
Ketika sampai di rumah sakit Aku disambut dengan tatapan sinis dari mertuanya. "Awas kalau kamu nyakitin hati Ella lagi!" ancamnya padaku saat aku masuk.
Menelan ludah adalah satu satunya hal yang bisa aku lakukan. Bukannya aku tidak berani menjawab mertuaku, hanya saja di hadapannya saat ini Aku adalah pihak yang paling bersalah.
Untunglah Bu dokter langsung menarik lengan mertuaku untuk keluar kamar. "Semangat!" ujarnya diam diam tanpa dilihat mertuaku. Perasaanku sedikit bangkit seteleh sebelumnya sempat ditembak jatuh oleh sorot kebencian dari sang ibu mertua.
Namun masalah yang sebenarnya baru akan aku hadapi sekarang. Ella menundukan wajahnya di ranjang rumah sakit yang sama. Tangannya nampak meremas selimut dengan kencang seperti menahan kemarahan.
Aku duduk di kursi kecil disampingnya dan satu kata, 3 huruf yang aku keluarkan dari mulutku "Hai" Plek...
Tangan kiri Ella langsung menyambangi pipiku dengan sangat kerasnya. Perih dan panas aku raskan sekaligus. Secepat dan sekeras ini, Ella mungkin sudah menahan dan mempersiapkannya dari lama.
"Aku masih nggak terima sama perbuatanmu. Hatiku masih sakit." Bibirnya mengerucut sebal ke arahku. Tatapannya jauh lebih tajam dari ibunya barusan.
"iya aku salah! Tapi bisa aku jelasin kok." ujarku pelan sambil menunduk.
"Dari kemarin juga bilangnya gitu! Tapi mana? gak ada buktinya sama sekali." Balasnya ketus kemudian membuang wajahnya dariku.
"Nanti kalau kamu udah sembuh." Lanjutku berusaha menenangkan kemarahannya.
"Gak! aku gak mau pokoknya aku mau penjelasmu sekarang." Bentaknya lebih keras lagi. Jujur aku emosi saat mendengarnya membentakku terus. Tapi saat ini hal yang paling baik untukku hanyalah mengalah. Demi rumah tangga kita.
"Nanti deh aku pikirin lagi, Aku laper nih perutku bunyi terus dari tadi." Aku kemudian membuka kresek putih yang aku bawa dari tadi.
Kresek... Kresek..
Ella melirik kearahku dan melihat isi dari kresek yang aku bawa. "Bawa apa?" Tanyanya penasaran.
"Cuman satu!" Ella mengerucutkam bibir saat melihat makanan yang aku bawa hanya 1 porsi. "Kamu nggak sayang aku ya!" Ujarnya keras lagi lantang ke arahku.
Aku sedikt kikuk saat menampa pertanyaan menggelikan seperti ini. kapan yah? Aku rasa cukup lama sejak terakhir kali aku melihatnya merajuk.
"Kamukan udah dapat jatah sarapan dari rumah sakit. Lagian kamukan masih sakit, hamil lagi. Mana boleh makan sembarangan. kemarin aja makan ketoprak juga sembunyi sembunyi. Nggak ada yang tahu selain aku." Ujarku membentengi diri dengan alasan logis supaya Ella menerimanya.
Cit..
Ella mencubitku keras diarah bahu, sakit seperti yang dulu aku rasakan. Tapi entah kenapa kali ini aku menyukainya. Aku sangat menyukai saat Ella marah marah seperti ini. Dia terlihat sangat menggemaskan dengan pipi merahnhya.
Cup...
__ADS_1
Detik itu aku kehilangan control atas tubuhku sendiri, hasrat seolah mengendalikan tubuhku dengan begitu baik. Ella juga telrihat lemas dia diam termengun ketika aku mencium bibirnya yang mengerucut.
"Harus begini yah, supaya kamu bisa diem!" ujarku didepan wajahnya lalu aku menciumnya untuk yang kedua kali. Beberapa kali sesi ini terjadi hingga akhirnya aku melanjutkan kegiatan kami dengan sarapan bersama.
Sebenarnya aku yang sarapan dan Ella menemaniku. Atau tidak? mungkin sebaliknya.
" Maaf ya kalau buburnya nggak enak." Aku tak enak hati saat melihatnya menangis rembisak. Tangannya mengepal keras menggenggam selimut.
"Beli dimana?" Dia menunduk meratapi tetesan air matanya yang membasahi selimut. "Depan kantorku dulu?" lanjutnya lagi.
Bagaimana dia bisa tahu. "Iyah aku beli depan kantormu yang dulu. Kamu nggak suka yah? " lanjut ku lagi.
