
Pukul 8 malam, Ella sedang duduk di meja makan bersama ibunya dan juga Faiz. Tapi dia kurang merasa puas, bukan lantaran makanan yang tidak enak ataupun karena kehadiran Faiz. Melainkan karena suaminya sendiri tidak ada bersamanya untuk makan malam. Belakang ini Ella memang selalu ingin dekat dengan suaminya. Apalagi d tuntutan dari sebuah hati yang ada didalam Rahimnya.
"Ehm.. masakan tante enak banget. " ujar faiz. Bu hasimun tersenyum dan berterima kasih.
"Ella! " saut ibunya.
"Iya masakan ibuku emang yang paling enak. Aku aja belajar dari dia. " Ujar Ella sambil tersenyum.
"Ouh pasti masakan kamu juga enak banget La. kapan kapan aku boleh ya nyobain. " Ujar Faiz.
"Boleh kok, kapan kapan ya kalau aku udah baikan. Aku masakin buat temen temen kantor juga. " Balas Ella datar.
Faiz yang sedari tadi menyadari kalau temannya sedang tidak enak hati. Kemudian melirik ke arah ibunya Ella. Tapi bu Hasimun memberikan respond kurang memuaskan dengan hanya menaikan bahu dan memiringkan kepalanya.
"Kamu pasti mikirin Nanda ya La? " Ujar Faiz.
"Ya gitu deh, lagian aku heran banget. Kerja sih kerja tapi jangan sampai lupa waktu gitulah, hampir setiap hari dia pulang telat mulu. Kayaknya kalau nggak ingat punya istri, udah nginep terus dia di kantor. " Jawab Ella ketus, dan mendesah pelan.
"Gimana yah La? maaf maaf nih. Bukannya aku nggak ngedukung kamu. Tapi emang lagi banyak banget problem yang ada di kantor. Apalagi sekarang kita lagi dihimpit banget sama Hasanata Group. Jadi ya kita semua harus kerja extra apalagi Nanda selaku pimpinan. " ujar Faiz pelan. Faiz berusaha menjelaskan kepada Ella tentang situasi di kantornya. Dia hanya sedikit berharap dengan adanya hal itu membuat Ella sedikit lebih tenang.
"Kalian laki laki sama aja, bisnis terus yang dipikiran kalian. Hiks.. kesel banget sumpah! " Ella mendesah kasar menandakan kekecewaannya. Faiz sendiri hanya bisa menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Kenapa jadi gini sih? pikir Faiz. Alih alih menghibur Ella dia justru membuat Ella semakin Faiz.
"Nggak usah khawatir, Bumil emang gitu! mood nya bisa gampang berubah ubah. " Ujar Bu Hasimun berbisik. Faiz lalu mengangguk dan melanjutkan makannya. Dia tidak lagi berbicara hingga selesai makan. Melihat wanita didepannya makan sambil menundukan wajah saja sudah membuatnya takut.
30 menit sudah berlalu, Ella sedang duduk di sofa dan menonton televisi. Sementara Faiz sedang membantu ibunya Ella mencuci piring di dapur.
"Nanda yang suruh kamu kesini? " Tanya bu Hasimun sambil menyimpan beberapa lauk untuk menantunya.
"Iyah bu, Nanda bilang dia ada urusan tambahan. Jadi selama dia belum pulang Faiz disuruh buat jagain Ella dulu. " Ujar Faiz menjelaskan.
__ADS_1
"Pasti masalahnya serius yah. " Faiz melirik kearah bu Hasimun dengan tatapan datar dan senyum kecil di wajahnya.
"Dari tadi sebenarnya ibu udah liat, kamu bawa pistol dibelakang celana kamu. " Jelasnya yang seketika membuat Faiz terdiam. Pria itu tidak menyadari bahwa sedari tadi pistol yang dia bawa menyembul keluar dari jas yang dia pakai sehingga terlihat oleh ibunya Ella. Faiz lantas membenarkan pistolnya dan kembali melanjutkan mencuci piring.
"Faiz sebenarnya nggak yakin, soal masalah apa yang ditakutin sama Nanda. Tapi karena Nanda kasih pistol ini ke Faiz. Itu artinya masalah yang lagi kami hadapi bukan hal yang sepele. " Jelas Faiz. Bu Hasimun mendesah pelan dan mengangguk.
