My Little Hubby

My Little Hubby
Bab 78


__ADS_3

Ella POV


Pagi ini aku bangun pagi seperti biasanya. Seusai sholat subuh, aku langsung mempersiapkan semua perlengkapan piknik. Hingga tiba pada pukul 06.50 Wib, Nanda belum keluar dari kamarnya. Nampaknya dia masih marah karena perdebatan kemarin. pedahal aku hanya ingin dia mengerti dan bersikap selayaknya orang dewasa.


"Udah siap semuanya La?" Aku berbalik dan melihat Nanda di depan pintu kamarnya. Aku tersenyum melihat Nanda sudah rapih lengkap dengan jam tangan ayah melingkar di pergelangan tangannya.


"Selamat pagi Mamasku." Sapaku padanya. Eh.. Nanda malah memalingkan wajah dan menghela nafas malas. Namun dengan gaya barunya, Nanda terlihat lebih hot. Jujur saja semalaman aku terus menatap fotonya di layar ponselku.


"Aku kira kamu masih marah sama aku." Ujarku pelan. Aku ingin memperbaiki hubungan kami yang sempat agak renggang kemarin.


"Aku marah sama kamu bukannya gak mau piknik." ujar Nanda memainkan intonasinya. Aku terkekeh dan kembali tersenyum melihat tingkah menggemaskan suamiku. Mungkin hanya aku satu satunya wanita yang punya suami semenggemaskan Nanda.


"Mas, gelar tikarnya disini aja." Pintaku padanya. Nanda kemudian mengambil tikar dan menggelarkannya di sudut taman tanpa berkata apapun.


"Makasih suamiku." Lanjutku. Nanda masih saja cuek sejak obrolan terakhir kami tadi pagi. Sebenarnya aku tidak suka kondisi ini. Ingin aku memberontak dan mengatakan kalau Aku tidak suka dengan sikap dinginnya.


"Kamu bawa apa aja La?" Tanya Nanda. Yes, akhirnya Nanda mulai berbicara lagi padaku. Aku sengaja diam tak menjawab pertanyaannya. beberapa detik kemudian dia kembali bertanya dengan agak jengkel.


"La? Aku tanya sama kamu loh. Kok kamu diem aja!" lanjut Nanda mengerucutkan bibirnya. Dia kemudian duduk ditikar yang tadi dia gelarkan. Tanganya sudah menyilang didepan dada menunjukan kemarahan padaku.


"Eh apa mas? maaf maaf aku gak denger." Aku terkekeh dan tersenyum tipis melihatnya merajuk seperti ini. Nggak enakkan di anggurin, makanya jangan cuek terus sama aku.


"Ella bawa bekel apa aja buat piknik. Ini lemper ya!" Ujar Nanda menunjuk kearah kepalan nasi yang aku buat.


"Hemm.. bukan ini namanya onigiri, makanan khas jepang. Bentuknya emang kaya gini, terus dalamnya aku masukin ayam suir pedes. Pastinya lebih enak daripada lemper, cobain deh pasti kamh suka." Ujarku pada Nanda.


Meski terlihat gengsi dan malu malu. Nanda akhirnya mengambil satu kepalan onigiri yang aku buat. Sejenak matanya membulat setelah gigitan yang pertama. Lalu dia langsung memakan sisa onigirinya dengan sangat lahap didepanku.


"Nih, aku bikin banyak kok. Jangan gengsi gitu akukan istrimu." Aku memberikan kepalan yang lain setelah sebelumnya Nanda menghabiskan yang pertama. Kali ini dia tidak nampak malu dan menerima onigiriku dengan semangat.


"Eh.. aku juga bawa kimbap, rasanya gak kalah enak sama onigiri. Terus aku buatin sandwich juga, soalnya aku takut kamu gak suka makanan jepang. Minumya aku bawain kamu susu coklat sama air putih pastinya." jelasku padanya sambil menunjukan setiap makanan yang telah aku persiapkan.

__ADS_1


Saat aku kembali melihat ke arahnya. Nanda malah tersenyum sendiri menatap ke arahku. Onigiripun tak ia gigit sama sekali. Entah kenapa dipandangi olehnya membuat dadaku berdebar. Aku sejenak memalingkan wajah untuk mengurangi sensasi aneh yang kurasakan.


Buk...


Perasaanku tambah tidak karuan saat Nanda berbaring ke pangkuanku. Sampai detik ini aku masih tak mampu bicara, tapi tanganku menyambut baik keberadaan Nanda. Entah darimana datangnya kekuatan untuk mengusap kepalanya dipahaku.


"Makasih La, Kamu udah baik sama aku. Kemarin kamu ajak aku ke salon, Mall, beli baju, makan steak, terus sekarang kamu ajak aku piknik" Ujarnya lirih. Nanda kemudian menggenggam tanganku lalu bangun dan duduk disampingku persis.


