
Nanda kemudian mengajaku pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan kerumahnya aku banyak berfikir bagaimana bentuk rumahnya dan siapa orang tuanya. Tapi saat kami sudah dekat aku kaget bukan main saat melihat penampakan rumahnya yang sangat besar.
"Kamu tinggal di rumah besar itu, jangan bercanda aku tahu siaoa pemilik rumah besar itu." ujarku.
"Orang yang kamu tahu itu dia adalah ayahku." saut Nanda.
"Dasar bodoh ini adalah hal pailng konyol yang kamu katakan padaku, Bangun jangan mimpi terus." ujarku sambil mentertawakannya.
Tak lama berselang ada mobil mewah datang beriringan yang hendak masuk kedalam rumah imegah itu.
"Lihatkah ayahku baru pulang." Ujar Nanda menunjuk ke arah mobil.
"Sudah aku bilangkan jangan kebanyakan mimpi!" sautku kesal padanya.
Tapi kemudian aku hanya bisa terdiam saat ada seirang remaja yang melambaikan tangannya dari dalam mobil ke arah kami berdua yang sedang berjalan.
"kakak...!" sapanya sambil tersenyum.
Lalu mobil membawanya masuk dan menghilang dari pandangan kami.
"Apa anak tadi memanggilmu?" Tanya Nanda dengan Nada mengejek.
"Jika berkata lagi, aku akan menghanjarmu." jawabku ketus.
Kami juga kemudian masuk dan bersamaan dengam itu, Tuan besar pemilik rumah keluar dari mobil dan sejenak melihat kearah kami yang berjalan masuk kerumahnya. Meski Nanda juga tahu sedang diawasi, dia tetap berjalan lurus tanpa melirik sedikitpun kearah Tuan besar.
"Nanda bukankah dia ayaymu?" Tanyaku pelan padanya.
"Ikuti aku saja dan tutup mulutmu, Aku tak mau melihat pria tua itu meski hanya sedetik!"
Akhirnya aku bungkam dan tidak berkata apapun lagi, aku hanya ikut berjalan tepat disampingnya. Tapi aku sempat melihat tatapan nyonya pemilik rumah yang sangat sinis kearah kami berdua. Satu satunya orang yang tersenyum kepada kami hanyalah anak laki laki yang menyapa dari mobil.
Kami masuk kerumah melewati garasi dan berhenti tepat di sebuah kamar yang berada dibelakang garasi. Nanda menyuruhku masuk dan aku menurutinya.
"Aku tinggal dikamar ini selama hidupku!" ujar Nanda.
"Hah apa kau tidak salah? Aku rasa tadi kau mengatakan rumah ini adalah milik ayahmu, tapi sekarang kau bilang kau tinggal disini." ujarku heran.
Aku semakin bertanya tanya dengan keadaan yang dia tunjukan. Bagaimana tidak kenyataan yang aku lihat tak sesuai dengan perkataannya.
"Eh... Nanda kamu pulang bawa cewe. Ah.. Pasti pacarnya?" Ujar seorang pria tua menyambangi kami berdua.
"Eh.. Saya bukan-"
"Jangan malu malu atuh neng gelis, Nanda mainnya diluar atuh takutnya kebobolan." Sautnya lagi.
Aku makin jengkel mendengar perkataannya, memangnya aku ini gadis murahan. Nanda juga tidak memberontak dia hanya duduk tertawa diatas ranjang. Sementara aku hanya duduk dilantainya saja.
"Ibu mana mang e'ep?" Tanya Nanda seusai tertawa.
"Biasa atuh bi inahmah nyambut tamu!" ujar mang e'ep
"Bu.. bu. Ada temenku bu!" Teriak Nanda keras
"Eh jangan teriak teriak atuh nanti dimarahin nyonya. Tunggu saja disini nanti mang e'ep yang panggilin." mang E'ep lekas pergi dan mencari bi inah.
__ADS_1
"Siapa?" Tanyaku mengerutkan dahi.
"Mang E'ep tukang kebun disini!" jawab Nanda.
"Lah terus bi inah?" lanjutku.
"Bi inah itu pembantu disini, sejak aku lahir hingga sekarang dia yang selalu merawatku. Aku tinggal dan dibesarkan dikamar ini. Sekarang aku memanggilnya ibu. " Saut Nanda.
"Aku mengerti Jadi dia adalah inspirasimu." ujarku padanya.
Sekarang semuanya makin jelas bagiku. Aku sudah mengerti maksud perkataannya pada saat kami bertemu. 'Bahkan lebih baik tidak memiliki orang tua. Daripada punya orang tua yang tidak menginginkanmu sama sekali.'
"Jadi ayahmu tidak pernah merawatmu." Sautku perlahan.
"Baginya aku sudah mati. Tentu saja dia tidak akan mencari apalagi menemui jasad seperti aku." jawab Nanda.
"Bagaimana dengan ibu tirimu?" lanjutku.
"Hah? Jangan pura pura tidak tahu. Kamu sudah melihat tatapannya padaku kan." Jawab Nanda tersenyum.
