My Little Hubby

My Little Hubby
Bab 42


__ADS_3

Setelah hari itu saya selalu dihubungi oleh bi inah ketika Nanda sakit.Baik saat nanda pilek,demam,tipes,atawa apa saja.Selalu saya datang untuk mengobati Nanda.


Melihat saya yang sering datang ketika Nanda sakit.Si nyonya besar kemudian tertarik kepada saya.Ketika Anak anaknya sakit saya yang diminta untuk datang kesana.Hal ini terus berkelanjutan hingga akhirnya saya dipercaya menjadi dokter keluarga mereka.


Secara tidak langsung saya menyaksikan kehidupan Nanda dan keluarganya selama bertahun tahun.Ayahnya Nanda si tuan besar begitu dihormati layaknya seorang raja yang maha bijak dan benar.Apalagi setelah perusahaan yang dia bina mengalami perkembangan yang sangatlah pesat.


Tuan besar telah berhasil menciptalan dinastinya sendiri dan gurita bisnis yang tentaclenya merajalela dimana mana.Mulai dari agrobisnis,shipping,trucking,properti hingga perbankan dan pertambangan tidak luput dari genggamannya.


Harta dan kekuasaan kian membutakan mata dan hatinya dia melupakan satu dari ketiga putranya.Baginya hanya ada 2 orang yang dia akui sebagai putranya.Yang pertama adalah james dan yang kedua adalah Remi.


James adalah kebanggan dan lambang kehormatan yang akan selalu mereka jaga.Dialah orang yang nantinya akan didapuk sebagai pewaris dinasti dan penerus gurita bisnis yang telah mendunia.


Lalu Remi adalah anak yang turut mereka cintai.Meskipun dia tidak seistimewa kakak kandungnya tapi dia masih jauh lebih beruntung daripada kakak tirinya.


Lalu Nyonya besar, Dia tidak pernah berubah.Walaupun dia sangat mencintai anak anak dan suaminya.Tetap saja dia tidak bisa menerima masa lalu pria yang telah menikahinya.


Nanda menjadi korban dari ambisi ayahnya yang gila akan duniawi dan kekejaman dari seorang ibu tiri.Hal ini seraya mematahkan Asa seorang pelayan kepada pangerannya.Seorang pangeran yang telah dia besarkan dan dia anggap sebagai anaknya sendiri.Di suatu ketika pelayan itu berkata.


"Seandaikan dulu aku mengatakan kepadanya bahwa akulah ibunya dan suamiku adalah ayahnya.Maka hari ini,saat ini,detik ini dia tidak akan merasa kecewa dan sakit hati yang begitu dalam.Sehingga membuatnya menangis di pelataran setiap hari."


Pernah di suatu hari saya ditelepon untuk datang ke istana mereka karena Remi sedang sakit.Ketika saya datang saya disambut oleh beberapa Pelayan disana.Lalu saya bertemu dengan Nyonya besar di rumah itu.Dia bersama suaminya sedang asik menimang putra kesayangannya,james.


"Dr.Anne,Remi ada di lantai 4 dikamarnya.Saya mohon bantuannya ya dokter,lekas saya akan menyusul setelah urusan saya selesai." Ucapnya pada saya.


Saya hanya mengangguk sambari tersenyum untuk menjawab perkataaanya.Langsung saja saya menuju ke kamar Remi.Dia sedang terbaring letih di atas ranjang lengkap dengan kompres diatas kepalanya.


Remi mengalami demam yang cukup tinggi,namun itu tidak menjadi masalah yang cukup besar.Karena untunglah pelayan disana memberikan pertolongan yang benar kepada Remi.Dan kondisinyapun mulai membaik sejak tadi siang.


Remi hanya perlu minum obat,istirahat yang cukup dan banyak minum air putih.Tapi yang jadi masalahnya adalah Remi kurang bersemangat dan sangat loyo.Jadi saya menggendongnya dan memberikan semangat supaya mood Remi kembali membaik.


"Remi harus semangat yah,biar cepet sembuh.Biar bisa main lagi diluar!" hibur saya.


Selang berapa lama Remi menunjukan jari ke arah jendela kamar.Sayapun melangkah ke arah jendela dan saya melihat Nanda ada di taman belakang.Uniknya Remi tersenyum saat melihat Nanda.


Diluar Nanda sedang bermain dengan mobil truk yang dia punya.Nanda mengisi bak mobilnya dengan tanah hingga penuh.Lalu dia menjalankan mobiln dengan menarik tali rafia yang sudah dia pasang sebelumnya.


"Rem,itu siapa?'' Tanya saya kepada Remi.

__ADS_1


"Itu kakak Nanda,Lagi main sama mobil." Balas Remi lugu.


"Remi mau nggak main sama Kakak?" Ujar saya.


"Mau,tapi mamah suka marah kalau aku main sama kakak.Dulu pas Remi bobo sama Nanda,Dimarahin sama mamah." Ujarnya seperti takut.


"Loh memangnya kenapa? kakak juga dimarahain sama mamah?" Tanya saya lagi.


"Nggak tau,Kakak sampe dipukul pake sapu." Ucapnya lagi.


Jujur saya kaget saat mendengar perkataan Remi.Saya jadi cemas dan mengkhawatirkan Nanda,jangan jangan Nanda terluka.Tidak berselang lama bu Wina masuk kekamar.Dia langsung mengambil Remi dari gendongan saya.


"Bagaimana kondisi Remi,dokter?''