"Jujur sebenarnya ibu merasa takut. Nanda dan kita itu punya kehidupan yang Jauh berbeda. Dia udah biasa sama pertarungan dan senjata, sementara kita cuman orang biasa yang ingin hidup tenang. " Ujarnya lagi.
"Ibu khawatir kalau kalau nantinya ada hal buruk yang terjadi. Tapi pada titik ini ibu selayaknya orang tua, hanya bisa mensupport Nanda dan juga Ella. Ibu merasa hanya dengan cukup percaya kepada Nanda semua akan baik baik saja. Tapi ya tentu saja dunia lebih menarik dari yang kita mau. Semuanya nggak akan beres begitu saja. " Ujarnya lagi. Faiz kemudian menyentuh punggung tangan bu Hasimun dan tersenyum ke arah wajah tua itu.
"Faiz setuju sama ibu, kalau semuanya nggak akan beres begitu aja. Sama seperti ibu, Faiz juga sempat merasa takut dan khawatir kalau hidup kita dan orang orang disekitar kita akan terancam. Tapi Faiz sekarang yakin 100% kalau Nanda bisa mengatasi semuanya. Dia punya Aura yang kuat, Faiz yakin sekali sama Nanda. Ibu juga harus yakin 100% sama dia. " Ujar Faiz tersenyum. Bu Hasimun justru menggelengkan kepalanya dan mengalihakan pandangannya pada piring yang sedang dicuci Faiz.
"Yah itu sudah pasti. Nanda pasti bisa! " ujarnya lalu mengelap beberapa piring yang sudah Faiz cuci.
"Ngomong ngomong Makasih yah, udah mau bantuin ibu. " Ujar bu Hasimun kepada Faiz yang ada disampingnya.
"Bohong banget! " Sautnya spontan dan membuat Faiz terkejut.
"Nggak ada satupun laki laki yang suka cuci piring. Apalagi bantuin istri soal urusan dapur. Haduh.. kalau ada yang kayak gitu, ibu kasih 2 jempol deh Bintang 5 kalau perlu." Ujarnya tertawa seraya mengajak Faiz ikut tertawa.
"Kalau gitu Faiz nanti bakal jadi laki laki pertama yang dapat bintang 5 dari ibu. "
"Kok gitu? "
"Ini Faiz lagi belajar, baru cuci piring sih. Tapi pas nikah nanti Faiz akan jadi suami yang terbaik dan dapat bintang 5 dari ibu hahah... " Gurau Faiz sambil tertawa lega. Dia merasa Ella dan ibunya adalah orang yang fleksibel dan sangat mudah akrab dengan semua orang. Jadi dia tidak canggung, serta berani mengajak ibu dan ank itu bergurau bersama.
"Jadi maksudnya gimana tuh, Faiz mau melamar ibu. " Seketika Faiz tersedak dan berhenti tertawa sangat mendengar jawaban wanita paruh baya tersebut. Dia melirik ke kanan dan mendapati wanita itu menatap tajam dan tersenyum manis ke arahnya.
"Ya nggak gitu bu, gimana sih. " Ujarnya kaget sambil tertawa guna mengurangi rasa malunya. Sementara Bu Hasimun tertawa dengan kerasnya didepan Faiz. Dia tidak menyangka bisa memainkan Pria muda yang sebaya dengan anaknya.
__ADS_1
"Ella! Ibu dilamar sama temenmu. " Teriaknya keras ke arah Ella. Tentu sja Ella langsung kaget dan tidak percaya dengan perkataan ibunya.
"Ibu kan udah tua, masa mau nikah lagi. Yang benar aja kamu iz! " Teriak Ella dari ruang keluarga.
"Nggak la, nggak gitu! aku cuman lagi bercandaan aja sama ibumu. " Ujar Faiz keras membalas Ella.
"Awas aja kamu ya! kalau mau macam macam sama ibuku. " Ancam Ella. Faiz malah merasa kesal sendiri karena dipermainkan oleh Ibu dan Anak tersebut.
"Aikh nggak gitu La! " Spontan Faiz
.
.
.
.
.
.
.
.
.
. Like comment vote
__ADS_1