilan. Aku yakin anak yang ada dikandunganmu adalah anak haram. " Ujar Marissa lagi.
Hati Ella langsung terasa sangat sakit saat mendengarnya. Apa serendah itu posisiku sekarang, sampai sampai anak yang tidak tahu apapun juga ikut disalahkan. Dia bahkan belum dilahirkan ke kedunia. Ujar Ella dalam hatinya.
"Apa dia anak dari selingkuhanmu? hah! "
"Tapi itu cukup pantas, ibunya pelacur dan ayahnya cacat otak. Akan jadi bagaimana anaknya nanti? " Ujar Alex lagi.
Allekin berdiri dia kemudian menatap tajam pada kedua orang tersebut
"Jika kamu selalu bertanya tanya kenapa aku tidak sudi bekerja sama dengan perusahaanmu. Maka ini adalah jawaban yang jelas untuk pertanyaan kecilmu itu Alex rahardian hasanata." Tegas Allekin kepada Alex.
"Aku tidak sudi bekerja sama dengan orang yang tidak memiliki hati seperti kalian. " Ujar Allekin lalu dia berusaha pergi dan menyudahi pertengkaran yang tidak penting tersebut.
"Ayok kita pergi!" Ajak Allekin. Nisa kemudian mengangguk dan berusaha membantu Rima dan Nisa.
"Tunggu Ponselku jatuh! " Ujar Rima yang baru menyadari ponselnya terjatuh saat pertengkaran tadi. Saat dia melihat ponselnya, ternyata panggilan dengan Nanda sudah terhubung. Dan mungkin saja sedari tadi Nanda sebenarnya sudah mendengarkan pertengkaran mereka.
Saat hendak mengatakannya Ella keburu menarik tangan Rima. Sehingga Rima mengurungkan niatnya dan beralih pergi dari sana. Allekin dan Nisa juga ikut membantu Rima dan Ella masuk kedalam mobil.
"Mr.Allekin Terima kasih atas bantuanmu. Aku sangat sangat berterima kasih untuk itu. " Ujar Ella yang baru saja masuk kedalam mobil dengan bantuan allekin.
"Tidak masalah, aku senang bisa membantumu. " Ujar allekin. Setelah Ella kemudian Rima yang berterima kasih pada Allekin dan juga Nisa. Hingga akhirnya mereka berpisah di parkiran supermarket.
__ADS_1
...****************...
Nanda sedang rapat dan membahas perkembangan produknya bersama Bella, Arin dan Faiz. Namun saat ditengah tengah meeting tiba tiba sebuah panggilan muncul di layar ponselnya. Saat Nanda tahu yang menelepon nya adalah Rima dia lalu mematikan panggilan tersebut. Karena mengira tidak ada masalah yang penting.
Tapi kemudian telepon itu datang lagi dan memaksa Nanda mengangkat telepon dari Rima.
"Halo! " Ujar Nanda ketika mengangkat telepon dari Rima. Sudah terdengar suara riuh dari sana. Nanda kemudian mencoba mendengarkan dengan jelas.
"Apa kamu mengenalnya? " Terdengar suara seorang wanita yang nampaknya tidak asing bagi Nanda.
"Tidak penting, wanita itu tak uwal gadis muruhan dipinggir jalan. " Ujar seorang laki laki yang menimpali nya.
Nanda seketika sadar Kalau ada yang tidak beres dengan Rima. Dia segera berdiri dan nampak khawatir, hal itu lalu membuat Teman temannya juga kaget dengan perubahan raut Nanda.
"Nanda ada apa? " Tanya Arin.
"Apa yang terjadi? " Lanjut Faiz. Nanda kemudian memberikan isyarat untuk diam. Lalu beberapa detik kemudian dia tiba tiba berlari keluar ruangan dan diikuti Faiz dengan cepat dari belakang.
"Nanda tunggu! "
Meski di panggil beberapa kali Nanda tidak mendengarkan Faiz karena sedang berusaha untuk mendengar suara dari telepon yang samar samar. Nanda terus menempelkan ponsel di telinganya sambil berlari masuk ke mobil. Saat masuk ke mobil dia mengaktifkan speaker dan terdengar dengan jelas adanya riuh riuh keributan.
Dalam beberapa saat kemudian, dia menyadari kalau orang yang sedang berbicara adalah Marissa. Dan dia sedang beradu argumen dengan Ella dan juga Rima. Nanda semakin panik dan berusaha mempercepat langkahnya.
Ada beberapa teriaknya kecil dari Rima yang sepertinya dia sedang berkelahi. Ada juga suara Ella yang sedang berusaha melewati Rima. Tanpa pikir panjang Nanda langsung menancap pedal gas dan pergi mencari jalan. mencoba menerka nerka dimana mereka. Tak habis akal dia kemudian berusaha melacak ponsel milik istrinya dan berusaha secepat mungkin melaju saat mendapatkan lokasinya.
Suaranya makin bising dan ramai, setiap kalimat kalimat kasar dan perkelahian terdengar jelas di telinganya. Nanda merasa sangat cemas karena Ella belum sehat betul dan dia sedang hamil. Apalagi Rima yang sepertinya juga kalah dalam pertarungan. Naas Nanda malah terjebak oleh macet.
"Allekin! " Nanda langsung mengerem mobilnya.
"Kamu mau menghajar istriku juga Lex? "
"Nisa kamu tidak papa?" Nanda berusaha mendengarkan dengan baik suara dari laki laki yang sedang berbicara disana.
"Aku tidak papa? Tapi wanita ini harus segera dibawa ke rumah sakit. "
"katakan dia sedang berbohong atau tidak? "
__ADS_1
"Mister jangan bercanda lagi. Mereka tidak sedang berbohong, aku melihat sendiri luka di kakinya. Lagipula mereka datang kesini untuk berbelanja bukan untuk meminta di kasihani. " suaranya semakin jelas terdngar di telepon.
"Alexandere allekin. " Ujar Nanda saat sudah yakin itu adalah suara dari orang yang benar. Dia segera menepi dan berusaha mendengarkan dengan baik semua percakapan yang terjadi lewat telepon. Dia tidak berusaha bersuara karena tidak mau Alex ataupun Marissa mendengar suaranya.