"Remi baik baik saja.Dia hanya butuh istirahat yang cukup dan minum obat secara tertatur.Sebentar lagi pasti sembuh." Ucap saya.


"Baiklah terima kasih dok.Nanti saya transfer uang pembayarannya.'' ucap bu wina.


Saya hanya mengangguk mengiyakan perkataannya.Lalu saya pergi ke bawah untuk menemui Nanda.Tapi sayangnya Nanda sudah pergi entah kemana.Langsung sajalah saya menemui bi inah untuk mencari kebenaran.


"Iya,sampai kini bu Wina tidak mau menerima Nanda.Dia tidak suka semua hal tentang Nanda.Apalagi jika sampai Nanda terlalu dekat dengan kedua anaknya.Tidak jarang juga Nanda dikasari oleh nyonya." ucap Bi inah.


"Habisnya mau bagaimana lagi? meskipun Nanda masih ada dia sudah dianggap mati oleh mereka.Jangankan untuk bersekolah,uang bulanan nandapun juga tidak pernah ditambah.Dok,saya ingin Nanda tetap bisa bersekolah karena itu saya hanya membelikan Nanda pakaian sederhana dan mainan mainan murah.Supaya sebagian uangnya bisa ditabung untuk biaya sekolah." ujar Bi inah.


Kini saya mengerti kenapa perbandingan Antara Nanda dan kedua adiknya sangat berbading terbalik.Selepasnya saya menanyakan keberadaan Nanda.Lalu bi inah mengatakan Nanda pasti berada di dapur.Karena memang sebentar lagi waktu makan siang.


Benar saja Nanda berada didapur dia sedang mengintip ke Ruang makan dari celah celah pintu dapur kotor.Lekas saja saya langsung mengagetkannya dari arah belakang.


"Dor..." Nanda melonjak karena kaget.


"Uhm.. kaget.Bu dokter lagi apa disini?" Tanya Nanda polos sambil tertawa.


"Bu dokter kangen sama kamu sayang!" Ucap saya lembut.


Rasanya sangat miris ketika saya melihat Nanda.Saya tidak menyangka ada orang yang tega menelantarkan Anak seceria dia.Kedua telapak tangannya sangat lembut.Senyumnya begitu manis dan matanya memancarkan cahaya harapan yang begitu dalam.


"Sini bu dokter liat badan kamu ya nak" Lekas saya menaikan kaos yang dipakai Nanda.lalu saya melihat banyak luka lebam dan memar ditubuh Nanda.

__ADS_1


"Badan kamu sakit nggak?" Tanya saya kepada Nanda seraya mengusap air mata yang hendak menetes.


"Nggak kok udah dioles obat sama bibi,Jadi nggak sakit." jawabnya.


"Kalau Nanda sakit,bilang yah sama dokter.Nanti dokter pasti dateng buat ngobatin Nanda." ucap saya.


"hmm.. iya." Balas Nanda.lalu saya mencium kening Nanda dengan hangat.Nanfapun nampak nyaman dengan tingkah saya.


"Tapi Nanda lagi apa didapur? Ngintip ngintip lagi dibalik pintu." ujar saya.


Saya kemudian membuka pinu sedikit lebih lebar dan saya melihat orang tua Nanda.Ayahnya sedang duduk dan memangku james.Sementara Bu Wina sedang memangku Remi.Mereka duduk di meja makan san menunggu hidangan siap disajikan.


"Bu dokter,kenapa Nanda gak boleh makan disana? jem sama remi juga disana sama mamah sama papah." Tanya Nanda polos.


"Lho Nanti kalau Nanda makan disana! Terus siapa yang nanti disuapin sama bibi Di sini." Saut Bi inah.Lalu Nanda tertunduk seperti kecewa dengan jawaban bi inah.


"Nanda gak usah mikir ini itu dulu ya nak.Nanda harus tahu gak penting Nanda makan disana apa disini.Karena semua orang pasti sayang Sama Nanda." Lanjut Bi inah.


"Iya bener Nda." saut beberapa orang chef yang memasak disana.


"Ayo makan,nih chef bikinin rendang paling enak kesukaan kamu." saut seorang chef disana.


Nanda kemudian di tuntun dan disuruh duduk untuk makan siang di Dapur.Tapi tiba tiba seorang pelayan memanggil saya dan mengatakan bahwa nyonya dan tuan besar ingin menjamu saya.


Namun saya menolak untuk makan siang bersama orang orang seperti mereka.Saya minta kepada pelayan itu untuk mengatakan bahwa saya sudah pulang.Pedahal saya ingin menemani dan menghibur Nanda saat makan siang.


Tentu saja karena Nanda diasuh oleh bi inah.Dia lebih dekat dengan para pelayan daripada dengan keluarga utama.Sehingga para pekerja disana juga mengetahui bagaimana Nasib Nanda.


Semua pekerja yang sedang makan siangpun terkadang melempar gurauan untuk sekedar menghibur Nanda.Dan timbal baliknya Tawa Nanda menjadi pelepas penat para pekerja.


Semua orang tampak lega dan tertawa kecuali bi inah.Bi inah tahu dan dia sadar bahwa Nanda masih bisa tertawa karena dia masih bisa dobodohi.Akan tetapi sebenarnya dikepala Nanda ada bom waktu yang cepat atau lambat akan meledak.Dan dikala masa itu telah tiba baik bi inah sekalipun tidak akan mampu menyelamatkan Nanda.


.


.


.

__ADS_1


.Like comment Vote


__ADS_2