
Byurrr... Byurrr... Byurrr..
Bunyi air menghantam tubuh mungil seorang wanita. Derai air di sore hari seakan menjadi terapi berarti baginya. aliran air suci menuruni gunung melewati lembah menuju samudra.ki
Air itu suci dan menyucikan segala yang dia lewati. Membawa beban beban hidup yang selama ini dia rasakan. Dalam hening suasana ditengah terpaan air yang mengalir. Sejenak dia memikirkan setiap masalahnya.
Melepaskan gundah melunakan hati yang masih lara. Siapa aku?, untuk apa aku hidup?, pada siapa hati sendu ini akan mengadu derita?. Pertanyaan pertanyaan muncul di dalam hati dan benaknya. Kalimat tanya yang entah ada atau tidak jawabannya.
'Menangis tidak ada gunanya, menyesalpun sia sia. Teruslah melangkah kedepan dan lakukan yang terbaik, yang bisa kau lakukan.' Entah bagaimana caranya kalimat itu tiba tiba melintas begitu saja dengan suara seorang lelaki yang menghiasi setiap Nadanya.
Perlahan wanita itu keluar dari angannya dan kembali ke kehidupannya yang fana. Wanita itu kemudian menghentikan laju air yang menerpa tubuh mungilnya. Diambilnya sehelai kain putih untuk mengeringkan air yang tersisa. Selepasnya dia ikatkan rambutnya dibagian belakang.
Lalu dia berjalan ke luar ruangan menuju pintu ruangan lainnya. Dia ketok pintu ruangan itu untuk mempwringati seseorang yang berada didalam.
Tok tok tok.
"Nanda, kamu masih nggak mau keluar!" ujar Ella dari luar.
"Nggak mau..!" Jawab suara panjang dari balik ruangan.
"Kamu masih belum mandi loh!" peringat Ella.
"Nggak papa, aku tetep wangi meski nggak mandi 7 hari." Gumam Nanda.
"Jangan gitu ih jorok!" Lanjut Ella lagi.
"Biarin aja!" balas Nanda ketus.
"huffftt.."
Ella menghela nafas ketika menghadapi keras kepala suaminya. Dia kemudian memutar otaknya untuk mencari cara supaya nanda mau keluar dari kamar. Lantas Ella langsung tersenyum saat mendapat ide jahil dikepalanya.
"Nanda tadi aku denger loh suara kamu dari kamar mandi." Ujar Ella datar.
"Mana ada suaraku, dari tadi aku diem kok." Balas Nanda.
"Jelas jelas tadi aku denger suaramu. Pakek nggak ngaku lagi." Ujar Ella cekikikan.
"Sumpah La, aku dari tadi diem aja." tegas Nanda.
Ella kemudian menempelkan telinganya di pintu supaya lebih jelas mendengar suara dari dalam kamar. Dia juga memperbaiki nada suaranya, setelah dirasa sudah siap. Ella pun melancarkan akal bulusnya.
__ADS_1
"Terus kalau kamu dien yang dari tadi ngomong siapa. Jangan jangan..!" Ujar ella dengan Nanda ketakutan.
"Jangan jangan apa?" ujar Nanda panik.
"Jangan jangan tadi itu hantu!" Ujar Ella berteriak.
"Ah. ha... nggak mungkin. Jangan bo'ong La." Teriak Nanda histeris.
Sementara Ella yang mengerjai suaminya malah tertawa halus didepan pintu supaya suaranya tidak terdengar oleh Nanda.
"Ih beneran, aku nggak bohong! Eh suaranya ada lagi!" Ujar Ella menakut nakuti.
"La..." teriak Nanda serak. Kini Ella juga dapat mendengar desahan Nafas suaminya yang terpenggal penggal.
"Hihhhh... suaranya makin deket!" ujar Ella semakin menakuti.
"La.. udahlah, nggak lucu! jangan nakut nakutin gitu dong." Teriak nanda makin histeris.
"Eh diem, suaranya ilang dia berhenti disana!" Ujar Ella semakin gila dengan segala aksi nakalnya.
"D. D.. Dia dimana?" Tanya Nanda gelagapan.
"Aaarrrgggghh..!" Teriak Nanda keras.
Tanpa isyarat Nanda langsung membuka pintu kamar. Dimana tempat Ella tepat berdiri menguping keadaan Nanda. Nanda yang panik langsung saja menerjang keluar ruangan. Namun dia tidak menyadari Istrinya berada disana. Alhasil Nanda menabrak Ella dengan keras.
Brekk....