"Soal kemarin aku udah pikirin semaleman La. Nggak penting umurku 10 tahun atau 24 tahun. Aku juga gak peduli mau aku anak kecil, remaja, dewasa, atau udah kakek kakek. Aku cuman peduli satu hal sekarang, Selama aku masih punya umur untuk hidup, Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu, menjagamu, dan terus melihatmu tersenyum setiap detiknya."


Aku terkekeh tak percaya mendengar setiap kata yang dia ucapkan. Setiap hurufnya terasa indah dan sedap didengar. Kali ini Nanda sukses membuat pipiku menjadi merah. Wajahku terasa panas mendengar setiap kalimat yang dia utarakan.


Alhasil aku hanya bisa memandanginya dalam hening yang aku rasakan. Sekarang Nanda mulai bertingkah lagi, dia mulai mendekat kearahku. Aku mengerti apa yang hendak dia lakukan karena itu aku menutup wajahnya dengan tanganku.


"Jangan Mas! Ini tempat umum, banyak anak kecil juga disini." Seandaikan aku tidak ingat kalau ini ada ditaman. Pasti sudah aku berikan ciuman pertamaku padanya.


Dert... Dert... Dert...


Ponselku bergetar, ada panggilan masuk dari Fanny. Lekas aku angkat telepon dari sahabatku.


"Aku udah ditaman dideket pepohonan yang besar ini." Ujarku membalaa Fanny.


"Yaudah sekarang kamu kesini, Aku sama pak Waluyo lagi duduk di bangku taman sebelah Tukang Es Dawet." ucap Fanny.


"Kamu aja yang kesini, Aku bawain kimbap loh buat kalian." Ujarku.


"Aduh nggak bisa la. Disana terlalu terbuka, Pak waluyo gak mau kesana." Lanjut Fanny menjelaskan.


"Yaudah aku kesana sekarang." Balasku lembut.


"Ok" Sambungan telepon kami lalu terputus setelah kalimat terakhir dari fanny.

__ADS_1


"Kamu mau pergi La?" Tanya Nanda. Aku lihat kearahnya dia agak kecewa mendengar percakapanku dengan fanny.


"Cuman bentar ko, nggak lama. Kamu mau ikut?" Ajakku pada Nanda.


"Nggak mau La. Aku mau disini ajah, sana kalo kamu mau pergi." Balasnya ketus. Kemudian Dia menggigit onigiri buatanku dengan kesal. Oh Nanda terlihat begitu menggemaskan saat sedang merajuk seperti ini. Kalimatnya boleh saja manis, tapi tingkahnya masih saja tidak berubah.


***


"Kamu kenapa La?" Aku tak sadar fanny sudah berada didepanku. Dia mengerutkan dahi memandang heran ke arahku.


"Eh.. fanny, Aku nggak papa ko." Balasku sedikit tersenyum padanya.


"Nggak papa apanya? Dari ujung jalan sana sampai kesini kamu mesam mesem mesam mesem. Kamu mikirin apa sih La?" Ujarnya tegas. Fanny adalah orang yang sangat pengertian. Kami sudah bersahabat sejak lama, biasanya kalo ada masalah fanny adalah orang pertama yang menghiburku. Meski kini kami jarang bertemu tapi persahabatan kami terus terjaga hingga sekarang.


"Udahlah gak penting! Sekarang yang penting dimana pak waluyo!" Tanyaku melihat ke sekitar. Dibangku taman tepat dibelakng fanny. Aku melihat seorang pria memakai jaket tebal, topi, serta masker hitam yang hampir menutupi seluruh bagian wajahnya.


"Selamat pagi Non." Sapanya padaku. Aku kaget bukan main melihat dangdanan pak waluyo. Dia seperti sedang menghindar, bersembunyi dari semua orang.


"Pak waluyo!" Ujarku sambil menunjuk kearahnya.


"Sttt... jangan keras keras." Fanny memalangkan jarinya dibibirku. Dia juga nampak takut, sangat berbeda dengan Fanny biasanya yang selalu ceria. Aku kemudian duduk di bangku taman membelakangi pak Waluyo.


"Kalian ngomong berdua aja." Fanny berbisik di telingaku.


"Yaudah aku pesenenin es dawet buat kita berdua, Ok." Lanjut Fanny girang. Melihat gelagat dan sikapnya, aku mengeerti maksud fanny. Dia ingin supaya aku bersikap asing pada pak Waluyo dan tidak menghiraukan keberadaannya. Entah apa yang terjadi, namun saat ini lebih baik aku ikuti saja kemauan Fanny.


.


.


.

__ADS_1


.


.Like, Comment, Vote


__ADS_2