"Iya aku melihatnya, pasti sakitkan Nanda. Kenapa tidak pergi saja dari rumah ini. Rasanya aku sendiripun tidak mampu untuk tinggal bersama orang orang yang membencimu." Sautku tegas.
"Aku ingin pergi, tapi aku tak berdaya. Ibu kandungku berpesan supaya aku tidak dendam dan tidak oernah melupakan ayahku. Sebab itu aku selalu tinggal disini meski rasanya sakit." Jelas Nanda dengen rintihannya.
"Lalu dimana ibu kandungmu?" Tanyaku.
"Ibu kandungku sudah meninggal, dia pergi saat aku lahir kedunia." Jelas Nanda.
"haha.. Aku rasa dia membuat keputusan yang tepat." Lanjutku tertawa.
Seorang wanita tua kemudian datang sambil membawa wedang teh. Saat aku melihatnya untuk pertama kali aku bisa melihat ketulusan dari wajahnya.
"Kamu pasti Lily, Nanda banyak bercerita tentang kamu belakangan ini." Ujar bi inah
Dia menyuguhkan wedank lalu duduk dilantai tepat disampingku.
"Apa hanya ada teh tawar saja. Aku sangat haus bu, apa tidak ada es batu?" Tanya Nanda.
"Tidak ada, ini saja sudah cukup. Nih ibu bawakan cemilan juga." saut bi inah.
"Mana mungkin tidak ada!" Saut Nanda.
Nanda bangun dari tempat tidur, lalu dia pergi berjalan hendak keluar kamar.
"Hey kau mau kemana?"
"Aku mau merampok di dunia atas." Saut Nanda lalu dia berjalan pergi.
"Hah dasar! Anak itu memang sudah gila!" Ujarku keras.
"Waktu Nanda berumur 8 tahun, Kepalanya pernah terbentur. Bibi rasa karena itu dia menjadi seperti ini" Saut Bi inah sambil tertawa.
"Oh pantas saja anak itu tidak waras!" Ujarku tertawa.
Aku kira bi inah akan marah, tapi sebaliknya dia ikut tertawa bersamaku.
__ADS_1
"Lily bi inah titip Nanda yah!" Ujar Bi inah tiba tiba. aku terdiam dan menatap bingung ke arah bi inah.
"Sejak Nanda tahu kebenaran tentang asal usul dan ibu kandungnya. Nanda mulai bertekad untuk tidak bergantung lagi pada ayah dan ibu tirinya. Di usia yang masih 8 tahun Nanda sudah mulai berjualan." Lanjut bi inah.
"Tidak mungkin?"
Aku kaget dan terperangah ketika mendengar penjelasan bi inah. Ternyata Nanda sudah memulai karirnya diusia yang masih sangat kecil.
"Sulit untuk mempercayainya bukan, tapi itu adalah kenyatannya. Nanda sudah bertekad untuk berdiri diatas kakinya sendiri. Dia ingin sekali menghasilkan banyak uang dan sukses sebagai pengusaha." lanjut bi inah
"Terkadang bibi merasa khawatir kepada Nanda. Bibi sudah tidak bisa lagi mengawasinya, entah apa yang dilakukannya diluar sana." ujar bi inah tersenyum.
"Tentu saja bi, aku akan menjaga anak itu." ujarku yakin.
"Ini dia es batu dan sirupnya, lihat aku perampok yang handal kan hahah..." saut Nanda sambil tertawa.
Kami menatap tajam kearah Nanda yang bergaya seperti itu.
"Duduk!" Sautku keras.
Lalu Nanda duduk dan bergabung bersama kami berdua.
"Nanda, kenapa kamu ingin menjadi pengusaha sukses?" Tanyaku serius.
"Supaya ayah mengakui keberadaaku. Dia adalah pengusaha dan bembisnis yang hebat. Karena itulah aku juga ingin menjadi pembisnis dan mengalahkan dia." Ujar Nanda.
"Lalu apa tujuanmu Lily? kamu juga ingin menjadi pengusahakan!" Saut Nanda.
"Iyah, aku ingin menghasilkan banyak uang untuk membiayai adik adikku di panti." Sautku perlahan.
"Dan-" Balas Nanda.
"Dan?"
"Aku tahu kamu memiliki tujuan lain, matamu yang mengatakannya." Saut Nanda.
"Kamu benar, aku ingin menemukan orang tua kandungku. Barangkali jika aku sukses, jalan menemukan mereka semakin terang untukku." sautku pelan.
"Kita memiliki Nasib yang hampir serupa, Karena itu aku ingin menjadikanmu mitra. Kamu pasti memiliki tekad kuat dan pantang menyerah. Sebab aku juga memilikinya. Lily ayo kita bangun bisnis kita dan wujudkan apa yang kita impikan."
Nanda mengulurkan tangannya kearahku. Aku kemudian menyambangi tangannya dan menjabatnya erat.
"Ayo kita bermitra!" Sautku yakin.
.
.
.
.
.
.like comment vote
__ADS_1