"Gimana kamu bisa tahu makanan favorit aku." Aku cukup kaget mendengar jawabannya. Aku ragu ini makanan favoritnya. Buktinya dia menangis. Tapi aku lebih kaget lagi saat dia menatap ke arahku dengan senyum melintang dan mata berair.
"Aku cengeng ya mas?" lanjutnya lalu mengusap mata dengan kedua tangan.
"Nggak kok La. Kamu cuman cerewet aja dikit! " ujarku singkat lalu memeluknya dengan erat.
"Pedahal aku udah tahu kamu cuman pura pura. Tapi pas denger dari fanny aku malah nangis!" ujar Ella cukup keras.
*Teng...
Istriku penuh kejutan*. Kalimat singkat itu yang langsung terbesit dipikiran ku. Berkali kali, lagi dan lagi Ella mengejutkanku. Aku tersenyum tipis sembari mendengarkan omongannya yang terus berlanjut.
***
"Stttt..... Mereka lagi ngobrol serius. Jangan diganggu!" ujar Dr. Anne yang menahannya untuk masuk kedalam.
"Tuh lihat, udah pelukan lagikan mereka. Namanya juga pasangan muda. Kalo sering berantem ya wajarlah." Saut bu Anne menjelaskan.
"Hubungan mereka tuh udah nggak wajar. Banyak banget dramanya. Saya curiga dari awal kalian berdua sekongkol buat celakain anak saya." Ujarnya dengan wajah yang serius dengan kalimat agak sarkas.
Tapi Dr. Anne bukan anak kemarin sore yang langsung takut saat mendengar perkataan wanita di hadapannya.
"Saya lihat sebenarnya ibu itu orang baik." ujar Dr. Anne tersenyum.
"Ibu gak usah khawatir. Nanda emang orang yang sedikit liar. Tapi Nanda tipe orang yang bisa dipercaya. Ibu cukup duduk tenang dan percaya sama Nanda. " Ujar bu Anne dalam dan tulus untuk menenangkan lawan bicaranya.
***
__ADS_1
Aku melihat jam yang menunjukkan lurus ke arah pukul 12 malam. Jaket hitam juga sudah melekat dengan erat di tubuhku. Aku berjalan memasuki kamar Ella dengan perlahan supaya tidak membangunkan ibunya yang lagi lagi tidur di lorong rumah sakit.
Tapi saat aku masuk dan melihat Ella yang masih tertidur. Tawaku seketika pecah kalau mengingat pengakuan Ella tadi siang.
"Kapan kamu tahu aku cuman pura pura." Tanyaku langsung.
"Aku udah curiga dari pertama kali kita Ehem..! " ujarnya pelan disambung batuk dibelakang.
"hah? " balas ku singkat. Ella kemudian mengusap perutnya dan menunjuk calon anak kami di perutnya. Saat itu aku langsung mengerti dan mengangguk pada istriku.
"Aku sampai keluar 3 kali loh, malam itu. Padahal kalo dipikir pikir anak kecil mana coba yang bisa muasin cewek sampai segitunya." ujarnya dengan nada curiga kearahku.
"ya aku! " balas ku singkat.
"Dih! " Dia menolak bahuku cukup keras sambil ngeromyang selayaknya emak emak. "Aku juga tahu kamu suka keluar malam malam. Hampir tiap hari kan." ujarnya lagi.
"Serius!" balas ku singkat masih tak percaya dengan semua perkataannya.
"Makanya kalau mau keluar. Cek dulu yang disamping kamu udah tidur apa belum. Sebelum kamu pergi kamu cium pipiku. pas Datang kamu cium kening ku terus pelukin aku terus sampai pagi. " Aku tak bisa lagi berkata apa apa didepan Ella. Semua itu memang benar aku memang melakukan semuanya.
"Aku pengin banget denger semua pengakuannya langsung dari mulut kamu, makanya selama ini aku diem aja. Eh.. tapi malah Fanny yang bilang semuanya. Sakit tahu hati aku! " ujar Ella kesal dengan tangisan yang kembali menderas.
"ya gimana aku juga gak nyangka Fanny bisa tahu banyak." ujarku pasrah.
"Kamu sih kelamaan dinanti nanti, jadi ginikan sekarang. Mana aku hamil lagi? " ujarnya mendengus kasar.
"Ya maaf! " jawabku singkat. "Tapi apa hubungannya sama kehamilan kamu." ujarku bingung
"Kamu gimana sih. Kalo itu semua bawaan dari bayinya gimana coba, kan gak kesampaian kemarin. Gimana kalau nanti anak kita lahir, palanya peang, matanya jereng, trus suka ngences." ucap Ella dengan keras.
"Heh.. omonganmu! jelek banget! " Bentak ku lebih keras lagi padanya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
. Like comment vote