Sejenak pandangan Ella menjadi buram karena tabrakan keras ituh. ketika sadar dia sudah berbaring di lantai. Untunglah kepalanya tidak terbentur karena ada tangan Nanda yang menjadi pembantas antara kepalanya dan juga lantai.
Namun hal yang tidak pernah dia pikirkan terjadi. Nanda juga tersungkur dan berbaring tepat diatas tubuhnya. Jelaslah Ella sangat shock apalagi saat ini Ella hanya memakai sehelai anduk untuk menutupi tubuhnya itupun hanya sebatas Dada hingga lutut saja.
"Argghh... Awas Nanda!" Teriak Ella keras
"Ehhhmm. ehmm.. gak mau" Nanda justru merintih karena sangat ketakutan bahkan sangking takutnya dia sampai tidak berani membuka mata.
Ella menggeliat untuk melepaskan tubuhnya dari tindihan suaminya. Tangannya juga sudah mulai aktif mendorong dorong Nanda sedari tadi. Namun Nanda tidak mau kalah dia juga ikut menggeliat dan memeluk Ella dengan sangat kuat.
"Arrggghhhm.. lepasin aku Nanda cepet! Awassss....!" Teriak Ella semakin panik.
"Ahm.. nggak mau, aku takut!" Nanda malah memeluk Ella dengan semakin kencang. Nanda juga tidak mau membuka matanya dan terus membenanamkan wajahnya diantara leher dan 2 buah kebanggan Ella.
__ADS_1
Ella mulai merasa geli diarea sana. Karena ketika Nanda berbicara, bibir bibir mulus Nanda menggelitik kulitnya dan meninggalkan bekas yang belum pernah ada sebelumnya.
"arhh.. eghhnmm.." Desahan desahan kecil mulai lolos dari mulut Ella. Terlihat jelas betapa kerasnya perjuangan Ella. Apalagi dengan ukuran tubuh Nanda yang sedikit lebih besar dan tenaga yang lebih berotot. Usaha Ella hanya sia sia saja. Apalagi Nanda sedang dalam posisi yang keras karena ketakutan.
"Arhmggh... Nanda lepasin aku. Nagis akumah gera!" Ucap Ella semakin Histeris.
Bagaimana tidak merasa panik. Ella mulai meraskan tubuh Nanda yang mulai menggesek tubuh mungilnya. Terutama pada kedua gunung kembar kesayangannya. Rasanya gunung itu semakin bertambah tegak dan mengeras.
Ditambah Handuk yang mengikat tubuhnya perlahan mengendur. Panik Ella sejadi jadinya, berteriak dia sekencang kencangnya. Segala cara dia lakukan supaya bisa lepas dari cengkraman suaminya.
Ella mulai memukul mukul tubuh nanda mulai dari area punggung hingga bahu. Namun Nanda bukannya pergi dia malah berpindah posisi ke arah leher Ella. Kakinya juga berusaha menendang tapi tidak bisa, karena memang posisi Ella sudah terkunci. Bagian pinggang hingga panggul Nanda sudah berada ditengah tengah paha Ella.
Lalu beberapa detik kemudian handuk itu juga ikut melantai, yang artinya kini satu satunya yang menghalangi Nanda Dan Ella adalah pakaian yang dipakai Nanda. Menyadari hal tersebut berteriaklah dia semakin histeris dan menangis sejadi jadinya.
"Arggghhhh.......!!! Nanda awas. Aku mohon nanda. Pergii!! ahhaahh." Teriak Ella keras lanjut menangis sekencang yang dia bisa.
Merasa lelah dan tidak ada harapan kini Ella berhenti melakukan perlawanan. Satu satunya yang tidak berhenti adalah suara tangis dan teriakannya.
Nanda yang mulai sadar dan mendengar tangisan istrinya. Kemudian dia membuka mata dan melihat istrinya yang menangis keras. Sontak dia langsung melepaskan cengkraman tangannya dan menghindar dari Ella.
"Arrrgghh.. Ella!" ujar Nanda terkejut.
Saat melihat Nanda sudah oergi darinya. Ella langsung bangun dan berlari kekamarnya tanpa busana apapun. Didalam kamar ia tidak berhenti menangis, justru tangisannya semakin terdengar jelas.
Sungguh Ella tidak mengira akan datang masa seperti ini. Sementara Nanda yang menyadari perbuatannya kemudian mengetok pintu kamar Ella.
"Ella ella buka pintunya La."
"Aku nggak tau, kenapa kamu bisa ada dibawah aku" ujar Nanda.
Namun hasilnya nihil, Ella tidak menunjukan reaksi yang baik. Hanya suara tangisan saja yang keluar dari kamarnya.
.
.
.
.
.Like comment vote
__ADS_1